PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 38. Hanya memeluk


__ADS_3

Rita tidak menoleh sama sekali dan langsung berbaring di tempat tidurnya. Rita tidak peduli dengan Putra yang tampak bingung harus bagaimana. Mau ikut tidur satu ranjang, takut Rita tidka suka. Mau tidur di sofa, takut jika ada yang melihat.


Putra akhirnya dia duduk di tepi ranjang sambil sesekali melihat ke arah Rita. Rita sedikit kesal dengan sikap Putra yang tidak tegas dan tidak jelas dengan apa yang dia inginkan.


"Rita, bisakah kita perjelas status kita malam ini?" tanya Putra sambil melihat ke arah Rita.


Rita bergegas bangun saat mendengar kata perjelas status.


"Tunggu, harusnya kita buat surat perjanjian setelah menikah. Bentar aku siapkan dulu," jawab Rita.


Rita bergegas turun dari ranjang untuk mengambil dua lembar kertas dan dua pulpen. Rita memberikan kertas itu pada Putra.


"Karena aku belum siap, jadi kita tuliskan keinginan kita masing-masing. Sesuai yang pernah kamu janjikan padaku," ucap Rita.


Putra dan Rita membaut sebuah kesepakatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh selama Rita belum siap seratus persen menjadi istri Putra, sesuai janji Putra pada Rita sebelum menikah.


Banyak hal yang dituliskan Rita dalam surat perjanjian tersebut. Salah satunya adalah, Putra dan dia tidak akan berhubungan badan selayaknya suami istri sampai Rita lulus kuliah. Juga, pernikahan mereka akan menjadi rahasia sampai Rita siap menjadi istri Putra.


Sedangkan Putra berjanji tidak akan memaksa Rita berhubungan badan, sampai Rita siap secara lahir dan batin. Tetapi Putra ingin mereka tinggal satu kamar dan membawakan diri sebagai pasangan saat tidak ada orang lain.


Setelah mereka sama-sama setuju, mereka menandatangani surat tersebut dan masing-masing menyimpan satu. Maka sejak malam ini mereka bisa tidur satu ranjang tetapi tidak akan menjalankan ritual malam pertama sampai Rita siap.


Rita merasa cukup terlindungi setelah adanya surat tersebut karena dia percaya Putra akan menjalankan apa yang sudah dia janjikan.

__ADS_1


Rita merebahkan dirinya di samping Putra yang sudah lebih dulu berbaring. Rasa canggung sempat terlihat dari wajah mereka karena mereka belum terbiasa tidur satu ranjang.


"Rita, meskipun berjanji tidak akan berhubungan suami istri, setidaknya bisakah aku memegang tanganmu atau memelukmu," tanya Putra berusaha mencari celah agar bisa dekat dengan Rita.


"Bagaimana jika aku hamil?" tanya Rita polos.


Putra tertawa pelan mendengar jawaban polos Rita.


"Kalau hanya sekedar menyentuh dan memeluk, tak akan bisa hamil. Percaya padaku," ucap Putra.


"Kalau memang tidak akan hamil, nggak papa sih. Tapi beneran nggak akan hamil 'kan?" tanya Rita serius.


"Aku janji, sebelum kamu lulus kuliah aku tidak akan membuatmu hamil," jawab Putra sambil tersenyum.


Putra seperti mendapat angin segar. Meskipun malam ini dia tidak akan mendapatkan malam pertamanya dengan Rita, setidaknya dia masih bisa memeluk Rita hingga pagi menjelang.


Rita dan Putra bergegas bangun dan bergantian mandi. Rita keluar kamar lebih dulu untuk membantu Bibik menyiapkan sarapan. Tidak disangka, semua sudah siap di meja makan. Rita langsung duduk di sebelah Neneknya.


"Maaf, Nek. Rita terlambat bangun. Ini gara-gara semalam tidak bisa tidur," ucap Rita.


"Oh, tidak apa-apa. Nenek paham dan itu hal yang biasa karena ini pertama kalinya kalian sebagai suami istri. Namanya juga pengantin baru. Rita, ini belum seberapa. Dalam beberapa waktu, Putra pasti tidak akan membiarkan kamu tidur. Jadi kamu harus jaga kesehatan supaya bugar setiap hari," kata Nenek sambil tersenyum.


"Kenapa begitu, Nek. Kalau sampai dia tidak membiarkan aku tidur tenang, aku akan memukulnya. Lagian kenapa tidak membiarkan Rita tidur? Kalau sudah tahu akan seperti itu, harusnya Nenek marahi dia," ucap Rita sambil menatap Nenek.

__ADS_1


"Ya nggak bisa. Orang kamu sekarang tanggung jawabnya dia. Hal itu wajar Rita setelah menikah. Mungkin 4 sampai 5 kali itu masih wajar," sambung sang Nenek.


"Apanya yang 4 sampai 5 kali, Nek? Ke kamar mandi?" tanya Rita masih polos dalam hal begituan.


"Rita, apanya yang 4 sampai 5 kali? Apa kamu sakit?" tanya Putra yang baru saja datang. "Pagi, Nek."


Putra langsung duduk di sebelah Rita setelah menyapa Nenek. Nenek terlihat tersenyum melihat sikap Rita dan Putra. Mereka seperti kata pepatah, sumbu bertemu tutup, sama-sama bikin tertawa.


"Nggak, aku nggak sakit. Kita makan saja, karena aku harus pergi untuk bertemu teman. Besok kita kembali ke kota, karena aku harus kembali kuliah lagi," kata Rita.


Rita teringat jika saat ini dia sedang menjalani hukuman, di skors karena perkelahian. Untungnya Putra tidak tahu dan nanti kalau sudah kembali ke kota, Rita baru akan cerita.


Selesai sarapan, Rita kembali ke kamar untuk mengambil tas. Rita hari ini ada janji dengan teman masa kecilnya.


"Sayang, kamu tidak akan mengajakku dan memperkenalkan aku pada temanmu?" tanya Putra sambil mengikuti Rita.


"Kayaknya nggak. Nanti kamu cemburu. Mereka kebanyakan cowok," jawab Rita.


"Justru karena temanmu cowok, boleh ikut, ya?" rengek Putra.


"Bercanda, temenku cewek semua. Takutnya mereka nanti naksir kamu. Suamiku yang tampan. Lagian aku hanya bertemu untuk berpamitan saja," kata Rita sambil memegang wajah Putra.


"Ya sudah. Tapi jangan lama-lama. Ingat ada orang yang menunggumu di rumah," kata Putra yang disambut senyum oleh Rita.

__ADS_1


Putra tidak menyangka jika dia akan menjadi begitu khawatir dan cemas saat Rita pergi. Setelah mereka resmi menjadi suami istri, perasaan takut kehilangan ternyata semakin besar, bukan malah berkurang. Tetapi, dia harus bisa percaya pada istrinya dan tidak berpikiran macam-macam.


...****************...


__ADS_2