Pendekar Naga Bintang

Pendekar Naga Bintang
Ki Jagalang


__ADS_3

Saat pukulan kakek itu hampir menyentuh tubuh Walangka, tiba tiba sesosok tubuh melesat cepat sambil melempar sebuah tongkat kayu.


Kakek itu menarik serangannya dan melompat mundur menyadari tongkat yang mendekatinya mengandung tenaga dalam yang besar.


Sesosok tubuh itu bergerak sangat cepat dan dalam beberapa detik sudah berada di hadapan kakek itu, telapak tangannya menyentuh dada kakek itu sambil melepaskan tenaga dalamnya.


"Tapak tenaga dalam ikan terbang." Tubuh kakek itu terpental ke udara sebelum menghantam langit langit gua.


"Kau lagi." Wajah kakek itu terlihat kesal begitu melihat musuh bebuyutannya telah menemukannya setelah dia bersembunyi selama puluhan tahun.


"Ternyata kau disini Durga, kalau begitu kita selesaikan urusan kita disini saja." Ucap seorang kakek tua yang tampak sebaya dengan kakek itu. Kakek itu mengenakan sebuah jubah putih dengan tongkat kayu di tangannya. Dia terlihat bersiap menyerang kakek itu kembali.


"Aku akan melepaskan kalian sekarang tapi jangan harap bisa lolos lagi dariku kelak." Ucap Durga dengan nada mengancam pada Walangka dan Ki Karsa sebelum tiba tiba menghilang.


"Haah, dia kabur lagi." Ucap Kakek itu menghela napas.


"Jagalang, ternyata kau." Ucap Ki Karsa sambil menatapi kakek itu.


"Karsa, sudah lama tidak bertemu, sepertinya kekuatanmu tidak bertambah bertambah ya." Balas Ki Jagalang lalu berjalan menuju Ki Karsa. Dia merendahkan tubuhnya sedikit lalu menotok beberapa bagian tubuh Ki Karsa.


"Haha, seperti biasa kau selalu dapat diandalkan." Ucap Ki Karsa setelah merasakan punggungnya sudah tidak keram, dia pun merangkul Ki Jagalang. "Ayo kita ke rumahmu."


Walangka yang melihat kakeknya begitu akrab dengan Ki Jagalang, berpikir bahwa dialah yang dimaksud Ki Karsa mampu membantu dirinya. Dengan susah payah, dia berusaha bangkit dan berjalan mendekati Ki jagalang.


"Hormat pada tetua." Walangka membungkukkan badannya memberi hormat.


"Tidak perlu terlalu sungkan, luka akibat pertarungan tadi belum sembuh kan?." Ki Jagalang menyunggingkan senyuman hangat. Dia lalu mengajak Walangka datang ke rumahnya.


"Dengan senang hati tetua." Jawab Walangka sopan.


Dia tidak ingin menyinggung perasaan calon gurunya itu, sebab dia berpikir jika dia berguru pada orang kuat seperti Ki Jagalang maka dendamnya pada sekte hyena abu abu mungkin akan lebih mudah terbalaskan.


"Anak ini sangat sopan, apa yang dia rencanakan." Gumam Ki Jagalang curiga.


. . .


Gunung Karacak adalah sebuah gunung subur yang dipenuhi banyak tanaman dan pepohonan. Berbagai tanaman langka yang berguna untuk kesehatan maupun untuk meningkatkan tenaga dalam tumbuh sangat subur disini.

__ADS_1


Tanaman tanaman inilah yang menarik perhatian Ki Jagalang dan Mpu Mpu pembuat keris yang lainnya untuk membangun perkumpulan penempa keris di gunung ini.


Perkumpulan ini bernama perkumpulan Siwanetoro. Namanya diambil dari nama ketua perkumpulan ini yaitu mpu Siwanetoro, seorang ahli pembuat keris legendaris yang namanya sudah tersebar di tanah Jawata. Ki Jagalang sendiri menaruh hormat padanya.


Sebagian besar pusaka yang terkubur di hutan Karacak sebagian besar dibuat olehnya. Pusaka yang dibuatnya pun sangatlah sakti dan masing masing memiliki roh penunggunya.


Ketika Mpu Siwanetoro meregang nyawa karena dibunuh oleh para pembunuh bayaran, Mpu Durga adalah orang yang paling terpukul atas kejadian itu.


Perlahan lahan, rasa kekecewaannya berubah menjadi kebencian, kebencian kepada semua pendekar di tanah Jawata.


Kebencian itu membawanya untuk menjalin kerja sama dengan seorang roh penunggu pusaka ciptaan Mpu Siwanetoro yang berwujud ular.


Mereka bersatu dan membuat Mpu Durga menjadi seorang manusia setengah ular atau biasa disebut sebagai siluman. Namun pada suatu hari ia tersadar akan kesalahannya dan berubahlah kebenciannya menjadi kepada roh ular itu.


Dia pun menggila dan menyerang apapun yang dilihatnya tak peduli lawan ataupun kawan. Para Mpu mencoba menghentikannya namun Mpu Durga selalu berhasil lolos.


Sebab faktor usia, Mpu Mpu yang lainnya satu persatu meninggal dunia dan hanya menyisakan Ki Jagalang dan Mpu Durga.


Saat ini, Ki Jagalang dan Ki Karsa sedang berbincang bincang di sebidang padang rumput di puncak gunung Karacak. Mimik wajah mereka beberapa kali terlihat berubah ubah.


"Pemilik energi naga bintang, anak yang ditakdirkan, apa sebenarnya maksudmu?." Ki Jagalang terlihat kebingungan.


"Memang sih banyak orang yang datang kesini, tapi aku gak pernah dengar mereka ngomongin tentang energi spesia atau semacamnya." Ki Jagalang mencoba mengingat ngingat.


"Kau tahu Prabu Garang Ulo?." Tanya Ki Karsa. Dia berpikir jika sesuatu yang lebih terkenal dari pemilik energi naga bintang namun tetap ada kaitannya mungkin akan membantunya memberitahu temannya itu tentang Walangka.


"Tidak, tidak tahu."


"Kau sebenarnya sudah jadi orang gunung berapa lama sih?."


"Umurku sekarang adalah 222 tahun, aku datang ke sini saat aku berumur 80, jadi aku disini sudah 142 tahun." Jawab Ki Jagalang ragu ragu.


"142 tahun, pantas saja kau sangat buta informasi."


"Ya sudahlah, intinya kau harus melatih cucu berbakatku itu!." Ki Karsa bangkit dari duduknya sebelum berjalan meninggalkan Ki Jagalang sendirian.


"Dia masih seperti dulu." Ki Jagalang memasang wajah masam. "Lebih baik kudatangi cucu berbakatnya itu."

__ADS_1


Ki Jagalang berjalan menuju sebuah air terjun. Dia membentuk beberapa segel tangan. "Segel air suci."


Aliran air terjun itu tiba tiba terbuka. Terlihatlah sebuah padang rumput sejauh mata memandang di dalamnya. Ki Jagalang melompat masuk lalu melangkah menuju sebuah gubuk sederhana buatannya.


Dia melihat Walangka sedang bermeditasi di samping gubuk itu. Ki Jagalang mendekati pemuda itu lalu mengamatinya. "Tidak ada yang istimewa dari tubuhnya, auranya pun biasa saja." Gumamnya setelah beberapa lama mengamati Walangka.


Karena tak dapat memastikan apakah dia anak spesial dari tubuh dan auranya, Ki Jagalang memutuskan untuk membangunkan Walangka. Dia menggoyang goyangkan tubuhnya, "nak, bangunlah."


Beberapa lama kemudian, mata Walangka terbuka perlahan. Wajahnya berubah gugup begitu melihat Ki Jagalang sedang berada di hadapannya. Tubuhnya bergetar karena ketakutan jikalau dia salah bertingkah.


"Ho..horm..mat te..tetua." Ucap Walangka terbata bata sambil menundukkan kepalanya.


"Mengapa bicaramu terbata bata begitu?." Tanya Ki Jagalang sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Tak usah dipikirkan tetua." Jawab Walangka masih terbata bata.


"Jika dilihat dari cerita Ki Karsa tadi tentangnya sepertinya dia berusaha sopan agar aku menjadi gurunya dan membantunya membalas dendam, jika memang seperti ini sepertinya aku akan memanfaaatkannya." Ucap Ki Jagalang sambil nyengir nyengir di dalam pikirannya.


"Tetua, mengapa kau bengong." Tanya Walangka.


"Ah tidak apa apa, o iya Walangka ada yang ingin kubicarakan denganmu." Ki Jagalang tersenyum lebar.


"Soal apa tetua?."


"Ah jadi begini, dulu aku punya seorang murid dan dia adalah murid yang sangat baik selalu menghormatiku dan sangat rajin dalam berlatih, tapi pada suatu hari dia dibunuh oleh para pembunuh bayaran yang dikirim oleh sebuah sekte aliran hitam, aku sangat terpukul atas kejadian itu." Ucap Ki Jagalang. Dia bercerita sambil berpura pura memasang wajah sedih dan menangis.


"Lalu?." Tanya Walangka polos.


"Ya, sejak itu kekuatanku terus menerus berkuras sehingga membuat umurku semakin berkurang, karena itulah setiap orang yang ingin menjadi muridku harus membantuku menemukan sebuah madu yang dapat memperpanjang umurku." Ucap Ki Jagalang.


"Madu apa?." Walangka mengernyitkan dahinya.


"Madu lebah perang yang ada di hutan Karacak." Jawab Ki Jagalang, dia mentap Walangka menunggu reaksinya.


"Apa itu?." Tanya Walangka. "Semoga saja bukan sesuatu yang aneh aneh." Gumamnya dalam hati.


"Sebuah madu yang dibuat oleh sejenis lebah bernama lebah perang, seperti namanya lebah jenis ini memiliki sifat yang sangat agresif dibandingkan jenis lebah yang lainnya dan sangat menjaga koloninya, mereka membuat sebuah madu yang dapat memanjangkan umurnya selama sepuluh tahun, bukankah penambahan umur sebanyak itu cukup untuk mengajari seorang murid." Jawab Ki Jagalang menjelaskan.

__ADS_1


"Sial, dijaga oleh lebah paling agresif, kukira akan mudah menjadi muridnya." Walangka menundukkan kepalanya lemas.


"Hi hi, berhasil." Ki Jagalang tersenyum lebar kembali menyadari aktingnya telah berhasil.


__ADS_2