Pendekar Naga Bintang

Pendekar Naga Bintang
Penculikan Karayan


__ADS_3

"Apa apaan ini kakang?" Tanya Kuyung Sentan serius.


"Kuyung Sentan pasti bisa mengetahui kalau aku berbohong tadi, sementara kau dengan mudahnya percaya, kau bukan Kuyung Sentan!" Ucap Lemang Kupa diikuti anggukan seluruh orang yang ada disana. Yang diucapkan Lemang Kupa memang benar mana mungkin Lemang Kupa yang merupakan seorang ketua sekte mengurusi murid biasa.


"Tapi kau tidak boleh menuduhku hanya karena kejadian kecil seperti ini." Kuyung Sentan mencoba membela diri.


"Lalu bagaimana dengan kejadian pengusiran guru Gelona dua belas tahun yang lalu, kau bahkan tak dapat memecahkannya." Karayan mulai angkat bicara. Teman yanv berada di sampingnya berusaha menghentikannya namun murid murid yang lain langsung mendukungnya.


"Ya itu benar itu benar kau bukan guru Sentan." Seru murid murid yang lainnya mendukung Karayan.


"Bukankah Kuyung Lingga bertujuan untuk merebut kedudukan sebagai ketua sekte Singa Bara Api, lalu apa hubungannya dengan Walangka?"


"Pengusiran guru Gelona bukan bertujuan untuk hal itu, kau tidak usah mengelak lagi." Tepat setelah Karayan selesai bicara, semua orang disana langsung menoleh ke arahnya.


"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" Tanya Lemang Kupa sambil memasang tatapan tajam.


"Me..mengetahui apa?" Karayan perlahan melangkah mundur. Situasi yang berubah seketika membuatnya mulai ketakutan.


"Bagaimana kau bisa mengetahui alasan yang benar tentang pengusiran Gelona, jawab!!!" Ucap Lemang Kupa tegas. Karayan yang tak bisa menjawab segera melaksanakan rencana terakhirnya yaitu mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya dan melarikan diri menggunakan jalan kabur yang telah dia persiapkan sebelumnya.


Belum jauh dia melarikan diri, sekumpulan murid Kuyung Sentan yang ditugaskan di bagian sana segera menghadang dan mengepung Karayan.


"Ketua, semuanya tolong dengarkan aku aku tidak bersalah aku hanya tidak sengaja mendengar beberapa pembicaraan kalian, kumohon ampuni aku." Karayan berlutut lalu mulai beralasan sambil memelas. Dia tak ada pilihan lain lagi, menjalani hukuman beberapa hari, bulan ataupun tahun lebih baik daripada mati.


"Kita biarkan saja kakang, lagipula mungkin kita bisa menyelidiki Setan Maut menggunakan dia." Usul Kuyung Batar.


"Baiklah, bawa dia masuk!" Lemang Kupa mengangguk setuju.


"Siap ke....." salah satu murid Kuyung Sentan tiba tiba merasakan sakit yang luar biasa sebelum rubuh ke tanah. Luka sayatan dan bakar memenuhi bagian belakang tubuhnya. Tak butuh waktu lama untuk kemudian murid murid lain yang berada di sekitarnya juga ikut rubuh.


"Siapa it..." Karayan yang masih belum mencerna situasi segera ditarik oleh seseorang dan dibawa kabur.

__ADS_1


Kuyung Batar dan Lemang Kupa tentu saja langsung berinisiatif mengejar kedua orang itu. Ketika murid yang tersisa juga ingin ikut membantu, Kuyung Sentan menahan mereka dan memerintahkan untuk mengurusi murid murid yang terkena serangan.


"Tak usah ikut mengejar, urus saja murid murid yang terluka dan bawa ke dalam, biarkan ketua dan Kuyung Batar yang mengurus orang itu!" Perintah Kuyung Sentan.


"Tapi bagaimana kalau orang itu tidak sendiri, kami harus ikut membantu." Para murid yang masih curiga dengan Kuyung Sentan tidak menghiraukan perintahnya dan tetap ingin membantu.


"Apakah kalian meremehkan kekuatan mereka berdua kalian hanya akan menjadi beban jika tetap ke sana, lebih baik kalian urusi yang terluka sebelum nyawa mereka terancam, cepat bawa mereka ke dalam dan obati luka mereka!" Kuyung Sentan meninggikan suaranya.


Murid murid yang ketakutan mengangguk cepat sebelum membawa murid murid yang terluka ke dalam padepokan.


"Ini, luka yang dihasilkan oleh ajian hati naga?!" Kuyung Sentan mulai memahami situasi. "Lingga Lingga, sampai kapan kau akan melayani Setan Maut dan ayahmu itu." Kuyung Sentan menggeleng pelan. Semakin banyak aksi yang dilakukan oleh Kuyung Lingga membuatnya semakin bingung dan penasaran. "Apa sebenarnya tujuannya?"


Di sisi lain, Lemang Kupa dan Kuyung Batar terlihat mulai kehilangan jejak Karayan. Gelapnya malam membuat pandangan mereka terbatas sehingga mempermudah orang itu melarikan diri.


Awalnya mereka berencana menggunakan obor atau ajian hati naga namun tidak jadi karena orang itu terlanjur menghilang. Dan yang membuat mereka sangat bingung adalah keberadaan orang itu yang tidak bisa dilacak menggunakan tenaga dalam sama sekali. Dia seolah hilang ditelan bumi.


"Kita benar benar sudah kehilangan jejaknya." Ucap Lemang Kupa sedikit kesal.


"Tidak apa apa kakang lebih baik kita sekarang kembali dan mengurusi murid murid yang terluka, luka akibat ajian hati naga tidak bisa diobati dengan pengobatan biasa." Ucap Kuyung Batar mencoba menenangkan Lemang Kupa.


(Dua hari kemudian)


Jauh di pedalaman hutan, seorang berpakaian serba ungu melesat menembus hutan dengan membawa seorang pemuda tak sadarkan diri di punggungnya. Setelah beberapa lama, dia akhirnya tiba di tempat perjanjiannya dengan Kuyung Lingga.


"Lama sekali sih kau ini." Ucap Kuyung Lingga tak ramah dengan wajah tak bersahabat.


"Jangan banyak omong aku kesini hanya ingin menyerahkan orang dan surat ini." Balas orang itu sebelum menurunkan tubuh pemuda itu dan meletakkannya di tanah. Dia lalu melempar sebuah surat kepada Kuyung Lingga.


"Dari siapa?" Tanya Kuyung Lingga setelah menangkap surat tersebut.


"Ayahmu." Jawab orang itu singkat. Dia kemudian melesat meninggalkan Kuyung Lingga.

__ADS_1


Kuyung Lingga yang tak memedulikan kepergian orang itu segera membuka dan membaca suratnya. Raut wajahnya sempat berubah beberapa kali. Dia pun menggenggam erat surat itu setelah selesai membacanya.


"Ide ayah bagus sekali impian kita berdua bisa diwujudkan jika seperti ini, kakang bersiplah melihat masa kejayaan adikmu ini." Ucap Kuyung Lingga dengan wajah menyeringai. Dia tertawa keras hingga membuat seluruh burung yang bertengger di pohon sekitarnya berterbangan pergi.


"Setan Maut, kau memang layak memimpin dunia."


. . .


Di puncak gunung Karacak tepatnya di dalam sebuah air terjun, Walangka terlihat sedang bersantai di halaman gubuk Ki Jagalang. Dia membaringkan tubuhnya di padang rumput sambil menikmati buah buahan di sampingnya. Meski lukanya sudah sembuh, namun sepertinya sifat malasnya tidak akan pernah bisa sembuh.


"Hei Walangka tolong carikan sesuatu untuk dimakan, perutku tiba tiba lapar." Pinta Ki Jagalang sembari menghampiri muridnya itu.


"Guru cari saja sendiri kan punya kaki, aku capek." Balas Walangka tanpa menoleh.


Ki Jagalang yang merasa tidak dihormati tentu saja langsung melayangkan tongkatnya ke kepala Walangka.


"Aduh, guru kenapa mukul mukul mulu sih kerjanya." Walangka memegangi krpanya yang hampir benjol.


"Bangun dan segera carikan makanan untukku." Ucap Ki Jagalang mulai marah.


"Baik baik." Walangka bangun lalu melangkah lemas keluar air terjun.


"Memang aki aki gampang banget marahnya, gak dia gak Arkasari sama sama bisa jadi mimpi burukku." Umpatnya. Karena menganggap Ki Jagalang sudah bukan gurunya lagi dan tidak ada lagi yang bisa dipelajari darinya, Walangka mulai memperlakukan Ki Jagalang seperti perlakuannya umumnya pada kakek kakek.


"Heeeh, jadi ini sikap murid yang baik pada gurunya." Ejek Naga Bintang.


"Naga cerewet, lihat saja nanti saat aku sudah mengalahkan Hyena Abu Abu, kau akan kuusir dari tubuhku." Ucap Walangka kesal.


"Aku tak sabar menantikan hari itu." Ejek Naga Bintang lagi.


-------------------------

__ADS_1


Jika kalian menyukai chapter ini mohon like agar novel ini cepet diterima kontrak. Chapter selanjutnya akan up nanti malam insya allah.


Terimakasih dan selamat membaca.


__ADS_2