
"Kau takut dengan anak kecil ini Durga?!" Tanya Ragata dengan nada mengejek.
"Diam, aku bisa mengalahkannya dari tadi jika aku mau!" Balas Mpu Durga dengan nada tinggi.
"Lalu kenapa sekarang kau mau melarikan diri?" Ejek Ragata lagi.
"Jangan ikut campur urusanku kau hanyalah alat, pantas untuk diam!"
Mpu Durga mengumpulkan tenaga dalamnya yang tersisa di kedua kakinya. Dia lalu mencabut goloknya dan maju menyerang duluan.
"Sudah mau kalah masih ingin bertarung?" Naga Bintang mengangkat pedangnya. Dia memutar tubuhnya sambil bergerak ke kanan untuk menghindari serangan tusukan Mpu Durga kemudian melakukan serangan balik.
"Ajian hati naga tingkat 2." Naga Bintang melepaskan serangan panas bertubi tubi. Dia memperkuat jurus buatan Prabu Garang Ulo itu menggunakan energinya hingga membuat lawannya terdesak dalam sekejap.
"Gawat tenaga dalamku benar benar mau habis." Wajah Mpu Durga terlihat mulai panik.
"Tebasan energi penghancur tulang." Mpu Durga menebaskan pedangnya sekuat tenaga. Tenaga dalamnya yang tersisa hanya cukup untuk menggunakan jurus itu.
Naga Bintang yang mengetahui kondisi Mpu Durga semakin percaya diri. Dia sengaja tidak menghindar dan segera menyambut serangan itu.
"Tunggu dulu, masih ada kesempatan." Mpu Durga tiba tiba tersenyum licik melihat gerakan Naga Bintang itu. Dia sepertinya sudah menemukan kelemahan Naga Bintang.
"Aku merasa ada yang tidak beres dengan senyumannya barusan, Naga Bintang..."
"Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan." Potong Naga Bintang dengan percaya diri. Dia kemudian sengaja membuka beberapa celah pertahanannya karena yakin Mpu Durga akan segera kalah. Dia juga tak langsung menghabisi Mpu Durga dan malah menjadikannya bulan bulanannya.
"Bagus teruslah seperti ini." Mpu Durga bertambah senang. Naga Bintang terus menerus memakan umpan yang diberikannya. Dengan yakin akan kemenangannya Mpu Durga membiarkan dirinya terus menjadi bulan bulanan Naga Bintang.
Tanpa disadari oleh Naga Bintang, dia perlahan lahan telah masuk ke dalam jebakan lawannya. Dia yang semakin percaya diri dengan kekalahan Mpu Durga tanpa sengaja terus membuka banyak celah dalam gerakannya.
"Sedikit lagi, sedikit lagi....." Mpu Durga bersiap melancarkan serangan tiba tiba ke Naga Bintang. Energi Ragata yang telah dia tarik dia kumpulkan di tangan kirinya sementara bagian tubuhnya yang lain bersiap melakukan gerakan tipuan.
__ADS_1
"Tunggu dulu..." Walangka tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Naga sialan, cepat melompat kebelakang." Walangka yang sedari awal curiga dengan gerakan Mpu Durga akhirnya menyadari perangkapnya dan langsung memperingati Naga Bintang.
Namun terlambat, Mpu Durga terlebih dulu melakukan gerakan tipuan dengan cara menebaskan pedang dengan arah menyamping. Lalu sesuai dugaan Mpu Durga, Naga Bintang langsung bergerak maju setelah menghindari serangan tipuan tersebut.
Namun sayangnya gerakan Naga Bintang kalah cepat sehingga dengan mudah Mpu Durga berhasil mencengkram leher Walangka dan mengalirkannya energi penuh racun Ragata yang telah disiapkannya.
Akhhhhh, Naga Bintang berteriak kesakitan merasakan racun Ragata terus menerus masuk dan menjalar di tubuh tuannya. Hanya dalam hitungan detik, tubuh Walangka sudah mulai menguning dan mengerut sama seperti yang dialami Ki Jagalang.
"Oh tidak." Ki Jagalang mulai merasa putus asa. Ditambah kondisinya yang sudah benar benar memburuk akibat racun Ragata, harapan seperti benar benar hilang dari matanya. "Setidaknya aku sudah menjalankan kewajibanku sebagai gurunya dengan baik, semoga dia memaafkanku karena telah memanfaatkannya untuk mendapatkan madu Lebah Perang." Ucapnya pelan. Matanya perlahan lahan tertutup.
"Tidak guru............brengsek kau." Amarah Walangka memuncak melihat gurunya seperti itu. Wajahnya mengeras dibarengi jatuhnya air matanya. Dia kembali mengendalikan tubuhnya dan langsung melepaskan cengkraman Mpu Durga.
"Anak ini, dia...." Wajah Naga Bintang memburuk merasakan energinya dihisap dengan sangat cepat oleh Walangka. Cahaya tubuhnya mulai meredup menandakan energinya hanya tinggal sedikit. Energi Naga Bintang memang akan bertambah besar dan kuat jika dia digunakan namun berbeda jika dihisap.
Wajah Naga Bintang semakin memburuk saat mata Walangka menjadi berwarna merah darah.
"Kubunuh kau!!!" Walangka melompat ke maju menyerang Mpu Durga dengan kecepatan tinggi. Energi Naga Bintang yang sudah dihisapnya dengan cepat menyapu bersih racun di tubuhnya.
"Tidak mungkin, tubuhnya kembali seperti semula." Mpu Durga tentu saja segera bergerak menjauh. Melawan musuh mengamuk yang memiliki salah satu kekuatan terkuat dengan tanpa tenaga dalam sama sekali adalah sebuah hal gila dan bisa mengakibatkan mati konyol.
Mpu Durga terus berusaha melarikan diri dari amukan Walangka namun berapa kalipun dia melakukannya dengan sangat mudah dan cepat dihentikan oleh Walangka. Mpu Durga seolah terkurung oleh kecepatan hebat Walangka.
"Bocah kurang ajar, pantas saja Hyena Abu Abu mengincarmu." Teriak Mpu Durga dengan penuh kekesalan.
"H..Hyena abu abu?" Walangka menghentikan gerakannya. Tanpa sengaja dia berhasil mengembalikan kesadarannya yang tadi sempat terbutakan oleh amarah. Dia mengernyitkan keningnya.
"Tidak jangan dengarkan dia Walangka!" Teriak Naga Bintang.
"Heh selain kurang ajar ternyata kau juga bodoh ya kau pikir siapa yang memberitahu para utusan Hyena Abu Abu itu kau berada di sini, oh iya kan kau mengira aku mengamuk dan membunuh teman teman lamaku yang lain hanya karena aku membenci Ragata ya." Mpu Durga tertawa keras.
"Aku membunuh mereka sebenarnya hanya agar mereka tidak menghalangiku untuk mendapatkan pusaka pusaka buatan mereka tetapi tak disangka di saat saat terakhir mereka menggunakan teknik segel milik mereka untuk mengubur semua pusaka yang mereka buat, ketika Jagalang datang aku berpura pura sedang mengamuk karena menyesal dan membenci Ragata walaupun pada dasarnya aku memang membencinya."
__ADS_1
"Lalu mengapa kau menggunakan kekuatannya?" Tanya Walangka cepat.
"Aku hanya membenci rohnya bukan kekuatannya, o iya tentang aku ingin membunuh seluruh sekte aliran hitam di dunia ini apa menurutmu aku cukup gila untuk lansung menyatakan perang pada mereka?, tidak aku akan menggunakan otakku dan membuat mereka menghancurkan satu sama lain ataupun secara tidak sadar menghancurkan diri sendiri dengan cara mengadu domba mereka dan menghancurkan kekuatan mereka dari dalam." Mpu Durga membuat Wajah menyeringai.
Tangan Walangka bergetar. Walaupun mengerti kalau Mpu Durga juga membenci sekte aliran hitam seperti dirinya namun dia tahu cara yang digunakan oleh Mpu Durga salah dan merupakan cara seorang pengecut.
"Nak bukankah kau membenci Hyena Abu Abu bergabunglah denganku dan kau akan dapat membalaskan semua dendammu, bukankah kekuatanmu tak akan mungkin bisa cukup untuk mengalahkan mereka cepat raih tanganku dan aku akan membantumu mewujudkan harapanmu." Mpu Durga mengulurkan tangannya ke arah Walangka.
"Oy nak mengapa kau diam saja, kau sudah berhasil mengendalikan dirimu sekarang cepat habisi dia." Ucap Naga Bintang.
"Naga Bintang apa mungkin yang dikatakannya benar, apa mungkin menjadi pengecut adalah satu satunya cara untuk membalaskan dendam paman Sagalu." Tanya Walangka pelan.
"Bodoh jangan tertipu dengan kata katanya, sekarang juga cepat habisi dia!" Suara Naga Bintang meninggi.
"Bukankah paman Sentan juga mengatakan kalau aku terlalu naif untuk mau mengalahkan Hyena Abu Abu?!" Walangka ikut berteriak.
"Kau..." Naga Bintang terdiam. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kekuatan Walangka sekarang memang tidak mungkin untuk mengalahkan sekte yang cukup kuat seperti Hyena Abu Abu. Ketika Walangka mulai mendekat dan hampir meraih tangan Mpu Durga, Naga Bintang segera berteriak.
"Tapi apakah Sagalu berharap kau akan menjadi seorang pengecut untuk bisa membalaskan dendamnya?!."
"Hah." Walangka terdiam.
"Apakah Ki Karsa, Lemang Kupa, Dilaya, Arkasari, Kuyung Sentan, Kuyung Batar, ibumu dan semua teman temanmu di sekte Kelinci Bambu berharap kau mengunakan cara kotor untuk membalaskan dendam pamanmu?!"
"Tidak mereka tidak pernah dan tidak akan pernah mengharapkan itu, tidak akan pernah!" Walangka Mengepalkan tangannya. Semangat dan tekadnya kembali berkobar. Matanya yang berapi api menandakan kuatnya tekad dan semangatnya.
"Aku tidak akan kalah denganmu." Walangka menarik kembali tangannya dan mengangkat pedangnya.
"Sudah kuduga." Mpu Durga tersenyum kecut.
__ADS_1
Maaf karena updatenya malem malem, untuk teman teman sesama penulis tetap semangat dengan karyanya.
O iya, jika kalian suka silahkan like jika tidak silahkan koment dan berikan saran, terimakasih banyak untuk semuanya.