
Rita tidak menyangka jika Putra akan menunggunya hanya untuk makan siang. Padahal hanya makan saja, dia punya tangan yang bisa untuk makan sendiri.
Beginikah jika sudah memiliki suami? Makan saja harus berdua, tidur di ranjang berdua. Apa semua memang harus berdua?
Rita mengeluh dalam hati.
"Rita, kamu bawakan makanan untuk suamimu. Takutnya dia memiliki penyakit lambung. Jangan sampai dia sakit," kata Nenek mengingatkan Rita.
"Baik, Nek. Rita cuci tangan dulu," jawab Rita lalu bergegas menuju ke dapur.
Rita mencuci tangan sambil terus belajar menjadi seorang istri. Menikah itu tidak semudah yang Rita kira.
Sambil membawa makanan di tangannya, Rita berjalan cepat menuju ke kamarnya. Saat itu, hari sudah menunjukan pukul 3 sore. Rita langsung membuka pintu kamarnya. Dia kaget saat melihat Putra sedang meringkuk di atas tapi tidur. Entah dia sedang tidur atau tidak.
Perlahan Rita berjalan mendekat. Dia meletakan piring yang dibawanya ke atas meja rias. Rita mendekati Putra dan duduk di tepi ranjang. Perlahan dia mencoba membangunkan Putra.
"Putra, bangun, ini aku bawakan makanan untuk kamu," ucap Rita lembut sambil menyentuh lengan Putra.
Putra tidak bereaksi meskipun Rita berkali-kali membangunkannya. Hati Rita mulai ketakutan.
"Putra, kamu jangan mati. Aku nanti bagaimana? Aku tidak mau jadi janda. Usiaku masih terlalu muda," kata Rita sambil terus menarik lengan Putra.
"Kamu ini kenapa menangis? Tubuhku lemas, aku pingin tidur," kata Putra sambil menggeliat pelan dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
"Bikin takut saja," gumam Rita sambil mencubit pinggang Pitra.
"Rita, kamu istriku apa musuhku!" teriak Putra kesakitan.
"Salah sendiri, kenapa mesti manja? Pake acara tidak mau makan segala. Jadi, aku dimarahi Nenek," kata Rita kesal.
"Benarkah, kamu dimarahi Nenek? Maafkan aku, aku hanya ingin kita makan bersama karena sekarang kita sudah menjadi suami istri. Rita, jangan marah," kata Putra lalu duduk di samping Rita.
"Aku tidak akan marah, asal kamu mau makan makanan yang aku bawa ini. Bagaimana?" tanya Rita rupanya tadi sedang bersiasat.
"Siap. Tapi apa kamu sudah makan?" tanya Putra penuh perhatian.
"Tadi udah makan sama Harti dan Rendi," jawab Rita datar.
"Jangan cemburu. Kami hanya menyelesaikan masalah kami yang belum selesai," jawab Rita.
"Kenapa aku jadi tidak selera makan?"
"Kamu harus makan, kamu nanti kamu sakit bagaimana? Aku suapi?"
Rita mengambil piring yang masih berada di atas meja. Dia sengaja menyuapi Putra sesuap demi sesuap. Akhirnya, habis sudah nasi yang ada di tangan Rita.
"Jangan tidur dulu setelah makan. Ayo keluar jalan-jalan. Aku ingin menunjukkan suasana kampung yang asri. Kamu pasti suka," ajak Rita sedikit memaksa.
__ADS_1
"Boleh."
"Aku bawa piring ini ke dapur dulu," kata Rita.
Putra mengikuti langkah Rita, menuju ke dapur. Setelah itu mereka pergi jalan-jalan ke tanah keluarga Rita yang saat ini ditanami sayuran. Tanaman tomat dan cabe mendominasi tanaman di tanah keluarganya.
Beberapa waktu lalu, baru selesai di panen dan kini baru mulai menyemai kembali.
"Rita, kalau semua tanaman ini berbuah, pasti terlihat sangat cantik. Bisakah kita ke sini saat itu?" tanya Putra.
"Tentu saja. Nanti kalau panen tiba, nanti aku minta sama Nenek untuk memberitahu kita," kata Rita.
Cukup lama mereka berjalan-jalan, hingga waktu sudah mulai menjelang malam. Mereka memutuskan untuk segera kembali karena mereka belum berkemas untuk pulang besok pagi.
Pada saat makan malam, Putra hanya bisa makan sedikit untuk menghormati Nenek. Ditambah lagi, Putra sudah kenyang sejak makan sore tadi.
Selesai makan malam, Rita membereskan beberapa barangnya, untuk dibawa ke kota. Sedangkan Putra sudah sejak tadi berbaring di tempat tidurnya karena memang dia tidak banyak barang yang harus dia bawa.
Merasakan tubuhnya kecapekan, Rita ikut berbaring di sebelah Putra. Rita melihat ke arah Putra yang sudah sejak tadi tertidur. Baru kali ini, Rita berani menatap wajah Putra secara jelas dan sangat dekat.
Rita menyentuh pipi Putra lalu bagian wajah putra lainnya. Rita tidak tahu jika Putra ternyata belum tidur.
...****************...
__ADS_1