Pendekar Naga Bintang

Pendekar Naga Bintang
Pertama kali memurnikan ilmu hitam


__ADS_3

Walangka dan lawannya melompat mundur ke belakang bersamaan untuk mengatur napas dan memperbaiki kuda kudanya.


Terlihat beberapa luka sabetan di tubuh kedua orang itu. Darah segar mengalir keluar dari luka sabetan mereka. Aura merah masih menyelimuti Walangka namun nampaknya sudah mulai mengecil.


"Aura ajian hati naga tak bisa memperlambatnya, kecepatannya pun setara denganku, sekte Hyena Abu Abu memang tak boleh diremehkan." Gumam Walangka dalam hati.


"Jika tak ada pelindung tenaga dalamku, kau mungkin akan terluka lebih parah dari ini, sudah kubilang kau harus menggunakan kekuatan penuhmu untuk mengalahkannya." Ucap Naga Bintang.


"Baiklah baiklah akan kucoba."


Walangka mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya juga pedangnya. Pedangnya terlihat kembali diselimuti kobaran api panas.


Dia melesat cepat ke arah lawannya sebelum menebaskan pedangnya. Lawannya segera menghindar dengan cara melompat ke sebelah kanan.


Walangka terus berusaha menyentuh tubuh musuhnya. Dia meningkatkan kecepatannya membuat musuhnya menjadi sedikit kesulitan.


Walangka lalu melompat tinggi sebelum melepaskan jurus pedang bambu tingkat satu. Api panas di pedangnya bertukar dengan pelapis cahaya berwarna hijau muda.


Suara pedang berbenturan terdengar beberapa kali. Dia beberapa kali membuat gerakan tipuan untuk mengecoh musuhnya sebelum kemudian merapal jurusnya.


"Lingkaran api penghukum iblis."


Walangka menegakkan tubuhnya sebelum memutar tubuhnya sambil menarik pedangnya. Sebuah energi tebasan api berbentuk lingkaran terus membesar.


Pendekar Hyena Abu Abu itu segera melepaskan jurus pedang penghacur matahari tingkat tiga untuk menahan energi tebasan itu namun dia tetap terdorong hingga menghantam sebatang pohon di belakangnya.


Walangka tak menyia nyiakan kesempatan itu. Dia segera melesat berusaha menghantamkan pedangnya ke tubuh pendekar Hyena Abu Abu itu.


Namun sebuah serangan tiba tiba dari arah samping membuatnya terpaksa menarik serangannya. Pendekar Hyena Abu Abu yang sebelumnya sempat dilumpuhkannya tampak kembali menyerang.


Aura pekat yang dilepaskan oleh pendekar itu sanggup membuat gerakannya sedikit melambat. Dibantu dengan pusaka di tangannya, pendekar Hyena Abu Abu itu dapat memojokkan Walangka hanya dalam beberapa serangan.


"Ajian hati naga tingkat 4." Walangka memutar tubuhnya sedikit sebelum mengubah gerakan pedangnya. Kobaran api di pedangnya bertambah besar dan panas.

__ADS_1


Pertarungan bertambah sengit karena Walangka menggunakan hampir seluruh kemampuannya.


"Aku cukup terkejut mengetahui kau bisa menggunakan ajian hati naga tingkat empat, tapi sayangnya itu tak akan mengubah apa apa, iya kan Arga?"


Pendekar yang satu lagi ikut menyerang Walangka. "Benar saudaraku Giarga, kita buat bocah ini merasakan akibat menyinggung sekte Hyena Abu Abu." Ucapnya sombong.


"Ucapan kalian membuatku muak!"


Walangka tiba tiba muncul di belakang Arga dengan tangan sedang mengangkat pedang. Dia mengayunkan pedangnya ke kepala Arga. Arga segera menarik pedang pusaka miliknya untuk menepis serangan Walangka sebelum dia dan Walangka sama sama terpental ke belakang.


Walangka berniat mengatur kuda kudanya kembali namun Arga tak membiarkan hal itu. Dia segera maju menyerang membuat Walangka mengurungkan niatnya dan berusaha menghindari serangan Arga.


"Sampai kapan kau mau lari bocah!." Arga terus berusaha mendekati Walangka.


"Tenaga dalamku sudah hampir habis, apa sebaiknya kugunakan saja jurus itu." Gumam Walangka bingung.


"Gunakan saja kekuatanku." Ucap Naga Bintang.


"Jika kau memanggil mereka maka mereka akan terkena asap beracun ini, walaupun mereka dapat membuat pelindung tenaga dalam tetapi tenaga dalam mereka tidak akan cukup jika mereka juga ikut bertarung."


"Kalau begitu aku gunakan saja jurus itu."


"Jika kau ingin aliran tenaga dalam milikmu menjadi saling berbenturan ya gunakan saja."


"Aku tak punya waktu bermain main denganmu!." Teriak Arga. "Jurus pedang penghancur matahari tingkat 4." Arga melempar pedangnya ke udara sebelum menarik tangannya.


"Tunggu Arga, jangan gunakan jurus itu!" Teriak Giarga berusaha memperingatkan temannya namun terlambat. Pedang Arga melesat sangat cepat menuju Walangka.


Tahu bahwa serangan tersebut sangat mematikan, Walangka berusaha sekuat tenaga menghindari serangan itu. Dia pernah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana serangan itu menghancurkan aula sekte Kelinci Bambu. Dia memutar pedangnya sambil bergerak cepat ke arah belakang.


Duarrr, suara ledakan menggelegar ke seluruh penjuru gunung Karacak. Sebuah lubang yang cukup besar tercipta karena efek ledakan itu.


Baik Walangka maupun Arga dan Giarga, tiga tiganya sama sama terhempas jauh. Asap beracun yang menyelimuti puncak gunung Karacak pun perlahan memudar digantikan oleh kepulan asap hasil ledakan.

__ADS_1


Walangka tampak menghantam sebuah batu besar dengan sangat keras sebelum jatuh ke permukaan tanah. Darah segar mengalir dari telinga, hidung dan mulutnya. Dia menatap pedang di tangannya yang sudah hancur dan hanya menyisakan gagangnya saja.


Punggung belakangnya juga mencuatkan darah karena efek benturan yang sangat keras dengan batu besar itu. Dia terduduk lemas di tanah. Tubuhnya tak dapat digerakkan seolah sama sekali tak mendengarkan perintahnya.


Kondisi Arga dan Giarga tak jauh beda dengannya. Namun tak seperti Walangka, Arga dan Giarga masih dapat berdiri dan menggerakkan anggota tubuhnya.


Mereka berhasil mendarat di tanah dan tidak membentur sesuatu sehingga luka mereka tidak separah Walangka. Tetapi tetap saja, luka yang mereka terima bisa dibilang cukup parah karena darah yang keluar dari luka itu sudah membasahi sebagian besar baju yang melekat di tubuh mereka.


Luka sabetan yang mereka dapatkan saat bertarung dengan Walangka bertambah lebar. Mereka terpaksa menggunakan tenaga dalam yang tersisa untuk menekan rasa sèakit yang dirasakan.


"Bocah itu, sepertinya dia belum mati." Ucap Arga pelan.


"Biar aku saja yang menghabisinya!" Giarga mengambil napas dalam. "Ajian ngobong getih." Giarga merasakam sebuah tenaga dalam yang besar mengalir deras di dalam tubuhnya. Urat nadinya tampak keluar.


Dia lalu melesat cepat sambil bersiap melepaskan satu serangan terakhir. Hanya dalam beberapa detik, dia sudah berada di dekat Walangka.


"Menjauh darinya!." Aura putih tiba tiba meluap dari tubuh Walangka. Giarga yang terkejut segera menarik kembali serangannya dan melompat mundur.


"Energi ini, jangan jangan kau..." Giarga menggantung ucapannya begitu mengenali energi yang meluap dari tubuh Walangka.


"Pemilik energi Naga Bintang, sepertinya aku memang harus membunuhmu." Giarga memutar pedangnya. "Jurus pedang penghancur matahari tingkat 1."


Baru saja dia ingin kembali menyerang Walangka, suatu hal membuatnya tersentak kaget. Setengah dari tenaga dalam yang dia gunakan untuk melepaskan jurusnya tiba tiba lenyap entah kemana.


Begitu dia mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat Walangka, terlihat Walangka sedang mengarahkan telapak tangannya ke arahnya.


"Kau, jangan jangan kau memurnikan ilmu hitamku?!" Ucap Giarga tak percaya. Dia menggerutukkan giginya. "Kau memang harus mati!" Giarga segera bergerak maju berusaha menebaskan pedangnya ke leher Walangka.


"Berani beraninya kau menyerang cucuku!." Sebuah suara yang memekakkan telinga tiba tiba terdengar dari rimbunnya pepohonan diikuti dengan munculnya tiga orang dengan aura membunuh yang sangat kuat dari seseorang yang terlihat memimpin di depan.


Tubuh Giarga bergetar tak kuat menerima aura itu. Seketika bulu kuduknya berdiri dan dia pun bergidik ngeri.


"K..kau, ke..ketua sekte S..Singa Bara Api."

__ADS_1


__ADS_2