
Seorang kakek berjubah putih lusuh terlihat sedang menikmati teh manis buatannya yang telah dicampur menggunakan madu Lebah Perang. Dia duduk di sebuah kursi kayu di bagian teras gubuknya, mengawasi muridnya yang sedang berlatih.
Mata kakek itu menatap seorang pemuda berumur dua belas tahun yang sedang mencoba mengangkat sebuah batu besar. Batu dengan ukuran menyamai gajah tersebut dijadikannya latihan kekuatan fisik untuk muridnya itu.
"Semoga latihan latihan ini dapat menekan energi hitam itu, walaupun mungkin hanya dapat menekannya selama satu tahun namun setidaknya dia memiliki waktu untuk menjadi cukup kuat untuk bisa memusnahkan energi hitam itu." Gumam kakek itu dalam hati.
Dia masih ingat saat dua bulan yang lalu saat dia memeriksa tubuh muridnya itu secara lebih teliti dan lebih mendalam. Sebuah fakta mengejutkan dirinya, sebuah energi hitam yang masih sangat lemah bersarang di dalam tubuh muridnya itu.
Tetapi berbeda dengan cara Kuyung Sentan yang lebih beresiko, dia lebih memilih cara lain yaitu memberi latihan yang dapat menekan energi hitam itu hingga kekuatan memurnikan milik Walangka cukup untuk bisa memusnahkan energi hitam itu sepenuhnya
Sementara itu, Walangka tampak menyudahi latihannya dan beristirahat sejenak. Dia mengatur napasnya sambil duduk di tanah. Bajunya pun juga sudah basah karena keringat yang bercucuran.
Akhir akhir ini, Ki Jagalang memang memberinya lebih banyak latihan fisik daripada latihan pernapasan. Kegiatannya yang semula santai berubah menjadi sangat keras sejak Ki Jagalang mengetahui tentang energi hitam yang berada di tubuhnya dua bulan lalu.
Naga Bintang juga menjadi lebih pendiam selama dua bulan ini. Walangka merasa sangat senang karena Naga Bintang tak lagi mengganggunya, namun di sisi lain dia juga merasa kesepian karena tak ada lagi teman yang menemaninya. Selain Naga Bintang, hanya Dilaya dan Arkasari yang memahaminya.
"Sudah selesai?, baru dua puluh kali." Ucap Ki Jagalang sambil menyeruput tehnya.
"Ma..maafkan murid guru, murid sudah tidak kuat." Balas Walangka dengan napas masih terengah engah.
"Bangunlah, atur dan pulihkan tenaga dalammu kembali."
"Ba..bagaimana guru bisa tahu?" Walangka tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Dia mengira gurunya tak akan mengetahui kalau diam diam dia menggunakan tenaga dalamnya untuk membantunya mengangkat batu besar itu.
"Jangan meremehkan gurumu ini Walangka, lain kali jangan diulangi lagi ya!" Ki Jagalang tersenyum penuh makna sebelum melempar tongkat kayu miliknya ke arah Walangka.
Walangka yang tidak siap hanya bisa pasrah tongkat kayu tersebut menghantam kepalanya. Dia memegang kepalanya yang membengkak dan mencoba mengalirkan tenaga dalamnya untuk meringankan rasa sakitnya.
Tiba tiba, Walangka merasakan aliran tenaga dalamnya saling berbenturan. Dia buru buru berhenti mengalirkan tenaga dalamnya lalu segera memulai meditasinya untuk menormalkan kembali aliran tenaga dalamnya. Reaksi terkejut yang ditunjukkan Walangka itu membuat penasaran Ki Jagalang.
__ADS_1
"Ada yang salah Walangka?" Tanya Ki Jagalang sambil bangkit berdiri lalu berjalan mendekati Walangka. Dia memang merasakan Walangka menggunakan tenaga dalamnya namun dia tidak tahu lebih dari itu.
Walangka yang sedang fokus tak menjawab pertanyaan Ki Jagalang sampai kemudian Ki Jagalang sudah berada di dekatnya. Ki Jagalang lalu mengarahkan telapak tangannya ke Walangka mencoba merasakan apa yang sedang terjadi dengan tubuh muridnya itu.
"Sepertinya kau salah lagi dalam menggunakan pernapasan ikan terbang." Ki Jagalang menggeleng pelan begitu mengetahui apa yang sedang terjadi dengan tubuh Walangka.
"Salah?, lagi?" Walangka langsung membuka matanya ketika mendengar ucapan Ki Jagalang.
"Bagaimana kau bisa keluar dari gunung ini jika kau terus melakukan kesalahan yang sama."
"Apa sebenarnya maksud guru, murid tak mengerti?" Walangka bertambah bingung.
"Aku sudah memperingatimu berkali kali hati hati dalam menggunakan pernapasan ikan terbang, jika kau salah sedikit saja maka kau akan memberi apapun yang kau sentuh tenaga dalam milikmu."
"Ketika kau menggunakan pernapasan ikan terbang tadi saat kau mengangkat batu itu kau malah memberikan batu itu tenaga dalammu dan menambah berat batu itu sementara kau tidak berhenti menggunakan tenaga dalammu membuat tenaga dalammu terbagi dua, satu mengalir ke batu itu sementara yang satu lagi berusaha menguatkan tubuhmu, itu semua membuat aliran tenaga dalammu saling bertabrakan."
"Hmmm, izinkan aku untuk beristirahat dan tidur sebentar guru." Pinta Walangka.
"Lagi, sudah sepuluh kali kau meminta izin untuk tidur, tak boleh selesaikan dulu latihan fisikmu dan pahami dulu pernapasan ikan terbang!" Ucap Ki Jagalang tegas.
"Baiklah guru." Ucap Walangka lesu.
. . .
"Apa, bagaimana bisa gagal?!!!" Suara Ardigata menggelegar dan menggema di seluruh penjuru ruangan yang sempit itu.
"Sa..saya tidak tau ketua." Suara bawahannya bergetar karena ketakutan. Dadanya tiba tiba menjadi sesak karena aura kuat yang dikeluarkan Ardigata.
"Jelaskan apa yang kau tahu!" Ardigata menatap tajam bawahannya itu.
__ADS_1
"Mereka harusnya sudah tiba di sini beberapa pekan yang lalu namun mereka tak kunjung tiba jadi saya memutuskan untuk mencari mereka dan menemukan mereka di lembah merah dengan kondisi yang mengenaskan, semuanya mati dengan kepala dan tubuh tergantung di dahan pohon, sampai sekarang saya masih mencari tahu siapa yang membunuh mereka."
"Bagaimana dengan tim yang bertugas ke Jawata Timur?"
"Saya kehilangan kontak dengan mereka ketua."
"Sialan!!!" Ardigata memukul meja hingga hancur berkeping keping. Amarah terpancar jelas di wajahnya.
"Mohon ampun ketua, namun sepertinya yang telah membunuh tim yang bertugas ke Jawata Barat adalah pasukan penjaga kuil Batujaya, dan sepertinya hal yang sama juga terjadi dengan tim Jawata Timur."
"Bagaimana dengan pemilik energi Naga Bintang itu?"
"Saya masih mencari keberadaannya dan secepatnya akan membunuhnya ketua."
"Masih mencari?!, sudah 12 tahun berlalu dan kau masih belum menemukannya?!"
"Ma..maafkan saya ketua, pulau Jawata sangat luas, untuk mencari di setiap pelosoknya membutuhkan waktu yang sangat lama, namun ketua tenang saja aku telah menyebar telik sandi dan mendapat informasi keberadaan anak itu." Bawahan itu tersenyum licik.
"Dimana?"
"Di gunung Karacak ketua."
. . .
Sebuah ledakan dari bawah tanah tiba tiba tercipta dan mengejutkan semua murid sekte Singa Bara Api. Mereka semua berkumpul mencoba melihat apa yang sedang terjadi.
Dua sosok bayangan tampak melesat keluar dari kepulan asap hasil ledakan menuju keluar padepokan. Karayan yang juga sedang ikut melihat ledakan itu mengenali salah satu dari dua orang yang melesat itu. dia mengernyitkan dahinya,
"Guru Lingga?"
__ADS_1