
Wajah kedua orang tua Putra tampak kaget, saat melihat Putra bersama Rita, pembantu mereka. Pak Reno dan Bu Kinar saling berpandangan. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
"Putra, apa-apaan ini. Bukankah itu Rita, pembantu kamu? Kamu tidak salah orang?" tanya Bu Kinar penasaran.
"Tidak, Bu. Perkenalkan, ini calon istriku, Rita," jawab Putra lalu menghela napas panjang.
"Rita," kata Rita memperkenalkan diri sambil mencium tangan kedua orang tua Putra.
Putra dan Rita duduk tepat dihadapan orang tua Putra. Tatapan mata mereka membuat hati Rita agak keder juga. Padahal biasanya dia gadis yang cuek dan tidak peduli pandangan orang lain terhadapnya.
Ternyata berbeda jika berhadapan dengan calon mertua.
"Rita, kamu hamil?" Hal pertama yang ditanyakan oleh Bu Kinar.
"Hah ... hamil? Maksud ibu Kinar apa?" tanya Rita kaget.
"Kamu selama ini tinggal bersama Putra dan ...," jawab Bu Kinar tidak bisa melanjutkan bicaranya.
"Ibu, kami ini sudah dewasa. Kami tahu mana yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan sebelum menikah. Ibu jangan menuduh Rita sembarangan," ucap Putra berusaha menjelaskan.
"Syukurlah kalau begitu. Jadi kalian tidak perlu menikah," kata Bu Kinar sambil menghela napas lega.
"Ibu, Putra sangat mencintai Rita dan Putra akan tetap menikahi Rita seperti janji Putra pada Neneknya Rita. Ibu restui kami," ucap Putra memohon.
Bu Kinar memandang suaminya, sedangkan Rita berusaha tetap tenang. Karena jika memang mereka tidak setuju pernikahannya dengan Putra, artinya mereka tidak akan menikah saat ini.
"Baiklah, kami setuju," ucap Bu Kinar memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Ibu, Ayah. Terima kasih," kata Putra lalu dia memegang tangan ayah dan ibunya bergantian.
"Sudah-sudah, sudah waktunya kamu untuk menikah. Usiamu sudah tidak muda lagi," ucap sang ayah.
Putra duduk kembali ke tempatnya semula. Sementara Rita masih tidak percaya, majikannya setuju putranya menikah dengan pembantunya. Tanda tanya itu masih ingin Rita tanyakan, tetapi Nenek dan ayahnya sudah terlanjur datang untuk membahas persiapan pernikahan mereka.
Rita tidak melihat, mereka kaget bertemu ayahnya di rumah ini. Ada apa, dan mengapa?
Rasa penasaran itu, terbawa sampai pada hari pernikahannya dengan Putra. Acara pernikahan yang sangat sederhana. Hanya di hadiri kerabat terdekat dan petugas KUA yang datang ke rumah Neneknya.
Prosesi akad nikah dan pengucapan ijab kabul berlangsung cepat. Rupanya Putra sudah berlatih seharian agar dia lancar saat mengucapkannya di depan penghulu.
"Sah," ucap pang penghulu di sambut jawaban sah dari pengunjung yang hadir.
Pembacaan doa akad nikah dan pembacaan sighat taklik telah dilakukan di depan seluruh hadirin. Dan kini, Putra dan Rita telah resmi menjadi suami istri baik secara agama maupun negara.
Beberapa saudara dekatnya menggoda dirinya karena seorang pengantin baru seharusnya duduk manis dan akan ada orang yang menyediakan makanan dan minuman jika mereka ingin makan.
"Rita, kok ambil makanan sendiri, berlatih jadi istri yang Solehah, ya?" goda Dewi sepupu jauhnya.
"Iya. Rita, jangan makan banyak-banyak, nanti kamu tidak kuat malam pertamanya," tambah Mbak Reni yang baru menikah 5 bulan yang lalu.
Dalam hati Rita kesal dengan godaan mereka, tetapi Rita berusaha tersenyum tanpa membalas ucapan mereka. Rita memang suka seenaknya, kalau dia mau makan ya makan saja.
Kalau ada acara pernikahan seperti ini, Rita adalah orang yang suka mencicipi semua hidangan yang ada. Padahal ini hari pernikahannya, harusnya dia boleh makan seperti yang dia suka.
Rita membawa sepiring nasi rames kesukaannya. Dia makan di sudut ruangan Karana takut di lihat orang. Pasti mereka juga akan menggoda dia.
__ADS_1
"Rita." Suara Putra mengagetkannya.
"Putra, bikin kaget aku saja. Kenapa, mau makan juga?" tanya Rita.
"Boleh," jawab Putra sambil duduk disamping Rita.
"Sebentar aku ambilkan," kata Rita lalu berdiri hendak mengambilkan makanan untuk Putra.
"Mau kemana, bukankah ini cukup untuk kita berdua?" tanya Putra.
"Ini, kamu doyan makan seperti ini?" tanya Rita agak kaget, Putra belum pernah makan makanan acara pesta pernikahan di kampung.
"Doyan, lah. Kalau kamu yang suapi," goda Putra sambil tersenyum.
Rita membalas senyum Putra yang kini sudah sah sebagai pasangannya. Mila mengambil satu sendok untuk dia berikan pada Putra. Putra yang tadinya hanya bercanda dan menggoda Rita, tampak salah tingkah. Walupun ini bukan pertama kalinya, tetapi ini merupakan hal pertama yang dilakukan Rita setelah menjadi istrinya.
Rupanya Rita hanya ingin melihat, apakah Putra akan merasa risih makan satu sendok dengannya. Dan jawabannya, Putra malah makan lebih banyak dari biasanya.
Malam telah datang. Pada tamu undangan sudah pulang sejak sore tadi. Pak Nardi juga memutuskan untuk pulang bersama Pak Seno dan Bu Kinar.
Rumah Nenek kini terasa sepi, Nenek juga sudah masuk kamar sejak tadi karena kelelahan. Rita dan Putra masih asyik menonton acara televisi dan tidak ada yang berani berinisiatif untuk masuk ke kamar duluan hingga tengah malam.
Sampai Bibik bangun karena kehausan dan saat melihat kedua majikannya masih belum tidur, Bibik menegur mereka.
"Kenapa belum tidur, ini sudah tengah malam. Kalian pergilah beristirahat, kalian pasti capek, seharian banyak tamu," ucap Bibik sambil berdiri menatap mereka.
"Iya, Bik. Kami istirahat dulu," jawab Rita yang segera berjalan cepat menuju ke kamarnya. Putra tersenyum pada Bibik lalu mematikan televisinya dan segera menyusul Rita. Bibik hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah pasangan pengantin baru itu.
__ADS_1
...****************...