Pendekar Naga Bintang

Pendekar Naga Bintang
Lemang Kupa bergerak ke gunung Karacak


__ADS_3

Walangka dan Arkasari tampak berjalan kembali ke puncak gunung Karacak. Walangka sudah menjelaskan sebelumnya kepada Arkasari tentang kedatangannya bersama Ki Karsa untuk menemui Ki Jagalang.


Setelah mereka berdua sampai di air terjun tempat Ki Jagalang tinggal, Walangka kebingungan karena tak tahu cara memasukinya. Sebelumnya saat dia memasuki air terjun tersebut, Ki Jagalanglah yang membuka tempat tersebut menggunakan sebuah teknik segel.


Dia pun berusaha mencari Ki Jagalang namun tidak menemukannya. Sepertinya Ki Jagalang sedang berada di dalam air terjun itu sendiri. Saat mereka berdua masih mencari, mereka secara tak sengaja bertemu dengan Ki Karsa.


"Segel air suci kan, kakek juga bisa." Ucap Ki Karsa. Mereka bertiga kembali ke air terjun itu. Ki Karsa lalu membuka segel air suci.


"Walangka, sudah tiga hari sejak kau pergi dan akhirnya kau balik juga, apa kau bawa madunya?." Sapa Ki Jagalang tepat di pintu masuk air terjun.


"Hormat pada tetua." Walangka menundukkan kepalanya memberi hormat. Dia berjalan ke arah Ki Jagalang sebelum menyerahkan sarang madu lebah perang.


"Kau ini memang anak yang berbakti, disuruh mengambil air malah dengan sungai sungainya." Ki Jagalang tertawa keras. Dia merasa puas sudah berhasil membohongi Walangka.


"Jadi ini guru yang disebut oleh Walangka." Gumam Arkasari dalam hati. Dia merasa sedikit terganggu dengan suara tertawa Ki Jagalang.


"Siapa gadis cantik ini Walangka?." Ki Jagalang menoleh ke arah Arkasari.


Arkasari hanya terdiam tak menjawab sambil memerhatikan Ki Jagalang.


"Namanya Arkasari." Walangka berinisiatif menjawab. Dia sebenarnya bingung pada Arkasari karena biasanya jika dia disebut cantik atau semacamnya dia akan marah dan mulai berceloteh.


"Haha, kalau begitu kalian beristirahatlah dulu, aku mau berbicara dulu dengan kakekmu ini." Ucap Ki Jagalang pelan dibalas anggukan dari Walangka.


"Apakah dia juga anak terpilih Karsa?." Tanya Ki Jagalang selepas Walangka Dan Arkasari pergi.


"Tidak dia hanya teman Walangka sejak kecil, memangnya kenapa?."


"Sekilas aku seperti pernah melihat wajahnya di suatu tempat, tapi aku tidak ingat dimana." Ki Jagalang mencoba mengingat ingat.


"Sudahlah itu tidak penting, ngomong ngomong tadi aku mencari beberapa bahan bagus untuk dijadikan teh berkhasiat, ayo kita minum sama sama." Ki Karsa merangkul temannya itu.


"Baiklah." Jawab Ki Jagalang singkat. Dia pun melupakan pikirannya tadi.

__ADS_1


. . .


"Apakah dia masih belum siuman Kuyung Sentan?." Tanya Lemang Kupa di dalam ruangannya.


"Belum, sepertinya kau memukulnya terlalu keras kakang." Jawab Kuyung Sentan setengah bergurau sebelum duduk di sebuah kursi.


"Ya sepertinya begitu, bagaimana dengan penyelidikanmu?." Wajah Lemang Kupa berubah serius.


"Tidak ada petunjuk satupun, walaupun aku berhasil menemukan beberapa benda keramat tapi aku tak bisa menemukan apapun yang berhubungan dengan ajian taman jiwa." Kuyung Sentan meletakkan beberapa batu hitam di meja Lemang Kupa.


"Tak ada pilihan lain, kita harus ikut mencari pemilik energi naga bintang itu segera sebelum kondisi Kuyung Garaga dan Kuyung Lingga memburuk."


"Bagaimana kalau kita menunggu Kuyung Batar sebentar lagi, mungkin dia dalam perjalanan ke sini." Usul Kuyung Sentan. Sudah beberapa hari sejak Kuyung Batar pergi, tak mungkin dia kembali dengan tangan hampa.


"Baiklah, kita tunggu sebentar lagi." Balas Lemang Kupa setuju.


Beberapa meter dari padepokan sekte Singa Bara Api, Kuyung Batar terlihat melesat ke arah padepokan. Beberapa daun menjadi gugur karena kecepatannya.


"Aku harus cepat cepat memberi tahu kakang Kupa tentang ini." Gumamnya.


"Cepat apa kakang Kupa ada di dalam?." Tanya Kuyung Batar. Tampak dia sedang tergesa gesa.


"Yy..ya." jawab murid itu sedikit kikuk.


Kuyung Batar lalu berlari masuk ke dalam padepokan sekte. Dia ingin secepatnya memberitahukan Lemang Kupa informasi yang baru saja di dapatkannya.


"Kakang!." Kuyung Batar membuka pintu.


"Kuyung Batar, akhirnya kau datang juga, kami sudah menunggumu." Kuyung Sentan menoleh ke belakang.


"Kakang kupa, aku sudah mengetahuinya aku sudah mengetahui siapa sebenarnya pemilik energi Naga Bintang." Kuyung Batar mengatur napasnya yang terengah engah sesaat sebelum melanjutkan ucapannya.


"Cucumu, cucumu yang sekarang sedang berada di sekte Kelinci Bambu adalah pemilik energi Naga Bintang."

__ADS_1


"Apa!." Lemang Kupa tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Air mata mengalir dari matanya. Tak pernah terpikirkan dia akan mendapat kabar membahagiakan ini setelah bertahun tahun dia menganggap cucunya sudah mati berserta putrinya.


Walaupun hanya anak angkat, dia benar benar sudah menganggap Putri Gelona sebagai anaknya sendiri. Penyesalan terbesar dalam hidupnya hanya satu, pengusiran Putri Gelona dari sekte Singa Bara Api.


"Sepertinya kau berhasil mengantarnya Sagalu." Gumam Lemang Kupa lirih.


"Hemm, sepertinya ini bisa menjelaskan rencana pengusiran Putri Gelona oleh Kuyung Lingga." Pikir Kuyung Sentan. Dia mulai bisa menghubungkan benang merah misteri peristiwa pengusiran Putri Gelona.


"Aku mendengar dari para murid Kelinci Bambu kalau dia sedang berada di gunung Karacak bersama tetua Karsa."


"Kita berangkat sekarang." Lemang Kupa segera bangkit berdiri. Dia sudah tak sabar untuk menemui cucunya itu.


"Aku izin ikut ya kakang." Kuyung Sentan menundukkan kepalanya.


"Tentu saja, tolong tuntun jalannya ya Batar."


"Mari kakang."


. . .


"Mengapa dia memilihku, dan apakah benar ketika aku masuk dunia kacau itu aku tidak akan dapat keluar lagi." Gumam Walangka. Pertemuannya dengan Naga Bintang masih membekas di pikirannya.


Perkataan Naga Bintang, 'jika kau sudah memutuskan untuk masuk maka kau tidak akan dapat keluar lagi' terus terngiang ngiang di telinganya.


Dia kemudian memutuskan untuk keluar air terjun. Teknik segel air suci hanya dapat mengunci seseorang dari luar sementara yang di dalam baik dia pengguna segel air suci maupun bukan bebas jika ingin keluar.


Walangka lalu merebahkan tubuhnya di tanah. Kedua tangannya menopang kepalanya. Dia menatap kosong langit malam.


Dia sengaja pergi ke luar air terjun untuk menatap bintang bintang yang ada di langit. Menatap bintang membuat perasaannya menjadi tenang.


"Apakah ibu juga suka melihat bintang sepertiku?, apakah ibu juga merupakan anak terpilih?." Begitu banyak pertanyaan yang tak dapat dijawabnya yang terlintas di pikirannya.


"Paman Sagalu sangat menyayangi ibu, apakah paman Sagalu adalah suami ibu?, dan apakah kakek benar benar kakek kandungku?, apakah ibu adalah pendekar?, jika dia benar benar seorang pendekar apakah aku juga akan menjadi pendekar." Walangka bertambah bingung.

__ADS_1


"Hah, apa itu!." Walangka tiba tiba bangkit terduduk. Dia merasakan kehadiran dua orang pendekar yang sepertinya sedang menuju ke puncak gunung Karacak. Energi Naga Bintang miliknya nampaknya mulai bereaksi karena ilmu hitam yang dimiliki kedua orang itu.


"Semoga bukan suatu masalah." Raut wajah Walangka menjadi khawatir.


__ADS_2