
nenek cu menjadi serba salah karena dilema, jika menolak maka itu akan menyakiti hati Lusyen, dan jika menerima nenek cu takut diketahui oleh orang lain dan berusaha merampoknya, nenek cu terus berfikir dan akhirnya berkata "nak Lusyen bagaimana jika nenek menjadi pelayan nak Lusyen saja, itu sebagai ganti untuk uang yang nak Lusyen berikan"
Lusyen berfikir sejenak dan berkata "apa nenek yakin? tapi masalah nya aku tidak butuh pelayan nek, paling calon istri istriku yang butuh, dan terutama adik ipar ku itu"
"begini saja nenek jadi pelayan Xin Yuxin saja lagi pula adik iparku itu sangat dekat dengan nenek, jadi aku bisa tenang dengan adanya Yuxin sebagai orang yang dekat dengan nenek, dia pasti tidak berani menjadikan nenek sebagai pelayan, maka dari itu aku ingin menitipkan Yuxin kepada nenek saat aku dan kakak nya melakukan ehem hehe" Lusyen tertawa canggung saat ingin mengatakan bagian terakhir
nenek cu mengangguk mengangguk dan berkata "baiklah jika begitu nenek bersedia, lagi pula nak Yuxin sudah nenek anggap sebagai cucu sendiri" nenek cu mengingat kembali ketika bersama dengan Xia Yuxin dan tersenyum lembut.
namun tiba-tiba Lusyen berkata "nek jadi bagaimana dengan penginapan yang nenek miliki ini?"
seketika nenek yang tadinya tersenyum menjadi sedih, karena penginapan ini di bangun oleh kerja keras dirinya sendiri, dan penginapan ini adalah tempat dia makan dan tidur enak, jadi wajar selama itu hasil kerja keras sendiri namun ditinggalkan begitu saja maka nenek cu sangat sedih.
Lusyen yang melihat wajah nenek cu yang murung mengerti artinya, dan berkata "nenek jangan khawatir, jika nenek masih menginginkannya aku bisa mindahinnya dalam sekejap, namun itu harus di lakukan saat malam hari karena takut membuat keributan yang tidak di inginkan"
nenek cu yang tadinya lesu kini kembali semangat, "benarkah nak Lusyen bisa memindahkan penginapan nenek? jika begitu nenek sangat sangat bersyukur, dengan begitu nenek bisa tenang"
Lusyen pun hanya mengangguk ikut senang, "baiklah nek jika begitu nenek, sebelum aku memindahkan penginapan ini, gunakan uang tadi untuk memperbaiki pintu pintu yang rusak, karena di tempat ku semuanya wanita dan hanya ada 1 anak laki-laki yang berumur 7 tahun saja"
"baiklah jika begitu nenek akan memanggil para tukang untuk memperbaiki pintu yang rusak" nenek cu pun pergi meninggalkan Lusyen di kamarnya.
karena sudah tidak ada urusan lagi disini, Lusyen memilih untuk jalan jalan di kota, sekedar mencari informasi, atau hidangan makanan yang menurutnya unik, Lusyen berpamitan kepada nenek cu untuk berjalan jalan di kota, dengan alasan terlalu bosan.
__ADS_1
kini sekarang Lusyen sedang berjalan jalan di jalanan kota yang sangat ramai, banyak pedagang pedang yang menawarkan dagangannya untuk menarik minat orang orang.
Lusyen menatap kiri dan kanan, terlihat bangunan bangunan yang sangat megah menjulang tinggi, sehingga Lusyen sedikit takjub, namun lebih megah dan mewah kota yang di bangun Lusyen, meskipun belum ada penghuninya, jadi saat melihat kemegahan ibukota kerajaan tidak terlalu takjub.
Lusyen terus berjalan tanpa arah tujuan, meskipun begitu banyak penduduk yang segan terhadap Lusyen, karena Lusyen memakai pakaian mewah seperti bangsawan dan kekuatan Lusyen yang sedikit merembes keluar, padahal Lusyen sudah menekannya sampai ranah raja tingkat 6.
walaupun Lusyen hanya terlihat berada di ranah raja masih segan dengan penampilan serta umur Lusyen yang masih sangat muda, para penduduk menganggap Lusyen sebagai bangsawan dari jauh atau anak bangsawan kekaisaran,
Lusyen mengabaikan pembicaraan orang orang di sekitarnya dan terus berjalan tanpa henti, sekali kali Lusyen melirik makanan yang di jual dipinggir jalan dan membelinya.
saat Lusyen membeli makanan, ada rombongan kreta mewah yang melewati Lusyen, rombongan itu cukup ramah, tidak seperti para bangsawan yang selalu angkuh dan sombong.
Lusyen melirik rombongan kereta yang dikawal oleh puluhan prajurit penunggang kuda, Lusyen menyimpulkan bahwa itu adalah orang penting, lalu Lusyen pun kembali menunggu pedagang yang sedang mengemasi makanan yang Lusyen beli. namun tiba-tiba kereta yang seharusnya lewat malah berhenti tepat di sebelah Lusyen.
"tuan bisakah tuan meluangkan waktu sebentar" ucap seseorang yang ada di kereta mewah tersebut
namun orang yang di ajak bicara itu tidak menjawab malah masih asik dengan makanan yang baru saja dia dapatkan setelah menunggu beberapa saat, orang yang ada di kereta tidak marah sedikitpun, namun para pengawal nya sedikit ngegas.
"hey bocah bau apakah kau tuli, tuanku sedang memanggilmu, apakah kau tidak tau siapa tuanku hah" pengawal itu berteriak dengan suara keras kearah orang yang di panggil nya.
ketika Lusyen akan makan, dia melihat sekeliling dan melihat bahwa orang orang sedang memandanginya dengan sedikit rasa kasihan, karena orang yang berteriak kepada Lusyen barusan sudah terkenal dengan kekejamannya yang selalu menyiksa.
__ADS_1
Lusyen pun berbalik dan melihat sesosok pria bertubuh besar dan berotot, lalu Lusyen menunjuk dirinya yang masih memakai topeng.
"paman apakah kau memanggilku?"
pengawal itu semakin marah saat Lusyen berkata seperti itu, diapun berniat untuk menyerang Lusyen namun dihentikan oleh orang yang ada di kereta.
"cukup Brian apa yang akan kau lakukan kepada remaja tersebut, aku masih ingin berbicara dengannya" pengawal yang bernama Bria itu terdiam sejenak.
"nona jangan ikut campur, ini masalah serius jika aku membiarkannya maka bocah bocah seperti ini akan terus mengabaikan kita, aku harus menghukumnya sebagai peringatan untuk semua orang bahwa mereka harus menghormati bangsawan"
orang yang ada di dalam kereta menghela nafas dan berkata dengan sedikit marah "Brian jika kau masih melanjutkannya maka keluar saja dari pasukan ku, aku tidak butuh orang yang tidak bisa menahan emosinya"
seketika Brian itu langsung terdiam dan mundur kembali saat sudah melangkah maju menuju Lusyen, "maafkan aku nona, sudah lepas kendali"
wanita yang di sebut nona itu tidak menjawab dan berkata "tuan maafkan kapten pasukan ku yang terlalu gegabah, dan aku akan mengulangi perkataan ku yang tadi, tuan bisakah tuan meluangkan waktu sebentar untuk berbicara"
"baiklah nona aku bersedia" ucap Lusyen dengan penuh hormat
sosok nona yang ada di dalam kereta itu membuka pintu kereta dan mempersilahkan untuk Lusyen masuk, terlihat seorang wanita yang memakai cadar dan memakai baju tempur berwarna biru, Tanpa berlama lama Lusyen pun masuk ke dalam kereta, karena kereta itu sangat besar, jadi cukup untuk 6 orang penumpang.
sesudah sosok pria yang memakai topeng itu masuk ke dalam kereta tuanya, Brian menginjakkan kakinya kuat kuat dan menghasilkan retakan tanah yang cukup besar.
__ADS_1
...NEXT CHAPTER...
...jangan lupa like dan komen nya ya sekalian kalo ada vote kirim aja ke author babang Verde wkwk...