PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 7. Terpikat


__ADS_3

Rita bangun pagi-pagi sekali. Setelah Melakukan kewajiban, Rita memulai kegiatan setiap pagi. Membersihkan lantai dan memasak. Masakan untuk sarapan pagi ini, roti panggang dan segelas susu.


Sambil menunggu Putra, Rita duduk sambil menyandarkan kepalanya diatas meja makan beralaskan salah satu lengannya. Rasanya sangat nyaman dan dia mulai tertidur.


Saat Rita mulai tertidur, Putra datang untuk sarapan. Dia tertegun saat melihat Rita tertidur lelap walupun meja makan.


Putra perlahan berjalan mendekat, menarik kursi hingga duduk dan berada di dekat Rita. Dipandanginya wajah cantik yang selama ini tidak dia perhatikan dengan jelas. Ada rasa berdebar saat dekat dengannya. Apalagi seperti sekarang ini, menatap wajahnya dengan begitu dekat.


Apakah aku jatuh cinta padanya? Batin Putra.


Putra menarik napas berat. Apa yang akan orang pikirkan tentang dirinya, jika mereka tahu bahwa dia mencintai seorang gadis kecil. Orang-orang akan menganggap dia seorang predator anak.


Rita, gadis yang baru berusia 19 tahun itu, mampu membuatnya tertarik. Sehingga dia membuat rencana untuk bisa membuat Rita tetap berada di dekatnya. Dengan menjadikannya pembantu berdasarkan kontrak kerja yang menguntungkan Putra. Dengan sistem denda, Putra berhasil mengikat Rita.


Awalnya dia tertarik pada Rita karena ingin balas dendam, atas apa yang dilakukannya saat pertama kali mereka bertemu. Tetapi beberapa waktu hidup bersama, rasa itu berubah menjadi ketergantungan.


Putra tentu saja gengsi untuk mengakui perasaannya. Karena jika Rita sampai tahu kalau dia menyukai Rita, Rita pasti menertawakannya. Dilihat dari sifat Rita, dia pasti akan tertawa dan mengejeknya sepanjang waktu.


Bagiamana mungkin aku jatuh cinta pada gadis kecil seperti Rita. Gadis yang urakan dan tidak ada lembut-lembutnya ini, batin Putra.


Tidak dapat dipungkiri, jika Rita memiliki kecantikan alami. Tidak pernah Putra melihatnya berdandan, tetapi dia masih terlihat cantik. Kulitnya yang putih dan lembut tanpa tersentuh perawatan, masih tetap terlihat halus. Bibirnya merah alami tanpa pemerah bibir. Sayangnya dia sangat cerewet.


Putra semakin mendekatkan wajahnya ingin lebih dekat melihatnya. Dilihat lebih dekat, dia semakin cantik.

__ADS_1


Saat itu, Rita terbangun karena merasakan ada hembusan napas yang mengenai wajahnya. Matanya perlahan terbuka. Melihat wajah Putra hanya berjarak dua centi dari wajahnya, spontan dia menegakkan badannya dan menampar wajah Putra.


"Kau, kenapa kamu menamparku?" tanya Putra sambil meringis memegangi wajahnya.


"Maaf, itu aku reflek karena kaget. Itu bawaan karena kebiasaan. Coba aku lihat," kata Rita panik sambil berusaha memeriksa wajah Putra.


"Waduh, sampai merah dan membekas. Maaf," ucap Rita lagi dengan penuh penyesalan.


"Rita, ini bagaimana aku harus bekerja?" tanya Putra panik.


"Sabar, Pak. Sebentar," ucap Rita lalu pergi untuk mengambil bedak miliknya yang sudah lama tidak dipakai.


"Apa itu, Rita?"


"Bedak, tapi kapan ya aku belinya. Apa, Jangan-jangan sudah kadaluarsa?" jawab Rita dan bergumam.


"Untuk menutupi bekas tamparan aku. Pasti bisa," jawab Rita yakin.


"Nggak mau nggak mau. Memangnya aku wanita?" tolak Putra panik. "Memangnya dari mana kamu tahu kalau bedak bisa menutupi bekas tamparan. Ini tuh butuhnya obat, bukan bedak."


"Nolaknya sampai segitunya, kayak mau di suruh kawin aja," ledek Rita sambil menutup kembali bedak ditangannya.


"Kawin, aku nggak akan nolak. Asal, calonnya, sesuai yang aku suka," ucap Putra membalas ledekan Rita.

__ADS_1


"Aduh, aku lupa jika Pak Putra belum ada calonnya. Pasti pilihannya terlalu tinggi, jadi belum Nemu kali ya?"


"Nggak juga. Pilihan aku simpel saja. Gadis yang kayak kamu udah cukup," jawab Putra yang membuat Rita terbius sesaat. Lalu suara tawanya membuat Putra kesal.


"Nggak peka banget, dasar bodoh," gumam Putra.


"Aduh, perut aku sampai sakit. Jangan ... jangan cari yang kayak aku, Pak Putra nggak bakalan kuat. Cerewet, nggak suka diatur, galak, memiliki refleks yang tinggi. Nggak jera apa abis kena pukul," ucap Rita berusaha menghentikan tawanya.


"Rita, aku juga bercanda kali. Memiliki istri seperti kamu, harus memiliki kesabaran ekstra tinggi, untuk bisa bertahan. Sudahlah, ini masih sakit," kata Putra meringis.


"Sini, apa perlu aku tiupin supaya tidak sakit?"


"Usul kamu boleh juga. Tapi, pelan-pelan saja."


Rita duduk mendekat sambil memegang dagu Putra dan mulai meniup wajah Putra yang masih merah. Rita sungguh merasa bersalah jadi dia akan melakukan sesuatu supaya bisa menghilangkan rasa bersalah itu dengan membantunya.


Hembusan napas Rita, bagaikan aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sentuhan Rita membuat jantung Putra berdetak sangat cepat. Hatinya berdebar kencang dan yang lebih membuat dia merasa canggung dan ingin segera kabur adalah adik kecilnya yang tiba-tiba bereaksi.


"Kacau," gumam Putra terbelalak merasakan celananya terasa ketat. Dia segera melepaskan tangan Rita lalu beranjak pergi, sebelum Rita menyadari jika Dia mampu menimbulkan hasratnya yang selama ini seakan mati.


Rita menghela napas panjang melihat majikannya pergi tanpa mengucapkan terima kasih padanya terlebih dahulu. Orang kaya memang sombong.


Bersambung

__ADS_1


Yuk baca karya teman aku, jangan lupa mampir.



__ADS_2