Pendekar Naga Bintang

Pendekar Naga Bintang
Pertarungan dua sahabat 2


__ADS_3

Kuyung Garaga mengaliri tenaga dalamnya ke kakinya sebelum melesat menyambut energi tebasan itu. Dia menarik pedangnya yang sudah dialiri lebih banyak tenaga dalam, mencoba menahan energi tebasan itu.


Ledakan tenaga dalam tercipta ketika pedang Kuyung Garaga beradu dengan energi tebasan Kuyung Sentan membuat dua sahabat itu sama sama terhempas, Kuyung Garaga membentur dinding sementara Kuyung Sentan menghantam jeruji penjara Kuyung Lingga.


Kuyung Lingga yang melihat pertarungan itu sama sekali tidak berkedip dan cukup tertegun dengan kedua sahabatnya itu. Asap efek ledakan itu mengepul tebal menunjukkan bahwa ledakan tenaga dalam tersebut sangatlah kuat.


Kuyung Sentan terlihat dalam posisi terduduk saat mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh untuk menekan rasa sakit akibat menghantam jeruji besi penjara.


Lain halnya dengan Kuyung Garaga, dia memilih untuk segera kembali mengatur kuda kudanya dan bersiap untuk kembali menyerang.


"Sepertinya kita harus lebih serius kakang." Ucap Kuyung Garaga sembari meraih pedangnya yang tergeletak di tanah.


"Kau benar Kuyung Garaga, mari lebih serius." Balas Kuyung Sentan sambil berusaha berdiri kembali.


Setelah beberapa saat mengatur napas, mereka berdua kembali bertarung. Kuyung Garaga yang lebih dulu mengatur kuda kudanya mengambil inisiatif menyerang duluan.


Kuyung Sentan menyambut serangan tersebut sambil sesekali mencoba menyerang balik. Pertarungan kembali berlangsung. Kuyung Sentan yang terlihat unggul dalam hal kecepatan dapat membuat Kuyung Garaga menjadi kesulitan.


Dari semua serangannya hanya beberapa yang berhasil mengenai tubuh Kuyung Sentan. Karena kesulitan dalam pertarungan jarak dekat, Kuyung Garaga mencoba mengatur jarak dengan Kuyung Sentan.


Dia menggunakan beberapa jurus jarak jauh sambil memikirkan cara mendekati lawannya. Kuyung Garaga sadar dengan kecepatan yang dimiliki Kuyung Sentan, bertarung jarak dekat hanya akan membuatnya lebih kewalahan.


Di sisi lain, Kuyung Sentan terus menekan tanpa memberi celah untuk Kuyung Garaga. Namun dia tidak memberikan luka serius pada sahabatnya itu sebab tujuan pertarungan ini baginya hanya untuk meyadarkan Kuyung Garaga.


"Sepertinya aku harus menggunakan jurus yang diberikan orang itu." Pikir Kuyung Garaga ketika dirinya terpental mundur oleh serangan Kuyung Garaga. Walaupun sudah mencoba menjaga jarak, Kuyung Sentan tetap dapat memberikan pertarungan tidak seimbang untuknya.


Dia lalu mencoba mengatur jarak lebih jauh dari Kuyung Sentan. Jurus yang akan dia gunakan membutuhkan area yang setidaknya cukup untuk membuat penggunanya bergerak leluasa meski hanya beberapa detik.


"Ajian hati naga tingkat 7."


Api di pedang Kuyung Sentan tiba tiba meledak ledak dan bertambah besar. Dia menyadari bahwa Kuyung Garaga akan segera mengeluarkan jurus pamungkasnya sehingga dia mempersiapkan jurusnya untuk mengadunya dengan jurus Kuyung Garaga.


Kuyung Sentan merubah arah pedangnya begitu melihat celah yang ditinggalkan Kuyung Garaga, dia memiringkan tubuhnya sebelum mengayunkan pedangnya itu.


Kuyung Garaga tersentak kaget mendapat serangan mengecoh itu, dia bergerak mundur secepat yang ia bisa sambil mencoba menagkis serangan yang terarah padanya tetapi tebasan itu tetap merobek kulitnya, dia terdorong beberapa meter.


Kuyung Sentan tak memberi waktu bagi musuhnya untuk berpikir. Dia bergerak cepat mengarahkan pedangnya menuju dada Kuyung Garaga.


Walaupun yakin tak dapat menahannya sepenuhnya, tetapi Kuyung Garaga tetap menarik pedangnya untuk menepis serangan itu.


Hanya tinggal beberapa jengkal lagi untuk kedua pedang itu beradu, namun Kuyung Sentan segera merubah gerakannya kembali. Dia merendahkan tubuhnya untuk melewati pedang Kuyung Garaga lalu merubah sasarannya menuju lengan kiri Kuyung Garaga.


Kuyung Garaga terkejut ketika melihat lengan kirinya telah terputus dari tubuhnya tepat setelah Kuyung Garaga mengayunkan pedangnya memotong lengannya itu.


Dia berusaha membalas tetapi Kuyung Sentan segera melepaskan tinju api pembakar raga ke tubuhnya, membuatnya terpental jauh.


Kuyung Garaga meringis kesakitan sambil mengatur napasnya, luka di tubuhnya mulai mengalirkan darah.

__ADS_1


"Aku tak bisa menggunakan jurus itu jika tak mempunyai dua tangan, terpaksa harus menggunakan tenaga dalamku untuk membentuknya." Gumam Kuyung Garaga dalam hati.


Dia mulai mengumpulkan tenaga dalamnya di bahu kirinya. Perlahan, sebuah tangan yang terbuat dari kumpulan aura berwarna ungu tua tumbuh di bahu kirinya itu.


"Aura ungu tua, bukankah aura Kuyung Garaga berwarna oren, jangan jangan ia sudah mempelajari ilmu hitam." Gumam Kuyung Sentan khawatir.


Kuyung Sentan pantas khawatir sebab ilmu hitam merupakan ilmu yang sangat kuat. Sebab ilmu ini memerlukan kerja sama dengan setan dan memiliki banyak efek berbahaya bagi penggunanya, ilmu ini kemudian dilarang.


"Ajian sepuluh gerbang kematian, gerbang penyakit terbukalah!." Kuyung Garaga menempelkan kedua tangannya lalu mengeluarkan aura ungu tua yang sangat kuat. Aura itu berkumpul lalu membentuk sebuah gerbang besar dengan patung berbentuk mahkota di bagian atasnya.


Kuyung Sentan menelan ludahnya. Dia sudah tahu jika dia akan berhadapan dengan ilmu hitam kuat namun tak disangka ternyata ia akan berhadapan dengan ilmu hitam terkuat di dunia, ajian sepuluh gerbang kematian milik sekte terkuat bernama setan maut.


Ajian ini bila sudah dikuasai secara sempurna maka bisa saja membuat sebuah kerajaan rata dengan tanah hanya dengan waktu semalam. Ajian ini pulalah yang membuat sekte setan maut menjadi sebuah bencana bagi dunia persilatan.


Walaupun masih memiliki kartu AS yaitu ajian hati naga tingkat delapan, namun Kuyung Sentan tetap tidak yakin apakah bisa sebanding dengan kekuatan mengerikan ajian sepuluh gerbang kematian.


"Ajian hati naga tingkat 8." Kuyung Sentan merapal jurusnya tetapi suara rapalannya terdengar ragu ragu.


Kuyung Sentan kembali bergerak sambil mengerahkan seluruh tenaga dalamnya yang tersisa. Dia ingin membuat ajian hati naga tingkat delapan menjadi lebih kuat dari yang biasa hingga setidaknya mampu menahan ajian sepuluh gerbang kematian.


"Hiahh." Kuyung Garaga mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah gerbang aura itu lalu seketika terbukalah gerbang itu. Ribuan titik hitam yang sangat kecil terbang keluar dari gerbang itu.


"Titik apa itu?." Gumam Kuyung Sentan bingung. Dia mencoba menebaskan pedangnya ke arah itu namun titik itu tidak hancur meski sudah ditebas puluhan kali. Titik itu justru menempel di pedang Kuyung Sentan.


Kuyung Sentan mencoba menghindari titik itu sambil tetap bergerak ke arah kuyung Garaga tetapi titik itu tetap mengenainya. Kini, hampir semua titik hitam yang keluar dari gerbang milik Kuyung Garaga menempel di tubuh Kuyung Sentan.


Ketika sudah berjarak beberapa meteh dengan Kuyung Garaga, Kuyung Sentan tiba tiba ambtuk ke tanah. Bintil bintil memenuhi sekujur tubuhnya. Tubuhnya pun terasa sangat sakit dan lemas.


"Aku harus memanggilnya." Pikir Kuyung Sentan. Dia meluapkan auranya hingga menekan seluruh padepokan sekte singa bara api.


Kuyung Garaga yang sudah kehabisan tenaga, terpaksa mengalirkan sisa sisa tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya agar tidak kehilangan kesadaran.


Dia mengira jika ajian sepuluh gerbang kematian telah dia gunakan maka Kuyung Sentan sekalipun akan kalah sehingga dia menggunakan seluruh tenaga dalamnya untuk melepaskan ajian itu.


Tak lama kemudian, sesosok bayangan melesat menuju ke arah dua sahabat itu seolah telah dipanggil oleh aura yang tadi dilepaskan Kuyung Sentan. Dua sahabat itu mencoba bangkit namun baik Kuyung Sentan maupun Kuyung Gaaga dua duanya telah tak dapat bergerak lagi.


Bayangan itu mendaratkan pukulannya di bagian punggung belakang Kuyung Garaga hingga dia tak sadarkan diri sesaat setelah tiba di dekat Kuyung Garaga.


"Akhirnya kau datang kakang." Ucap Kuyung Sentan sambil tersenyum lega.


"Ayo kita bereskan kekacauan ini." Ucap bayangan itu sebelum menggendong Kuyung Garaga.


. . .


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa hari, Ki Karsa dan Walangka tiba di hutan Karacak. Sebuah hutan kecil di kawasan kaki gunung Karacak.


Hutan ini dikenal di dunia persilatan mengubur banyak pusaka kuat yang sudah diperebutkan sejak dahulu kala. Pusaka pusaka itu dibuat oleh seorang kakek sakti mandraguna bernama Ki Segeni.

__ADS_1


Sebab menyimpan banyak pusaka, hutan Karacak menjadi diselimuti bermacam macam aura aneh. Berbagai kejadian aneh terjadi bagi siapapun yang memasukinya. Beberapa menghilang, beberapa lagi kehilangan semua ilmunya, bahkan ada juga yang berhasil keluar dari hutan Karacak dengan membawa wabah penyakit mematikan.


Walangka walaupun termasuk orang yang buta informasi namun dia sering tak sengaja mendengar kabar terbaru dunia persilatan dari kakak kakak seperguruannya.


Dia sempat menanyakan hal ini pada Ki Karsa saat kakeknya itu memberitahukannya dimana tujuan mereka berdua pergi namun selalu dibalas 'percayalah pada kakek' oleh Ki Karsa.


Hujan deras tiba tiba turun mengguyur gunung Karacak, membuat mereka berdua berlari mencari tempat untuk berteduh.


"Ah sepertinya di sana ada sebuah gua, ikuti kakek Walangka." Gumam Ki Karsa sambil mempercepat larinya.


Suasana goa itu sangatlah lembab, beberapa kelelawar terlihat berterbangan masuk ke dalam goa dan ada beberapa juga yang sudah bergantung di langit langit goa. Ki Karsa dan Walangka masuk dalam goa dan langsung menuju salah satu sudut gua.


Mereka lalu duduk menunggu hujan mereda. Di sudut ruangan, tampak seekor ular kecil berwarna hitam dengan kepala dan ekor berwarna merah cabai. Ular itu merayap perlahan menuju ke arah Ki Karsa.


Mendapat firasat tidak enak, Walangka segera berdiri memeriksa sekitarnya. Dia menyapu pandangannya sebelum kemudian menemukan ular itu. Melihatnya merayap menuju kakeknya membuat Walangka mengira bahwa ular itu ingin mematoknya.


Dia mencabut pedangnya lalu mengayunkan pedangnya mencoba membunuh ular itu. Namun tak disangka, bukannya mati ular itu malah menghindar dengan cara meloncat kebelakang lalu berubah menjadi seorang kakek tua.


"Apa yang sedang yang kau lakukan Wala.." Ki Karsa mematung sesaat sebelum berteriak. "Siapa Kau?." Ki Karsa sontak terkejut saat menoleh kebelakang dan melihat kakek tua berbaju hitam dengan wajah yang tak bersahabat sedang menatap tajam Walangka.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu." Balas kakek itu dingin. Pandangannya tajam dan terlihat sangat menyeramkan membuat bulu kuduk Ki Karsa dan Walangka berdiri.


"Ma..maaafkan saya tetua, kalau boleh tahu apa yang telah membuat tetua marah." Ucap Ki Karsa merendah sebab tak ingin mencari masalah dengan menyinggung kakek itu.


"Bocah ini berani mengayunkan pedangnya ke arahku, jika tidak buru buru menghindar mungkin tubuhku sekarang telah terbelah menjadi dua." Ucap Kakek itu sambil menunjuk Walangka.


"Orang lain yang mengalami hal sama pasti melakukan tindakan yang sama sepertiku." Balas Walangka membela diri.


"Kau ingin melawanku?."


"Bukannya begitu kek tapi tadi kakek menjelma sebagai ular, siapapun yang melihat ular pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang tadi kulakukan." Walangka mencoba menjelaskan agar tak terjadi salah paham diantara mereka.


"Begitukah, mengapa aku juga tidak berpikir begitu."


"Sebab kakek adalah ular."


"Kau." Kakek itu tiba tiba menjadi marah seolah olah telah diejek oleh Walangka.


"Ma..maaf kek, mohon ja....." Belum selesai Walangka berbicara, sebuah pukulan yang mengandung tenaga dalam yang besar mendarat tepat di dada Walangka dan membuatnya terpental hingga membentur dinding gua. "Tidak ada seorang pun yang boleh memanggilku ular!." Ucap kakek itu dengan muka merah padam.


"Apa yang kau lakukan pada cucuku?!." Ki Karsa bergerak maju menyerang kakek itu. Dia melayangkan tangannya ke arah kakek itu namun serangannya dapat dihindari dengan mudah.


"Tak ada yang boleh memanggilku ular!." Kakek itu tiba tiba muncul di belakang Ki Karsa dan segera menendang Ki Karsa hingga terpental mundur.


"Ah...punggungku." Ki Karsa meringis kesakitan sambil memegang punggung bagian bawahnya. Walaupun tendangan barusan tidak mengandung tenaga dalam namun cukup untuk melumpuhkan Ki Karsa sebab sasaran tendangan tadi adalah kelemahan para lanjut usia.


"Akan kupastikan kalian menyesal karena telah memanggilku dengan nama hewan terkutuk itu." Kakek itu mengepalkan tangannya. Perlahan, tenaga dalam menyelimuti tangannya itu dan membentuk sebuah bola. "Matilah!." Kakek tua itu melompat menuju Walangka.

__ADS_1


. . .


ada yang mengatakan di kolom komentar kalo ni novel kan judulnya pendekar naga tapi kenapa covernya harimau. sebenarnya saya cuma mau ngasih petunjuk tentang asal usul naga bintang yang berhubungan erat dengan harimau, macan dan kaum kucing lainnya, tapi karena ada yang protes insayaallah saya akan segera menggantinya.


__ADS_2