Pendekar Naga Bintang

Pendekar Naga Bintang
Madu lebah perang


__ADS_3

Walangka tampak bermain kecapi di padang rumput di dalam air terjun. Dia memang sengaja membawa kecapi kesayangannya andai sewaktu waktu dia merasa bosan.


Tetapi sekarang, dia memainkan kecapi karena perasannya sedang bimbang. Dia bingung apakah harus mencari madu lebah perang yang tadi diceritakan oleh Ki Jagalang atau harus menyerah untuk menjadi muridnya.


"Aku sebenarnya sangat malas untuk melakukan ini, tapi bagaimanapun juga aku harus membalaskan dendam milik paman Sagalu, apa kuterima saja permintaan dari kakek Jagalang?." Pikirnya bingung. Dia sama sekali tak sadar kalau dia sedang ditipu oleh Ki Jagalang.


Setelah berjam jam berpikir, Walangka akhirnya memutuskan untuk menerima permintaan dari Ki Jagalang. Dia berpikir, kalaupun nanti dia akan dibuat terbaring di ranjang tabib oleh para lebah perang namun itu semua akan sebanding dengan ilmu yang akan dia dapatkan nanti.


Walangka pun segera bergegas pergi ke hutan Karacak. Dia sengaja untuk tidak memberitahu Ki Jagalang karena menganggap bahwa meminta izin tidaklah penting.


Wajar, sejak kecil Walangka hanya difokuskan oleh Ki Karsa untuk berlatih bela diri, itupun masih ketataran sebab dia selalu malas berlatih.


Di sepanjang perjalanan Walangka hanya melamun memikirkan cara mengambil madu dari sarang lebah perang. Dia tak mungkin mengambil madu lebah perang tanpa harus berhadapan dengan para lebah super agresif itu.


Apalagi satu sarang lebah perang ditinggali oleh sepuluh ribu lebah perang yang sudah sangat terlatih dalam mempertahankan sarangnya, itu sama saja dengan cari mati jika datang ke sana tanpa persiapan.


Karena tak terbiasa mencari sesuatu dalam waktu lama, Walangka sempat beristirahat di beberapa pohon rindang. Ditambah dengan luasnya hutan Karacak membuat pencarian sarang lebah perang bertambah lama.


Dia akhirnya berhasil menemukan sebuah sarang lebah perang setelah petang tiba. Hanya dalam sekali lihat, Walangka sudah tahu lebah tersebut sangat berbahaya. Warna merah darah tubuh khasnya benar benar menunjukkan keagresifannya.


Selama beberapa hari, dia mengamati kegiatan lebah perang, Tidur di tanah dengan berselimutkan semak semak yang digunakannya untuk bersembunyi dan mengamati para lebah perang dari jauh.


Walangka pun menyimpulkan bahwa pasti ada suatu waktu dimana para lebah perang keluar dari sarangnya untuk mencari makanan dan pada saat itulah dia akan bergerak.


Namun yang tak dapat diduga Walangka, para lebah perang memiliki kegiatan yang sangat terstruktur. Setiap satu menit satu lebah perang akan keluar mencari makanan dan akan kembali untuk berganti giliran dengan lebah lainnya.


Begitu pun dalam pertahanan sarang, mereka memiliki formasi yang sangat baik dan rapih. Seekor capung terbang mendekati sarang para lebah perang dan beberapa detik kemudian dia terjatuh ke tanah dengan tubuh terkoyak

__ADS_1


Walangka yang melihat hal itu membuat dirinya terkagum kagum. Ini pertama kalinya baginya melihat kepintaran dari seekor binatang yang diaanggap bodoh oleh kebanyakan orang.


Tetapi di sisi lain, dia merasa sangat kesal karena keterstrukturan kegiatan lebah perang membuatnya menjadi tak dapat mendekati rumah serangga ganas itu.


Dia menggigit bibirnya kesal karena kehabisan ide. Tiba tiba, secercah harapan baginya muncul ketika seorang wanita yang sangat dikenalinya sedang berdiri di balik pepohonan mengamati sesuatu dari kejauhan.


"Arkasari, kenapa dia disini?." Gumam Walangka dalam hati. Yang paling membuat Walangka heran adalah baju Arkasari yang terlihat dipenuhi debu dan beberapa bahkan sobek.


Dia berpikir sejenak sesaat sebelum mendapat sebuah ide. Walangka melesat menuju pohon tempat Arkasari berdiri. Arkasari yang melihat sesosok bayangan melesat ke arahnya segera memasang sikap siaga.


Betapa leganya Arkasari begitu mengenali yang melesat ke arahnya adalah temannya. Walangka yang melihat Arkasari begitu waspada ketika dia mendekatinya segera bertanya.


"Kau kenapa, baju hancur, muka kotor, rambut kusut, apa yang sebenarnya kau lakukan disini?."


Arkasari melipat kedua tangannya diatas perut.


"Aku mencari sebuah tanaman obat disini, salah satu temanku terkena asap racun milik sekte hyena abu abu dan racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya, hutan Karacak adalah surganya tanaman obat jadi aku datang kesini untuk mencari sebuah tanaman obat langka yang bisa menetralkan racun di tubuh temanku." Ucapnya dengan nada sedikit ketus.


"Dalam perjalanan ke sini seekor beruang menghadang jalanku, aku jadi terpaksa bertarung dengannya, dasar beruang sialan kalo aku bertemu lagi dengannya aku pasti akan menghajar tubuh berbulunya itu."


Arkasari memukul pohon disampingnya mencoba melampiaskan amarahnya. Pohon yang dipukulnya itu seketika tumbang ke tanah.


"Pohon yang malang." Walangka menggeleng gelengkan kepalanya pelan. Dia merasa kasihan pada pohon yang ditumbangkan oleh Arkasari sebab nasib sial pohon itu bertemu cewek iblis.


"Lalu apa yang kau lakukan disini?." Tanya Arkasari.


"Bukan urusanmu, lagipula bukankah kau mencari tanaman obat mengapa kau malah bersembunyi di balik pohon malang itu?." Walangka balas bertanya.

__ADS_1


"Tanaman obat yang kucari adalah bunga matahari liar yang tumbuh didekat sarang lebah aneh itu." Arkasari menunjuk sebuah bunga dekat sarang lebah perang yang sedang diamati Walangka.


Walangka sedikit terkejut mengetahui hal itu. Dia mengira Arkasari sedang mencari kumpulan tanaman obat yang kebanyakan tumbuh di bagian barat hutan Karacak dan ternyata dugaannya salah.


"Dugaanku salah bukan berati akan menggagalkan rencanaku, sebaiknya aku segera menyelesaikan tugas ini." Batin Walangka.


"Oy aku sudah memberitahumu tujuanku kesini, sekarang giliran kau!." Ucap Arkasari.


"Kau sepertinya penasaran sekali ya, aku sedang mencari madu lebah perang untuk memperpanjang umur guruku."


"Sejak kapan kau punya guru?." Tanya Arkasari penasaran.


"Bukan urusanmu." Jawab Walangka singkat.


"Kau, tunggu dulu tadi kau bilang madu lebah perang." Arkasari yang hendak memukul Walangka tiba tiba berhenti ketika teringat ucapan Walangka.


"Benar, memangnya kenapa?."


"Itukan madu milik serangga paling ganas dan berbahaya yang berkembang biak di setiap tempat yang ditumbuhi banyak tanaman obat."


"Aku tahu."


"Terus ngapain masih dicari?."


"Bukan urusanmu, udahlah kamu mau aku bantu ga?." Ucap Walangka menawarkan bantuan.


"Tumben, tapi gak usah repot repot, aku sendiri saja, kalo kamu yang bantuin nanti yang ada malah berantakan." Balas Arkasari menolak bantuan Walangka.

__ADS_1


"Ya sudah, kita sendiri sendiri saja." Walangka melesat kembali ke semak semak yang tadi digunakannya.


"Siapa juga yang butuh bantuan kamu." Arkasari mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya.


__ADS_2