
Rita menatap lembut Putra. Berusaha mendapatkan pengertian dari pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.
"Kamu yakin mau tinggal bersama?" tanya Rita.
"Tentu. Kalau tidak yakin, aku tidak akan ajak kamu. Tapi, biasanya kamu tidak takut dengan apapun asalkan kamu benar. Apa sekarang kamu jadi penakut?" ledek Putra.
"Apa, siapa yang takut? Hanya tinggal bersama, bukan? Bukan hal yang susah," jawab Rita kesal.
"Kalau begitu, siap-siap pindah ke apartemenku sekarang," ajak Putra
"Oke, siapa takut?" jawab Rita. "Aku bereskan barang-barangku dulu."
Putra tersenyum telah berhasil membuat Rita mau tinggal bersamanya. Untuk yang selanjutnya, sesuai situasi saja.
Rita masuk ke apartemennya untuk membereskan barang-barang miliknya sedangkan Putra Kemabli ke apartemennya untuk membereskan barang-barang pemberian Nenek untuk di tempatkan di tempat yang seharusnya.
Putra tidak menunggu Rita karena dia tidak ingin melihat istrinya kelelahan. Dia sudah berjanji dalam hati, untuk tidak membuat Rita merasa seperti Pembantu di rumah suaminya. Istrinya adalah ratu, ratu di hatinya dan ratu di dalam rumahnya.
Selesai beberes, Putra kembali kekamarnya untuk menyiapkan lemari pakaian untuk Rita. Putra ingin, Rita bisa tinggal bersamanya bukan hanya satu rumah tetapi juga satu kamar. Putra sebenarnya sudah siap, semua orang tahu jika mereka sudah nikah. Hanya saja, Rita masih terlihat belum siap dengan pernikahan ini. Dia masih ingin merahasiakan entah sampai kapan.
Sementara Rita sudah selesai mengemas barang-barangnya dan segera menuju apartemen Putra. Seperti biasa, dia langsung membuka pintu apartemen Putra karena dia sudah tahu kata sandinya.
Suasana tampak sepi, dan barang-barang pemberian Nenek juga sudah tidak terlihat. Itu berarti, putra sudah membereskannya. Rita tersenyum dan berjalan menuju ke kamarnya.
"Rita, mau kemana?" tanya Putra mengagetkannya.
__ADS_1
"Oh, mau naruh pakaian," jawab Rita.
"Sini aku bantu." Putra lalu berjalan mendekati Rita.
Putra mengambil dua tas dari tangan Rita dan bergegas menuju ke kamarnya.
"Hai, mau di bawa kemana pakaianku?" tanya Rita agak keras.
Putra tersenyum. "Ke kamar kita."
Rita terdiam sambil memperlihatkan wajahnya yang manyun. Rita bingung dengan keputusan Putra yang tanpa bertanya dulu padanya telah memutuskan untuk tidak hanya tinggal satu rumah tetapi tinggal sekamar.
Rita terpaksa mengikuti langkah Putra yang lebih dulu masuk ke kamarnya. Mata Rita tajam menatap suaminya yang dengan cekatan memasukan pakaiannya ke lemari pakaian miliknya. Ketika Putra ragu hendak membereskan pakaian dalam Rita, Rita bergegas mengambilnya dari tangan Putra.
"Kamu sengaja, menjebak aku?" tanya Rita.
"Katanya hanya tinggal bersama," ucap Rita.
"Kan kita sudah suami istri. Apanya yang salah dengan ini? Di kampung saja, kita hampir ...." ucap Putra terhenti karena tidak ingin membuat Rita sedih.
Rita menatap Putra yang tersenyum malu. Rita tampak kesal sendiri karena malam itu, Putra meninggalkannya saat dia merasa dipuncak. Rita hanya diam dan tidak ingin berdebat.
"Aku mau mandi," kata Rita setelah selesai beberes.
"Mandi saja, tidak ada yang ngelarang," jawab Putra.
__ADS_1
"Kamu keluar dulu, nanti aku mau ganti pakaian," kata Rita.
"Ganti aja di sini. Untuk apa aku keluar. Suami istri itu, tidak ada yang harus di sembunyikan," jawab Putra.
"Termasuk ini?" tanya Rita sambil menunjuk tubuhnya.
"Hmmm. Tentu saja. Ini juga milikmu dan itu juga milikku," jawab Putra sambil menunjuk tubuhnya.
Rita terdiam sambil menatap Putra. Mencari keseriusan Putra, apakah itu hanya gurauan saja atau itu memang sungguhan.
Rita menghela napas panjang lalu bergegas mandi. Dia mengamati kamar mandi yang sangat rapi. Selesai mandi dia bergegas keluar, berharap Putra tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya tadi.
Saat dia tidak menemukan Putra di sana, Rita tersenyum senang. Dia merasa bebas. Dia mulai berganti pakaian mulai dari pakaian dalam sampai pakaian luar. Dia tidak menyadari bahwa Putra berdiri di pintu dan sejak tadi melihatnya berganti pakaian. Setiap gerakan Rita membuat Putra menelan saliva berkali-kali.
Rita baru menyadari, setelah dia selesai berganti pakaian. Hal itu membuatnya malu.
"Sejak kapan kamu di sana?" tanya malu.
Putra mendekatinya dan tersenyum manis.
"Sejak kamu membuka handuk. Tapi, kamu seharusnya tidak marah. Sudah aku bilang kita suami istri," jawab Putra waspada. "Aku juga mau mandi."
Kini giliran Putra mandi dan Rita sengaja menunggunya untuk melakukan apa yang tadi Putra lakukan. Mengawasinya berganti pakaian. Tetapi, Putra mandinya lama sekali. Padahal Rita yang seorang wanita saja, tidak selama itu.
Rita tidak tahu, jika saat melihat tubuh Rita berganti pakaian, Putra tidak bisa menahan hasratnya dan melampiaskannya di kamar mandi.
__ADS_1
Karena hari semakin sore, Rita bergegas keluar untuk menyiapkan makan malam.
...****************...