
Rita seharian mengurung diri di dalam apartemen miliknya. Saat ini dia merasa bingung, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Di saat Rita mengalami kebingungan, ayahnya menghubunginya.
[Rita, bagaimana kabarmu, Nak?]
[Ayah, Rita baik-baik saja. Bagaimana dengan ayah?]
[Ayah juga baik-baik saja. Oh ya, sekarang apakah kamu masih tinggal di apartemen Putra?]
[Tidak ayah, Rita tinggal di apartemen sebelahnya.]
[Kamu punya apartemen? Dari mana kamu bisa mendapatkan uang, dari nenek ceritanya panjang, ayah.]
[Kalau begitu Ayah ingin pergi ke tempatmu.]
[Baik ayah, Rita tunggu di bawah ya.]
Setelah mematikan panggilan telepon dari ayahnya, Rita bergegas cuci muka dan segera keluar. Saat membuka pintu, Rita kaget saat melihat Putra sudah berdiri di depan pintu.
"Putra," ucap Rita kaget.
__ADS_1
"Maaf, Rita. Aku ingin menjelaskan semuanya. Apakah kamu ada waktu?" tanya Putra ragu.
"Maaf, hari ini aku sudah ada janji dengan ayah," jawab Rita singkat.
"Kalau begitu, besok saja. Bisa, 'kan?" tanya Putra lagi.
"Kita lihat saja nanti," jawab Rita.
Setelah itu, Rita langsung melangkah pergi meninggalkan Putra yang masih berdiri mematung sambil melihat Rita pergi. Rita tidak tega melihat Putra mengharapkan ingin menjelaskan kesalahpahaman dengannya.
Rita segera masuk ke lift meski masih sempat dia melihat ke arah Putra. Rita tidak menyangka jika hubungannya dengan Putra akan jadi seperti ini. Pintu lift tertutup dan Rita hanya bisa menghela napas berat.
Di lantai bawah, Rita duduk sambil menunggu ayahnya datang. Hanya dalam hitungan menit, ayahnya sudah berada di depannya. Rita bergegas berdiri dan memeluk ayahnya. Tangisnya pecah saat itu juga.
"Rita, sudah, jangan menangis di sini. Kita bicara di apartemen kamu saja," ajak sang ayah. "Mereka melihat kita. Dikira ayah menggertak kamu."
Rita melepaskan pelukannya. Rita menangis bukan karena dia banyak masalah, tetapi karena dia kangen pada ayahnya. Rita bersyukur karena beberapa waktu lalu, saat dia tinggal bersama, ayahnya sakit-sakitan. Tetapi sekarang, ayahnya terlihat sehat dan baik-baik saja.
Rita mengajak ayahnya menuju ke apartemen miliknya. Hati Rita sempat khawatir, kalau Putra ada di luar. Untungnya Putra tidak ada dan pasti dia sekarang sedang memeluk guling.
__ADS_1
Rita tersenyum memikirkan dugaannya sendiri tentang Putra. Hal itu sempat di perhatikan oleh pak Nardi, tetapi beliau menahan keinginannya untuk bertanya, menunggu waktu yang tepat.
Rita membuka pintu apartemennya dan mempersilakan ayahnya masuk. Rita segera menyiapkan minuman untuk ayahnya, lalu duduk disamping ayahnya.
"Ayah, apakah ibu dan yang lainnya baik-baik saja. Apalagi setelah kejadian malam itu. Bagaimana hubungan Risha dengan Yudi?" tanya Rita.
"Rita, kamu ini masih begitu baik. Menanyakan kabar ibu dan saudara-saudara tiri kamu. Padahal kamu sudah diperlakukan tidak adil oleh mereka," ucap pak Nardi sambil menggenggam tangan Rita.
"Ayah, bagaimanapun juga, mereka pernah baik pada Rita. Kamu bukan karena ulah Yudi, mereka tidak akan mengusir Rita dari rumah mereka," jawab Rita.
"Benar. Pada dasarnya ibu dan saudaramu orang yang baik. Mereka baik-baik saja. Hanya saja setelah peristiwa itu, hubungan Risha dan Yudi putus. Pertunangan dibatalkan. Untungnya kami tahu kelakuan Yudi sebelum mereka menikah. Kalau tidak, kasihan Risha, mendatangi suami yang mata keranjang," ucap Pak Nardi sedih.
"Rita minta maaf," ucap Rita sedih.
"Kami yang harusnya berterimakasih padamu. Rita, apartemen kamu bagus sekali. Darimana kamu dapat uang untuk membelinya? Kamu sudah tidak bekerja sebagai pembantu Putra lagi?" tanya pak Nardi penasaran.
"Masih ayah."
Rita mulai bercerita dari semenjak dia diusir dari rumah hingga akhirnya dia menjalin hubungan dengan Putra. Putra membeli apartemen ini atas namanya agar mereka tidak hidup serumah tetapi masih bisa berdekatan.
__ADS_1
"Apa, kalian pacaran?" tanya ayahnya kaget.
"Ayah, apakah ayah tidak setuju dengan pilihan Rita?" tanya Rita sedih.