PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 17. Salah paham


__ADS_3

Rita bergegas menuju ke kamarnya mengikuti langkah Sasa yang sudah berjalan terlebih dahulu. Tidak ada rasa curiga sedikitpun dihati Rita, jika Sasa cemburu pada Rita.


Rita membiarkan Sasa berdiam di kamarnya sambil menunggu dia mandi. Rita santai saja menghadapi adik majikannya yang dimata Rita sangat baik.


Selesai berganti pakaian, Sasa meminta Rita untuk mengobrol dengannya sebenar. Sebagai seorang pembantu, Rita menuruti saja keinginan Rita.


"Rita, seandainya ada seseorang yang mengejarnya dan ingin menikahimu, apakah kamu akan menerima?" tanya Sasa agak ragu


"Pertanyaan Mbak Sasa sama seperti pertanyaan pak Putra. Jawaban saya lari juga masih akan sama. Saya masih memiliki impian yang belum tercapai. Saya ingin kuliah, Mbak Sasa," jawab Rita sambil menghela napas berat.


Rita bingung dengan kedua kakak beradik ini, kenapa mereka memiliki pertanyaan yang sama?


"Syukurlah Rita. Usia kamu memang masih muda untuk menikah. Kuliah itu impian yang bagu. Kamu bisa mengumpulkan uang atau bekerja sambil kuliah kan juga bisa," ucap Sasa sambil tersenyum lega.


Sasa merasa jika Rama tidak akan memiliki kesempatan untuk bersama Rita. Pantas saja, Rama menyukai Rita, karena dimata pria, wanita yang memiliki impian itu pasti terlihat mempesona. Dibandingkan dengan wanita yang selalu pasrah pada keadaan.


Disaat Rita dan Sasa bersiap makan malam, Rama dan Putra sudah terlebih dahulu berada di restoran hotel. Rama menggunakan kesempatan ini untuk bertanya tentang Rita pada Putra.


"Kapan Kontrak kerja Rita akan selesai?" tanya Rama.


"Masih 1,5 tahun lagi, kenapa?" tanya Putra.


"Aku ingin secepatnya mendapatkan cintanya. Jadi aku bisa memperkenalkan dia pada orangtuaku," jawab Rama.


"Apa, jangan gila kamu, Rama. Kamu kira gampang mendapatkan cinta dari Rita. Lagipula, aku sudah berusaha bantu kamu untuk bertanya padanya," kata Putra sambil minum.


"Katakan, apa yang kamu tanyakan dan apa jawabannya?" tanya Rama antusias sekali.


"Dia bilang, dia belum ingin menikah. Dia masih memiliki impian untuk kuliah. Jadi kamu tidak ada harapan," jawab Putra


"Waw, keren. Benar-benar bikin aku tambah penasaran. Aku jatuh cinta padanya saat pertama kali aku melihatnya di apartemen kamu. Aku pikir, wanita yang bisa tahan sama kamu, pastilah wanita yang sangat spesial. Ternyata aku tidak salah," kata Rama dengan mata berbinar-binar.


"Rama, kamu ini aneh. Dia itu pembantu, apanya yang spesial?" tanya Putra kesal.


"Seharusnya kamu perhatikan baik-baik, pembantu kecilmu itu. Meskipun tubuhnya kecil, dia tampak imut dan tidak menunjukan kalau dia itu penakut. Dia tampak percaya diri. Kalau dipikir-pikir, seandainya ketemu di luar, kita tidak akan tahu kalau pekerjaannya hanya sebagai pembantu," jawab Rama.

__ADS_1


Putra tertegun mendengar perkataan Rama. Memang, dilihat dari segi apapun, Rita tidak tampak seperti pembantu. Sikap dan gayanya, sangat tegas dan tidak takut kecuali kalau dia memang bersalah.


Dandanannya juga biasa seperti gadis muda pada umumnya. Lebih suka memakai kaos panjang dengan celana cargo pants. Putra juga tidak pernah mempermasalahkan tentang pakaian seperti apa yang harus dipakai oleh Rita saat bekerja dengannya.


"Oe, Pak Majikan. Kok malah diem aja. Jangan bilang, setelah aku mengatakan Rita tidak seperti pembantu biasa, kamu langsung tertarik sama dia. Jangan sampai kita berebut wanita," ucap Rama sambil menepuk bahu Putra.


"Mana mungkin, aku menyukai Rita. Aku hanya menganggap dia sebagai pembantuku saja. Jangan omong kosong lagi," kata Putra sambil melihat ke arah lain.


Rita dan Sasa berhenti melangkah, saat mendengar Putra dan Rama sedang membicarakan Riya. Sasa tertegun, saat mendengar dengan jelas, kalau Rama menyukai Rita.


Rita juga kaget saat mengetahui kebenarannya. Putra tidak pernah menyukainya apalagi mencintainya. Jadi selama ini, perasaan merasa diperhatikan itu hanya ilusi semata. Dirinya yang terlalu baper terhadap sikap Putra akhir-akhir ini.


Putra dan Rama sama-sama kaget saat melihat Rita dan Sasa sudah berada di dekat mereka.


Rita bukanlah wanita lemah yang gampang menangis saat hatinya sedih. Meskipun dia merasa kecewa, tetapi dia harus bersikap profesional dalam bekerja.


"Selamat malam, Pak Putra, Mas Rama," sapa Rita manis sekali.


"Selamat malam juga, dek Rita," jawab Rama lembut.


Entah mengapa, Putra merasa menyesal telah meminta Rita memanggilnya Pak saat itu. Saat Rita memanggil Rama dengan panggilan Mas, Putra merasa cemburu.


"Rita, mau pesan apa?" tanya Rama mulai pendekatan.


Sasa dan Putra tampak menahan kesal melihatnya. putra segera memanggil pelayan dan memesan makanan tanpa bertanya pada Rita. Kini giliran, Rita dan Rama yang keheranan melihat sikap Putra.


Mereka makan tanpa saling berbicara. Hanya sesekali, Rama menggoda Rita dan membuat Rita tersenyum malu.


Selesai makan, Putra langsung pergi bersama Sasa. Mereka sama-sama sedang patah hati. Putra duduk di lobi hotel dan tenggelam dalam perasaaan masing-masing. Sasa tidka bisa lagi memendam perasaannya dan berusaha membuat sang kakak membantunya.


"Kakak ...." Sasa memanggil kakaknya manja.


"Ada apa, Sa. Ada yang mau kamu katakan?Kakak saat ini juga sedang bingung," jawab Putra sambil menghela napas berat.


"Sasa mau minta bantuan Kak Putra. Tolongin Sasa, Kak," kata Sasa sedih.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Kalau kakak bisa, pasti akan kakak bantu."


"Kak, tolong jauhkan Rita dari Kak Rama," ucap Sasa yang membuat Putra kaget.


"Kenapa, Sa. Rama menyukai Rita dan aku tidak berhak menghalanginya. Apa yang akan dipikirkannya tentang aku?" tanya Putra sambil menatap Sasa.


"Kakak juga tahu jika aku mencintai Kak Rama. Kakak seharusnya membantu aku bukan membantu kak Rama," ucap Sasa kesal.


"Meski begitu, kakak tidak bisa memaksakan Rama untuk mencintai kamu, Sa," kata Putra.


"Aku tidak meminta kakak seperti itu, aku hanya ingin diberi kesempatan untuk bisa membuktikan bahwa aku tulus mencintai dia, Kak," kata Sasa lagi.


Putra berpikir sejenak. Mungkin dia juga harus memberi kesempatan dirinya sendiri untuk bisa membuktikan bahwa dia juga mencintai Rita. Memendam rasa cinta itu ternyata sangat menyakitkan. Jika tidak diucapkan, suatu saat pasti akan meledak.


"Oke, Kakak bantu kamu. Tapi, selebihnya tergantung takdirmu," ucap Putra.


"Terima kasih, Kak," ucap Sasa senang.


Malam sudah semakin dingin. Putra dan Sasa kembali masuk ke kamar masing-masing. Tetapi karena Putra belum melihat Rita, dia tidak bisa tidur. Putra langsung keluar kamar dan berusaha mencari keberadaan Rita di kamarnya.


Beberapa kali mengetuk pintu, tetapi tidak ada tanda-tanda jika Rita ada di kamarnya. Putra merasa panik. Di segera menghubungi nomor ponsel Rita. Akan tetapi tetap tidak diangkat.


Putra tidak ingin putus asa. Dia kembali menekan nomor ponsel Rita. Kali ini, Rita mengangkat panggilannya. Sebelum sempat Putra bertanya tentang keberadaan Rita, terdengar olehnya suara musik yang cukup keras.


"Rita, sayang ...." Jelas itu suara Rama.


Putra menelan ludah kembali menahan perasaan cemburunya.


"Rita di bar?" gumam Putra.


...****************...


Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku.


__ADS_1


__ADS_2