
"Ajian terlarang milik sekte setan maut.ajian taman jiwa."
Kuyung lingga tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.dia tidak menyangka Kuyung sentan akan membicarakan ajian taman jiwa.
"Ajian yang dapat mengendalikan perasaan seseorang sesuka hati, sepertinya kau mendapatkan ajian yang cukup menarik."
"Aku tak mengerti."ucap Kuyung lingga berusaha membela diri.
Kuyung sentan tertawa keras mendengar ucapan Kuyung lingga.suara yang telah dialiri tenaga dalam itu menggema di seluruh penjuru ruang tahanan.Kuyung lingga bahkan harus mengalirkan tenaga dalamnya untuk menyumbat telinganya.
"Kau sudah mempelajarinya kan."
Kuyung lingga hanya terdiam tanpa jawaban.dia tidak bisa berkata kata lagi mengetahui rahasianya terbongkar.
"Apakah tua bangka itu yang menemuimu?."Kuyung sentan membuka borgol yang mengunci ruang tahanan Kuyung lingga dan masuk kedalamnya.
"Dia tidak ada hubungannya dengan hal ini."Kuyung lingga berkata geram sambil meronta ronta mencoba melepaskan rantai yang mengikatnya.
"Lingga jaya, kau masih saja ambisius.pantas saja garuda penjaga langit menolak dirimu ketika kau akan diangkat menjadi tetua oleh kakang kupa."
Kuyung sentan meletakkan kursi kecil yang sengaja dibawanya dan duduk di kursi itu.
"Ayahmu, Data jaya sepertinya masih hidup sampai sekarang ya atau mungkin akan segera berakhir."ucap Kuyung sentan dengan wajah mengejek.
Wajah Kuyung lingga merah padam menandakan amarahnya yang semakin lama semakin besar.Kuyung sentan memang sengaja memancing emosi Kuyung lingga untuk memudahkannya mengorek informasi darinya.
Dia juga mengetahui bahwa Kuyung lingga sangatlah menghormati dan menyayangi ayahnya yang merupakan anggota organisasi rahasia dan Kuyung sentan sedang memanfaatkan hal itu.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku."
Kuyung sentan tersenyum puas karena berhasil menjebak Kuyung lingga ke dalam rencananya.
"Beritahu padaku dimana letak organisasi itu dan ayahmu akan kubiarkan bebas."
Kuyung lingga terdiam sejenak mencoba memikirkan tawaran Kuyung sentan sambil sesekali meliriknya.
"Tak akan kuterima tawaranmu walaupun harus mati!."teriak Kuyung lingga keras sesaat sebelum membuat sebuah pisau tenaga dalam yang melayang dan sudah siap menikam dirinya.
Saat pisau itu jaraknya tinggal sejengkal dari jantungnnya, kuyung sentan menahan pisau itu dan meremasnya hingga hancur berkeping keping.
"Apakah kau kira aku cukup bodoh untuk membiarkan kau mati tanpa sempat memberikan apapun padaku."
"Kau tak akan pernah mendapatkan apapun dariku."
Kuyung sentan menggeleng pelan, ia tidak menyangka kesetiaan Kuyung lingga pada organisasi ayahnya akan sebesar itu.
"Memangnya apa yang diberi setan maut kepadanya?."gumam Kuyung sentan dalam hati.
Kuyung sentan menatap Kuyung lingga penasaran.bukan karena ingin mendapatkan kekuatan dari setan maut juga, tetapi karena bingung dengan kesetiaan yang dimilikinya.
Kesetiaannya terhadap lemang kupa yang adalah kakang kandungnya sendiri saja tidak sebesar ini.
"Sepertinya aku harus menyelidiki lebih jauh tentang setan maut."
(2 hari kemudian)
"Apa yang paman lakukan disini."Walangka terlihat baru tiba di hutan dekat padepokan sekte.Sagalu yang sedang bermeditasi membuka matanya perlahan dan menoleh ke kanan.
"Walangka, apa kau ingin ikut bermeditasi bersama paman.kudengar kau sudah mulai berlatih."ucap Sagalu mencoba menggoda Walangka.
"Aku tahu maksud paman,ingin menggodaku kan."balas Walangka sambil menunjukkan wajah tidak sukanya.
Sagalu terkekeh melihat tingkah Walangka yang tidak pernah berubah, pemalas dan sensitif.
"Aku disini ingin bertanya pada paman, apakah boleh?."Walangka ikut duduk disamping kanan Sagalu.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, memangnya apa yang ingin kau tanyakan?."
"Apa ibu juga suka bersantai dan bermain alat musik sepertiku?."Walangka bertanya polos.dia sama sekali tidak menyadari pertanyaannya akan membuat luka lama Sagalu mulai terbuka kembali.
"Ee maksudmu guru ya."Wajah Sagalu berubah seketika, wajah penuh tawa yang tadi ditunjukkannya berganti dengan wajah murung penuh kesedihan.
"Paman, jawablah."ucap Walangka dengan nada merayu.
"Setahu paman tidak."Sagalu menjawab sambil berusaha menutupi kesedihannya.
"Benarkah, lalu mengapa paman terlihat sedih bukankah tadi paman sedang senang menggodaku."
"Ah tidak, tak usah dipikirkan."Sagalu tersenyum terpaksa agar Walangka tidak menghawatirkan dirinya.
"O iya Walangka, paman ingin melanjutkan latihan paman dulu ya."Sagalu bangkit dari duduknya dan mengambil pedangnya yang tersandar di batu tempat ia duduk.
"Latihan lagi, apakah tidak ada kegiatan lain selain latihan."ucap Walangka sambil ikut berdiri.
Sagalu hanya tersenyum kecil melihat Walangka.dia mencabut pedangnya dan mempersiapkan kuda kudanya.
"Ajian hati naga tingkat 4."Sagalu mulai melakukan gerakannya dengan serangan yang tertuju ke tiga pohon di depannya yang cukup besar.
Dia mengayunkan pedangnya cepat beberapa kali sambil sesekali memutar tubuhnya.beberapa saat kemudian, tiga pohon tersebut telah terbelah dua dengan api kecil di beberapa bagiannya.
Merasa tidak puas, Sagalu melanjutkan serangannya.dia terus melesat dan menebas apapun yang dilihatnya seolah olah menjadi iblis haus darah.
beberapa bagian hutan bahkan ikut terbakar karena efek dari pedang yang disulut api milik Sagalu.pemandangan hijau dan asri yang tadi dilihat Walangka berubah menjadi pemandangan api merah menyala lengkap dengan bau abunya.
"Sehebat inikah kekuatan milik paman Sagalu."Walangka menatap Sagalu kagum sekaligus ngeri.perlahan namun pasti, keinginan untuk belajar silat dan tenaga dalam mulai muncul di benaknya.
"Apa yang terjadi disini?."seorang kakek tiba tiba muncul melayang di udara.dialah Rayaka, satu satunya tetua yang dimiliki oleh sekte kelinci bambu dan merupakan sahabat karib dari Ki karsa.
Umur dan ilmunya pun hanya sedikit di bawah Ki karsa.dia sudah mengabdi kepada sekte kelinci bambu sejak Ki karsa menjadi ketua baru sekte kelinci bambu.
"Kakek pemarah."Walangka menoleh ke belakang sebelum membungkuk memberi hormat.
"Memangnya kenapa?!."Walangka yang merasa tidak bersalah balik berteriak.
Rayaka adalah seorang yang sangat temperamen.cara mengajarnya pun lebih keras daripada Ki karsa sehingga hanya sebagian kecil saja murid kelinci bambu yang bersedia berguru padanya.
Sagalu pun sebenarnya enggan untuk berurusan dengan Rayaka kecuali untuk beberapa situasi terdesak.
"Oy Sagalu.apa yang kau lakukan dengan hutan itu.berlatih itu wajib tetapi tidak harus berlatih menghancurkan alam!."teriak Rayaka.ia memandang sekitarnya yang sudah hancur berantakan dan diselimuti kobaran api panas.
"Oy sagalu!!!."nada bicara Rayaka mulai meninggi menunjukkan ketidak sukaannya.Sagalu yang masih mengamuk tidak menanggapi perkataan Rayaka dan hanya melototinya.
"Tatapan macam apa itu?!."Rayaka mengeluarkan auranya karena mulai merasa terusik.aura hijau muda itu menekan semua orang yang ada disana tak terkecuali Sagalu.
"Lagi lagi dia langsung marah."gumam Walangka dalam hati.
"Apa yang terjadi dengannya, walaupun aku tahu dia tidak menyukaiku tetapi tingkah lakunya kali ini seperti sedang dikendalikan rasa amarah dan haus darah.apa jangan jangan ajian hati naga kembali merasukinya?."ucap Rayaka pelan.
Rayaka mulai meningkatkan kewaspadaannya ketika Sagalu mulai berjalan ke arahnya dengan mata masih melotot.
Saat Sagalu sudah berjarak beberapa langkah lagi dari Rayaka, Sagalu menghilang dari pandangan dan muncul kembali dibelakang Rayaka.
Dia menebaskan pedangnya ke punggung Rayaka sebelum menendang bokongnya hingga terlempar jauh.
"Gawat, dia memang telah dirasuki."gumam Rayaka setelah berhasil mendarat.dia menghunuskan pedangnya dan bersiap untuk menyerang balik.
"Pedang bambu tingkat 2, tenaga bambu hijau."Rayaka melesat ke arah Sagalu.dia menggunakan hanya sedikit tenaga dalamnya agar Sagalu tidak terluka parah karena jurusnya.
Sagalu pun menyambut serangan tersebut, ia mengangkat pedangnya tinggi tinggi dan mengayunkannya untuk menahan serangan Rayaka.
"Sepertinya ini akan sedikit sulit."
__ADS_1
Rayaka kembali melepaskan serangannya begitu juga dengan Sagalu.hanya dalam beberapa menit, mereka telah bertukar berbagai jurus.
"Sepertinya semakin lama serangannya semakin asal asalan."gumam Rayaka pelan.dia mulai menyadari kehilang sadaran Sagalu yang kian lama kian bertambah menjadikannya semakin membabi buta.
"Aku harus segera mengakhirinya."
Rayaka memutar tubuhnya sebelum melompat tinggi.ia memusatkan tenaga dalamnya di punggung pedang dan melesat kebawah dengan kecepatan tinggi.
"Pedang bambu tingkat 3."Rayaka memukulkan punggung pedangnya dan mengenai dada Sagalu.
Sagalu terpental mundur sebelum kemudian tersungkur ke tanah tak sadarkan diri.api di pedangnya juga perlahan menghilang.
"Kakek pemarah, paman Sagalu kenapa?."Walangka yang tidak mengerti apa yang telah terjadi melongo melihat Sagalu.
"Nanti akan kujelaskan, sekarang bantu aku membawanya ke ruang perawatan."ucap Rayaka pelan.ia mendekati Sagalu dan mengangkat tubuhnya sementara Walangka membawakan pedang Sagalu.
. . .
Saat matahari sudah terbenam, Walangka dan Rayaka terlihat sedang duduk di aula padepokan sekte.angin dingin yang bertiup dan sinar bulan yang redup menambah kesunyian malam itu.
"Nak, apa kau tahu apa itu ajian hati naga?."tanya Rayaka dengan sorot mata yang sendu.dia menatap rembulan putih yang sesekali ditutupi awan malam.
"Tidak."Walangka menjawab singkat.
"Ajian hati naga adalah ajian yang diciptakan oleh Prabu garang ulo, pendiri sekte singa bara api.dia menciptakan ajian ini dengan bantuan sebuah pusaka bernama pedang seribu singa."Rayaka menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Ajian ini dinamakan hati naga karena mengubah jiwa dan hati penggunanya menjadi seperti naga ganas yang siap menghancurkan apapun yang dilihatnya.semakin tinggi tingkatannya maka semakin ganas penggunanya.itulah yang terjadi pada Sagalu dan beberapa pengguna ajian hati naga yang lain termasuk Prabu garang ulo sendiri.ini pula yang menyebabkan Prabu garang ulo memutuskan untuk mundur dari dunia persilatan dan bertapa."
"Dimana Prabu garang ulo bertapa?."
"Aku pun tidak tahu dimana, tetapi ada seseorang yang dapat memberitahumu."
"Siapa?."
"Dia adalah L...."
"Tetua, tuan Sagalu telah siuman."suara seorang murid dari ruang perawatan menghentikan ucapan Rayaka.
"Sepertinya kita harus memeriksa Sagalu, ayo."Rayaka bangkit berdiri dan segera melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan.
Walangka pun ikut bangkit dan mengekor di belakang Rayaka.
"Siapa sebenarnya orang yang dimaksud oleh kakek pemarah?."gumam Walangka dalam hati.dia masih penasaran dengan ucapan Rayaka tadi.
"Akan aku tanyakan nanti."
Mereka berdua akhirnya tiba di ruang perawatan dan segera masuk.
"Paman, apa paman tidak apa apa."tanya Walangka setelah menghampiri Sagalu yang sedang terbaring lemas di sebuah ranjang.
"Paman tidak apa apa."jawab Sagalu.
"Kau harus tetap disini untuk beberapa hari kedepan agar cepat pulih."ucap Rayaka menasihati.
"Terimakasih atas perhatiannya tetua."Sagalu menundukkan kepalanya.
"O iya paman aku ingin istirahat dulu ya."ucap Walangka sebelum beranjak keluar dari ruangan itu.
"Ada apa dengannya?."ucap Rayaka dan Sagalu keheranan.
Walangka terus melangkah menuju gerbang padepokan.entah apa yang dipikirkannya hingga memutuskan untuk ke sana.
Saat hampir tiba di gerbang padepokan, seorang murid terlihat berlari sekuat tenaga dari arah gerbang dengan napas terputus putus.
"Tolong tolong, segerombol pendekar sedang menuju kemari, segerombol pendekar menuju kemari!!!."teriak murid itu panik berkali kali.
__ADS_1
"Segerombol pendekar!."gumam Walangka khawatir.dia berlari menuju gerbang untuk memastikan.segerombol pendekar tingkat menengah level akhir berbaju ala pendekar terlihat tepat ketika Walangka tiba di gerbang.