
Saat hati Rita penuh pertanyaan, Putra tiba-tiba datang dengan gaya cool dan percaya diri. Tidak seperti biasanya jik bersamanya, Putra menunjukan gaya ksatria.
"Pak Putra," sapa Reza.
"Hallo, apa kabar, Reza?" tanya Putra penuh wibawa.
"Baik, silakan duduk," jawab Reza ramah.
Rita hanya diam dan memperhatikan kedua pria yang berbeda usia tersebut dengan penuh tanda tanya.
"Reza, seperti yang aku katakan di telepon tadi, aku minta kamu untuk mengklarifikasi kejadian hari itu. Tetapi, silakan kmu pertimbangkan dulu konsekuensinya bagi dirimu. Kamu akan dikenal sebagai seorang penjahat," kata Putra mengingatkan.
"Saya sudah memikirkannya saat bertemu dengan Kak Rita. Saat itu Kak Rita sudah mau memaafkan saya dengan tidak melaporkan saya ke kantor polisi. Sebagai balasannya, saya akan memberikan klarifikasi kepada pihak kampus untuk mengembalikan nama baik Kak Rita," ucap Reza penuh keyakinan.
"Tunggu. Apakah ini bukan kebetulan?" tanya Rita sambil menatap Putra.
"Maaf, aku belum memberitahumu. Aku meminta Reza untuk mengklarifikasi kejadian hari itu. Tapi, dia memiliki syarat untuk bertemu langsung denganmu," jawab putra.
"Oh begitu? Reza, sepertinya aku berubah pikiran. Kamu tidak perlu mengklarifikasi lagi. Biar saja semua berlalu, toh aku juga sudah masuk kuliah lagi. Reza, hiduplah dengan baik dan jangan mengingat masa lalu. Aku ingin, saat bertemu denganmu nanti, kamu sudah menjadi pria yang hebat," kata Rita penuh semangat.
"Tapi, Kak Rita ...."
"Sudah, tidak ada tapi-tapian. Kamu belajarlah yang baik dan jangan menengok ke belakang lagi. Kamu masih muda dan masa depanmu masih panjang. Jangan sampai namamu cacat, cukup aku saja," ucap Rita lagi.
"Terima kasih, Kak Rita," ucap Reza.
__ADS_1
Keputusan yang diambil Rita secara tiba-tiba membuat Putra sedikit kecewa. Tetapi Putra menghormati keputusan Rita demi masa depan Reza, walaupun hal itu mengorbankan nama baik Rita.
"Kak Rita, Pak Putra, Reza pamit pulang dulu. Sekali lagi terima kasih untuk pengertiannya," kata Reza sambil menatap Rita dan Putra bergantian.
"Sama-sama," jawab Rita dan Putra bersamaan.
Reza menyalami Rita dan Putra lalu melangkah pergi. Rita menarik napas dalam-dalam karena merasa kasihan pada Reza. Seandainya Reza benar-benar melakukan apa yang dia inginkan, maka nama baik Reza sulit untuk kembali.
"Sayang, kenapa kamu melarang dia? Kamu tahu betapa sulitnya untuk menemukan Reza?" tanya Putra.
"Aku tahu. Aku sangat berterimakasih untuk apa yang telah kamu lakukan. Tapi, masa depan dia lebih penting daripada aku. Aku sudah terbiasa di bully, dan aku bisa menghadapinya. Bagaimana jika itu terjadi padanya? Mas ndak perlu khawatir, kali ini Rita akan memberikan hadiah. Katakan apa yang kamu inginkan, aku pasti akan mengabulkannya," kata Rita penuh keyakinan.
"Kamu yakin akan mengabulkan apapun permintaanku? Demi Allah?" tanya Putra.
"Tidak, kita langsung pulang saja. Sekali-kali tidak lembur," jawab Putra.
"Nanti, kamu bisa pulang dulu, aku mau mampir beli nasi goreng untuk makan malam kita," kata Rita sambil berjalan di samping Putra.
"Terserah kamu saja," jawab Putra singkat.
Mereka akhirnya pulang dengan naik kendaraannya sendiri-sendiri. Rita naik sepeda motor dan Putra naik mobil.
Di pertigaan, Rita mampir ke sebuah warung makan yang menjual nasi goreng. Dia membeli dua bungkus nasi goreng untuk dia dan Putra.
Rita lega sudah memegang dia nasi goreng, jadi nanti dia tidak perlu masak dan bisa langsung istirahat. Rita bergegas menghidupkan motornya dan segera melaju di jalanan yang cukup sepi.
__ADS_1
Dari kaca spion, Rita kaget saat melihat mobil Putra berada di belakangnya. Rupanya, saat Rita berhenti membeli nasi goreng, Putra juga berhenti. Rita tersenyum senang, merasa diperhatikan.
Ternyata memiliki suami itu menyenangkan. Karena ada seseorang yang selalu ingin melindungi dan memperhatikan.
Sampai di apartemen, mereka bergegas mandi dan menjalankan kewajiban. Setelah itu mereka makan malam berdua dengan nasi goreng yang Rita beli.
"Enak juga nasi goreng ini, kapan-kapan Rita mau beli lagi," kata Rita setelah selesai makan.
"Kamu suka, nasi goreng? Jika ada waktu, nanti aku akan buatkan spesial untuk istriku," kata Putra.
"Bisa. Dulu saat aku masih kuliah, aku sambil kerja di sebuah restoran yang menjual nasi goreng. Mungkin saatnya aku praktekkan," jawab Putra.
"Boleh, tapi kapan kamu ada waktu. Setiap hari pergi kerja, pulangnya udah larut. Akhir pekan pergi ke rumah ayah dan ibu," kata Rita sedih.
Putra tersenyum bahagia. Istrinya baru merasa tidak diperhatikan. Padahal biasanya cuek saja. Sengaja menghindari saat hanya berdua. Karena pasti akan sangat sulit untuk bisa menahan diri.
"Rita, akhir pekan ini, aku tidak akan kemana-mana. Kita di rumah saja untuk masak-masak. Oh ya, aku sudah memikirkan sebuah permintaan, apa yang tadi siang masih berlaku?" tanya Putra sambil menatap Rita.
"Masih, memang apa permintaan kamu?" Rita balik bertanya.
"Anak. Aku inginkan anak darimu," jawab Putra ragu.
"A--anak?"
...****************...
__ADS_1