PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 34. Menjenguk Nenek


__ADS_3

Akhirnya Rita setuju untuk pulang kampung bersama ayahnya dan Putra. Tidak banyak hal yang Rita pertanyakan dengan ikutnya Putra. Rita tidak ingin menunda waktu agar dia bisa segera bertemu dengan Neneknya.


Putra segera menghubungi Rama untuk menghandle semua pekerjaan kantornya. Putra juga menyiapkan beberapa pakaian ganti karena dia tidak tahu, berapa lama dia akan tinggal di kampung halaman Rita.


Sementara itu Rita dan Pak Nardi tidak menyiapkan apapun karena mereka masih memiliki pakaian ganti di rumah Neneknya. Pak Nardi hanya menghubungi istrinya untuk memberitahukan bahwa dia pergi ke kampung karena ibu mertuanya sakit keras.


Mereka berangkat dengan menggunakan mobil Putra. Rita duduk di depan untuk menemani Putra mengobrol agar tidak mengantuk selama dalam perjalanan. Meskipun, jarak kota tempat tinggal mereka dengan kampung halaman Rita, tidak membutuhkan waktu lama. Hanya sekitar 5 jam perjalanan dengan menggunakan mobil, Rita tidak ingin terjadi hal buruk di jalan karena mengantuk.


Mereka bicara mengenai jalan menuju ke kampung halaman Rita dan juga membicarakan tentang Nenek. Putra lebih banyak bertanya tentang Nenek dan kondisi penyakitnya.


Rupanya Putra sudah memiliki rencana untuk mengambil hati Neneknya Rita agar mendapatkan restu untuk menikahinya suatu saat nanti. Rita dengan penuh antusias menceritakan semua tentang Nenek. Apa ya g beliau sukai dan yang tidak. Meskipun Rita sama sekali tidak peduli karena Nenek tidak pernah marah pada Rita.


Setelah perjalanan cukup melelahkan, sampailah mereka di sebuah rumah sakit kecil di daerah itu. Rita segera menghubungi paman Jono untuk mengabarkan bahwa mereka sudah sampai di rumah sakit.


Paman Jono memberikan nomor ruang rawat inap Nenek secara detail. Paman Jono juga akan menunggu kedatangan mereka di luar ruangan.


Mereka bergegas masuk dan menuju ruang rawat inap Nenek sesuai petunjuk dari Paman Jono. Mereka naik lift agar lebih cepat sampai.


"Rita, kamu tenanglah. Semoga Nenekmu baik-baik saja," ucap pak Nardi memberi semangat Rita agar tidak panik.


"Ayah, bagaimana Rita tidak panik, saat Rita pergi, Nenek yang memberi izin Rita untuk kembali ke kota. Kalau tahu Nenek akan sakit, Rita tidak akan mau pergi," jawab Rita sedih.


"Rita, tidak ada orang yang akan tahu kalau dia akan sakit. Kita berdoa saja, supaya Nenek bisa segera sembuh," kata Putra ikut bicara.


Rita hanya menganggukkan kepalanya pelan agar mereka berdua tidak menceramahinya lebih banyak lagi. Melihat sikap Rita yang sangat berbeda dengan yang selama ini dirasakannya, membuatnya mengerti, bahwa apa yang dia lihat belum tentu yang sebenarnya. Casing itu kadang menipu.

__ADS_1


Rita lebih terlihat lemah lembut jika berbicara tentang Neneknya. Bahkan nada bicara pun berbeda dengan saat Rita di kota yang lebih terkesan berani dan keras kepala.


Pintu lift terbuka dan seseorang sudah menunggu. Dia adalah paman Jono.


"Mbak Rita, segera ikut Paman masuk," titah Paman Jono.


"Baik, Paman," jawab Rita singkat.


Putra berniat ikut masuk ke dalam ruangan tempat Nenek di rawat, tetapi Pak Nardi bergegas menarik lengan Putra dan mengajaknya duduk di kursi tunggu di luar ruangan.


"Ayah, kenapa?" tanya Putra kaget.


"Jangan mengganggu mereka. Biarkan mereka bertemu berdua saja. Ayah pikir, ada banyak hal yang pasti ingin mereka bicarakan. Tunggu saja di sini," kata Pak Nardi yang membuat Putra bingung.


"Tapi, bukankah Paman yang tadi itu ikut masuk?" tanya Putra lagi.


Tidak lama setelah ucapan pak Nardi, Paman Jono keluar dan mendekati mereka. Paman Jono ikut duduk sambil memperkenalkan diri pada Putra.


"Perkenalkan, aku panggil saja, Paman Jono," ucap Paman Jono sambil menjabat tangan Putra.


"Putra," ucap Putra singkat.


"Pak Nardi, aku tidak menyangka kalau kalian akan datang bersama-sama," kata Paman Jono.


"Kebetulan saja, saat kamu menghubungi Rita, aku ada di tempatnya. Mungkin Allah sudah mengaturnya agar kami bisa datang bersama. Supaya Ibu tidak khawatir dengan kondisi Rita di kota," jawab Pak Nardi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Lalu, pemuda tampan ini siapa, sopir pribadimu atau sopir sewaan?" tanya Paman Jono.


Apa, aku di kira sopir pribadi bahkan dikira sopir sewaan? Apa penampilanku kurang meyakinkan sebagai seorang calon menantu? batin Putra.


"Kamu tanya saja dia langsung," jawab Pak Nardi.


"Kamu siapa, anak muda?" tanya Paman Jono.


"Aku, calon suaminya Rita," jawab Putra percaya diri.


Paman Jono sempat terkejut, mendengar jawaban Putra. Lalu tiba-tiba senyum Paman Jono terlihat seolah dia bahagia bertemu Putra.


"Jadi, Rita tidak berbohong, saat dia menolak lamaran mengatakan kalau dia sudah memiliki calon sendiri. Baguslah, Nenek pasti ikut senang," gumam Paman Jono.


Belum sempat Putra mengungkapkan rasa penasarannya, Rita keluar dari ruangan Nenek dengan wajah pucat. Putra dan Pak Nardi saling berpandangan.


"Ada apa, Rita?" tanya Putra.


"Ayah, Putra. Nenek ingin bicara dengan kalian," ucap Rita pelan.


"Ada, apa, apakah Nenek sakit parah?" tanya Pak Nardi panik.


"Kalian masuk saja. Dan lihat sendiri bagaimana kondisi Nenek. Paman Jono juga," jawab Rita.


Rita lalu masuk kembali diikuti Putra dan Pak Nardi Serda Paman Jono.

__ADS_1


Hati Putra penuh tanda tanya.


...****************...


__ADS_2