PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 14. Sasa dan Rama


__ADS_3

Rumah kediaman Seno Wijaya.


Sasa secepat kilat sampai di rumahnya. Sasa bergegas pergi dari apartemen Putra, ketika hari sudah menjelang pagi. Dia seolah dikejar waktu, padahal jam masuk kantor untuk seorang pimpinan jam 8 pagi. Tetapi kali ini, dia begitu bersemangat untuk segera pergi ke kantor kakaknya.


Tidak sempat pamit pada kakaknya maupun pada Rita. Dia hanya mengirimkan pesan pada kakaknya kalau dia pergi pagi-pagi sekali. Sasa pulang ke rumah terlebih dahulu, untuk mandi dan berganti pakaian.


Senyum manisnya menghiasi wajahnya yang manis. Dia menumbuhkan harapan besar untuk bisa mendekati teman kakaknya itu saat bekerja bersama.


Saat sarapan, wajahnya terlihat berseri-seri hingga membuat orangtuanya kaget dengan sikap Sasa yang tampak jauh berubah. Meskipun Sasa masih terbilang muda, dia selalu bersikap dewasa dalam segala hal. Kali ini, dia terlihat seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.


"Sa, semalam kamu nginep di apartemen kakakmu, apa yang terjadi?" tanya Bu Karin.


"Ya, Ma. Ada sedikit masalah. Ada yang berusaha mencegat mobilnya. Untung saja, kakak bisa selamat dan mengusir mereka pergi," jawab Sasa.


"Apa, Sa. Siapa mereka? Lalu, apa kakakmu terluka?" ucap pak Seno cemas.


"Kakak baik-baik saja. Hanya sedikit luka lebam di beberapa bagian tubuhnya. Kak Putra hebat loh Ma, Pa. Bisa mengalahkan banyak musuh," kata Sasa menyombongkan kakaknya.


"Benarkah? Jangan bercanda. Kakakmu itu meskipun terlihat kuat dan bisa berkelahi, mama tidak percaya dia bisa mengalahkan beberapa musuh. Kalau satu banding satu, mungkin mama masih percaya," kata Bu Kinar sambil tersenyum tidak percaya.


"Ya sudah kalau tidak percaya. Ma, Pa. Beberapa hari ini aku akan menggantikan posisi kakak untuk menghandle pekerjaannya. Bantuin Sasa ya, Pa," ucap Sasa agak manja.


"Kenapa harus Papa. Disitu kan ada Rama. Pasti kakakmu sudah menghubungi Rama untuk membantumu. Gunakan kesempatan ini untuk membuat prestasi. Ini juga untuk masa depan kamu juga nantinya," kata pak Seno penuh nasehat.


"Siap," ucap Sasa sambil tersenyum.


Sasa sangat yakin jika kesempatan yang diberikan oleh kakaknya akan dipergunakan sebaik mungkin. Selain agar bisa lebih dekat dengan Rama, dia juga ingin meningkatkan keahlian dalam berbisnis.


Sasa sadar, menggantikan kakaknya bukan berarti dia bisa duduk sebagai pimpinan di kantor kakaknya. Dia hanya bertugas untuk membantu tugas kakaknya selama dia dalam masa perawatan.


Senyum Sasa mengembang tatkala sampai di kantor dan bertemu dengan kak Rama. Dari kejauhan, sosok pria pujaan hatinya itu, sudah bisa dia lihat dengan jelas dari gaya berjalannya.


"Kak Rama ...!" teriak Sasa.


Rama yang hendak masuk ke lift berhenti dan melihat ke arah Sasa. Sasa berjalan cepat mendekati Rama yang terlihat tampan dengan senyum machonya.


"Sasa, nggak nyangka kamu datang tepat waktu. Bagus juga untuk permulaan. Ayo, banyak pekerjaan yang sudah menunggumu," ucap Rama seraya meminta Sasa segera masuk ke lift menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Sasa merasa canggung berada dalam satu lift dengan Rama. Sesekali dia melirik ke arah Rama yang tampak santai sambil mengamati dokumen yang ada di tangannya. Rama tampak sangat mempesona saat sedang serius.


Pintu lift terbuka dan mereka bergegas keluar menuju ruang kerja Putra. Sasa hanya mengekor saja kemanapun Rama berjalan.


"Sasa, ini ruang kerja kakak kamu. Kamu duduk saja di situ, dan tunggu saja, nanti aku akan memilih pekerjaan yang bisa kamu kerjakan," ucap Rama sambil menunjuk kursi milik kakaknya.


"Lalu dimana ruang kerja Kak Rama?" tanya Sasa penasaran.


"Ruang kerjaku ada di sebelah. Kenapa, takut sendirian?" goda Rama.


"Bukan takut, cuma pingin tahu aja," jawab Sasa gugup.


"Ini kamu pelajari pelan-pelan. Nanti sore, akan ada pertemuan dengan klien. Kalau kamu masih ragu, kamu boleh ikut saja biar aku yang bicara," kata Rama menjelaskan.


"Baik. Terima kasih, Kak Rama," ucap Sasa sambil tersenyum.


Sasa melihat tubuh Rama yang berjalan keluar. Sebelum menutup pintu, Rama masih sempat menoleh dan memberi Sasa senyuman yang menurut Sasa manis seperti gula.


Hati Sasa berdesir dan dia hampir tidak bisa mengendalikan diri untuk menyatakan cinta. Gila, mana ada seorang gadis menyatakan cinta duluan? batin Sasa.


***


"Maaf terlambat. Ada sedikit hambatan tidak terduga di jalan," ucap wanita yang bernama Sinta.


"Tidak juga. Kami juga baru sampai. Silahkan duduk," ucap Rama ramah.


"Karena Pak Putra tidak bisa datang, Semoga kita bisa mencapai kesepakatan, meskipun tanpa dia," kata Sinta sambil tersenyum.


"Meskipun Pak Putra tidak bisa datang, saya membawa adiknya selaku wakilnya karena kami takut jika Ibu Sinta merasa kami tidak serius," kata Rama sambil melihat Sasa.


"Ini adiknya, pak Putra? Pantas saja saya merasa dia mirip dengan Pak Putra. Perkenalkan, Sinta," ucap Sinta sambil mengulurkan tangan yang segera di sambut oleh Sasa.


"Sasa," jawab Sasa singkat.


"Oke, mari kita langsung bicara pada intinya," ucap Sinta sambil membuka dokumen yang baru saja di serahkan Rama padanya.


Sasa sebenarnya cemburu melihat Rama dan Sinta terlihat begitu akrab. Mereka sangat cocok, baik dari segi nama yaitu Rama dan Sinta. Mereka juga sama-sama pintar berbisnis dan memiliki pengetahuan yang luas. Tidak seperti dirinya yang selalu dianggapnya anak kecil oleh Rama.

__ADS_1


Sasa akhirnya bisa bernapas lega, setelah pembicaraan mereka selesai dengan hasil yang baik. Mereka telah sepakat untuk bekerja sama untuk proyek terbaru kakaknya.


Sasa diajak Rama untuk makan dahulu sebelum pulang di sebuah restoran. Sasa merasa sangat bahagia memiliki kesempatan makan berdua dengan pria idamannya.


Sasa dan Rama segera memesan makanan yang mereka sukai. Dan setelah pesanan mereka datang, Sasa makan dengan hati berbunga-bunga.


"Sa, aku baru tahu kalau kakakmu memiliki pembantu pribadi di apartemennya. Menurutmu sikap kakakmu aneh tidak?" tanya Rama sambil menatap Sasa.


"Mbak Rita, maksudmu?" tanya Sasa.


"Iya, menurutku, dia bukan pembantu biasa," jawab Rama sambil melanjutkan makannya.


Sasa kemudian bercerita dari awal Rita menolong bibik, sampai salah paham yang terjadi antara kakaknya dan Rita. Dan berlanjut hukuman dari kakaknya untuk Rita dari kesalahpahaman tersebut.


"Apa, jadi Rita menjadi pembantu kakakmu karena itu?" tanya Rama sambil menghela napas berat.


"Benar. Ada apa, kenapa Kak Rama terlihat sedih?" tanya Sasa kaget melihat Rama sedih mendengar cerita tentang Rita.


"Tidak. Hanya heran saja, ada gadis yang berani membuat kakakmu itu marah. Kakakmu pasti sudah balas dendam padanya," jawab Rama.


"Tidak juga, aku lihat hubungan mereka baik-baik saja. Sepertinya mbak Rita bisa membuat Kak Putra melupakan dendamnya," kata Sasa sambil menyelesaikan makannya.


"Menurutmu apakah jika aku mengejarnya, dia akan menerimaku?" tanya Rama ragu.


"Apa, siapa yang akan Kak Rama kejar?" tanya Sasa kaget.


"Siapa lagi, Rita tentunya. Meskipun dia hanya seorang pembantu, tetapi aku merasa dia sangat spesial," jawab Rama.


Sasa tiba-tiba merasa sangat terpukul mendengar pengakuan Rama. Jika ingin mengejarnya, sudah pasti jika Rama sudah jatuh cinta pada Rita. Hatinya yang tadi berbunga-bunga, kini bunga itu kayu sebelum berkembang.


Rita, apa yang membuat kak Rama sampai bisa jatuh cinta padanya?" batin Sasa.


******


Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku.


__ADS_1


__ADS_2