PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 20. Jujur


__ADS_3

Putra mendekatkan wajahnya ke telinga Rita dan berbisik.


"Aku mencintaimu," bisik Putra.


Rita menarik napas lega. Pikirannya sudah jauh dan mengira Putra akan menciumnya. Rita tersenyum saja dan mulai memakaikan dasi dengan benar.


Setelah selesai, Putra kembali mengangkat tubuh Rita dan menurunkannya. Selama ini Rita sudah terbiasa hidup mandiri dan tidak bergantung pada siapapun. Tetapi saat Putra memperlakukannya dengan manis, Rita merasa terharu.


Rita bergegas keluar karena takut jika perasaannya akan dapat dibaca oleh Putra.


"Rita, kamu tunggu di lobi," ucap Putra menghentikan langkah Rita.


"Untuk apa aku menunggu di lobi? Aku akan berdiam di kamar saja," kata Rita bingung.


"Aku ingin mengajakmu ikut melihat pabrik tekstil. Aku ingin kamu belajar bisnis. Jadi nanti kalau kamu masuk kuliah, kamu sudah ada pandangan, mau ambil jurusan apa," jawab Putra serius.


Rita merasa lebih terharu lagi. Putra ternyata memikirkan masa depan dan harapannya untuk bisa kuliah. Mumpung ada kesempatan, memang harus digunakan sebaik mungkin. Bukan bermaksud memanfaatkan cinta Putra padanya.


Rita mengangguk pelan lalu pergi menyiapkan diri. Dia berganti pakaian formal dan terlihat lebih rapi. Rita bergegas menuju lobi dan bertemu dengan Rama dan Sasa yang sudah siap.


Rama sudah terlihat segar meski semalam dia mabuk berat. Rita merasa bersalah karena telah membuat Rama mabuk setelah mendengar jawaban darinya.


Tetapi tentu saja, lebih baik jujur daripada berbohong tentang perasaannya. Seperti yang dia lakukan pada keluarga Putra tentang siapa dia sebenarnya.


"Rita, kamu terlihat rapi, mau kemana?" tanya Sasa yang kaget dengan penampilan Rita saat ini.


"Kamu cantik, Rita. Sangat cocok menjadi seorang wanita karier. Jika kamu mau, aku akan mencarikan pekerjaan yang cocok untukmu di perusahaan," ucap Rama mengagumi Rita.


Sasa tampak kesal mendengar Rama memuji Rita didepannya. Seumur-umur, baru kali ini Sasa mendengar Rama memuji pembantu.


"Mas Rama, terima kasih, mau memikirkan pekerjaan untuk saya. Mbak Sasa, Pak Putra mengajak aku untuk ikut ke pabrik," jawab Sasa sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa, apa aku tidak salah dengar?" tanya Sasa kaget.


"Kamu tidak salah dengar. Aku memang mengajaknya. Anggap saja, dia asisten pribadiku," ucap Putra yang baru keluar dari lift.


"Terserah kamu saja, Putra. Lagipula dia itu pembantu kamu. Mau kamu ajak kemanapun itu urusan kamu," kata Rama agak curiga dengan sikap Putra. Akan tetapi dia tidak memiliki bukti jika Putra menyukai Rita.


Mereka segera berangkat menuju pabrik yang akan mereka kunjungi hari ini. Sasa duduk di depan bersama Rama dan Rita duduk dibelakang bersama Putra.


Melihat Sasa kesal karena Rita ikut, Putra mengirimkan pesan singkat pada Sasa yang isinya adalah dia sengaja membawa Rita agar ada alasan bagi Putra untuk mendekatkan Rama dan Sasa.


Setelah membaca pesan singkat dari kakaknya, wajah Sasa berubah ceria dan semangat. Tidak ada yang memperhatikan itu selain Putra sendiri.


Kehadiran Putra dan rombongan, sebagai perwakilan kantor pusat, mendapatkan sambutan ramah dari seluruh jajaran petinggi pabrik tersebut.


Rita merasakan bagiamana rasanya dihormati dan diperhatikan banyak orang. Disini dia memang hanya mengikuti kemanapun Putra pergi. Sampai ada pemilihan sampel untuk pembuatan pakaian musim ini, Rita sangat tertarik dengan kain bermotif batik.


Proyek baru Putra adalah mengadakan peragaan busana dari perusahaannya bekerja sama dengan model-model dari agensi Bintang Baru. Putra sudah memiliki desain-desain pakaian yang keren untuk acara tersebut. Putra sangat optimis, model pakaiannya akan di terima baik oleh masyarakat luas.


Selesai melakukan perjalanan bisnis, mereka sudah disiapkan makanan jamuan. Mereka menikmati bersama seluruh jajaran petinggi pabrik hingga sore hari.


Putra dan rombongan segera kembali ke hotel untuk bersiap kembali ke rumah. Rama menawarkan untuk berjalan-jalan barang sehari, dan baru kembali. Putra menyarankan jika Rama bersama Sasa saja seperti sebelumnya. Putra dan Rita akan kembali karena mereka sudah datang lebih awal dan sudah berjalan-jalan.


"Kalau kalian pulang, aku juga pulang saja," ucap Rama kecewa.


"Kak Rama, aku bisa temani Kak Rama kalau ingin jalan-jalan. Mumpung kita berada di sini," kata Sasa berusaha meyakinkan Rama.


"Benar, Rama sekalian temani Sasa melihat matahari tenggelam, pasti bagus senja ini," titah Putra.


Rama yang awalnya tidak, akhirnya bersedia juga. Padahal Rama berharap bisa melihat Rita tertawa gembira saat mereka jalan-jalan.Mungkinharoan itu tidak kan pernah terwujud.


Putra dan Rita bergegas kembali dan meninggalkan Sasa dan Rama. Malamnya, mereka sudah sampai di apartemen. Karena sama-sama lelah, mereka langsung tidur dan beristirahat.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, Rita bergegas membangunkan Putra. Dia melakukan tugasnya seperti biasa. Membuatkan sarapan dengan menu seadanya.


Rita menemani Putra sarapan. Tetapi kali ini, Putra meminta Rita untuk sarapan bersama. Rita yang biasanya hanya duduk menemani dan makan jika Putra selesai makan.


"Rita, aku masih menunggu jawaban darimu," ucap Putra mengingatkan Rita.


Rita mulai berpikir untuk jujur pada Putra, sebelum Putra terlalu dalam mencintainya.


"Pak Putra, aku bukan gadis baik. Aku membohongi keluarga Pak Putra tentang diri saya sebenarnya," ucap Rita ragu.


"Bohong, bohong apa?"


Rita mulai bercerita tentang masa lalunya. Bagaimana dia bisa berada di kota dan bisa sampai menjadi pembantu di rumah ibunya Putra. Dan juga bisa menjadi pembantu Putra.


"Ayahku adalah Pak Nardi," ucap Rita.


"Om Nardi? Kamu putrinya yang berasal dari kampung?" tanya Putra kaget.


"Benar. Ipar yang memfitnahku adalah Mas Yudi. Sama seperti kejadian di rumah orangtuamu. Aku minta maaf, karena saat kalian bertanya tentang hubunganku dengan Pak Nardi, aku bilang aku tidak ada hubungan dengannya. Aku tidak ingin membuat Ayah malu," kata Rita menjelaskan.


"Tapi aku lihat ayahmu, juga tidak berusaha membantumu saat itu," kata Putra.


"Ayah sebenarnya ingin membantu, tetapi aku memintanya untuk tidak melakukannya. Ibu tiriku sangat membenciku saat itu. Aku tidak ingin mereka bertengkar karena aku," jawab Rita.


Rita merasa lega sudah menceritakan tentang hidupnya. Sekarang sudah tidak ada lagi kebohongan diantara mereka. Rita menyerahkan semuanya pada jodoh dan takdir Tuhan


...****************...


Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku.

__ADS_1



__ADS_2