
"Kau masih tak puas dengan luka yang kuberikan padamu hai Durga." Ki Jagalang menatap sinis Mpu Durga.
"Sekalipun aku harus mati, maka aku harus mati bersamamu!" Mpu Durga kembali bergerak menyerang. Tinju demi tinju dilayangkannya ke Ki Jagalang.
Dengan santai Ki Jagalang menghindari semua serangan itu. Serangan Mpu Durga yang asal asalan ditambah pengalaman ratusan tahun berhadapan dengannya membuat Ki Jagalang mengerti setiap langkah dan serangan yang akan dilakukan Mpu Durga. Dia dapat menebak dengan tepat gerakan yang akan dilakukan Mpu Durga.
"Tinju energi penghancur tulang tingkat 2." Mpu Durga meningkatkan kekuatan tinjunya. Bola tenaga dalam yang menyelimuti tangannya pun bertambah besar.
"Hentakan ombak ikan terbang." Ki Jagalang menghentakkan kakinya ke tanah. Tanah tiba tiba berguncang hebat. Mpu Durga yang serangannya hampir mengenai tubuh Ki Jagalang mendadak kehilangan keseimbangan tubuhnya sehingga seragannya meleset.
Ki Jagalang yang melihat celah itu segera menghantamkan tongkat kayunya ke punggung Mpu Durga. Tongkat yang sudah dialiri tenaga dalam hasil pernapasan ikan terbang itu sanggup membuat Mpu Durga terlempar jauh.
"Mengapa si tua itu selalu bertambah kuat sih?!" Umpat Mpu Durga yang sudah berhasil mendarat di tanah. Walaupun sempat membentur pohon, namun dia dengan cepat mengatur kembali kuda kudanya.
Mpu Durga mengarahkan tangannya ke atas. Golok miliknya yang tertancap di pohon dengan cepat melesat ke genggaman tangannya. Aura pekat dan kuat meluap dari tubuh Mpu Durga tepat setelah dia telah memegang kembali goloknya. Batu batu yang berada di sekitarnya melayang di udara sebelum hancur menjadi debu.
Mpu Durga memutar goloknya ketika melihat Ki Jagalang bergerak mendekatinya. Dia melangkah mundur beberapa langkah bersiap untuk menyambut Ki Jagalang. Betapa terkejutnya dia saat Ki Jagalang tiba tiba menghilang dari pandangan dan muncul kembali di belakangnya.
"Tapak tenaga dalam ikan terbang." Ki Jagalang menghantamkan jurus tapaknya ke punggung Mpu Durga. Mpu Durga terdorong beberapa langkah ke belakang. Belum sempat dia mengatur napas, Ki Jagalang sudah kembali menyerangnya.
__ADS_1
Mpu Durga berhasil menangkis serangan itu namun karena tidak terlalu siap membuat kuda kudanya menjadi sedikit rusak. Ki Jagalang yang menyadari hal itu tersenyum. Dia melakukan serangan bertubi tubi ke Mpu Durga untuk semakin melemahkan pertahanannya.
Mpu Durga yang terus ditekan memutuskan untuk menjauh dari Ki Jagalang. Ki Jagalang tidak tinggal diam. Dia tak berhenti menyerang dan bergerak mendekati teman lamanya itu. Diam diam dia mengumpulkan tenaga dalam ikan terbang di kedua telapak tangannya. Saat dia melihat celah dari pertahanan Mpu Durga, dia langsung merapal jurusnya.
"Tapak tenaga dalam ikan terbang kembar." Ki Jagalang melepaskan kedua telapak tangannya bersamaan. Mpu Durga mencoba menangkis serangan yang terarah padanya itu dengan cara menebaskan goloknya sekuat tenaga setelah mengalirinya hampir seluruh tenaga dalam miliknya.
Ledakan tenaga dalam terjadi ketika dua jurus kuat itu beradu. Keduanya terlempar jauh. Tubuh Mpu Durga menghantam pohon sementara Ki Jagalang berhasil mendarat di tanah walau dengan sedikit susah payah.
"Tenaga dalam ini ini bukan milik Durga, apa jangan jangan...." Ki Jagalang menggantung ucapannya saat golok Mpu Durga melesat ke arahnya.
. . .
Walangka tampak duduk di halaman gubuk Ki Jagalang meneguk sebotol air segar. Wajah dan bajunya terlihat basah oleh keringat. Terdapat beberapa bekas pembakaran di sekelilingnya hasil dari latihan ajian hati naga.
"Mungkin karena aku tidak pernah berlatih langsung kali ya, setelah berhasil melewati ujian terakhir dari guru aku akan pergi ke sekte paman Kupa."
Saat dia kembali meminum air, perutnya tiba tiba berteriak meminta jatah. Dia memegang perutnya.
"Guru mana sih matahari sudah terbenam dia masih belum kembali, apa begitu susah mencarikan seekor sapi?" Umpat Walangka. Dia memutuskan untuk keluar air terjun dan mencari makanan sendiri untuknya.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian dia terlihat sudah membawa beberapa buah buahan. Sebagian sudah dia makan untuk pengganjal perut sementara sisanya ingin dia jadikan pelengkap hidangan untuk sapi bakarnya.
Saat masih mencari sapi hutan, dia mendengar suara pertarungan dari kejauhan. Awalnya dia tak memedulikannya namun karena juga merasakan tenaga dalam ikan terbang dia pun melangkah ke arah sumber suara itu karena penasaran. Dengan langkah agak berat dia mendekat ke area pertempuan.
"Guru, kakek ular?" Raut wajah Walangka berubah begitu melihat Ki Jagalang dengan Mpu Durga. Dia mengernyitkan dahinya lalu menajamkan matanya. "Itu benar benar guru."
"Tarian golok iblis." Mpu Durga memutar tubuhnya. Dia melompat ke atas dan mengangkat goloknya. Dengan kecepatan tinggi, dia melesat turun sambil mengayunkan senjatanya itu. Ki Jagalang berhasil menghindari serangan mematikan itu tetapi tiba tiba energi golok datang dari arah kiri menuju tubuhnya.
"Gawat, serangan tadi hanya pengalihan perhatian." Ki Jagalang menggigit bibirnya. Dia berusaha menghindar namun tak sempat. energi golok itu berhasil menusuk dadanya hingga tembus ke punggungnya.
Melihat lawannya yang sedang mematung karena menahan sakit, Mpu Durga langsung memanfaatkan hal itu. Dia bergerak maju sambil mengarahkan goloknya ke arah leher Ki Jagalang. Walangka tentu saja tak tinggal diam melihat gurunya dalam bahaya. Dia mengaliri tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya sebelum melesat secepat yang dia bisa.
"Pedang bambu tingkat 1." Karena serangan Mpu Durga itu tak menggunakan tenaga dalam, Walangka hanya menggunakan sedikit kekuatannya untuk dapat menepisnya dan juga melakukan serangan balik.
"Bocah ini, yang waktu itu?!" Mpu Durga melompat ke belakang mengindari serangan balik Walangka. "Jadi kau muridnya, kalau begitu akan kubuat kau menemani guru tuamu itu." Mpu Durga membuat wajah menyeringai.
"Ajian hati naga tingkat 2." Walangka melesat menyerang Mpu Durga.
"Dia dari sekte Singa Bara api, semoga membunuhnya tidak membawa masalah."gumam Mpu Durga sedikit Khawatir. Dia pantas khawatir sebab dia tahu bahwa sekte Singa Bara Api termasuk dari tujuh sekte besar paling berpengaruh dan juga sekte yang memiliki loyalitas tinggi terhadap setiap anggotanya.
__ADS_1
"Tinju energi penghancur tulang." Mpu Durga mulai meladeni Walangka. Keduanya terlihat bertarung dengan seimbang. Masing masing dapat bertahan dan menyerang dengan baik. Meski Walangka bergerak lebih lincah dari Mpu Durga namun dengan pengalaman bertarungnya, tak sulit bagi Mpu Durga untuk bisa mengimbangi lawannya.
"Anak ini boleh juga." Mpu Durga tersenyum kecil. Kekuatan Walangka yang meningkat membuatnya menjadi sedikit terhibur dengan pertarungan itu.