Pendekar Naga Bintang

Pendekar Naga Bintang
Berlatih kembali setelah sekian lama


__ADS_3

Perbaikan sekte kelinci bambu terus berlanjut. Semuanya terlihat bersemangat untuk mengembalikan keadaan sekte menjadi seperti yang sebelumnya. Namun ada yang aneh, tidak tampak batang hidung Walangka sedikitpun diantara mereka.


Walaupun Walangka memang tak suka ikut ikutan kegiatan semacam ini, tetapi setidaknya dia terlihat sedang bermain kecapi atau menikmati kue kue kesukaannya.


"Apa kau melihat Walangka?." Tanya Ki Karsa kepada salah satu muridnya yang sedang membawa batang kayu.


"Sepertinya dia sedang berada di kamarnya ketua." Jawab murid itu seraya membungkuk memberi hormat.


"Baiklah kalau begitu." Ki Karsa membalikkan badannya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Walangka.


"Walangka." Ki Karsa mengetuk pintu sebuah ruangan setelah tiba di sana. Dia memanggil Walangka berkali kali. Karena tak kunjung terdengar jawaban, Ki Karsa akhirnya membuka pintunya.


Seorang pemuda terlihat sedang sangat fokus bermeditasi. Aura hijau tipis memancar dari tubuhnya itu. Sebab enggan membangunkan murid kesayangannya itu, Ki Karsa memutuskan untuk membersihkan kamar Walangka yang dipenuhi debu


Jam demi jam berlalu, matahari telah merangkak naik ke atas kepala tapi Walangka masih belum menyelesaikan meditasinya. Sementara Ki Karsa hanya dapat duduk termangu di atas sebuah bangku kayu menunggu cucunya itu terbangun.


"Ini tidak boleh diperlama lagi, harus sekarang!." Pikir Ki Karsa tepat setelah kesabarannya habis. Dengan wajah setengah jengkel, kakek tua itu bangkit dari duduknya lalu mendekati Walangka.


"WA..LANG..KA!." Bentak Ki Karsa kencang hingga membuat Walangka menutup telinganya. Mata Walangka perlahan terbuka dan mendapati kakeknya sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan kesal.


"Ada apa kek, kenapa kakek marah marah begitu?." Tanya Walangka sambil mengernyitkan dahinya.


"Mentang mentang udah bisa silat, sok sok-an ya mau meditasi lama banget." Ketus Ki Karsa sebelum melanjutkan ucapannya panjang lebar. Walangka tidak membalas ucapan Ki Karsa dan hanya memandang Ki Karsa dengan tatapan polos.


"Jadi sebenarnya kakek ke sini itu mau ngapain sih?." Tanya Walangka setelah Ki Karsa berhenti menyeloteh.

__ADS_1


"Kau iniii...hah ya sudahlah, aku ke sini untuk mengajakmu ke tempat temanku di gunung karacak." Jawab Ki Karsa.


"Untuk apa?." Tanya Walangka lagi.


"Kau akan tahu itu nanti, sekarang kita harus segera berangkat!." Ki Karsa bangkit lalu melangkah keluar kamar Walangka.


"Baik baik." Walangka ikut bangkit lalu mengikuti Ki Karsa dari belakang. Mereka berdua berjalan bersama menuju gerbang padepokan. Di sepanjang perjalanan, Walangka menebak nebak dalam hati apa tujuan Ki Karsa membawanya.


Ketika sampai di gerbang, para murid segera berkumpul di sekitar mereka. Ki Karsa sudah memberitahu mereka bahwa dia akan pergi meninggalkan sekte untuk menemui temannya sebelum dia datang ke kamar Walangka sehingga para murid ingin memberi hormat terlebih dahulu.


"Hormat pada ketua, semoga perjalanannya lancar."


. . .


Hanya Kuyung Garaga yang tampak mondar mandir di ruangannya. Dengan wajah yang tampak tak sabaran, dia berjalan kesana kemari seperti sedang ada yang ditunggunya.


"Kau kenapa Garaga?." Kuyung Sentan tiba tiba membuka pintu dan masuk ke ruangan Kuyung Garaga.


"Tidak apa apa, hanya menunggu malam tiba." Jawab Kuyung Garaga.


"Memangnya malam malam ada apa?." Tanya Kuyung Sentan semakin penasaran.


"Ah lupakan saja, ini tidak terlalu penting." Ucap Kuyung Garaga mencoba mengahiri pembicaraan.


"Tetapi kenapa sepertinya kamu sangat gak sabaran?."

__ADS_1


"Kubilang sudah ya sudah!." Ucap Kuyung Garaga kesal membuat suasana mulai menjadi tegang.


"Sepertinya kau sedang banyak pikiran ya, ya sudah aku pergi saja." Ucap Kuyung Sentan sambil tersenyum kecut lalu keluar dari ruangan Kuyung Garaga.


Kuyung Garaga memegang wajahnya. Dia lalu memutuskan untuk bermeditasi menenangkan diri.


Entah kenapa, sikap aneh Kuyung Garaga ini dimulai ketika dia pulang dari penyelidikannya di padepokan sekte setan maut. Salah satu tetua sekte singa bara api itu menjadi lebih suka mengurung diri tepat saat dia kembali ke sekte.


Yang pasti, apapun yang terjadi padanya disana jelas bukan kebetulan maupun hal biasa yang tidak penting.


"Sepertinya saat malam ya dia mulai beraksi, sebaiknya aku melatih diri sebab bagaimanapun juga dia bukan musuh yang mudah untuk dihadapi." Gumam Kuyung Sentan. Wajahnya tiba tiba berubah menjadi wajah penuh kepasrahan.


Kuyung Sentan kemudian mengubah arah langkahnya yang tadinya ingin ke tempat latihan para murid berubah ke arah keluar sekte, tepatnya ke arah hutan.


Suara burung berkicau terdengar jelas ketika dia telah memasuki hutan tersebut. Sinar matahari mengintip dari balik dedaunan pepohonan tinggi.


"Aku jadi ingat saat dulu aku mengajari Putri Gelona berlatih di hutan ini." Gumam Kuyung Sentan dalam hati mengingat kejadian bertahun tahun yang lalu, kala Putri Gelona baru saja dibawa oleh Lemang Kupa ke sekte singa bara api. Dia menjadi menyalahkan dirinya sendiri atas pengusiran Putri Gelona saat itu.


"Aku tak boleh membiarkan yang lainnya bernasib sama seperti Gelona, aku harus menyadarkan dan menyelamatkan Kuyung Garaga dan Kuyung Lingga secepatnya." Ucap Kuyung Sentan dengan nada berapi api. Dia membulatkan tekadnya untuk mengakhiri kejahatan sekte setan maut yang kini mulai bangkit kembali.


Kuyung Sentan pun memulai pelatihannya. Sejak dirinya diangkat menjadi salah satu tetua sekte, dia menjadi jarang berlatih. Ditambah dengan isu melemahnya segel yang mengurung sekte setan maut, membuat dia lebih sering melatih otak dan kepintarannya daripada melatih otot dan tenaga dalamnya.


Pertama tama, dia ingin melihat terlebih dulu sudah berapa kemampuannya. Dia pun duduk di tanah lalu memejamkan matanya. Setelah beberapa lama, Kuyung Sentan akhirnya mengetahui bahwa sekarang dia berada pada tingkat pilih tanding level 3.


"Kuyung Garaga sudah berada di tingkat tanpa tanding, aku bisa kewalahan atau bahkan kalah jika melawannya di tingkatanku yang masih tingkat pilih tanding ini." Pikir Kuyung Sentan. Dia lalu memulai meditasinya dengan sangat khusyuk berusaha menerobos ke tingkat selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2