
"Jangan harap kau bisa kabur lingga!" Ucap Kuyung Sentan. Dia terlihat melayang di udara bersama Kuyung Batar, berusaha menghalangi Kuyung Lingga untuk kabur.
"Kami sud..." ucapan Kuyung Sentan terhenti ketika dia menoleh ke belakang dan menemukan seorang berpakaian serba ungu menebaskan pedang yang mengandung tenaga dalam yang besar ke arahnya.
"Cepat sekali!" Kuyung Sentan segera memutar tubuhnya sebelum melepaskan auranya dan membuat pelindung tenaga dalam api. Ledakan api tercipta saat pedang orang itu menghantam pelindung api Kuyung Sentan dan membuat orang itu terpental.
Kuyung Sentan menghilangkan pelindung tanaga dalam apinya sebelum melesat mengejar orang itu. Sementara Kuyung Garaga langsung maju menyerang Kuyung Batar begitu melihat Kuyung Sentan pergi.
"Ajian sepuluh gerbang kematian, gerbang penyakit terbukalah!" Orang itu menempelkan kedua telapak tangannya lalu mengeluarkan aura ungu tua. Aura itu berkumpul lalu membentuk sebuah gerbang besar dengan patung berbentuk mahkota di bagian atasnya.
"Suara perempuan?, kenapa rasanya aku pernah mendengar suaranya?" Gumam Kuyung Sentan sambil memerhatikan orang yang menyerangnya itu, berusaha untuk mengenalinya. Dia lalu maju bersiap membuat pelindung tenaga dalam api yang lebih kuat dari yang sebelumnya.
Orang itu mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah gerbang aura itu lalu seketika terbukalah gerbang itu. Ribuan titik hitam langsung keluar dan bergerak ke arah Kuyung Sentan.
Kuyung Sentan yang sudah mengumpulkan tenaga dalamnya segera membuat pelindung tenaga dalam apinya sehingga membuat titik hitam itu tidak menyentuh tubuhnya sama sekali.
"Gawat dia tahu kelemahan jurus ini, terpaksa harus membawanya menggunakan ajian gerak setan." Menyadari jurusnya tak berhasil, orang itu segera menggunakan tenaga dalamnya untuk menarik roh roh yang berkeliaran di sekitarnya.
. . .
Walangka tampak bermeditasi untuk memulihkan kondisi aliran tenaga dalamnya. Ki Jagalang terlihat membantunya dengan mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Walangka agar mempercepat pemulihannya.
"Bakat anak ini luar biasa, aku membutuhkan waktu sepuluh bulan untuk dapat menggunakan tahap awal pernapasan ikan terbang sementara di hanya butuh dua bulan, sepertinya dia memang benar benar anak yang ditakdirkan." Gumam Ki Jagalang kagum dengan perkembangan Walangka.
"Andai otaknya lebih pintar sedikit, pasti dia sudah bisa menggunakan pernapasan ikan terbang secara sempurna hanya dengan waktu tiga bulan." Ki Jagalang tersenyum kecut.
"Guru apa sebenarnya kesalahanku dalam menggunakan pernapasan ikan terbang, murid masih tidak mengerti." Walangka tiba tiba menghentikan meditasinya karena rasa penasaran akan yang tadi dibicarakan Ki Jagalang.
"Kau tidak bisa menunggu selesai meditasi dulu baru bertanya ya."
__ADS_1
"Maafkan murid guru."
Ki Jagalang kemudian mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman sebelum mulai berbicara.
"Jadi...."
Walangka bersiap menyimak yang akan dikatakan gurunya.
"Sejujurnya aku juga tidak tahu." Ki Jagalang menunjukkan wajah datar.
Walangka tersentak kaget mendengar pernyataan Ki Jagalang itu. Rasa kesal tiba tiba memenuhi hatinya. Tangannya sudah siap memukul Ki Jagalang namun sekuat tenaga dia berusaha menahan kekesalan itu.
Dia lalu mengatur napasnya berusaha meredakan amarahnya. Andai itu bukan gurunya, maka sudah pasti tangannya mendarat di tubuh Ki Jagalang.
"Ke..kenapa guru bisa tidak tahu?"
"Lalu bagaimana cara murid memperbaiki kesalahan?" Walangka merebahkan tubuhnya. Dia masih tak habis pikir bagaimana bisa gurunya tidak tahu cara kerja lengkap pernapasan ikan terbang.
"Kau coba cari tahu saja sendiri, aku mau keluar mencari makan malam dulu." Ki Jagalang bangkit berdiri lalu berjalan keluar air terjun. Walangka menatap datar kepergian Ki Jagalang.
"Aku lanjutkan meditasiku dulu deh." Walangka kembali duduk dan memenjamkan matanya melanjutkani meditasinya yang tadi sempat tertunda. Tentu saja sambil berpikir keras apa kesalahan yang dilakukannya saat menggunakan pernapasan ikan terbang.
Beberapa saat kemudian, dia pun mencoba menggunakan pernapasan ikan terbang dalam berbagai cara. Belasan cara dia coba gunakan namun tak ada satupun yang membuahkan hasil. Tenaga dalamnya yang terkuras banyak membuatnya memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Rasa kantuk akibat lelah tiba tiba menyerang Walangka tepat saat dia mulai beristirahat. Dia berusaha menahannya namun rasa kantuk itu terlalu kuat. Matanya perlahan lahan tertutup, namun tiba tiba dengan samar samar seseorang dengan baju berwarna merah bata muncul di pikirannya.
"Pa..paman Sagalu." Walangka membuka matanya lebar lebar. Dia kembali teringat dengan tujuannya berlatih ilmu kanuragan.
"Tak ada waktu bermalas malasan!" Ucapnya dengan semangat membara. Matanya terlihat berapi api. Tekadnya kembali menguat begitu teringat dengan kekejaman sekte Hyena Abu Abu.
__ADS_1
Dia bangkit sebelum berjalan ke dalam gubuk. Setelah beberapa lama mencari, dia akhirnya keluar dengan membawa pedang miliknya. Ki Karsa lah yang sengaja meninggalkan pedang itu agar Walangka tetap bisa melatih teknik pedangnya.
Walangka memandang sekelilingnya. Tak nampak pohon satupun sejauh mata memandang. Hanya terdapat padang rumput dengan beberapa tangkai bunga.
"Mungkin saatnya menguji kekuatanku di tanah lapang." Batin Walangka. Selama ini dia selalu berlatih menggunakan pohon sebagai sasarannnya. Dia lalu menyiapkan kuda kudanya.
"Ajian hati naga tingkat dua, energi api merah."
Kobaran api tercipta di pedang Walangka. Dengan cepat, dia menyambar setangkai bunga didepannya hinga terbakar habis menjadi abu. Tak berhenti sampai disitu, Walangka lalu menjadikan beberapa bunga cantik lainnya menjadi targetnya. Gerakan cepat nan halus menjadikannya seperti sedang menari nari.
Berjam jam berlalu. Matahari terus bergerak tenggelam ke arah barat. Cahaya jingga yang dipancarkannya digantikan oleh pancaran cahaya putih milik rembulan.
Ki Jagalang terlihat berjalan kembali ke air terjun. Tangannya mententeng dua ekor kelinci hutan gemuk. Cukup sulit baginya untuk menemukan kedua kelinci itu.
"Semoga anak bodoh dia tidak pilih pilih makanan lagi." Batinnya. Saat air terjun tempat tinggalnya sudah terlihat, tiba tiba sebilah golok yang mengandung tenaga dalam yang besar melesat mengincar lehernya.
Dia mengalirkan tenaga dalamnya ke tongkatnya sebelum menggunakannya untuk menangkis serangan itu. Belum sempat dia mencerna situasi, golok yang sama kembali bergerak ke arahnya dengan kecepatan yang lebih tinggi.
"Golok ini, lagi lagi Durga." Ki Jagalang memutar tubuhnya sambil bergerak sedikit ke samping untuk menghindari serangan golok itu. Dia mengumpulkan tenaga dalamnya ke telapak tangannya.
"Tapak tenaga dalam ikan terbang." Ki Jagalang menghantamkan telapak tangannya yang diselimuti aura biru muda ke golok itu hingga terhempas jauh.
"Mati kau!" Mpu Durga melompat dari balik semak semak dan langsung melepaskan tinju miliknya ke Ki Jagalang dari belakang. Ki Jagalang segera memutar tubuhnya lalu melepaskan tapak tenaga dalam ikan terbangnya. Kedua jurus itupun beradu dan menciptakan benturan tenaga dalam yang membuat kedua kakek itu terpental bersamaan.
------------------
handphone saya rusak dan baru saja selesai di service, saya bingung harus bagaimana meminta maaf pada kalian. kalian masih membaca novel ini saja saya sudah sangat bersyukur๐ญ๐ญ๐ญ๐๐๐ terimakasih telah membaca
ย
__ADS_1