PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 25. Kampus baru


__ADS_3

Rita memilih kelas pagi, setelah semua pekerjaannya selesai. Dia mau ambil kelas siang, tapi dia takut kalau dia akan mengantuk saat kelas berlangsung.


Karena jarak kampus dengan apartemennya agak jauh, Putra sudah menyiapkan sebuah sepeda seperti yang Rita inginkan. Rita ingin terlihat sebagai mahasiswa biasa yang tidak menonjol dari segi apapun.


Suasana kampus baru memang sedikit membuat Rita canggung. Mereka terlihat saling bergerombol dan membentuk kelompok-kelompok kecil, yang terdiri dari 4 atau 5 anak-anak muda. Mereka seperti memiliki geng sendiri-sendiri.


Padahal mereka sudah dewasa, sudah bukan anak SMA lagi. Tetapi kebiasaan membentuk sebuah geng, masih sangat jelas terlihat di kampus ini.


Rita mencoba untuk tidak memperdulikan semua itu, Rita juga tidak ingin masuk geng manapun. Rita sadar jika dia di sini adalah untuk belajar bukan bermain-main.


Rita berjalan sendiri melewati salah satu kelompok geng wanita. Mereka terlihat sombong dan angkuh. Mereka pasti dari keluarga kaya dan terpandang. Rita berjalan seolah tidak melihat keberadaan mereka. Rita juga tidak ingin sedikitpun untuk mengganggu mereka.


Melihat Rita cuek dan tidak peduli dengan keberadaan mereka, salah seorang dari mereka menghentikan langkah Rita.


"Hai, kamu punya mata nggak? Beri hormat pada ketua kami!" teriak salah satu dari mereka yang bernama Zea.


Rita menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Rita merasa, mereka hanya gengsi karena Rita tidak takut pada geng mereka. Rita juga tidak ingin membuat masalah di hari pertamanya masuk kampus.


Rita dengan cepat memberikan hormat pada mereka dengan bersikap menghormati pada bendera.


"Hormat, grak. Tegak, grak," kata Rita tegas selayaknya pemimpin upacara.


Melihat apa yang dilakukan Rita membuat mereka bertambah marah. Mereka menganggap, Rita menghina mereka.


"Hai, gadis kampung. Kamu berani menghina kami?" tanya gadis yang bernama Mei.


"Loh, bukannya kalian minta aku untuk hormat pada ketua kalian. Aku udah kasih hormat, apa yang salah?" tanya Rita berpura-pura bodoh.


"Dasar kampungan, bodoh, tolol, lelet. Kamu sengaja mengolok-olok kami?" ucap Zea.

__ADS_1


"Terserah kalian mau ngomong apa. Aku masih banyak urusan dan tidak ingin ada urusan dengan kalian," kata Rita berniat melanjutkan langkahnya.


"Tunggu, maukah kamu bergabung dengan geng kami?" tanya gadis yang paling cantik yang ternyata adalah ketua mereka yang bernama Soya.


"Bos, kenapa minta dia bergabung dengan geng kita?" kata Mei kaget.


"Iya, dia nggak selevel dengan kita," ucap Dara.


Rita berbalik badan dan tersenyum mendengar perdebatan mereka. Rita menarik napas dalam-dalam berusaha tenang.


"Sorry, aku tidak tertarik. Permisi," jawab Rita lalu pergi meninggalkan geng Soya.


Rita tidak perduli dengan mereka, yang penting, Rita bisa belajar dan dia harus bisa membuktikan kalau dia belajar tidak main-main.


Rita sangat kaget saat melihat geng Soya ternyata satu kelas dengannya. Sempat merasa khawatir, takutnya geng Soya akan membuat masalah untuknya karena dia menolak bergabung. Kekhawatiran Rita sedikit hilang, saat mereka sama sekali tidak peduli dengan keberadaannya.


Tiba-tiba sebuah sepeda motor menghentikannya dan menodongnya menggunakan pisau. Rita turun dan memarkir sepedanya dikuti pria yang memegang pisau tersebut. Rita berdiri berhadapan dengan pria tersebut yang tampak masih muda.


"Masih muda, sayang sekali. Kalian salah memilih mangsa," gumam Rita.


"Serahkan dompet kamu atau aku bisa melukai kamu!" teriaknya dengan tangan gemetar. Itu berarti, pemuda ini belum terbiasa menggunakan senjata tajam


"Aku punya dompet, tapi tak ada uangnya," jawab Rita datar.


"Oh, jangan banyak bacot, cepat serahkan!" teriak pemuda situ lagi.


Rita mengambil dompet dari dalam tasnya. Di berjalan pelan mendekati pemuda itu. Saat pemuda itu akan mengambil dompet dari tangan Rita, Rita dengan cepat menarik tangan yang memegang pisau, lalu dipukulnya tangannya hingga pisaunya jatuh ke tanah.


Secepat kilat, Rita menghajar pemuda tersebut hingga babak belur. Melihat temannya jatuh tersungkur, temannya yang sejak tadi duduk diatas sepeda motor, langsung menghidupkan motornya dan pergi. Dia meninggalkan temannya yang masih tergeletak di jalan.

__ADS_1


Rita mendekati pemuda yang berusaha bangkit. Rita membantu pemuda itu duduk dan pemuda itu terlihat sangat malu dan menyesali perbuatannya.


"Maafkan saya, saya mohon, jangan laporkan saya ke polisi. Orangtuaku pasti akan membunuhku jika tahu aku merampok," ucap Pemuda itu memohon.


Rita melihat kejujuran dan ketulusan dari permintaan maaf pemuda tersebut. Rita berjanji tidak akan menyerahkan dia pada polisi.


"Aku tidak akan menyerahkan kamu ke kantor polisi, dengan satu syarat," ucap Rita.


"Apa, katakan?" tanya pemuda itu.


"Jangan ulangi lagi. Jika sampai aku melihat kamu mengulanginya lagi, aku tidak hanya akan menyerahkan kamu ke kantor polisi, tetapi juga aku akan membuatmu cacat terlebih dahulu," ancam Rita.


"Iya, aku berjanji. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Terima kasih. Boleh tahu namamu?" tanya pemuda itu.


"Rita," jawab Rita singkat


"Aku Reza. Terima kasih Rita," ucap Reza.


"Sama-sama, Reza."


Rita bergegas mengayuh sepedanya lagi dengan senyum bahagia. Kali ini, dia berhasil membuat seseorang kembali ke jalan yang benar.


Rita tidak menyadari, jika apa yang dia lakukan itu, dilihat oleh seseorang yang sudah memperhatikannya sejak dari kampus.


...****************...


Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku.


__ADS_1


__ADS_2