
"Menggunakan ajian gerak setan?" Lemang Kupa mengernyitkan dahinya.
"Benar kakang, kita bisa sampai di gunung Karacak hanya dalam beberapa saat jika menggunakan ajian ini." Kuyung Sentan menunjukkan sebuah kitab yang ditemukannya dari ruangan Kuyung Garaga.
"Entahlah aku tidak terlalu yakin, bukankah ajian itu termasuk ilmu hitam?" Lemang Kupa tampak ragu.
"Asalkan aku bisa menekan dan mengeluarkan setan setan yang masuk ke dalam tubuhku aku tidak akan dalam bahaya." Ucap Kuyung Sentan mencoba meyakinkan Lemang Kupa.
"Baiklah tetapi hanya sekali ini saja ya." Ucap lemang Kupa setuju. Bagaimanapun juga dia sudah benar benar tidak sabar ingin melihat keadaan cucunya.
"Baiklah kakang." Kuyung Sentan mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya.
. . .
"Apa kau yakin Ki Karsa berada disini?" Tanya seseorang yang memakai baju serba hitam.
"Menurut informasi yang kuterima sih dia sedang berada disini." Jawab teman orang itu.
"Sebenarnya berapa besar kekuatan Ki Karsa, bahkan Rendita pun tak bisa mengalahkannya." Tanya orang itu lagi.
"Aku tak yakin, tapi sebesar apapun kekuatannya dia pasti tak bisa menahan kekuatan dua pusaka sekaligus." Jawab Teman orang itu sebelum tersenyum kecut.
Mereka berdua lalu berhenti melesat dan turun ke bawah. Terlihat mereka mengawasi sekitar sebelum melanjutkan langkahnya tetapi kali ini lebih diam diam.
"Dua orang itu kemari?" Walangka yang melihat kedua orang mencurigakan itu langsung memasang sikap siaga.
"Hemm..siapa itu?" Kedua orang itu menghentikan langkahnya.
"Lebih baik aku pergi saja, tidak usah repot repot berurusan dengan mereka." Batin Walangka sebelum bangkit dan melangkah pergi.
"Tunggu dulu!" Kedua orang itu tiba tiba melompat ke arah Walangka dan menghadangnya.
"Maaf tuan mengapa kalian menghadang jalan saya, seingat saya saya tidak pernah menyinggung kalian berdua." Ucap Walangka sopan. Dia tak ingin mencari masalah dengan menyinggung kedua orang masih tak dikenalnya itu.
"Siapa kau dan apa keperluanmu disini?" Tanya salah satu orang itu. Dia merasa curiga dengan Walangka yang tiba tiba saja pergi.
"Saya hanya seorang penjual tanaman obat yang sedang mencari beberapa tanaman langka yang tumbuh disini." Jawab Walangka.
__ADS_1
"Sebaiknya segera pergi dari sini jika tidak ingin terluka!." Bentak orang itu.
Ba..baik tuan." Walangka bergegas pergi dari tempat itu.
"Apa kau juga merasakannya?"
"Iya aku merasakannya, sepertinya dia bukan anak biasa, kita harus berhati hati."
Kedua orang itu lalu melanjutkan pencariannya kembali. Walangka yang memiliki firasat tidak enak dengan kedua orang itu segera putar balik untuk mengawasi mereka.
"Aku tak ingin kita menghabiskan waktu hanya untuk mencarinya, gunakan asap beracun!"
"Tapi itu akan menghabiskan banyak tenaga dalam, jika nanti kita bertemu dengannya kita bisa dikalahkan dengan mudah."
"Kan ada ajian itu, tidak perlu takut akan dikalahkan olehnya, sudahlah ikuti aku saja."
Kedua orang itu membentuk beberapa segel tangan sebelum mengangkat kedua tangannya yang terbuka ke langit. Kepulan asap muncul di sekitar mereka berdua dan meluas hingga menutupi seluruh puncak gunung Karacak.
"Asap apa ini..?" Walangka perlahan kehilangan kesadarannya. Beruntung Naga Bintang segera membuat pelindung tenaga dalam di tubuhnya agar dia tak sampai tak sadarkan diri.
"Cih, orang orang itu membuat asap beracun untuk memancing Ki Karsa, kau harus mengalahkan mereka agar asapnya tidak terus meluas." Ucap Naga Bintang di dalam pikiran Walangka.
"Apa kau ingat siapa yang terakhir kali menggunakan asap beracun di dalam pertarungan?"
"Asap beracu...tunggu maksud kau." Walangka mulai menyadari sesuatu.
"Sekte Hyena Abu Abu, mereka tampaknya ingin membalas dendam kepada kita."
Walangka mengepalkan tangannya. "Baiklah aku tidak keberatan jika yang akan kubunuh adalah sekumpulan sampah seperti mereka, tapi kau sama sekali tidak boleh membantuku, mengerti?!."
"Siapa juga yang mau membantumu." Naga Bintang menarik kembali pelindung tenaga dalamnya.
"Hah, hah, hah, hentikan, baik baik kau boleh membantuku." Walangka kembali kesusahan bernapas karena kembali menghirup asap beracun.
"Heh." Naga Bintang membentuk kembali pelindung tenaga dalamnya.
"Baiklah." Walangka bersiap melompat. "Ajian hati naga tingkat 2, energi api merah." Walangka mencabut pedangnya dan melesat menyerang kedua orang itu.
__ADS_1
"Bocah yang tadi, jadi kau dari sekte Singa Bara Api ya." Salah satu orang itu menarik pedangnya untuk menepis serangan Walangka.
Trang, suara pedang beradu terdengar di udara. Teman orang itu yang menyadari kawannya telah diserang segera membantu kawannya.
"Mau main keroyokan ya, oke." Ucap Walangka percaya diri. Dia merendahkan sedikit tubuhnya sebelum menyambut serangan yang terarah padanya.
"Jurus pedang penghancur matahari tingkat 2." Salah satu orang itu mengayunkan pedangnya yang telah diselimuti asap abu abu.
Walangka segera menarik pedangnya ke atas untuk menahan pedang itu. Pendekar yang lainnya yang melihat celah Walangka segera memanfaatkannya. Dia menebaskan pedangnya ke arah bahu Walangka.
Namun dia tiba tiba terkejut karena pedangnya tidak menyentuh tubuh Walangka sama sekali dan justru membentur sesuatu seperti cahaya keputihan yang melapisi pemuda berumur dua belas tahun itu.
"Pelindung tenaga dalam, bagaimana bisa dia masih anak anak?." Pikir pendekar itu bingung.
"Kusarankan padamu untuk tidak melamun saat bertarung." Walangka memukulkan punggung pedangnya ke pendekar itu hingga membuatnya terpental beberapa langkah.
"Sialan kau bocah!." Salah satu pendekar menebaskan pedangnya. Gerakan pedangnya terlihat mengincar leher Walangka.
Walangka terus menghindari serangan itu sambil beberapa kali melompat. Dia juga berusaha menyerang balik namun gerakan pedang orang itu memaksanya untuk terus dalam posisi bertahan.
"Pengalaman bertarungnya lebih banyak dibandingkan dirimu yang baru saja terjun di dunia persilatan, kelihatannya sekte Hyena Abu Abu mengirimkan tetua mereka sendiri untuk membunuh Ki Karsa, kau harus menggunakan seluruh kemampuanmu untuk mengalahkannya." Ucap Naga Bintang memberi saran.
"Setengah kekuatanku sudah cukup untuk membuat kepalanya terpenggal." Balas Walangka. Dia mulai merasa sedikit kesal sebab menurutnya Naga Bintang telah meremehkan kemampuannya.
Walangka kemudian meluapkan aura panas khas ajian hati naga dari dalam tubuhnya. Pendekar yang tadi sempat menyulitkannya melompat mundur ke belakang. Berada di dekat Walangka benar benar membuat pendekar itu merasa seperti terbakar.
"Berhadapan dengan murid Singa Bara api memang tidak mudah ya." Pendekar itu merapal jurusnya. "Jurus pedang penghancur matahari tingkat 3." Pendekar itu melompat menyerang ke arah Walangka.
"Menggunakan tingkat tiga untuk melawanku, kau terlalu sombong." Walangka memutar pedangnya. Dia bersiap menyambut serangan tersebut.
Kedua pedang itu kembali beradu. Kedua orang itu terlihat seimbang sebelum kemudian lawan Walangka mengeluarkan sebuah pusaka dan menggunakannya dalam pertarungan itu.
"Senjata apa itu, mengapa itu lebih kuat daripada senjata yang sebelumnya?." Tanya Walangka di dalam pikirannya.
"Kelihatannya itu adalah pusaka." Jawab Naga Bintang.
"Kau tak tahu pusaka apa itu?."
__ADS_1
"Aku adalah energi terkuat yang ada di dunia, tak mungkin mengenal pusaka rendahan dan lemah yang bahkan tak mempunyai roh seperti itu."
"Alasan, bilang saja kau tak tahu apa apa."