
Nenek dan Rita sangat kaget mendengar ucapan Putra. Rupanya Putra menanggapi dengan serius semua perkataan Nenek. Nenek merasa bersalah pada Putra karena telah membuat Putra salah paham.
"Maafkan Nenek, Putra. Rita, kmu keluarlah, Nenek ingin bicara hanya berdua dengan Putra," kata Nenek pelan.
Meskipun Rita penasaran dengan apa yang akan dikatakan nenek pada Putra, Rita menghormati keinginan Neneknya. Rita pergi keluar dan berbincang dengan ayah serta Paman Jono. Cukup lama Nenek dan Putra berbicara, sampai akhirnya Putra keluar dan meminta semuanya untuk masuk.
Semua sudah berkumpul di ruang perawatan Nenek. Semua menunggu apa yang akan di katakan Nenek pada mereka.
"Nenek sudah bicara dengan Putra dan Nenek memutuskan bahwa, Rita dan Putra akan menikah dua hari lagi. Tolong Pak Jono, persiapkan semuanya untuk mengurus surat-surat yang diperlukan," ucap Nenek pelan tapi jelas.
"Baik Bu Sri. Kebetulan Pak Nardi juga ada di sini, jadi wali Mbak Rita sudah siap," kata Pak Jono.
"Sebagai ayah Rita, aku setuju saja Rita menikah. Tetapi apa tidak sebaiknya bertunangan dulu?" tanya Pak Nardi.
"Iya Nek. Rita juga kan masih kuliah," sambung Rita.
"Nenek ingin kalian cepat menikah, karena Nenek ingin ada yang menjaga Rita jika Nenek meninggal nanti. Nenek yakin, Putra adlah pria yang baik dan bisa menjadi suami yang baik pula untuk Rita," jawab Nenek sambil batuk-batuk kecil.
"Nenek jangan bicara seperti itu. Nenek akan hidup dan menemani Rita," ucap Rita sambil memeluk Neneknya.
"Tidak ada yang tahu, apa yanga akan terjadi esok hari. Nenek juga tidak tahu, kapan Nenek akan meninggal. Nenek hanya ingin, jika saat itu tiba, Rita sudah ada pendamping hidup. Jadi Nenek akan merasa tenang," jawab Nenek lagi.
__ADS_1
"Rita, turuti saja keinginan Nenekmu. Kamu itu cucu kesayangan Nenek. Kamu bukan kamu yang membahagiakan Nenek, lalu siapa lagi? Bukankah kamu juga menikah dengan orang yang kamu cintai, jadi ayah rasa tidak masalah," kata ayahnya seolah mendesak Rita untuk menerima ini semua.
Rita berpikir sejenak. Tetapi otak Rita saat ini tidak bisa diajak kompromi apalagi untuk berpikir. Kepalanya terasa pusing dan dia hanya bisa mengangguk saja tanda setuju.
Kondisi Nenek sudah semakin membaik. Nenek akhirnya diizinkan untuk pulang dan disarankan oleh Dokter untuk melakukan pemeriksaan satu bulan sekali.
Sambil menunggu hari pernikahan yang sudah ditentukan, Putra dan Pak Nardi menginap di rumah Nenek. Putra diperlakukan sangat baik oleh Nenek.
Keesokan harinya, orangtua Putra datang. Mobil warna silver itu berhenti tepat di halaman rumah Nenek. Mereka tampak kaget melihat rumah Nenek yang terlihat seperti rumah orang kaya.
Bu Karin sudah mempersiapkan diri untuk menolak pernikahan Putra. Mereka di sambut oleh Putra dan Nenek.
"Silakan masuk," titah Nenek.
Bu Kinar dan Pak Seno masuk dan segera duduk. Bu Kinar sudah mulai ingin membuka pembicaraan, tetapi ditahan oleh pak Seno dengan memegang tangannya dan menggelengkan kepalanya. Bu Kinar tampak kesal dengan sikap suaminya.
"Kami berterimakasih atas kedatangan kalian ke rumah reyot ini," ucap Nenek lembut.
"Maaf, kami tidak setuju dengan pernikahan ini. Selama ini, Putra tidak pernah memperkenalkan seorang wanita sebagai kekasihnya. Apa kalian menjebak anak kami?" tanya Bu Kinar kesal.
"Ibu bicara apa?" tanya Putra panik.
__ADS_1
Nenek melihat ke arah Putra. Lalu Nenek tersenyum dan menghela napas berat.
"Putra, selesaikan masalah ini dengan keluargamu terlebih dahulu. Nenek tidak ingin, cucu kesayangan Nenek hidup dengan mertua yang tidak menyayanginya," kata Nenek, lalu pergi ke dalam.
Sementara Putra berusaha menenangkan ibu dan ayahnya. Putra menatap ayah dan ibunya dengan tatapan kecewa.
"Putra, bagaimana kamu bisa terjebak di kampung seperti ini? Sejak kapan kamu menyukai kehidupan kampung dan sejak kapan kamu menyukai gadis kampung? Kamu pasti dijebak, oleh nenek-nenek itu," tanya Bu Kinar kesal.
"Putra, sejak kapan kalian berhubungan? Kenapa tidak memberitahu kamu? Setidaknya perkenalkan gadis itu pada ayah dan ibumu. Jangan langsung menikah seperti ini. Ini terkesan mendadak," kata Pak Seno.
"Apakah dia sudah hamil, kamu menghamilinya?" tanya ibunya lagi.
"Ibu ini bicara apa? Apa Putra ini orang seperti itu?" tanya Putra kesal.
" Lalu, bagaimana ceritanya, kamu harus menikahi gadis kampung ini?" tanya Bu Kinar penasaran.
"Kalian, mengenal gadis ini kok. Putra mencintainya, sejak pertama kali Putra ketemu dia. Cinta Putra bersambut dan kami pacaran beberapa bulan yang lalu. Neneknya sakit dan ingin ada yang menjaganya sebelum Nenek meninggal. Makanya Putra memilih menikahinya sebelum dia di nikahkan dengan orang. Sebentar, Putra akan memperkenalkan pada kalian secara resmi," Putra bercerita seperlunya saja.
Putra beranjak ke dalam dan tidak berapa lama, keluarlah Putra dengan seorang gadis yang sangat mereka kenal.
...****************...
__ADS_1