
Rita pergi menemui teman masa kecilnya, namanya Harti. Harti adalah sosok teman yang selalu bersama Rita di saat suka dan duka. Saat Rita kecil, Harti adalah orang yang selalu berada di depan ketika banyak siswa cowok yang menggangunya.
Dulunya, Rita seorang gadis yang pendiam dan pemalu. Wajahnya yang cantik dan penampilannya yang berbeda dari siswi yang lain, menjadikan banyak siswa lain yang ingin mendekatinya. Rita adalah anak orang terkaya di kampungnya. Jadi penampilan Rita tampak lebih menonjol dibanding temannya yang lain.
Sejak banyaknya gangguan, Rita mulai mengikuti pelajaran ekstrakurikuler di sekolah dan mendalaminya dengan ikut sebuah perguruan bela diri yang cukup terkenal di daerahnya. Jadilah Rita yang seperti sekarang ini. Dimata teman-temannya, Rita tidak memperlihatkan keahliannya. Tetapi dihadapan pengganggu, Rita akan menunjukan seberapa lihainya dia dalam berkelahi.
Penampilannya yang semakin bertambah usia semakin cantik dan seksi, tidak akan ada yang mengira jika gadis manis itu memiliki kekuatan yang besar.
Tiara dan Harti mengenang masa lalu. Saat Rita dan Harti sedang asyik berbicara di depan rumah Harti, tiba-tiba Rendi datang.
"Rita, ini benar kamu?" tanya Rendi kaget.
"Rendi, ya iya aku lah. Aku nggak punya kembaran loh," jawab Rita sambil tersenyum manis.
"Bukan begitu. Aku dengar kamu sudah menikah. Maaf, menarik aku tidak bisa datang. Aku sedang bekerja di luar kota," kata Rendi menjelaskan.
"Nggak apa-apa. Semoga nanti kalau kamu menikah, aku bisa datang. Tapi kalau kamu undang. Kalau enggak, aku nggak mau jadi tamu yang nggak di undang. Nanti seperti lagu dangdut itu," ucap Rita bercanda.
__ADS_1
"Jangan-jangan, kamu tidak ada rencana buat undang Rita, secara Rita sudah pernah menolak lamaran kamu?" tanya Harti yang membuat suasana jadi hening.
Rendi terdiam dan Rita yang sejak tadi tersenyum, langsung berubah sedih. Sedangkan Harti merasa canggung karen telah mengingatkan masa terburuk bagi Rendi.
"Aku mengerti keputusan Rita saat itu. Aku juga tidak bisa memaksa Rita untuk menerimaku, kalau dia tidak mencintaiku. Bagaimanpun, kami tetap sahabat. Dan selamanya, kami tetap jadi sahabat, bukan begitu Rita?" tanya Rendi mencairkan suasana.
"Iya betul. Hubungan persahabatan itu selamanya akan tetap ada di hati kita. Kita akan tetap bersahabat sampai kapanpun. Jadi kita tidak boleh saling membenci dan kita harus memahami kondisi sahabat kita, saling pengertian dan saling percaya," kata Rita menambahkan.
"Gimana kalau kita buat suatu kesepakatan. Suatu saat, diantara kita bertiga, harus ada yang menjadi Besan. Entah itu anak Rita, anak aku atau anak Rendi. Kita pasti akan bahagia dari sahabat menjadi hubungan kekeluargaan. Gimana, setuju nggak?" tanya Harti. "Walaupun aku tidak yakin, diantara anak-anak kalian ada yang mau menikahi anakku. Secara keluarga kami miskin dan kalian orang berada. Apalagi Rita , sudah menikah dengan orang kota dan kaya. Apa saat itu kamu akan setuju menjadi Besan aku?"
"Harti, kamu bicara apa? Apa kamu pikir, aku orang seperti itu? Jodoh itu hanya Tuhan yang tahu," jawab Rita.
"Bolehlah, siapa yang ngelarang? Tapi kita ini aneh ya, kalian belum menikah dan aku juga entah kapan bisa punya anak, kita udah membicarakan masa yang belum terjadi. Kayaknya aku pingin ketawa. Kita masih muda, anak itu masih jauh," kata Rita menahan tawa.
"Rita, aku dan Rendi sama-sama belum menikah jadi, mungkin anak itu masih jauh. Tapi kamu, siapa tahu bulan depan kamu langsung hamil. Pasti anakmu nanti cantik kayak kamu," ucap Harti sambil tertawa.
Rita yang tadinya ingin tertawa, saat mendengar kata hamil, dia langsung terdiam tidak berekspresi. Dia seperti memiliki trauma dengan kehamilan.
__ADS_1
Rita menarik napas dalam-dalam lalu mulai pamit pada kedua sahabatnya. Rita meminta di restu agar kehidupannya di kota baik-baik saja. Semua keinginannya tercapai.
Setelah saling berjabat tangan, Rita bergegas pulang untuk mempersiapkan barang-barang yang akan dia bawa ke kota. Rita cukup lega, hari ini dia yang hanya ingin berpamitan dengan Harti, bisa juga menyelesaikan masalahnya dengan Rendi. Sekarang antara dia dan Rendi, sudah tidak ada masalah lagi. Mereka masih tetap berteman baik.
Rita sampai di rumah ketika hari sudah mulai sore. Jadi rupanya Rita pergi hampir seharian. Menghabiskan waktu bersama Harti dan Rendi.
Sampai di rumah, Nenek sudah menunggunya di ruang tamu dengan ekspresi yang tidak baik-baik saja.
"Nenek, sedang menunggu Rita?" tanya Rita sambil berlari meluk Neneknya.
"Kamu kemana saja? Kamu lupa kalau kamu sudah menikah?" tanya Nenek dengan nada kesal.
"Ya enggaklah, Nek. Rita tidak lupa. Memang kenapa, Rita sudah minta izin sama Putra," kata Rita membela diri.
"Rita-Rita, kamu tahu suamimu itu belum makan siang. Katanya, dia mau nungguin kamu pulang, baru mau makan," ucap Nenek.
"Belum makan siang, Putra?" tanya Rita kaget.
__ADS_1
...****************...