Pendekar Naga Bintang

Pendekar Naga Bintang
Naga Bintang dan Garuda Penjaga Langit


__ADS_3

"K..kau, ke..ketua sekte S..Singa Bara Api."


Giarga sama sekali tak dapat bereaksi ketika tendangan Lemang Kupa mendarat di tubuhnya. Dia terpental jauh sebelum menancapkan pedang pusakanya di tanah untuk berhenti terpental dan mendarat.


"Akan kubuat kau menyesal karena telah mengganggu cucuku!." Teriak Lemang Kupa dengan wajah merah padam. Dia seketika berubah menjadi iblis menakutkan ketika melihat Walangka bercucuran darah. Dia mencabut pedangnya sebelum menyerang Giarga kembali.


"Ajian hati naga tingkat 2."


"TIDAAAK!" Giarga berteriak kencang begitu pedang Lemang Kupa membelah tubuhnya menjadi dua. Dia meraung kesakitan sebelum kemudian suaranya tak terdengar lagi.


"Biar saya yang mengurus yang masih tersisa kakang." Ucap Kuyung Batar pelan.


"Tak perlu, orang yang berani macam macam dengan cucuku akan kupastikan dia mati di tanganku!" Ucap Lemang Kupa dingin. Dia lalu menghilang dari pandangan.


"Apakah Giarga berhasil, mengapa dia tidak kembali lagi?" Gumam Arga bingung. Tiba tiba, Lemang Kupa muncul tepat di hadapannya dan langsung melepaskan ajian hati naga tingkat 2.


Arga yang kaget akhirnya terlambat bereaksi dan terkena serangan itu cukup telak. Darah mengucur deras dari tubuhnya setelah dia terpental beberapa meter.


Arga berusaha memahami situasi namun serangan pedang bertubi tubi kembali mendarat di tubuhnya. Dia pun rubuh ke tanah tepat setelah Lemang Kupa menghentikan serangannya.


"Kau adalah..Lemang Kupa." Arga berhasil mengenali wajah orang yang telah menyerangnya itu tetapi pada saat itu juga ajalnya menjemputnya.


"Hyena Abu Abu, mereka ingin bermain main denganku rupanya." Ucap Lemang Kupa sambil mengepalkan tangannya.


"Kakang, apa kau disana?" Panggil Kuyung Batar yang sedang menggendong Walangka di punggungnya.


"Dimana Ki Karsa?" Tanya Lemang Kupa tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kuyung Sentan sedang mencarinya, sepertinya dia menggunakan semacam segel untuk menyamarkan keberadaannya." Jawab Kuyung Batar pelan.


Beberapa saat kemudian, Kuyung Sentan akhirnya kembali membawa Ki Karsa dan Ki Jagalang.


"Walangka, apa yang terjadi padanya?" Tanya Ki Karsa khawatir begitu melihat Walangka.


"Kita bicarkan nanti saja, sekarang kita bawa dulu dia ke tempat persembunyian kalian!"


. . .


Mata Walangka terbuka perlahan, wajahnya tampak meringis kesakitan saat merasakan beberapa tulangnya patah. Dia mencoba untuk duduk namun rasa sakit memaksanya untuk kembali membaringkan tubuhnya.


"Ini, gubuk milik kakek Jagalang." Ucap Walangka setelah melihat sekelilingnya.


"Kau sudah siuman."

__ADS_1


Walangka sedikit kaget saat melihat Kuyung Batar yang berdiri tepat di sampingnya.


"Paman siapa?"


"Namaku Kuyung Batar panggil saja aku paman Batar, karena kau sudah sadar aku harus memberitahu kakang Kupa dulu, jangan kemana mana ya." Kuyung Batar lalu melangkah keluar gubuk untuk memanggil Lemang Kupa dan lainnya.


"Apa yang terjadi, bukankah harusnya aku sudah dibunuh oleh kedua orang itu?" Ucap Walangka di dalam pikirannya.


"Seseorang mengendalikan tubuhmu saat kau tak sadarkan diri dan mengulur waktu untuk kakekmu menyelamatkanmu." Balas Naga Bintang.


"Seseorang, siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan Naga Bintang yang hebat juga perkasa ini."


"Beraninya kau mengendalikan tubuhku, akan ku..eh, kau bilang kakekku menyelamatkanmu?."


"Ya."


"Maksudmu kakek Karsa kan?"


"Bukan, yang kumaksud adalah Lemang Kupa." Naga Bintang menggeleng gelengkan kepalanya


"Lemang Kupa, siapa itu?"


"Ketua sekte Singa Bara Api, ayah angkat dari ibumu."


"Dari mana kau mengetahuinya, bukankah kau membenci dunia persilatan?"


"Siapa yang tidak tahu salah satu dari tiga sekte terkuat yang berkuasa di dunia persilatan saat ini, kakak seperguruanku sering membicarakan soal itu."


"Walangka." Arkasari langsung berlari menghampiri Walangka sebelum memeluknya erat. "Kukira kau sudah mati."


"Kenapa kau begitu mengkhawatirkanku?" Tanya Walangka dengan nada polos.


"Siapa yang mengkhawatirkanmu, kau saja yang menarikku." Arkasari tiba tiba melepas pelukannya dan mendorong Walangka hingga membuat kepalannya membentur dinding.


"Mengapa kau membuat sakitku semakin parah." Walangka memegang kepalanya yang sedikit benjol.


"Apanya yang parah, aku sudah sering melihat orang yang terluka lebih parah dari kau." Arkasari memalingkan wajahnya.


"Lalu mengapa kau mengira aku sudah mati."


"Terserah aku toh ini pikiranku, kau tak berhak mengaturku."

__ADS_1


"Siapa yang ingin mengaturmu."


"Kau." Hanya tinggal beberapa jengkal untuk pukulan Arkasari mendarat di muka Walangka sebelum Lemang Kupa tiba tiba menangkap tangan Arkasari.


"Walaupun kau wanita aku tidak akan segan membuatmu menyesal jika kau berani melukai cucuku." Ucap Lemang Kupa dingin sambil menatap tajam Arkasari.


"Ma..maaf ya paman."Arkasari menarik tangannya kembali dan sedikit menjauh dari kedua orang itu.


"Kau tidak kelihatan sudah peot seperti kakek Karsa, bagaimana bisa kau menjadi kakekku?" Ucap Walangka polos sambil menatap Lemang Kupa.


"Itu sedikit panjang penjelasannya, akan kuceritakan."


Lemang Kupa mulai bercerita panjang lebar asal mula pertemuannya dengan Putri Gelona sampai dia diangkat menjadi putri kesayangannya. Yang lainnya hanya dapat nyengir nyengir sendiri


"Bukan hanya tidak tua, kau juga cerewet ya paman."


"Bocah kurang ajar, kau ini memang pantas untuk dipukul." Lemang Kupa yang kesal tiba tiba mendaratkan pukulannya di kepala Walangka. Dia sebenarnya bingung sekaligus kesal karena sikap cucu yang sangat dirindukannya seperti itu.


"Ah, apa salahku?"


"Ba..eh?" Ucapan Lemang Kupa terhenti begitu dia tiba tiba berada di alam bawah sadarnya. Dia memandang sekelilingnya sesaat sebelum kemunculan seekor naga dengan tinggi lima belas meter mengejutkannya.


"Sang naga dalam legenda, dikatakan ia akan menyelamatkan dunia dari kehancuran, hanya muncul seratus tujuh puluh tahun sekali, Naga Bintang." Lemang Kupa menatap Naga Bintang kagum.


"Lengkap sekali, sudah kuduga bocah itu yang terlalu bodoh untuk menyadari kekuatanku."


"Bukankah kau hanya sebuah energi, bagaimana kau bisa berbicara?"


"Kau bahkan menyadari hal itu ya, baiklah aku akan memberitahumu tapi bukan sekarang, ketika Walangka menjadi kuat itulah saat yang tepat untuk memberitahukannya."


"Mengapa kau ingin bertemu denganku?"


"Aku bukan ingin bertemu denganmu, tapi seseorang yang berada di belakangmu." Naga Bintang menunjuk ke arah belakang Lemang Kupa. Seekor garuda bertubuh setengah manusia muncul dari dalam kegelapan menyadari dirinya telah dipanggil Naga Bintang.


"Garuda Penjaga Langit, aku ingin bicara denganmu." Ucap Naga Bintang.


"Baiklah tapi hanya sebentar saja, aku tak ingin waktuku habis untuk sesuatu yang tidak berguna." Ucap Garuda Penjaga Langit sambil terbang mendekati Naga Bintang.


"Sikapmu mirip dengan anak bodoh itu." Naga Bintang tersenyum kecut. Sekilas, dia melihat sebuah bekas tempat berbentuk segi lima di dada Garuda Penjaga Langit. "Sepertinya dia masih belum menemukan benda itu.".


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Garuda Penjaga Langit datar.


"Kau ingin benda itu kembali bukan?"

__ADS_1


"Kau ternyata juga tahu tentang itu, memangnya kenapa?" Garuda Penjaga Langit tampak masih tak tertarik.


"Aku punya sebuah penawaran untukmu."


__ADS_2