
Rita menatap sang ayah dengan tatapan sedih. Dari pertanyaan sang ayah, Rita takut jika ayahnya tidak menyetujui hubungannya dengan Putra.
"Ayah, kami saling mencintai. Putra menerima Rita apa adanya. Rita yang kasar, Rita yang keras kepala, Rita yang tidak bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik. Ayah ...," ucap Rita sambil meneteskan airmata.
Sekalipun hubungannya dengan Putra sedang tidak baik, tetapi Rita masih ingin memperjuangkan cintanya pada Putra.
"Rita, Ayah tidak pernah bilang tidak setuju kamu pacaran dengan Putra. Untung saja, kamu memberitahukan hal ini pada ayah. Ayah akan membicarakan masalah ini dengan orang tua Putra," jawab Pak Nardi sambil tersenyum.
"Jangan, Ayah. Kami belum siap, terutama Rita. Rita masih pingin kuliah dan bekerja. Lagi pula saat ini, kami sedang ada masalah dan Rita tidak tahu apakah semua akan baik-baik saja," kata Rita panik.
"Masalah apa? Coba katakan pada ayah, siapa tahu ayah bisa bantu," tanya Pak Nardi.
"Ayah, apakah tugas istri seperti pembantu?" tanya Rita ragu.
"Anak ayah sudah mulai dewasa. Pertanyaan seperti itu seharusnya ditanyakan oleh wanita yang akan menikah. Apakah kamu berniat menikah dalam waktu dekat?" tanya Pak Nardi sambil tersenyum.
"Ayah, Rita hanya bertanya saja. Apa tidak boleh?" jawab Rita malu.
"Boleh. Begini, ayah ini bukan ustad. Tetapi, setahu ayah, seorang istri tempatnya itu di samping suami. Karena istri adalah potongan dari tukang rusuk suami. Dengan kata lain, semua pekerjaan rumah tangga itu bukanlah kewajiban istri. Kewajiban istri hanya pada kebutuhan suami. Tetapi, mungkin karena hal mendesak atau perekonomian tidak baik, atas inisiatif istri, diperbolehkan melakukan semua itu. Itu artinya, pria itu mendapatkan bonus istri yang rajin," jawab pak Nardi panjang lebar.
"Tapi setahu Rita, semua istri melakukan pekerjaan rumah?" tanya Rita lagi.
"Iya, karena itu sudah menjadi kebiasaan wanita-wanita pada umunya. Mereka saling berlomba untuk memiliki hal istimewa itu, agar menyenangkan suaminya. Padahal, kalaupun tidak bisa, jika memang dia tulus mencintai, pria itu tidak akan melihat apakah dia bisa masak atau tidak. Bisa mengerjakan pekerjaan rumah atau tidak. Rita, carilah suami yang melihatmu apa adanya. Menerima kekuranganmu, tanpa mengeluh," kata pak Nardi lebih panjang.
"Rita mengerti ayah," jawab Rita.
"Bagus, Jangan salah pilih, seperti kakakmu," ucap Pak Nardi pelan.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu apartemen ada yang yang mengetuk. Rita bergegas membuka pintu. Matanya sedih melihat Putra berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Rita datar.
"Aku ingin bertemu Ayahmu," jawab Putra tak kalah datar.
Rita mempersilakan Putra masuk untuk bertemu ayahnya. Putra sempat terdiam mematung untuk sesaat, lalu dia berjalan mendekati ayahnya Rita.
Pak Nardi sempat kaget juga melihat kedatangan Putra, tetapi ketika dia ingatan jika Putra adalah pacarnya Rita, pak Nardi mengembangkan senyum.
"Selamat sore, Ayah," sapa Putra.
Mata Rita dan Pak Nardi melebar mendengar sapaan Putra, Ayah.
"Selamat sore, Putra. Apa kabar?" sambut pak Nardi ramah untuk mencairkan suasana.
Meskipun Putra dan pak Nardi sudah lama saling mengenal, tetapi di sini status merek adalah mertua dan calon menantu.
"Ayah tidak bermaksud menceramahi kamu. Ayah hanya bermaksud memberikan pandangan ayah sesuai yang ayah ketahui. Silakan bicara dengan Rita, Ayah akan mendengarkannya tanpa ikut campur," ucap Pak Nardi lalu duduk bersandar di sofa.
Putra menatap Rita lembut. Putra yang dingin itu, tidak bisa memendam perasaannya jika bersama Rita.
"Rita, aku minta maaf. Aku memang egois. Aku ingin kamu memperhatikan aku sepenuhnya dengan memaksamu menjadi pembantuku. Padahal, yang aku butuhkan adalah kamu sebagai istriku bukan pembantu. Aku janji, aku tidak akan membuatmu belajar pekerjaan rumah selain mengurusku dan anak-anak," ucap Putra sambil menghela napas.
"Putra, kamu bicara apa? Istri, anak-anak, memangnya siapa yang akan menikah denganmu?" tanya Rita sinis.
"Siapa lagi, tentu saja pacarku. Pacarku siapa, ya kamu," jawab Putra.
__ADS_1
"Kalau aku jadi istrimu, kamu nggak bakalan hidup tenang. Kamu nggak akan siap," kata Rita sambil tersenyum sinis.
"Aku siap," jawab Putra yakin.
"Nggak. Aku belum siap," ucap Rita.
"Ayah, Putra minta izin untuk menikahi Rita," ucap Putra pada Pak Nardi.
"Aku terserah Rita saja. Bagaimana Rita?" jawab Pak Nardi.
Tiba-tiba, ponsel Rita berdering. Rupanya Nenek yang meneleponnya. Rita segera mengangkat panggilan tersebut. Tetapi Rita kaget karena yang menjawab bukan Nenek melainkan Paman Jono, orang kepercayaan Nenek.
[Nak Rita, Nenek sakit parah dan sekarang Nenek berada di rumah sakit.]
[Nenek sakit apa, bukankah saat aku pergi, Nenek baik-baik saja?]
Rita mulai panik. Demikian juga Pak Nardi dan putra.
[Sepertinya penyakit lambung Nenek kambuh lagi. Rita, pulanglah, Nenek terus memanggil namamu,]
[Baik, besok Rita akan pulang.]
Panggilan itupun berakhir. Rita menatap sang ayah sedih. Meskipun, Pak Nardi hanya menantu, tetapi hubungan mereka jug tergolong baik.
"Rita, besok ayah akan ikut pulang kampung," ucap sang ayah.
"Aku juga akan ikut kamu dan Ayah pulang kampung," kata Putra yang membuat Rita dan Pak Nardi kaget.
__ADS_1
Ada-ada saja. Belum apa-apa, mau ikut pulang kampung.