
Rita masih mencoba santai meski melihat Soya datang dengan membawa wajah murkanya. Bodo amat dengan Soya. Rita sama sekali tidak merasa berbuat salah, jadi Rita tidak harus takut pada ketua Geng Soya.
Rita masih santai menghabiskan makan siangnya. Selesai minum, Rita berpura-pura baru melihat kehadiran Soya.
"Hai, Bos Soya sudah datang, kenapa tidak duduk?" tanya Rita sambil tersenyum sinis.
Tiba-tiba wajah Soya berubah manis. Senyum ramahnya menghiasi wajahnya yang memang cantik. Soya duduk tepat di depan Rita.
"Aku termasuk orang yang sibuk, karena aku nggak hanya kuliah. Aku punya kesibukan Lin yang lebih penting. Sebenarnya, aku nggak waktu untuk meladeni hal-hal yang tidak penting. Jadi jika ada yang ingin Bos Soya katakan, mohon disegerakan," kata Rita sok jadi orang penting. Waktu adalah uang.
"Bagaimana kalau kita barter?" tanya Soya.
"Barter, barter apa? Sepertinya tidak ada yang bisa kita barter," jawab Rita bingung.
"Aku akan mengembalikan nama baik kamu tetapi kamu harus mau bergabung dengan geng kami," kata Soya lagi.
"Jadi intinya, kalian masih berharap aku bergabung dalam geng kalian?"
"Benar."
"Dengan kata lain, semua ini ulah kalian? Tapi aku sudah terlanjur di rugikan dengan ulah kalian ini. Meskipun kalian mengklarifikasi, tetap saja tidak akan bisa mengembalikan waktuku yang terbuang karena hukuman itu. Jadi jangan pernah berharap," ucap Rita sedih.
"Benar. Silakan ajukan syarat agar kamu bisa bergabung bersama kami," kata Soya.
__ADS_1
Rita memiliki ide untuk membuat geng Soya runtuh.
"Jangan pernah menyesal telah menawari aku bergabung," kata Rita.
"Tidak akan," jawab Soya penuh keyakinan. Soya ingin menjadikan Rita sebagai tameng, jika ada geng lain yang berani pada mereka.
"Aku mau bergabung dengan geng kalian, tetapi aku mau posisi ketua," kata Rita sambil menatap Soya penuh kharisma. Soya kaget mendengar perkataan Rita dan wajah Soya berubah pucat.
"Ke--ketua?" tanya Soya.
"Makanya jangan pernah menawarkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa kamu berikan padaku, Dek Siya," ucap Rita sinis.
Rita menarik napas dalam-dalam lalu berdiri untuk segera pergi.
"Baik, aku akan menunggunya. Pikirkan baik-baik, dan jangan terburu-buru. Aku ini, orangnya sabar," kata Rita sambil tersenyum.
Rita pergi meninggalkan Soya yang tampak bingung. Jika Rita menjadi ketua, maka dia akan menguasai gengnya. Tetapi jika dia tidak menerima Rita, gengnya akan kalah taruhan dengan geng Rosa, saingannya.
Hati Rita terasa lega, setelah berhasil membuat Soya pusing dengan ucapannya. Tidak akan ada yang mau melepaskan jabatan ketua hanya demi bisa berteman dengannya. Memangnya dia sehebat itu?
Rita pulang dengan wajah ceria setelah merasa dia tidak memiliki masalah apapun lagi. Baik di kampus maupun di rumah. Rita lupa jika memang dia tidak bermasalah tetapi orang lain yang akan mencari masalah dengannya.
Siapa sangka, saat Rita sampai di apartemennya, Putra menghubunginya untuk bertemu di sebuah cafe. Pikirnya, Putra sengaja ingin jalan berdua dengannya. Rita bergegas menghidupkan motornya kembali dan segera menuju ke cafe yang dimaksud oleh Putra.
__ADS_1
Setelah memarkir motornya, Rita bergegas masuk dan mencari keberadaan Putra. Sejauh mata memandang, Putra tidak kunjung kelihatan. Rita menarik napas berat dan hatinya agak kecewa.
"Kak Rita."
Suara seorang pria mengagetkannya. Tampak olehnya, seorang pria muda dengan memakai seragam sekolah, berdiri dibelakangnya sambil tersenyum. Rita mencoba mengingat-ingat pemuda tersebut. Karena sepertinya, Rita pernah melihat pemuda itu.
"Reza?" gumamnya.
"Syukurlah, Kak Rita masih ingat diriku. Silakan duduk, Kak," kata Reza lembut.
Pemuda itu telah banyak berubah. Tidak seperti saat pertama kali mereka bertemu. Rita tersenyum bahagia karena apa yang pernah dia katakan padanya, sepertinya telah Reza jalankan dengan baik.
Rita duduk di kursi yang telah Reza siapkan. Sejenak Rita melupakan kalau kedatangannya ke cafe ini untuk bertemu Putra. Rita terbawa perasaan saat melihat Reza. Bukan perasaan cinta, tetapi perasaan bahwa dirinya mampu membuat orang lain berubah lebih baik.
"Reza, kamu SMA kelas berapa?" tanya Rita.
"Kelas 12 Kak. Kenapa?" tanya Reza.
"Nggak apa-apa, cuma bertanya saja. Anak seusia kamu memang masih labil. Kok malah sampai terjebak dalam pertemanan yang tidak benar. Lebih berhati-hati dalam memilih teman," jawab Rita.
"Terima kasih, Kak Rita. Kalau bukan karena Kak Rita, Reza tidak mungkin bisa sekolah lagi," kata Reza sambil tersenyum. "Reza sudah pesenkan minuman. Tapi kok belum datang?"
Tidak berapa lama, datanglah mbak pelayan cafe mengantarkan minuman pesanan Reza. Tetapi Rita terkejut, karena ada tiga gelas minuman. Untuk siapa yang satunya lagi?
__ADS_1
...****************...