
Keempat orang tersebut, saling berpandangan. Mereka terlihat bingung dengan ucapan gadis kecil itu. Mau bangun, merelakan di tendang lagi. Padahal mereka ingin segera lari menjauh.
"Hei, Nona, kamu tidak lihat bagaimana kondisi temanmu?" tanya salah satu diantara mereka.
Rita mendadak panik. Di lupa jika saat ini majikannya terkapar dihajar pria-pria itu. Rita segera berlari menuju tempat Putra terkapar. Rita panik melihat wajah, dan tangan Putra memar.
"Pak Putra, kamu tidak apa-apa, 'kan? Untung Pak Putra masih bisa duduk, Rita pikir, Pak Putra pingsan," tanya Rita sambil menyentuh wajah Putra.
"Aduh, pelan-pelan Rita. Seluruh tubuhku rasanya sakit semua. Sebenarnya, siapa mereka, kenapa mereka ingin menangkap kamu?" tanya Putra sambil berdiri dibantu Rita.
"Kemana mereka, kok mereka sudah kabur, bagaimana ini?" gumam Rita panik.
"Sudahlah, biarkan saja mereka pergi. Bantu aku kembali ke mobil saja," titah Putra.
Rupanya keempat orang itu menggunakan kesempatan saat Rita fokus mengurus Putra, untuk kabur. Padahal Rita masih ingin mengorek keterangan tentang siapa yang menyuruh mereka. Tetapi, yang terpenting saat ini, keselamatan majikannya.
Putra menghubungi adiknya, Sasa untuk menjemput mereka karena Putra tidka bisa mengemudi. Sepertinya, tangannya terkena pukulan keras saat menangkis serangan pria-pria itu.
Tidak berapa lama, Sasa datang dan kaget melihat kondisi kakaknya seperti itu. Sasa berubah panik.
"Kak, siapa yang berani melakukan ini pada Kakak. Sebaiknya kita segera lapor polisi," ucap Sasa emosi.
"Sasa, sudahlah. Jangan bawa-bawa nama polisi. Kakak tidak mau berurusan dengan hukum. Apa kamu ingin saham perusahaan kita anjlok karena hal ini?" ucap Putra meyakinkan Sasa.
"Maafkan Sasa, Kak. Sasa hanya emosi. Untunglah Kakak tidak sampai terluka parah. Berapa orang yang mengeroyok Kakak?" tanya Sasa penasaran.
Putra diam saja. Sasa memang benar-benar cerewet sekali.
"Ada 4 orang, Mbak Sasa," jawab Rita karena melihat Putra enggan menjawab.
"Wah, Kakak hebat. Bisa mengalahkan 4 orang sekaligus," ucap Sasa senang.
__ADS_1
Putra hanya tersenyum karena bukan dia yang hebat, tetapi Rita yang yang sudah mengalahkan mereka.
"Benar, Mbak," ucap Rita mengiyakan yang disambut tatapan mata tajam Putra.
"Sasa, ayo pergi sekarang," titah Putra pada adik kesayangannya itu.
"Maaf, lupa kalau Kakak sedang terluka. Kita pergi sekarang," ucap Sasa yang segera membantu Putra masuk mobil.
Rita bergegas duduk di jok belakang dan mobil melaju dengan kencang menuju apartemen Putra.
Sesampainya di apartemen, Putra meminta Sasa menginap di tempatnya karena malam sudah semakin larut. Sasa ingin membantu mengobati luka kakaknya, tetapi Putra menolak dan meminta Sasa untuk segera beristirahat.
Sasa merasa agak kesal karena kakaknya lebih memilih Rita yang mengobatinya. Putra menyadari hal itu dan berusaha membuat Sasa tersenyum kembali.
"Sa, beberapa hari ini, kakak tidak bisa masuk kerja. Kamu gantikan posisi kakak, nanti aku koordinasikan dengan Rama," ucap Putra serius.
"Beneran, Kak, aku gantikan posisi Kakak? Asyik, bisa bertemu kak Rama setiap hari," ucap Sasa sambil tersenyum senang.
"Makanya cepat tidur, jangan sampai terlambat masuk kantor. Beri contoh yang baik untuk karyawan lain. Kamu tidur di kamar Kakak saja biar Kakak tidur di sofa," titah Putra yang segera dilaksanakan oleh Sasa.
Setelah Sasa masuk ke kamar Putra, Rita segera mengobati luka memar Putra. Mengompresnya dengan air es dan mengolesi luka Putra. Tetapi sungguh diluar dugaan luka memar Putra, tidak hanya di bagian luar saja, tetapi dibagikan punggung dan perut Putra sehingga Putra membuka bajunya.
Pemandangan indah di depan matanya, membuat Rita sedikit memicingkan mata dan melihat ke arah lain. Dia tidak bisa secara terbuka melihat tubuh majikannya yang kini bertelanjang dada. Bisa khilaf mata.
"Rita, kamu ini bagaimana, yang sakit mana, yang di kompres yang mana," ucap Putra agak kesal sambil melihat Rita, yang ternyata tidak melihat tubuhnya yang terluka.
Putra memegang tangan Rita dan menuntunnya ke arah perut yang agak membiru. Rita tidak bisa menolak karena memang dia salah, tidak melihat jelas mana saja yang terluka.
Setelah selesai, Rita mengambilkan selimut dan bantal untuk Putra. Sementara dia kembali kekamarnya dan tidur dengan lelap.
Keesokan harinya Sasa pergi tanpa sarapan terlebih dahulu karen dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu Rama.
__ADS_1
Jika teringat Rama, Putra teringat jika Rama menyukai Rita. Hari ini, Putra ingin meyakinkan diri, apakah dia mencintai Rita atau hanya sekedar kagum melihat Rita yang sangat mempesonanya.
Sejak bangun tidur, Putra mulai memperhatikan keseharian Rita. Gadis yang tidak terlalu suka berdandan itu meski baru bangun tidur, masih kelihatan cantik.
Seharian ini, Putra hanya fokus pada setiap gerak gerik Rita. Sebagai seorang yang pernah berlatih bela diri, Rita sadar jika saat ini, majikannya terus mengawasinya hingga membuat dia grogi dalam bertindak.
Malam ini, Putra meminta Rita untuk melihat luka-luka lebamnya, apakah sudah sembuh ataukah masih butuh perawatan.
Putra bertelanjang dada mempertunjukan bentuk tubuhnya yang seksi. Kali ini, mau tidak mau, Rita harus memperhatikan secara jelas seluruh luka di tubuh Putra.
Rita kali ini, tidak bisa tidak khilaf mata. Tubuh majikannya ini benar-benar seksi, dengan perut sixpack dan dadanya yang bidang. Rita bisa melihat dengan jelas, setiap lekuk dari tubuh majikannya.
"Bagaimana?" tanya Putra mengagetkan Rita.
"Bagus," jawab Rita spontan yang membuat Putra kaget. Rita juga kaget dengan jawabannya sendiri.
"Apanya yang bagus?" tanya Putra sambil menatap Rita yang terlihat malu-malu.
"Maksud aku, luka lebam di tubuh Pak Putra sudah membaik. Sudah bagus, menurut aku," jawab Rita sambil menghela napas berat. Untung dia memiliki alasan yang tepat.
"Oh, aku kira tubuhku yang bagus," ucap Putra agak kecewa karena Rita bisa menjawab pertanyaannya.
"Bagus, tapi seharusnya tidak diumbar gitu. Sengaja," gumam Rita.
Putra mendengar Rita bergumam. Dia menarik tangan Rita dan Rita terjatuh dalam pangkuan Putra. Tatapan mata mereka beradu. Putra tidak ingin kalah dari Putra, demikian juga sebaliknya.
Senyum Rita merekah menggoda. Tangan kecil itu menyentuh wajahnya. Putra membalas senyum Rita dan mendekatkan wajahnya hendak menciumnya.
Rita sangat kaget melihat apa yang di lakukan Putra. Apalagi saat merasa ada sesuatu yang bergerak di bawahnya. Rita tidka dapat membayangkan apa itu. Secepat kilat, Rita menampar wajah Putra dan segera berlari meninggalkan majikannya yang bengong melihat perlakuan Rita padanya.
*******
__ADS_1
Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku. Jangan lupa mampir.