PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 24. Pekerjaan rutin


__ADS_3

Rita bangun pagi-pagi sekali dan mulai menjalankan aktivitas paginya. Pergi ke apartemen Putra untuk menyiapkan semua keperluan Putra seperti biasanya. Rita tidak perlu mengetuk pintu dan membangunkan Putra karena Rita di beri kepercayaan memegang salah satu kunci apartemennya.


Setelah seluruh rumah sudah bersih dan sarapan juga sudah siap di meja makan, Rita mengetuk pintu kamar Putra. Putra yang sudah terbangun sejak tadi, langsung beranjak duduk.


"Iya, sudah bangun!" teriak Putra.


Putra memang sudah menghidupkan alarm agar bisa bangun telat waktu. Dia sengaja meminta Rita untuk membangunkannya supaya Rita perhatian padanya. Rita juga tidak mempermasalahkan hal itu karena dia merasa itu sudah menjadi tugas dia.


Seperti biasa, Rita tetap menemani Putra sarapan dan kali ini Rita ikut makan meski sedikit seperti yang Putra inginkan. Terlihat senyum Putra menghiasi wajahnya yang berbeda dari biasanya. Sungguh perubahan yang sangat drastis.


Selesai sarapan, Putra bergegas mandi dan Rita membersihkan peralatan makan. Meletakkannya di tempat biasa dan akan berulang berkali-kali.


Sebelum pergi, Rita membantu menyiapkan pakaian ganti dan membantu Putra memakai dasi. Tidak ada yang berubah dari pekerjaan Rita, hanya saja perubahan itu terjadi pada diri mereka.


Biasanya, semua akan Rita lakukan dengan dan tanpa rasa. Benar-benar profesional dalam bekerja. Tetapi setelah mereka ada hubungan, Rita tidak bisa memungkiri jika dia sudah tidak bisa lagi profesional. Rita melibatkan perasaan dalam beberapa pekerjaannya.


Yang terutama adalah saat membantu Putra memakaikan dasi. Tangan Rita tampak bergetar dan Rita menjadi grogi, berhadapan langsung dan sangat dekat dengan Putra. Dulu dia akan bersikap cuek dan tidak ambil pusing sedekat apapun diri mereka. Tetapi sekarang semua berbeda. Apalagi ketika Putra menundukkan kepalanya agar Rita lebih mudah menjangkau lehernya.


"Kamu kenapa, apa kamu sakit?" tanya Putra saat melihat tangan Rita gemetaran.


"Nggak, aku nggak sakit. Tapi, entahlah. Aku sendiri bingung, tiba-tiba tanganku lemas," jawab Rita bingung.


"Coba kamu tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan. Lakukan sampai kamu merasa nyaman," titah Putra sambil membantu Rita memberi aba-aba.

__ADS_1


Rita melakukan apa yang dikatakan oleh Putra, hingga dia benar-benar merasa nyaman. Rasa grogi itu perlahan-lahan menghilang dan Rita bisa menjalankan pekerjaannya lagi.


Rita naik ke atas ranjang milik Putra. Dia duduk dengan posisi bersimpuh. Rita melihat wajah Putra sempat bingung melihat Rita naik ke tempat tidurnya. Rita memberi isyarat pada Putra untuk mendekat.


Putra tampak bingung dan merasakan jantungnya berdegup kencang. Perlahan dia mendekati Rita yang tersenyum menggoda.


Sementara itu, Rita sudah siap dengan dasi ditangannya. Rupanya dia sengaja naik ke atas ranjang supaya lebih mudah membantu Putra memakaikan dasi. Dia tidak ingin Putra mengangkatnya ke atas ranjang seperti yang terjadi saat di luar kota kemarin.


Rita menegakkan tubuhnya agar sejajar dengan tubuh Putra. Rita membantu memakaikan Dasi tanpa perasaan berdebar lagi. Tetapi sekarang, Putra yang tampak salah tingkah.


Sebagai seorang pria dewasa dan sudah lama tidak dekat dengan wanita, Putra merasa berat menahan diri untuk tidak tergoda dengan pesona Rita. Setiap hari bersama dan pertahanan utama Putra adalah Rita bukan siapa-siapa baginya.


Sekarang pertahanan yang sudah dia bangun telah gugur setelah mereka resmi berpacaran. Pertahanan apa yang bisa membuatnya menjaga diri dan tidak ingin menodai cintanya?


Satu jawaban yang tiba-tiba muncul disaat yang tepat. Ingat dosa. Itulah yang kini akan Putra pegang erat-erat untuk melindungi diri dari perbuatan yang salah. Semua akan indah pada waktunya, ketika mereka sudah resmi menjadi suami istri. Walaupun perjalanan itu masih panjang karena Rita masih memiliki impian yang belum terwujud.


"Kamu cantik. Semakin dekat, kamu semakin cantik," Putra mulai menggombal.


"Huek, pingin muntah aku. Aku keluar dulu," ucap Rita sambil tersenyum.


Rita segera keluar dari kamar Putra, takut jika Putra melihat wajahnya merah karena malu. Siapa yang tidak suka di puji kekasihnya kalau dia cantik, biarpun tahu jika itu hanya gombalan saja.


Rita berniat kembali ke apartemennya untuk segera mandi. Tetapi, panggilan Putra menghentikannya.

__ADS_1


"Rita, tunggu sebentar!"


"Ada apa?" tanya Rita kaget.


"Hari ini, kamu pergi kuliah, bukan?" tanya Putra.


"Iya, kenapa?"


"Mau aku anterin?"


"Nggak perlu. Aku udah dewasa, kalau ada yang tidak aku tahu, aku bisa bertanya," jawab Rita yakin.


"Oh, ya sudah. Harusnya aku paham kalau kamu itu nggak kenal takut," ucap Putra pelan.


"Kamu bilang apa?" tanya Rita.


"Nggak," jawab Putra sambil tersenyum kecut.


Beginilah nasibnya, kalau memiliki pacar yang bisa silat. Kemanapun pergi, dia tidak membutuhkan pengawal, tidak perlu di temani. Apa-apa bisa sendiri. Lama-lama, Putra merasa tidak dibutuhkan. Tetapi, itu yang membuat Putra jatuh cinta pada Rita. Jadi mesti dinikmati yang sudah dia dapatkan. Harus disyukuri.


Rita tersenyum, pura-pura tidak mendengar apa yang Putra katakan. Dalam hati, Rita selalu bertanya, apakah benar jika Putra mencintai dia apa adanya? Tidakkah dia ingin memiliki kekasih yang lemah dan mengagungkan dia?


...****************...

__ADS_1


Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku.



__ADS_2