PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 11. Kebenaran


__ADS_3

Semua orang saling berbisik-bisik masalah ini hingga liar tidak terkendali. Banyak yang menyalahkan Rita, bahkan mereka memandang Rita sebagai wanita murahan.


Meskipun begitu, keluarga Putra sangat percaya pada Rita karena selama bekerja dengan mereka, Rita tidak pernah menimbulkan masalah. Terlebih menyangkut hubungan seorang pria.


Rita menatap ayahnya yang tampak sedih karena tidak bisa menjadi tempat berlindung bagi Rita.


Rita masih berdiri menunggu pak Faro mengambil laptop dari ruang kerja pak pak Seno Wijaya. Sementara yang lainnya juga penasaran dengan kejadian hari ini.


Pak Seno dan istrinya, terlihat tidak senang karena di hari ulang tahun pernikahannya ada hal yang mengacaukan. Tetapi Rita tidak tahu, apakah mereka marah padanya atau pada Desi.


Desi dan Yudi saling berdebat. Yudi meminta Desi menyudahi semua ini dan memintanya pulang. Sedangkan Desi yang sudah sangat marah, ingin melihat seperti apa cara Rita menggoda calon suaminya. Dia juga ingin melihat semua orang tahu, siapa Rita yang sebenarnya.


Tidak berapa lama datanglah pak Faro dengan laptop ditangannya. Dia melihat ke arah bosnya yang sudah memberi isyarat untuk membuka isi CCTV hari ini. Semua mata tertuju pada laptop yang di letakkan pak Faro diatas meja.


Hanya Yudi yang tampak gelisah dan khawatir kedoknya akan terbongkar hari ini. Tetapi dia tidak bisa pergi karena Desi terus memeganginya.


Video CCTV malam ini di dapur akhirnya diputar. Mulai dari para pelayang yang menyiapkan makanan dan minuman hingga Yudi datang menemui Rita di sana.


Semua mata menatap video tersebut sambil menahan napas. Mereka seolah melihat sebuah sinetron. Melihat seorang pemain protagonis wanita sedang di lecehkan sang antagonis pria. Suara Rita dan Yudi terdengar sangat jelas.


Mereka lebih tegang lagi, saat melihat Rita menendang bagian alat vital Yudi dengan gerakan yang gesit. Seolah Rita memang ahli beladiri. Rasa kagum tampak dari wajah mereka melihat Rita yang tangguh dan tidak takut pada Yudi.


Mereka akhirnya tahu jika bukan Rita yang merayu Yudi melainkan sebaliknya. Wajah Desi dan orangtuanya tampak sangat marah. Terlebih saat mereka tahu dari pembicaraan Yudi dan Rita, jika peristiwa dulu di rumah mereka juga adalah kesalahan Yudi.


"Mas Yudi, kamu tega membohongi aku dan orangtuaku!" ucap Desi sangat kesal dengan Yudi.


"Desi, Sayang. dengarkan penjelasan aku. Aku hanya khilaf melihat Rita. Maafkan aku," ucap Yudi berusaha meminta maaf.


"Sudah, kita selesaikan di rumah saja. Malu di sini, membuat keributan di rumah orang. Desi, ayo pulang," ucap pak Nardi merasa malu. "Maafkan kami Mas Seno, kami sudah membuat acara ini berantakan. Kami permisi pulang dulu."


"Tidak apa-apa Mas Nardi. Yang penting semua kesalahpahaman sudah terbuka," jawab Pak Seno ramah.


Rita menatap ayahnya yang segera membawa mereka pergi dari rumah pak Seno. Sorot mata ayahnya seolah mengatakan permohonan maaf pada Rita. Rita hanya bisa mengangguk melihat ayahnya pergi.

__ADS_1


Setelah itu, pesta segera berakhir. Satu persatu tamu undangan pergi. Hanya satu yang masih bertahan di rumah ini, dia adalah Rama.


"Rama, kau tidak pulang?" tanya Putra saat melihat Rama masih anteng duduk.


"Tidak. Aku ingin bertemu Rita sebentar, nanti baru aku pergi," jawab Rama memohon.


"Tidak bisa. Malam ini, kami ingin membicarakan masalah pribadi keluarga kami. Kamu pergilah dulu, besok kamu masih bisa bertemu dia," ucap Putra.


"Baiklah. Tolong jaga Rita untukku," ucap Rama lalu pamit pergi.


"Dasar ...," gumam Putra.


Sementara itu, Rita sudah duduk di ruang keluarga bersama bersama Bu Kinar, pak Seno dan Mbak Sasa. Putra duduk di samping Rita tampak merasa bersalah.


"Pak Seno, Bu Kinar. Saya minta maaf Karena telah membuat pesta kalian berantakan. Saya tidak bermaksud seperti itu, saya sungguh menyesal," ucap Rita sedih.


"Kamu tidak bersalah, Rita. Kamilah yang seharusnya meminta maaf, karena kamu mengalami hal itu di rumah kami. Kami tidak bisa memberikan perlindungan kepada tamu kami," jawab pak Seno.


"Benar Rita, saya juga merasa bersalah karena sempat meragukan dirimu dan terhasut oleh ucapan Yudi," ucap Bu Kinar menyesal.


"Rita, sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan keluarga Om Nardi? Kalau dilihat-lihat, kalian sudah saling kenal," tanya Sasa.


Semua mata tertuju pada Rita, tidak terkecuali Putra. Hal yang ingin di ketahui setelah kejadian malam ini adalah asal usul Rita yang sebenarnya. Karena sejak awal, mereka semua tidak tahu dan tidak peduli dengan keluarga Rita.


Rita terdiam. Banyak hal yang dia pikirkan saat ini. Berkata jujur ataukah membohongi mereka, menjadi pilihan sulit bagi Rita. Jika dia jujur, apakah tidak akan mempersulit dan mempermalukan keluarga mereka kedepannya. Masa lalu mereka yang pernah mengusir Rita dan ayahnya tidak bisa melindungi Rita.


"Saya pernah bekerja di rumahnya," jawab Rita akhirnya berbohong.


"Sebagai pembantu?" tanya Sasa lagi.


Rita hanya mengangguk pelan. Pilihan yang Rita pilih, menjadi pilihan terbaik menurut Rita saat ini. Setelah kontrak kerjanya dengan Putra berakhir, dia akan kembali ke kampung. Saat itu tidak akan orang yang tahu ataupun peduli dengan dirinya lagi.


"Putra, apa malam ini kami akan menginap?" tanya ibunya.

__ADS_1


"Kayaknya nggak, Ma. Putra pulang saja. Kasihan Rita, malam ini menjadi malam yang berat buat dia," jawab Putra.


"Baiklah. Hati-hati di jalan," jawab ibunya.


Putra bergegas pergi bersama Rita yang mengikutinya dari belakang. Mereka segera naik ke mobil mewah Putra. Mobil Putra melaju kencang di jalanan yang cukup sepi.


Ketika mobil melewati jalanan sepi, tampak dari kejauhan, seseorang sedang berdiri di tengah jalan menghentikan mobilnya. Mobil Putra berhenti mendadak untuk menghindari orang tersebut.


Putra meminta Rita untuk tetap tenang di dalam mobil. Sedangkan Putra turun dari mobil dan mendekati orang tersebut. Rita hanya memperhatikan Putra dari dalam mobil dengan lampu mobil yang masih menyala.


Tiba-tiba, beberapa orang datang dan langsung menghajar Putra. Rita tampak kaget melihat Putra sudah babak belur dihajar orang-orang itu hingga tersungkur ke jalan.


Rita melepas sepatunya dan merobek bagian bawah gaunnya agar dia lebih leluasa bergerak. Dengan cepat dia keluar mobil dan berteriak keras.


"Hentikan, apa yang kalian lakukan!"


"Sepertinya ini yang dimaksud oleh bos kita. Kita tangkap segera supaya kita bisa segera mendapatkan uangnya," ucap salah satu diantara mereka.


Ini berarti, mereka bukan perampok biasa, tetapi adalah orang-orang bayaran. Mereka berjumlah 4 orang, dan Rita agak ragu bisa mengalahkan mereka sendirian. Tetapi, Rita tidka boleh putus asa, semua harus di coba.


"Ikutlah dengan kami, kami janji tidak akan menyakiti kamu, anak kecil," ucap salah satu dari mereka sambil tertawa.


"Kalian ingin menangkap ku? Lakukan kalau kalian bisa!" tantang Rita. "Maju."


Mereka agak terpancing emosi saat Rita menantang mereka. Satu orang maju untuk menghadapi Rita. Satu pukulan dari orang itu meleset dan Rita dengan sigap menendang kakinya hingga jatuh.


Melihat Rita bisa melawan, mereka akhirnya maju bersama. Rita menenangkan hatinya dan membayangkan saat dia berlatih di kampung dengan teman-teman seperguruannya. Dilatih bagaimana saat menghadapi beberapa orang sekaligus. Berbekal pengalaman itu, Rita bergerak lincah, menghindari satu pukulan dan melakukan pukulan telak saat mereka lengah.


Satu persatu dari mereka jatuh terkapar di aspal jalan. Rita memang sengaja menyerang bagian paling vital mereka. Hidung, ulu hati, dagu, ********, tepi leher, jakun dan mata. Pengetahuan ini, cukup membantunya membela diri.


"Bangun kalian, jika masih ingin merasakan lembutnya tendangan kakiku!" teriak Rita.


*****

__ADS_1


Sambil menunggu up selanjutnya, baca karya temen aku. Jangan lupa mampir.



__ADS_2