
Wajah Rendita terlihat sangatlah pucat. Kepercayaan diri yang ia bangun selama ini runtuh seketika saat berhadapan dengan Walangka. Bajunya pun basah karena tubuhnya bercucuran keringat akibat efek dari jurus Walangka.
Saat ia sudah pasrah dengan yang akan terjadi, sesuatu yang tak diduga terjadi. Walangka tersungkur ke tanah lalu mengalirlah darah dari mulut dan seluruh tubuhnya. Pemuda itu merasakan sebuah aliran tenaga dalam yang sangat besar meledak ledak dalam tubuhnya serta merusak organ dalamnya.
Rendita yang melihat Walangka dalam keadaaan seperti itu segera bangkit dari posisi berlututnya bebarengan dengan bangkitnya rasa percaya dirinya dan juga munculnya perasaan di atas angin di hatinya.
"Walangka kau tidak apa apa?!." Sagalu berlari mengampiri Walangka namun ditahan oleh Rendita.
"Huahahahahaha sudah kuduga, ilmu seumur jagung kok berani melawanku." Ucap Rendita sombong sambil memain mainkan pedangnya.
"Sepertinya tubuhnya tidak kuat menerima tenaga dalam sebesar itu." Ki Karsa berucap ketika setelah berada di dekat Sagalu.
"Kau datang juga aki tua, sekarang akan kuambil pedang mainan itu darimu dan kuhancur leburkan sekte payahmu itu." Ucap Rendita lalu mengarahkan pedangnya ke arah Ki Karsa.
"Beraninya kau menyebut pedang kelinci sakti dengan nama itu, akan kupastikan semua ilmumu musnah tanpa sisa!."
Ki Karsa yang terbawa emosi segera melancarkan serangannya. Rendita terlihat santai menangkis serangan Ki Karsa meskipun ada beberapa serangan yang berhasil menggores tubuhnya.
Pertukaran jurus pun berlangsung sengit. Rendita terlihat mampu mengimbangi Ki Karsa yang notabanenya sudah mencapai tingkat tinggi level 4.
"Sepertinya kemampuanku sudah mulai dimakan umur." Gumam Ki Karsa dalam hati saat serangannya lagi lagi meleset. Sebenarnya dia sudah menduga bahwa menghadapi Rendita bukanlah hal mudah di umurnya yang sudah tua. Andaikan dia masih di usia mudanya, Rendita pasti sudah kalah sedari tadi.
"Berikan pedang mainanmu itu padaku sekarang dasar tua bangka!."
Rendita bergerak cepat secara zig zag menyerang Ki Karsa. Dia ingin segera membunuh Ki Karsa dan merebut pedang kelinci sakti darinya. Walaupun gerakan zig zag semacam itu dapat meninggalkan banyak celah, namun gerakan zig zag sangatlah efektif untuk jurus atau serangan yang mengandalkan kecepatan.
Seperti...
"Jurus pedang penghancur matahari tingkat 4." Rendita mengangkat pedangnya tinggi tinggi lalu mengayunkannnya kencang hingga menghantam dada Ki Karsa dan membuatnya terpental sekitar 10 meter.
Darah segar mengucur deras keluar dari dada Ki Karsa. Kakek tua itu berusaha berdiri tapi rasa sakit membuatnya tak dapat menyeimbangkan tubuhnya dan kembali jatuh dalam posisi terduduk.
"Akhirnya pedang mainan ini bisa aku ambil darimu." Rendita melesat merebut pedang Ki Karsa yang tidak lagi berada di tangan Ki Karsa melainkan tergeletak di atas tanah.
Dia mengambil pedang tersebut lalu segera kembali ke posisi awalnya dan mengatur kuda kudanya untuk berjaga jaga jika ada serangan tiba tiba yang mengarah kepadanya.
Dan benar saja, pedang Sagalu tiba tiba sudah berada di dekat leher Rendita. Hanya tinggal beberapa jengkal lagi dan pedang itu akan memenggal lehernya. Rendita pun lekas menebaskan pedangnya ke pedang Sagalu sebelum sempat menyentuh lehernya lalu melompat mundur kebelakang cukup jauh.
Dia mengatur napasnya sebelum kemudian mengeluarkan auranya untuk menekan Sagalu dan memberinya waktu setidaknya beberapa menit untuk memulihkan tenaga dalamnya yang sudah sangat terkuras.
Rendita memang dapat mengalahkan Ki Karsa akan tetapi bertarung dengan seseorang yang memiliki level lebih tinggi tetaplah akan menghabiskan tenaga dalam dalam jumlah yang tidak sedikit.
Saat Rendita masih memulihkan tenaga dalamnya, dia melihat sekelilingnya dan mendapati bahwa sebagian besar pasukannya sudah meregang nyawa dan hanya tersisa beberapa orang dengan luka yang cukup parah.
Setelah tenaga dalamnya sudah agak pulih, dia menarik kembali auranya kemudian memeriksa pedang yang tadi direbutnya dari Ki Karsa.
"Tunggu ini bukan pedang kelinci sakti, ini hanya pedang biasa." Rendita tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ada rasa malu sekaligus marah bercampur di hatinya karena telah salah mengambil benda.
"Memangnya menurutmu apa?." Ucap Sagalu sebelum tersenyum mengejek.
Dia sudah tahu bahwa Ki Karsa tidak pernah lagi terlihat bertarung menggunakan pedang kelinci sakti sejak Sagalu dan Putri Gelona tiba di sekte kelinci bambu Ki Karsa. Terakhir kali Ki Karsa menggunakan pedang pusaka itu saat dia membantu Sagalu saat melawan pendekar dari sekte tengkorak hitam.
"Kau masih muda tapi matamu sudah tua ya." Timpal Walangka yang sudah sadar sesaat sebelum berlari mendekati Ki Karsa dan Sagalu.
Dia memegang dada Ki Karsa yang sudah ditutupi oleh darah berniat untuk menahan darah yang terus keluar. Dia menutup matanya dan tanpa sadar mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Ki Karsa dan perlahan menyembuhkan lukanya.
"Cucuku ternyata memang sangat berbakat, tetapi mengapa tenaga dalamnya aneh sekali, begitu hangat dan sangat cepat menutup luka lukaku. Ciri ciri tenaga dalam seperti ini hanya ada satu jawabannya, energi naga bintang!." Gumam Ki Karsa dalam hati sambil menatap Walangka bangga sekaligus penasaran.
"Be..beraninya kalian menipuku, akan kupastikan kematian kalian menjadi siksaan terberat dalam hidup kalian!!!." Ucap Rendita geram sambil melempar pedang Ki Karsa ke udara. Dia meluapkan tenaga dalamnya hingga menyelimuti seluruh area pertempuran. Dia benar benar tidak peduli jika auranya akan ikut berdampak bagi pasukannya yang tersisa.
Para murid kelinci bambu yang kebanyakan masih tingkat awal menjadi kesulitan bernapas dan beberapa bahkan tak sadarkan diri karena tak kuat menahan tekanan aura Rendita.
"Sial, ternyata dia masih memiliki tenaga dalam sebesar ini." Ucap Sagalu pelan. Dia mengeluarkan auranya dan mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya agar tidak bernasib sama seperti yang lain.
Ki Karsa sendiri membuat dinding pelindung untuk menahan aura Rendita. Karena tenaga dalamnya belum pulih seutuhnya, dia hanya bisa membuat dinding tenaga dalam untuk dirinya dan Walangka saja.
Mata Rendita kian memerah saat tenaga dalamnya kian banyak yang dia gunakan. Otot otot di seluruh tubuhnya juga membesar bersamaan dengan terlihatnya urat uratnya.
Perasaan belas kasihannya pun sepertinya menghilang dan hal itu semakin diperkuat saat dia menyerang murid murid kelinci bambu secara membabi buta bahkan menyerang pasukannya sendiri.
"Tu..tuan Ren..Rendita." wajah salah satu anak buah Rendita tiba tiba berubah menjadi sangat pucat ketika Rendita melesat ke arahnya dengan senyuman menyeringai tersungging di wajahnya.
Tubuh anak buah Rendita itu kemudian terbelah menjadi dua namun potongan potongan tubuhnya terus bertambah sampai tercerai berai sebab Rendita yang tak berhenti menebaskan pedangnya.
Rendita kemudian melanjutkan perbuatannya itu kepada semua yang disekitarnya tak terkecuali anak buahnya yang lainnya termasuk murid murid kelinci bambu.
Bulu kuduk Sagalu, Walangka dan Ki Karsa berdiri melihat pemandangan sadis itu. Mereka tak dapat melakukan apa apa sebab tenaga dalam mereka yang nyaris habis juga tubuh mereka yang sudah kehabisan tenaga. Walangka yang tak pernah melihat pemandangan semacam itu merinding diikuti dengan tubuhnya yang yang kaku tak bisa digerakkan.
__ADS_1
"Dengan kekuatan seperti itu kita bertiga mengeroyoknya pun mungkin tak akan bisa melawannya, tunggu dulu dimana Arkasari, bukankah gadis itu sering membaca buku tentang berbagai jurus spesial dari berbagai macam sekte, dia akan sangat membantu jika memberitahu yang lain tentang kelemahan jurus pedang penghancur matahari milik Rendita?!." Pikir Ki Karsa.
Ki Karsa menoleh ke Walangka. "Walangka, tolong carikan Arkasari dan minta dia memberitahumu apa kelemahan jurus yang digunakan oleh Rendita?!." Ucap Ki Karsa.
"Hah, mencari cewek galak itu?." Ucap Walangka sambil mendengus kesal.
"Ya cepatlah!." Ki Karsa lalu membuka pelindung tenaga dalamnya sedikit sebagai pintu keluar Walangka.
Dengan langkah yang agak berat, Walangka beranjak dari tempat Ki Karsa menuju tempat Arkasari menggunakan formasi benteng bambu kuning tadi. Dia berlari dengan langkah gontai dan tidak serius seakan akan seperti seseorang yang sudah berlari dalam waktu yang amat lama dan sudah mencapai batasnya.
Namun pemandangan yang dilihatnya setelah tiba di sana membuatnya mengernyitkan dahinya. Semua teman teman Arkasari sedang terkapar tak sadarkan diri sementara Arkasari tak terlihat dimana mana.
Dia mencoba mencari Arkasari di tempat lain dan kembali melangkahkan kakinya menyusuri hampir seluruh sudut area pertempuran kecuali area di sekitar Rendita dan tentu saja tetap waspada karena bagaimanapun juga pertempuran masih belum berakhir.
Sesekali dia menutup hidungnya sebab bau anyir darah yang sangat menusuk hidung tercium di seluruh area pertempuran.
Selagi Walangka masih sibuk mencari cari Arkasari, Sagalu dan Ki Karsa nampaknya sedang berusaha mencari celah untuk menyerang Rendita yang sudah mulai menyudahi pembantaiannya.
Pemuda bermuka dingin itu sedang berdiri tegap dengan darah orang orang yang dibunuhnya di seluruh permukaan kulit tubuhnya. Bajunya yang semula berwarna hitam sekarang dipenuhi oleh warna merah pekat.
Dia kemudian menancapkan pedangnya di tanah lalu merendahkan tubuhnya bertumpu pada pedang tersebut. Napasnya terdengar tersendat sendat.
"Mengerikan, inikah kekuatan sebenarnya wakil ketua sekte hyena abu abu." Ucap Sagalu dan Ki Karsa pelan.
"Bahkan setelah aku membunuh semua orang yang ada disini aku masih tidak mendapatkannya." Ucap Rendita sambil merapatkan giginya. Dia kemudian menarik pedangnya lalu menaruhnya di pundaknya.
"Ki Karsa, beritahu dimana pedang mainan itu kau sembunyikan, atau pedangku ini akan membantu mempercepat berakhirnya umurmu itu!!!." Teriak Rendita
"Jangan sombong dulu dasar hyena kecil, binarang peliharaan sepertimu tak layak membunuh manusia sepertiku!!!." Balas Ki Karsa.
"Tetua, dimana satrayara?, bukankah dia salah satu anak muridmu yang cukup berbakat?, jika kita bertiga menyerangnya bersamaan mungkin masih ada harapan." Ucap Sagalu setengah berbisik.
"Kalau begitu aku akan menahannya, kau cari satrayara, pergilah ke arah barat dan cepat!." Ucap Ki Karsa menyetujui usul Sagalu.
"Mari aku tunjukkan bagaimana cara seseorang yang kau sebut binatang peliharaan mengakhiri hidupmu!." Ucap Rendita sebelum merapal jurusnya. "Jurus pedang penghancur matahari tingkat 4."
"Pedang bambu tingkat 7." Ki Karsa ikut melepaskan jurusnya.
Suara pedang berbenturan terdengar berkali kali diikuti dengan beberapa ledakan kecil yang terjadi sebab benturan dari kedua tenaga dalam itu. Pertarungan itu terlihat cukup berimbang jika dibandingkan dengan pertarungan yang sebelumnya.
Kecepatan luar biasa yang kedua pendekar beda generasi itu tunjukkan benar benar sulit diikuti oleh mata. Mereka saling mengincar titik vital satu sama lain. Pedang mereka bahkan sudah retak sebab tak berhenti beradu.
"Bukankah ini suara milik senior Sagalu?." Gumam Satrayara begitu mendengar teriakan Sagalu.
"Aku disini senior." Satrayara balas berteriak sambil melambai lambaikan tangannya. Sagalu lalu menoleh ke arah sumber suara dan bergegas ke sana.
"Disini rupanya kau." Sagalu membungkukkan badannya lalu mengalirkan tenaga dalamnya ke Satrayara selama beberapa saat setelah tiba di hadapannya.
Dia lalu membantu Satrayara untuk berdiri dan segera melesat secepat yang mereka berdua bisa.
"Pintar juga kau pak tua, menggunakan kecepatanmu untuk menciptakan angin di sekitarmu agar asap beracun milikku tak dapat mendekatimu." Ucap Rendita sambil tersenyum kecut. Dia mulai merasa jengkel sebab serangan asap beracunnya yang tidak dapat menyentuh tubuh Ki Karsa sedikitpun.
Ki Karsa tidak membalas perkataan Rendita dan hanya tersenyum kecil. Dia tampak lihai menghindari setiap jurus jurus Rendita serta tepat dalam memilih waktu dan menemukan celah untuk menyerang balik.
Terlepas dari kenyataan bahwa Rendita adalah salah satu lawan yang paling tangguh untuknya, Ki Karsa tetap mampu membuat Rendita kerepotan dengan gerakan gerakan menipu juga trik trik miliknya.
"Ajian hati naga tingkat 2." Sagalu tiba tiba muncul di belakang Rendita dan segera menghujamkan pedangnya disusul oleh serangan Satrayara dengan jurus pedang bambu tingkat 2.
"Sialan kalian dasar sampah tak berguna, menyingkir dari hadapanku!!!." Ucap Rendita semakin jengkel dengan Ki Karsa. Gerakannya yang sebelumnya teratur mulai menjadi asal asalan. Dia menyerang ke segala arah tanpa peduli pertahanannya akan melonggar.
"Tetua." Ucap Sagalu dibalas anggukan pelan dari Ki Karsa.
Mereka lalu berkumpul membuat sebuah segitiga, Sagalu di depan sementara Satrayara di sebelah kanan bagian belakang dan Ki Karsa di sebelah kiri bagian belakang. Mereka merapal jurus terkuat yang mereka miliki lalu membentuk kuda kuda yang sama antara satu sama lain.
"Ajian hati naga tingkat 4."
"Pedang bambu tingkat 4."
"Pedang bambu tingkat 7."
Sagalu melesat sangat cepat ke arah Rendita selama Satrayara dan Ki Karsa melesat ke arah kanan dan kiri.
"Jurus pedang penghancur matahari tingkat 5." Rendita juga mengerahkan jurus terkuatnya.
DUARRR, suara ledakan tenaga dalam yang memekakkan telinga terdengar di udara. Dua tenaga dalam beda elemen itu terus saling berbenturan. Pedang dua pendekar itu terus bergerak menghancurkan tanah di sekitarnya.
Walangka yang melihat pertarungan itu dibuat tak berkedip. Dia sangat terkesima dengan gerakan gerakan Sagalu. Matanya terus berusaha mengamati setiap gerakan Sagalu dan merekamnya di kepalanya. Dia yakin suatu saat ingatan ini akan membantunya.
__ADS_1
Di sisi lain, Ki Karsa dan Satrayara tampak mengubah arahnya menuju Rendita. Mereka ingin menyibukkan Rendita dengan Sagalu agar dapat mengeroyoknya diam diam. Namun cara seperti ini sangat berbahaya dikarenakan jika musuhnya terlalu kuat maka bisa saja yang berperan sebagai penyibuk akan mendapatkan luka serius atau bahkan mati.
"Kau menghabiskan kesabaranku!!!." Rendita meluapakan seluruh tenaga dalamnya dan mengumpulkannya di pedangnya.
"Jurus pedang penghancur matahari tingkat 5 maksimal."
Asap berwarna abu abu menyelimuti seluruh pedang dan tubuh Rendita. Rendita benar benar sudah terlihat seperti sebuah hantu asap dengan mata merah menyala.
"Jangan senang dulu Rendita!." Ucap Satrayara dan Ki karsa serempak sebelum melepaskan jurus terkuatnya masing masing.
Namun betapa terkejutnya kedua orang itu ketika pedang mereka hanya membelah udara sementara Rendita sedang berdiri di belakang mereka dengan pedangnya yang sudah menebas Sagalu.
"Cepat sekali."
Sagalu terpental cukup jauh. Dia muntah darah beberapa kali. Luka sayatan di dadanya menganga besar dan mencuatkan darah dalam jumlah yang cukup banyak.
Rendita tak berhenti di situ, dia meningkatkan kecepatannya. Tubuhnya kembali menghilang dari pandangan dan seketika sudah berada di belakang Sagalu.
Dia menusukkan pedangnya ke punggung Sagalu hingga tembus ke dadanya. Pemuda yang sudah terlihat seperti sekelebat asap abu abu itu tak memberi kesempatan sedikitpun kepada musuhnya untuk berpikir.
Rendita lalu menarik pedangnya kembali dari tubuh Sagalu setelah memastikan asap beracunnya masuk ke dalam tubuh Sagalu.
"Mati kau." Rendita mengangkat pedangnya tinggi tinggi sebagai ancang ancang untuk bersiap menebas leher Sagalu.
"Jurus pedang bambu naga." Sebuah suara merapal jurus terdengar dari mulut seorang pemuda berumur 12 tahun yang sudah tak asing lagi di telinga Ki Karsa, Sagalu dan Satrayara. Pemuda itu sedang berdiri di hadapan Rendita dengan pedang menahan pedangnya.
"Walangka, tubuhmu masih tak dapat menahan efek dari jurus itu, tak perlu memaksakan dirimu, biar aku saja yang bereskan pengganggu ini." Teriak Ki Karsa mencoba menenangkan Walangka.
"Kubunuh kau!!!." Teriak Walangka tanpa memedulikan ucapan Ki Karsa.
"Benar juga, kau masih belum mati ya, setelah aku membunuh pengguna ajian hati naga itu aku juga akan membunuhmu."
Rendita melompat ke belakang untuk mengatur napas namun Walangka tak membiarkannya dan mengejar Rendita.
Dia terus menyerang Rendita tanpa memberinya waktu sedikitpun untuk beristirahat. Hanya dalam beberapa tarikan napas Rendita sudah terpojok oleh Walangka.
Bukan tanpa alasan dia bisa terpojok, kecepatan dan kekuatan Walangka yang semula sudah cepat dan kuat menjadi bertambah 3 kali lipat setelah menggunakan jurus baru ciptaannya.
Setiap serangannya menjadi semakin mematikan juga semakin bertambah keakuratan serta ketepatannya. Mata Walangka juga menjadi semakin tajam untuk menemukan celah celah pergerakan Rendita.
"Aku tak boleh melayani anak aneh ini terus, jika pertarungan ini terus dilanjutkan aku bisa mati." Batin Rendita sebelum melirik Sagalu. Dia pun tersenyum.
Rendita menebaskan pedangnya sekuat mungkin ke Walangka hingga terdorong. Dia lalu menebaskan pedangnya dan muncullah sebuah energi tebasan berwarna abu abu yang segera melesat sangat cepat ke arah Sagalu.
Beberapa detik kemudian, tubuh Sagalu rubuh ke tanah dengan cahaya ke abu abuan di dadanya bekas dari energi tebasan tadi.
"Paman!."
Walangka menjerit melihat paman yang dia sudah anggap sebagai ayah sendiri terkapar dengan darah mencuat liar dari dadanya membasahi tanah, dia mengalihkan pandangannya menatapi wajah Rendita dengan senyuman menyeringai itu. Ekspresi yang tidak akan Walangka lupakan seumur hidup, ketika pamannya itu mati di tangan sekte hyena abu abu.
Dia berjalan mendekati tubuh Sagalu. Air matanya mengalir membasahi wajah dan bajunya. Suasana pun tiba tiba mulai mencekam, sebuah aura pembunuh yang sangat kuat menyelimuti seluruh area pertempuran.
"A...aura da...dari si...siapa in...ini?." Ucap Rendita gemetar. Tubuhnya menjadi menggigil sebab aura membunuh itu.
"Satrayara, ini tidak mungkin aura milik Walangka kan?." Tanya Ki Karsa pelan.
"Aku tidak tahu ketua." Jawab Satrayara.
Beberapa saat kemudian, dari tubuh Walangka keluarlah aura putih yang bersinar sangat terang dan menyilaukan. Cahaya putih itu menyinari hampir seluruh area pertempuran bahkan masuk ke padepokan kelinci bambu.
Walangka sudah terlihat seakan akan seperti sebuah matahari putih yang baru terbit. Matanya juga berubah menjadi putih seputih salju.
. . .
Di sebuah gua di dalam hutan tepat di samping padepokan sekte kelinci bambu, sebuah pedang tampak sedang tertancap di sebuah batu yang berada di bagian paling dalam gua tersebut.
Pedang tersebut terlihat sudah berkarat dan usang juga dipenuhi oleh debu. Sesekali, kelelawar yang tinggal di gua itu bertengger pada pedang tersebut.
Namun tiba tiba, pedang tersebut bergetar hebat dan perlahan melayang di udara. Aura hijau pekat keluar dari pedang itu dan menyebabkan gua gelap itu berubah menjadi sedikit terang. Perlahan namun pasti, karat dan debu yang menempel di pedang tersebut perlahan sirna.
Seketika pedang tersebut segera melesat sangat cepat menuju area pertempuran hingga membuat para kelelawar panik dan berhamburan keluar gua. Pedang tersebut terbang dengan sangat cepat seakan akan sebuah kekuatan besar menariknya dengan sangat kuat.
. . .
si yuba anak serakah
si Marhab anak gembala
__ADS_1
telah tiba bulan penuh berkah
siap siap tabung pahala