
Sentuhan Rita berawal dari hidung Putra yang mancung tidak seperti hidungnya yang agak pesek. Satu tangannya menyentuh bagian wajah Putra dan satu tangannya lagi menyentuh bagian wajahnya untuk perbandingan.
Jika dibandingkan dengannya, semuanya bagusan Putra. Ini tandanya, Rita harus bersyukur mendapatkan pria setampan Putra yang mencintainya dan sekarang menikahinya.
Wajah Rita yang tadinya tersenyum, mendadak cemberut. Pria seperti Putra, menikah dengan gadis sepertinya yang banyak kekurangan. Apa yang ada dipikiran Putra saat ini. Akankah dia menyesal?
"Sudah puas?" Suara Putra mengagetkan Rita.
"Pu-putra, belum tidur?" ucap Rita gugup.
Putra menggenggam tangan Rita yang tadi menyentuh wajahnya. Rita berusaha menariknya tetapi Putra dengan kuat menahannya. Rita merasa sangat malu karena ketahuan sedang mengagumi ketampanan Putra.
Putra menatap wajah Rita yang memerah tetapi justru itu membuat jiwa kelelakian Putra meronta. Jarang-jarang dia bisa melihat Rita dalam kondisi malu-malu selayaknya gadis yang merajuk.
Merasa sangat diatas angin, Putra tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Suasana romantis diatas ranjang, mulai putra rasakan. Putra mencium bibir merah Rita yang tipis dengan penuh gairah meskipun dalam hatinya ada perasaan waspada kalau Rita akan menolaknya.
Gini amat punya istri jago bela diri. Mau cium aja harus waspada kalau kena tendang, batin Putra.
__ADS_1
Rita tampak kaget, mendapat ciuman penuh gairah dari suaminya. Pria tampan yang membuatnya mensyukuri karunia-Nya karena bisa memilikinya.
Aku terima saja semua ini, rasa bahagia yang diberikan Tuhan ini, sebagai suatu hadiah yang indah, batin Rita.
Rita pasrah dan dia mulai mengikuti arus permainan suaminya yang mulai berani menyentuh area dadanya yang membuatnya geli. Dengan cepat tangan Rita berusaha menarik tangan Putra. Tetapi, Putra malah semakin bergairah dan meremasnya lembut.
Rita merasa seluruh tubuhnya seperti bara api yang semakin lama semakin memanas. Rita juga merasakan bahwa Putra juga pasti seperti dirinya saat ini, karena Deri napasnya terdengar lebih kencang dan tidak beraturan.
Saat Rita suda merasa terbakar, tiba-tiba Putra menghentikan aktivitasnya dan pamit pergi ke kamar mandi. Rupanya, Putra sudah mencapai ******* dan dia perlu ke kamar mandi untuk melepaskannya.
Sebagai seorang gadis yang belum tahu artinya melayani suami di ranjang, kejadian malam ini menjadi suatu pelajaran menjadi istri. Sayangnya, pelajaran belum selesai. Putra yang tidak ingin mengingkari janjinya agar tidak membuat Rita hamil sebelum lulus kuliah, menghentikannya di tengah jalan.
Hal itu membuat Rita salah paham dalam mengartikan hubungan intim antara suami dan istri. Hubungan intim itu tidak sakit dan termasuk mudah. Hanya berciuman dan saling menimbulkan gairah, setelah itu selesai.
Putra kembali merebahkan dirinya di samping Rita yang sudah tertidur lelap. Putra tersenyum bahagia meskipun malam ini dia hanya mendapatkan sebagian dari yang seharusnya. Tetapi cukup membuat Putra menikmatinya.
Putra berharap, malam pertamanya yang tertunda, akan mendapatkan malam pertama yang nantinya akan sangat berkesan untuknya, suatu saat nanti.
__ADS_1
Keesokan harinya, Putra dan Rita kembali ke kota untuk memulai hidup yang baru. Nenek memberikan banyak barang-barang bawaan dari kampung yang bisa Rita gunakan di kota. Seperti beras, sayuran dan bumbu dapur. Rita dan Putra enggan menolak karena tidak ingin membuat Nenek tersinggung.
Sesampainya di gedung apartemen, Putra menghubungi ibunya untuk meminta seseorang mengambil barang-barang pemberian Nenek. Rita dan Putra hanya mengambil sebagian saja karena mereka hanya berdua, sedangkan persediaan terlalu banyak.
Tidak berapa lama, ibunya datang dan membawa pulang barang-barang pemberian Nenek.
"Rita, Nenek kamu terlalu khawatir dengan kehidupan kamu. Padahal setelah menikah, kamu adalah tanggung jawab Putra. Tapi, namanya juga orang tua. Ini semua ibu bawa pulang, takutnya sayurannya keburu busuk. Mungkin akan ibu bagikan untuk tetangga rumah," kata Bu Kinar.
"Terserah ibu saja," jawab Rita sambil tersenyum.
Setelah ibunya pergi, Putra membawa barang bawaannya ke apartemennya. Saat di depan apartemen Rita, Rita berhenti dan berniat membuka pintu.
"Rita, bukannya kita sudah menikah, kenapa tidak tinggal bersama di apartemenku?" tanya Putra.
Rita terdiam. Apa yang di katakan Putra ada benarnya juga. Tapi, kalau tinggal bersama, bukankah semua orang akan tahu kalau mereka sudah menikah?
...****************...
__ADS_1