
Putra mengajak Rita makan di restoran hotel tempatnya menginap. Sebelum duduk, Rita mengamati sekelilingnya untuk mencari tahu, siapa teman Putra yang diajaknya makan. Akan tetapi, hingga beberapa menit dirinya menunggu, tidak seorangpun ada yang datang ke tempat mereka.
Rita masih tetap berdiri dan belum ingin duduk sebelum dia yakin, jika dirinya diajak makan majikannya.
"Rita, duduklah. Kenapa masih berdiri saja? Apa kamu tidak suka masakan di sini?" tanya Putra sambil menatap Rita bingung.
"Apa kita akan menunggu seseorang?" tanya Rita setelah duduk.
"Nunggu siapa? Pesan saja yang kamu suka," jawab Putra sambil menyerahkan menu pada Rita.
"Kenapa tidak kamu saja? Aku tidak tahu masakan apa yang bisa cocok dengan lidahku," jawab Rita sambil menyodorkan menu pada Putra.
Rita menatap Putra yang tersenyum manis padanya sambil meraih menu yang ada ditangan Rita. Rita agak malu karena pasti, Putra merasa Rita gadis kampungan yang tidak pernah makan bahkan tidak pernah masuk ke restoran mewah seperti ini.
Putra memanggil pelayan dan segera memesan beberapa makanan. Setelah menunggu beberapa menit, dan pesanan mereka datang.
Rita sangat terkejut melihat pesanan Putra yang cukup banyak. Hanya makan berdua, tetapi pesanan Putra bisa dibilang habis untuk 5 orang.
"Aku pesan banyak karena aku tidak tahu, mana yang kamu sukai. Ayo makanlah," ajak Putra sambil menatap Rita.
Rita tersenyum karena Putra seolah tahu isi hatinya. Rita segera mengambil sepiring spaghetti yang belum pernah dia makan. Setelah mengucapkan doa, Rita segera mulai makan.
Rita hanya makan secukupnya saja, padahal karena harganya mahal, ingin sekali Rita membungkus makanan yang masih tersisa di depannya. Tetapi itu pasti akan membuat Putra malu dan Rita tidak mau itu terjadi.
Selesai makan, Putra mengajak Rita pergi kesebuah lokasi wisata. Wahana bermain yang banyak sekali ragam permainannya. Rita terlihat sangat senang dan baru kali ini Putra melihatnya.
"Aku tidak salah, membawa kamu ke sini, bukan?" tanya Putra sambi tersenyum.
"Pak Putra pinter banget cari tempat healing. Kalian begitu, aku mau naik komedi putar," jawab Rita sambil menatap Putra.
Putra dan Rita mulai berjalan menuju ke salah satu wahana anak-anak. Naik komedi putar menjadi impian Rita karena itu mengingatkan dia pada sebuah drama percintaan remaja.
Selama ini, Rita belum pernah merasakan jatuh cinta, jadi dia tidak pernah pergi kencan dengan naik komedi putar. Rita bergegas menuju tempat antrian. Tetapi dia terkejut karena tidak melihat Putra dibelakangnya.
__ADS_1
Rita mundur lagi untuk mencari keberadaan Putra.
Sungguh diluar dugaan, Putra tampak duduk didekat tempat keluar wahana komedi putar itu. Rita tersenyum lalu mendekati Putra
"Kenapa di sini. Ayolah naik juga, nggak enak tahu naik mainan sendirian." Ajak Rita tampak kesal.
"Tapi, aku ... tidak pernah naik mainan itu," jawab Putra gugup.
"Tidak apa, aku juga belum pernah. Makanya ayo kita coba naik bersama," kata Rita terus mencoba membujuk Putra.
"Nanti aku pegang tanganmu," jawab Putra seenaknya. Tidak diduga, Rita setuju.
"Boleh. Tapi hanya selama permainan saja, Ya?" tanya Rita.
Mereka telah sepakat untuk naik komedi putar. Mereka duduk bersebelahan dan Putra memegang erat tangan Rita.
Rita mencoba bersikap profesional menghadapi sikap Putra. Disini mereka bertindak seperti anak remaja pada umumnya. Mereka menikmati masa remaja mereka yang mungkin kurang bahagia.
Awalnya, Putra terlihat takut, tetapi saat melihat wajah Rita yang tersenyum gembira, ditambah pegangan tangan yang mampu mengalirkan hawa panas kedalam tubuh Putra, Putra mencoba berani dan mulai melepaskan pegangannya pada tangan Rita.
Selesai dari wahana bermain itu, mereka merasa ketagihan dan kembali mencari wahana yang lain. Mereka mencobanya satu Demian satu hingga sore tiba.
Mereka tampak lelah dan duduk di sebuah cafe diluar wahana untuk beristirahat sambil menikmati ice cream. Saat makan ice cream, Putra teringat jika dia ingin membawa Rita melihat senja di pantai. Putra segera meminta Rita untuk menghabiskannya lebih cepat.
"Pak Putra, jarang-jarang loh, aku bisa makan ice cream seenak ini. Kenapa harus cepet-cepet pergi?" tanya Rita yang asyik menikmati ice cream didepannya.
"Aku akan membawamu melihat matahari terbenam di pantai. Mumpung kita berada di kota ini sekarang," jawab Putra serius.
"Oh, mau ke pantai? Boleh, tapi, aku boleh bawa ice ini?" tanya Rita lagi.
"Ya sudah, nanti aku minta di bungkus sama mbaknya," jawab Putra sambil berdiri.
Rita tertegun melihat majikannya hari ini, benar-benar berbeda dengan sebelumnya. Apapun keinginan Rita, Putra dengan sabar berusaha memenuhinya.
__ADS_1
Setelah pesanan ice Cream datang, mereka bergegas menuju ke mobil Putra. Mereka segera naik mobil menuju ke pantai.
Sebuah pantai yang sangat indah. Pantai dengan pasir putih dan banyak pasangan yang sedang menikmati indahnya senja.
Rita mengikuti Putra duduk diatas pasir putih. Rita menikmati senja sambil makan ice cream. Rita memang tidak bisa bersikap romantis karena memang Rita merasa mereka bukan pasangan. Dia juga tidak perlu terlalu tenggelam dalam pesona majikannya itu.
Putra sedikit kecewa dengan sikap Rita. Dia ingin Rita terharu dan suasana romantis ini bisa membuat mereka lebih dekat lagi. Tetapi melihat sikap Rita, sepertinya moment romantis seperti ini tidak berguna sama sekali untuk bisa menyentuh hatinya.
"Rita, kita balik saja ke hotel. Aku lihat kamu sudah lelah," ucap Putra.
"Baik. Aku bersihkan ini dulu," jawab Rita lalu membersihkan sampah bekas ice cream.
Merek bergegas kembali ke hotel. Dan di sana , Sasa dan Rama sudah menunggu kedatangan Putra dan Rita.
"Kak, kalian darimana saja, kita sudah lama menunggu loh, Kak?" tanya Sasa pasang muka cemberut. Padahal dia senang karena bisa berduaan dengan Rama.
"Maaf, kami tadi pergi ke pantai sebentar. Mumpung belum ada kerjaan. Rama, kamu kenapa?" tanya Putra sambil mendekati Rama.
"Tidak ada apa-apa. Kalian tampak senang setelah jalan-jalan," ledek Rama kesal melihat Putra pergi hanya berdua dengan Rita.
"Kamu bicara apa. Aku mandi dulu, nanti kita makan malam bersama," pamit Putra sambil menepuk bahu Rama, lalu dia melangkah pergi.
"Saya juga pamit, Mbak Sasa dan Mas Rama," ucap Rita sambil tersenyum.
"Tunggu ...!" teriak Sasa.
Rita berhenti dan berbalik arah, melihat Sasa yang tampak tersenyum menutupi rasa kesalnya karena melihat Rama cemburu.
"Ada apa, Mbak Sasa?" tanya Rita bingung.
"Boleh aku ikut ke kamarmu? Hari ini aku sedang gabut. Lagi butuh teman," jawab Sasa yang tanpa menunggu jawaban dari Rita langsung berlari kearah Rita.
...****************...
__ADS_1
Sambil menunggu up, baca juga karya temen aku.