
"Sayang, siapa yang kamu panggil sayang?" tanya Rama saat Putra mengintip dari balik pintu.
"Hai, Tuan muda Rama. Ada angin apa yang membawamu ke tempatku?" tanya Putra gugup. "Masuklah!"
"Silakan masuk, Pak Rama," kata Rita sambil tersenyum.
Rama berjalan masuk mengikuti langkah Rita. Rita menyiapkan sarapan untuk Rama meski seadanya.
"Sarapan dulu, nanti kita baru bicara," titah Putra pada sahabatnya yang masih diliputi tanda tanya.
Mereka bertiga sarapan bersama tanpa banyak bicara. Selesai sarapan, Rita membersihkan seluruh peralatan makan. Sementara Putra dan Rama berbincang di ruang santai apartemen Putra.
"Apa ini? Bukankah Rita sudah tidak bekerja di tempatmu lagi? Tunggu, ada panggilan sayang juga. Wajahmu juga berbeda dari biasanya, seperti menang lotere," tanya Rama beruntun.
"Karena aku menganggap kamu seperti saudara, maka hari ini aku akan jujur padamu. Aku sudah menikah," jawab Putra serius.
"Apa, menikah? Jangan bercanda, ini masih pagi," ucap Rama tidak percaya dengan pengakuan Putra.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanya Putra.
"Bener juga. Ah tapi, kalau memang kamu beneran dah nikah, mana istri kamu? Sekalian mau kenalan sama kakak ipar," tanya Rama penasaran.
"Sudah sarapan bareng, masa nggak tahu?" jawab Putra dengan balik bertanya.
"Dia?" tanya Rama seraya melihat ke arah Rita yang masih mencuci piring.
"Siapa lagi, emang ada wanita yang lain di tempatku ini? Sebenarnya, kedatangan kamu di sini sangat menggangguku. Harusnya aku yang kebagian cuci piring, karena ada kamu, aku harus menemani kamu ngobrol," jawab Putra.
Rama masih mencoba memahami pernyataan Putra. Apakah memang benar, dia dan Rita sudah menikah. Kalau memang benar, berarti dia memang sudah tidak ada harapan lagi.
__ADS_1
Sedangkan Putra tersenyum dalam hati. Rama adalah sahabatnya, tetapi juga saingan cintanya. Saat tahu Rita sudah menikah dengannya, Rama memang harus menyerah.
Selesai mencuci piring, Putra mendekati Rita dan memberitahunya jika Rama sudah tahu tentang pernikahan mereka.
"Kok bisa, tahu?" tanya Rita panik.
"Maaf, tadi aku salah panggil kamu Sayang, dia mulai curiga dengan hubungan kita. Jangan marah, ya?" kata Putra sedikit merajuk.
Rita menghela napas berat.
"Ya, sudah nggak apa-apa. Lagian juga, Samapi kapan kita bisa menyembunyikannya. Hanya saja, aku tidak ingin teman-teman kuliahku tahu kalau aku sudah menikah. Usiaku masih terlalu muda untuk menikah," jawab Rita.
"Kamu tidak perlu khawatir, semoga semua sesuai harapan kita," kata Putra sambil tersenyum.
Putra dan Rama pamit pada Rita untuk berangkat ke kantor. Sedangkan Rita bersiap pergi kuliah.
Meski agak canggung, Putra pamit pada Rita dan Rita menyambutnya dengan mencium tangan Putra. Melihat hal itu, mau tidak mau, Rama harus percaya dengan apa yang dikatakan Putra.
"Kamu juga hati-hati. Pelan-pelan naik motornya jangan ngebut," pesan manis dari Putra.
"Iya."
"Saya pergi dulu, Rita," pamit Rama.
"Silakan, Pak Rama," jawab Rita.
Setelah mereka pergi, Rita juga bergegas berangkat menuju ke kampusnya, dengan tetap memakai sepeda motornya.
Rupanya, geng Soya sudah menunggunya di halaman parkir. Mereka berlima berkumpul seolah mau ada acara demo. Padahal, Rita menganggap masalah dengan geng Soya sudah berakhir. Jadi, Rita bersikap cuek saja saat berpapasan dengan mereka.
__ADS_1
"Rita!" panggil Soya.
Rita menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. Rita berusaha tersenyum saat melihat ke arah Soya.
"Ada apa, ada yang bisa aku bantu?" tanya Rita santai.
"Aku memutuskan untuk menerima syarat kamu. Kamu akan menjadi ketua baru geng kami," kata Soya serius.
"Oh, serius? Padahal kemarin aku hanya bercanda," jawab Rita kaget.
"Apa, becanda? Kamu menguji kesabaranku?" ucap Soya kesal dengan sikap Rita.
"Kenapa, marah? Bukankah kamu ingin menjadikan aku ketua. Kalau mendengar perkataan aku, kamu langsung marah, bagaimana aku akan menjadi ketua kalian. Aku masih ada satu syarat lagi," kata Rita.
"Sorry, aku terbawa perasaan. Syarat apa lagi yang kamu minta?" tanya Soya berusaha menahan emosi.
"Selama aku menjadi ketua geng kalian, aku berhak untuk mengatur dan kalian wajib mematuhi aturanku. Jika kalian setuju, aku juga setuju," kata Rita sengaja.
Soya dan keempat anggotanya saling berunding. Terjadi perdebatan yang cukup lama hingga membuat Rita duduk santai seraya menunggu hasil perdebatan mereka.
Sebenarnya, Rita tahu jika saat ini geng Soya sedang bertaruh dengan geng lain untuk membuatnya bergabung. Tidak ada hadiah, hanya masalah kehormatan saja.
Setelah beberapa saat, Soya mendekati Rita. Rita cukup penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh Soya.
"Kami akan menerima syarat dari kamu," kata Soya gemetar.
Bagaimanapun juga, Soya enggan menyerahkan jabatan ketua pada Rita. Tetapi jika bukan karena dia sudah terlanjur menyombongkan diri dihadapan geng lain, Soya tidak akan mau menjadi anak buah Rita.
"Baik. Jadi mulai saat ini, aku bersedia menjadi ketua geng kalian. Karena kamu bukan lagi ketua geng, maka nama geng Soya akan aku ganti dengan Geng Smart," kata Rita dengan penuh semangat.
__ADS_1
Rita tidak peduli dengan kelima anggotanya yang saling berbisik-bisik. Yang pasti, Rita sudah menyiapkan rencana untuk geng smart.
...****************...