
Rita merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Karena Nenek tidak pernah terlihat serius seperti hari ini, setelah kedatangan keluarga Rendi. Rita berusaha tenang dan mengambil ponsel dari dalam sakunya untuk melihat apakah Putra menghubunginya lagi atau tidak.
Setelah memastikan Putra tidak menghubunginya lagi, Rita kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana.
"Rita, kamu lihat kedatangan orangtua Rendi untuk melamar mu? Ini bukan yang yang pertama kalinya ada orang yang ingin melamar kamu dan meminta izin pada Nenek. Nenek sangat sedih dan bingung. Nenek berusaha menolak mereka dengan halus, takutnya mereka tersinggung," ucap Nenek Sri.
"Maafkan Rita, Nek. Karena Rita, Nenek harus menghadapi masalah itu," ucap Rita sedih.
"Sesungguhnya, Nenek juga tidak ingin kamu menikah muda. Cukup ibumu saja yang menikah muda. Nenek ingin kamu itu kuliah dan mencapai impianmu. Tapi kenapa kamu malah tidak mau kuliah di sini? Kuliah dimanapun itu sama, asal kamu pinter dan beruntung, pasti kamu bisa mendapatkan pekerjaan. Atau setidaknya, kuliah jurusan pertanian dan kamu bisa meneruskan usaha pertanian Nenek," kata Nenek Sri lagi.
"Rita ingin yang lain, Nek. Di kota, Rita sudah kuliah jurusan desain. Desain pakaian, Nek. Rita sangat menyukainya. Meskipun rasanya sulit dengan keadaan Rita yang keras dan tidak sabaran. Dengan belajar desain, Rita mencoba menjadi pribadi yang lebih baik. Sabar dan tidak mudah terbawa emosi," jawab Rita.
"Kalian memang kamu di kota sudah kuliah, Nenek ingin kamu kembali ke kota dan melanjutkan kuliah kamu sampai selesai. Karena kalau kamu tetapi di desa ini, berapa banyak lagi, Nenek harus menolak lamaran para pemuda itu. Kamu tidak perlu membuat alasan sudah memiliki calon. Nenek tidak akan memaksamu menikahi salah satu dari mereka," kata Nenek lagi.
"Tapi, itu benar, Nek. Rita ...."
"Sudahlah, besok kamu bisa segera kembali ke kota dan tunggu sebentar." Nenek bergegas masuk kekamarnya untuk mengambil sesuatu
Tidak berapa lama, Nenek sudah kembali duduk di tempatnya semula.
"Ini, kartu ATM untuk jaga-jaga, agar kamu tidak kekurangan biaya kuliah dan hidup," kata Nenek sambil menyerahkan kartu ATM pada Rita.
__ADS_1
"Nek, Rita tidak membutuhkannya. Nenek sudah bekerja sekarang," ucap Rita menolak pemberian Neneknya.
"Bekerja jadi pembantu? Rita, sudah Nenek bilang, Nenek tidka Suak kamu jadi pembantu. Gunakan uang ini untuk biaya hidup kami di kota. Jangan jadi pembantu lagi," kata Neneknya kesal.
"Nek, Rita sudah ada perjanjian dan kalau Rita tidak menjalaninya sesuai waktu yang ditentukan, Rita harus membayar denda. Rita tidak mau itu, Nek," jawab Rita sedih.
"Berapa denda yang harus kamu bayar?" tanya Neneknya.
"100 juta," jawab Rita.
"Bayar saja. Di dalam kartu ATM ini, ada lebih dari 200 juta. Ini Nenek kumpulnya sengaja untuk biaya kuliah kamu, jika kamu sewaktu-waktu ingin kuliah. Kalau masih kurang, setelah panen, Nenek akan transfer 100 juta lagi. Biarpun kamu itu orang kampung, Nenek tidak ingin kamu itu dipandang rendah oleh orang-orang kota," kata sang Nenek sambil kembali menyodorkan kartu tersebut.
Rita terpaksa menerima kartu ATM tersebut dan tidak ingin membuat Neneknya sedih. Nenek sangat baik, sudah mengizinkan dia untuk kembali ke kota meskipun dengan syarat, dia tidak boleh jadi pembantu lagi.
Mobil itu tepat di depan gedung apartemen tempat Rita tinggal. Pak Jamal menawarkan diri untuk mengantarkan barang milik Rita. Rita dan Pak Jamal berjalan beriringan menuju apartemen milik Rita. Rita mempersilahkan pak Jamal masuk untuk sekedar minum. Rita ingin agar Pak Jamal bisa melihat dan bercerita pada Nenek, bahwa di kota ini, hidup Rita tidak seburuk yang Nenek kira.
Saat pak Jamal sedang duduk sambil minum teh hangat, tiba-tiba Putra datang. Putra dan Pak Jamal sama-sama terkejut dan mereka saling melihat.
"Ada tamu rupanya," ucap Putra gugup.
"Ini pak Jamal, yang mengantar aku sampai ke sini," ucap Rita sambil memperkenalkan Pak Jamal.
__ADS_1
"Putra," ucap Putra sambil berjabat tangan dengan pak Jamal.
Mereka bertiga duduk berhadap-hadapan dan suasana menjadi canggung. Rita tidak ingin pak Jamal curiga dan berpikir aneh-aneh tentang Putra.
"Pak Jamal, ini Putra pacar Rita," ucap Rita sambil tersenyum.
Putra yang awalnya kesal dan marah, tiba-tiba langsung tersenyum senang. Karena Rita sudah memperkenalkan dirinya sebagai pacarnya kepada tetangganya dari kampung. Itu berarti, Nenek Rita juga akan tahu jika dia adalah kekasih Rita.
"Kalian tidak tinggal bersama, bukan?" tanya pak Jamal kaget.
"Tidak, pak Jamal. Kami tinggal satu gedung tapi beda apartemen," jawab Rita.
"Syukurlah, tadinya Bapak sampai takut kalau kalian tinggal bersama. Kalau begitu, Bapak permisi dulu, mbak Rita, Mas putra. Selamat sore," ucap Pak Jamal.
"Sungkem untuk Nenek, Pak Jamal," ucap Rita.
"Nanti Bapak sampaikan," jawab pak Jamal.
Rita mengantarkan Pak Jamal hingga ke pintu keluar. Setelah Pak Jamal pergi, Rita kembali duduk di hadapan Putra yang sejak tadi senyam-senyum sendiri.
"Ada apa, kenapa senyam-senyum sendiri?" tanya Rita.
__ADS_1
Putra masih saja diam.