
"Cepat katakan!"
Rita sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Putra. Sementara, Putra terlihat sengaja mengulur-ulur waktu dan mencoba mempermainkannya. Rita menahan diri untuk tidak terbawa perasaan. Jangan sampai dia berbuat kasar.
"Kalau tidak mau jawab, nggak papa. Aku langsung bereskan saja barang-barang aku dan langsung pergi malam ini juga. Lama-lama bikin kesal," gumam Rita.
"Karena kamu jutek dan keras kepala. Satu lagi, siapa yang dekat sama kamu, harus siapkan diri," jawab Putra.
"Kenapa siapkan diri?" tanya Rita lagi.
"Berapa kali kamu pukul aku selama dekat denganmu?" tanya Putra.
"Memang nggak kehitung. Lalu, kalau sudah tahu begitu, kamu menyesal sudah menyukaiku?"
"Justru itu, aku malah semakin ingin bersamamu. Kamu itu, gadis kecil jagoanku. Aku sangat mencintaimu dan meskipun aku tahu tidak akan mudah bagiku bisa menyentuhmu tanpa seizin mu. Tapi aku harap, setelah menikah, kamu tidak akan menamparku lagi saat menyentuhmu," ucap Putra sambil tersenyum.
"Menikah, kenapa bisa sejauh itu pikiranmu? Aku masih banyak impian, masih harus kuliah dulu," kata Rita kaget.
"Aku tahu. Apa kamu tidak ingin bertemu ayahmu?" tanya Putra kali ini serius.
"Tidak, aku tidak ingin membuat ayah susah. Biar ayah dan keluarga barunya, hidup tenang dan damai tanpa aku. Aku ini hanya menjadi penghalang kebahagiaan ayah. Harusnya aku tidak datang ke kota ini," jawab Rita dengan menahan airmatanya yang tiba-tiba ingin keluar.
"Jangan bicara seperti itu. Ayahmu tidak akan pernah menganggap kamu itu menyusahkan beliau. Dan jangan pernah menyesal, kamu datang ke kota ini. Karena jika kamu tidak datang, kita tidak akan pernah bertemu dan saling jatuh cinta," kata Putra sambil mengusap airmata Rita.
"Bener juga. Aku juga tidak akan memiliki keinginan untuk kuliah lagi. Karena di kota, lulusan SMA tidak akan dapat memilih pekerjaan. Ujung-ujungnya, aku hanya bisa jadi pembantu," ucap Rita sedih.
"Rita, setiap kejadian buruk, pasti ada hikmah dibaliknya. Jadi mestinya kamu bersyukur, karena kejadian itu, kamu sekarang memiliki kekasih sepertiku," kata Putra sambil menatap Rita.
__ADS_1
"Iya, aku bersyukur bisa mendapatkan cinta dari seorang majikan. Jadi, memang seharusnya tidak ada yang harus disesali. Apa yang terjadi memang sudah ada yang mengatur. Berarti, surat kontrak kerja kita berakhir juga, bukan?" tanya Rita masih kepikiran dengan surat kontrak kerjanya.
"Tidak bisa, kita juga harus bersikap profesional. Pacaran ya pacaran, tetapi kerja tetap kerja dong," jawab Putra.
"Loh, kok gitu. Bukannya kamu ingin aku tidak tinggal di sini?" tanya Rita bingung.
Putra menjelaskan bahwa dia memang ingin Rita tidak tinggal bersamanya lagi. Tetapi, Putra masih tetap ingin Rita yang mengurus keperluan Putra kedepannya.
Rita masih akan melakukan. Pekerjaannya seperti biasa akan tetapi hanya pada waktu tertentu.
Sedangkan untuk masalah tempat tinggal, Putra tidak ingin ada fitnah karena tinggal serumah. Kalau dulu Putra berani mengajak Rita tinggal serumah karena Rita berstatus sebagai pembantu.
Tetapi sekarang setelah status Rita berubah menjadi kekasihnya, tentunya tidak pantas bagi mereka untuk tetap tinggal bersama.
Putra takut jika Putra tergoda dan tidak dapat menahan diri melakukan hal yang tidak seharusnya.
Rita membereskan semua barang-barangnya dan mengemasnya dengan rapi. Agar besok Rita sudah siap untuk pindah.
Keesokan harinya, Putra mengajukan cuti dan membawa Rita pergi. Rita berjalan mengikuti langkah Putra yang berjalan pelan. Tiba-tiba Putra berhenti tidak jauh dari apartemennya.
"Kenapa berhenti?" tanya Rita bingung.
"Kita sudah sampai," jawab Putra tersenyum.
"Hah, sampai, sampai mana?"
Putra tidak menjawab pertanyaan Rita. Putra bergegas membuka pintu sebuah apartemen di sebelah apartemen milik Putra. Putra segera mempersilakan Rita masuk.
__ADS_1
Ternyata, pindah rumah hanya sebuah istilah saja. Karena pindahnya di sebelah apartemen milik Putra. Putra membeli sebuah apartemen untuk Rita dan semua atas nama Rita. Rita tidak tahu sejak kapan Putra sudah mempersiapkan semua ini.
"Rita, aku sengaja membeli apartemen ini untuk kamu. Ini sebagai tanda cinta dariku. Semua atas namamu, jadi sampai kapanpun apartemen ini adalah milikmu. Jangan menolak karena aku memaksamu menerima. Karena selain dekat dengan apartemenku, aku juga menjagamu. Meskipun bisa dikatakan, akulah yang harus kamu jaga," ucap Putra.
Putra juga menjelaskan kalau Rita akan bekerja seperti biasa, hanya saja tidur mereka tidak serumah. Datang pagi untuk membuat sarapan dan membersihkan rumah dan Rita akan bekerja sampai kontrak mereka berakhir.
Satu hal lagi, Putra membawa Rita kesebuah kampus ternama di kota itu. Hari itu juga, Putra akan mendaftarkan Rita sebagai salah satu mahasiswa di sana. Rita semakin tidak mengerti dengan semua yang Putra lakukan untuknya.
Selesai semua itu, Putra mengajak Rita makan siang. Sambil makan siang, Putra kembali memberikan penjelasan pada Rita. Semua biaya kuliah akan ditanggung Rita sendiri. Uang dari hasil dia bekerja sebagai pembantu di tempatnya akan segera di hitung dan akan diberikan pada Rita.
"Aku tidak pernah memandang rendah pekerjaanmu sebagai pembantu. Aku bahkan kagum padamu, karena meskipun kamu anak orang kaya, kamu tidak malu bekerja sebagai pembantu. Kamu bisa mendapatkan uang sendiri dari hasil keringatmu dan tidak menadahkan tangan ataupun menggunakan kecantikanmu untuk bisa mendapatkan uang," ucap Putra serius. "Satu hal yang aku sukai darimu, keahlian bela diri yang kau kuasai, kamu gunakan untuk kebaikan dan nyaris kamu sembunyikan."
"Keahlian bela diri apa, aku tidak mengerti?" tanya Rita kaget.
Putra tersenyum lebar. Dia lalu bercerita tentang kejadian malam itu. Rasanya dia hampir tidak percaya. Malam itu, Rita bisa mengalahkan para perampok dengan mudah. Padahal tubuh Rita terlihat kecil dan lemah, tetapi ternyata dia seorang ahli bela diri.
"Aku pikir, malam itu kamu tidak sadarkan diri," ucap Rita malu.
Putra menyentuh tangan Rita dengan ragu. Setelah tidak terlihat ada penolakan dari Rita, barulah Putra berani menggenggam tangan Rita.
"Terima kasih," bisik Putra.
...****************...
Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku.
__ADS_1