Pendekar Naga Bintang

Pendekar Naga Bintang
Serangan sekte hyena abu abu


__ADS_3

"Aku harus memberitahu kakek pemarah dan memintanya agar aku tak terlibat." Walangka berlari sekuat tenaga ke dalam padepokan untuk menemui Rayaka.


"Teman temanku semua, marilah kita meramaikan malam hari ini dengan pertunjukkan penuh darah. Kita hancurkan sekte rendahan ini dengan cepat sebelum matahari menampakkan sinarnya, ayo!!!." Seseorang yang terlihat paling kuat berteriak lantang untuk menyemangati pasukannya.


Wajahnya yang terlihat sangat sangar membuat semua orang ketakutan melihatnya. Namanya Rendita, orang kedua terkuat di sekte hyena abu abu dan sudah mencapai tingkat tinggi level 3.


Dia menarik pedangnya dan bersiap melepaskan jurus pertamanya. "Jurus pedang penghancur matahari tingkat 4." Pedang rendita mengeluarkan cahaya berwana abu abu layaknya seperti sebuah asap.


Dia melempar pedangnya ke udara dan menarik tangannya. Pedang itu melesat menuju padepokan dan menghantam aula padepokan. Sebuah lubang besar dan suara ledakan menggelegar tercipta tepat setelah pedang Rendita menyentuh tanah.


Beberapa murid yang sedang berada di aula meregang nyawa tanpa tahu apa yang menyerangnya. Suasana di padepokan kelinci bambu mulai sangat riuh. Para murid kelinci bambu berhamburan keluar sekte untuk segera melakukan serangan balik dan sebagian lagi berlarian tanpa arah karena ketakutan.


Para murid hyena abu abu yang telah siap segera membentuk sebuah formasi.


"Formasi hyena mencabik mangsa, sepertinya mereka benar benar serius ingin menyerang sekte kita." Ucap salah seorang murid berbakat di sekte kelinci bambu, Satrayara.


"Kita harus memanggil tetua!." Ucap seorang teman Satrayara yang ada di sebelahnya.


"Tidak perlu, tetua pasti akan datang begitu mendengar kericuhan di dalam padepokan, lebih baik kita menahan mereka dulu." Satrayara melompat tinggi melesat ke arah Rendita dan pasukannya.


"Pedang bambu tingkat 4." Satrayara menggunakan kekuatan penuhnya agar dapat langsung menghambisi Rendita. Dia sudah mengetahui tentang Rendita yang merupakan tangan kanan Dartayura yang berati kekuatannya tak boleh diremehkan.


"Kau pikir bisa mengalahkanku hanya dengan menggunakan ilmu lemah seperti itu, kau salah!." Ucap Rendita sombong. Dia menggunakan jurus pedang penghancur matahari tingkat 2 untuk menepis serangan Satrayara.


"Hanya butuh tingkat 2 untuk menangkis serangan terkuatku?!." Ucap Satrayara tidak percaya sebelum serangan Rendita mendorongnya beberapa meter. Dia bahkan menabrak beberapa murid kelinci bambu yang berada di belakangnya.


"Sial dia terlalu kuat."ucap Satrayara sambil mengusap mulutnya yang sedang mengalirkan darah


Rendita melangkah mendekati Satrayara perlahan. Senyum mengejek terpancar dari wajah angkuhnya. Dia terlihat sangat terhibur melihat Satrayara yang sedang kesakitan.


"Kau itu tak pantas untuk menjadi seorang pendekar, kau kebih pantas menjadi seorang seorang pecundang yang setiap harinya hanya mengemis kepada orang hebat sepertiku."


"Mari kita lihat siapa yang pecundang." Satrayara bangkit dan kembali menyerang Rendita. Dia memaksa tubuhnya agar terus bergerak walaupun rasa sakit terasa di sekujur tubuhnya.


"Huahahahahaha, kau masih bisa bergerak setelah nyaris mati?, kau memang pecundang keras kepala." Rendita meningkatkan kecepatannya. Dia mengincar bagian tengkuk Satrayara.


"Jurus pedang penghancur matahari tingkat 3." Rendita melepaskan jurusnya dan muncul tepat di belakang Satrayara.


"Gawat, dia mengincar tengkukku."


Satrayara mencoba menghindar dengan melompar kebelakang tetapi pedang Rendita lebih dulu mengenainya.


Teriakan kesakitan terdengar begitu keras keluar dari mulut Satrayara. Dia mengerang kesakitan sebelum kemudian jatuh tak sadarkan diri.


"Haha mati juga akhirnya." Rendita yang salah mengira tertawa terbahak bahak.


"Apa keperluanmu disini Rendita?!." Rayaka tiba tiba muncul dan langsung melepaskan pedang bambu tingkat 2.


"Tua bangka, kau disini juga rupanya, tetapi sayang yang kucari bukan kau."


"Aku tak peduli, karena kau sudah masuk ke wilayahku maka kupastikan kau dan teman temanmu tak akan pergi dari sini hidup hidup!!!." Rayaka kembali menyerang Rendita tanpa henti.


"Jangan sombong dulu dasar tetua kelinci bodoh." Rendita juga terus melepaskan serangannya. Walaupun bukan serangan serius tetapi Rayaka terlihat kewalahan menangkis dan menghindari setiap serangan Rendita.


Pertarungan antara Rendita dan Rayaka terus berlangsung tanpa ada yang terlihat mau mengalah. Para murid kelinci bambu dan murid hyena abu abu pun terus bertempur. Genangan darah dan bau anyir yang menyengat mulai tercium dimana mana.


"Gawat sepertinya dia sudah semakin kuat."gumam Rayaka dalam hati setelah jurus Rendita menghantam dadanya.


Dalam hal kekuatan Rendita memang sudah berada diatas Rayaka. Andai Rayaka tidak mempunyai banyak pengalaman bertarung pasti sekarang nyawanya telah melayang.

__ADS_1


"Haha akan kubalas kekalahanku waktu itu kepadamu sekarang juga!." Rendita mengeluarkan aura abu abu pekat dari dalam tubuhnya. Rayaka bahkan terdorong beberapa langkah karena aura itu.


"Sepertinya kakek tua tak berguna ini akan berakhir disini."ucap Rayaka pasrah.


"Jurus pedang penghancur matahari tingkat 5." Rendita menghilang dari pandangan membuat Rayaka melompat mundur. Rendita muncul kembali di sebelah kanan Rayaka dan mencengkram tangan kanannya.


"Mati kau!."


Beberapa detik kemudian, leher Rayaka sudah terpisah dari tubuhnya. Sebagian Darahnya yang tersembur keluar pun terciprat ke wajah Rendita.


Rendita tertawa menyeringai sesaat sebelum menancapkan pedangnya di tubuh Rayaka.


"Te...tetua." Sagalu dan Walangka yang baru tiba di gerbang padepokan menatap tubuh Rayaka tak percaya. Mereka bisa memperkirakan kekuatan Rendita yang mungkin setara dengan Ki Karsa.


"Aku harus membantu yang lain!."


"Jangan paman kondisi paman masih belum memungkinkan untuk bertarung!."


"Apa aku punya pilihan lain?, tidak mungkin aku hanya duduk manis dan menonton mereka yang sedang berjuang mati matian, aku akan ikut!."


Sagalu melesat ke area pertempuran sebelum Walangka sempat menahannya.


"Payah." Ucap Walangka kesal. Dia terpaksa ikut melesat ke area pertempuran untuk memastikan keamanan sagalu.


"Setidaknya paman tidak boleh terluka parah karena pertempuran bodoh ini." Gumam Walangka.


Beberapa pendekar hyena abu abu yang melihat kedatangan Walangka segera mengeroyoknya.


"Pedang bambu tingkat 1."


Walangka bergerak cepat melumpuhkan beberapa musuhnya. Pedangnya terus berayun dan menebas setiap musuh musuhnya.


"Akan kubalaskan dendam tetua!." Sagalu yang sudah berada di dekat Rendita segera melancarkan serangannya.


"Formasi hyena melindungi raja."


Para pendekar hyena abu abu yang ada di sekitar Rendita tiba tiba mengelilingi Rendita dan membentuk sebuah formasi.


"Formasi seperti apapun tak akan pernah menghentikanku!!!."


. . .


Di sekte Singa bara api, Kuyung Sentan tampak sedang berbincang bincang dengan Lemang Kupa. Perbincangan serius itu sudah berlangsung selama hampir sehari penuh.


"Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan oleh ketua dan guru ya?." Salah seorang murid kuyung sentan bertanya kepada temannya.


"Mana kutahu, itu urusan para tetua, toh tugas kita kan cuma berlatih siang malam." Jawab temannya.


"Apa mungkin ini masih ada hubungannya dengan guru Lingga ya?."


"Kau ini pengen tahu sekali ya, kalo mau dapat jawaban pasti tanya saja pada guru."


"Eeeeh, mana berani aku."


"Kuyung Sentan sedang berbicara dengan Lemang Kupa?." Kuyung Garaga tiba tiba muncul di dekat kedua murid itu.


"Hormat pada guru Garaga." Kedua murid itu membungkuk memberi hormat. Mereka terlihat agak gelagapan sebelum menjawab pertanyaan Kuyung Garaga.


"Ya tetua, yang kami dengar sih begitu." Jawab Kedua murid itu terbata bata.

__ADS_1


"Ya sudah aku mau bertemu murid murid yang lain dulu." Ucap Kuyung Garaga. Dia kemudian menghilang dari pandangan.


"Jurus apa yang digunakan guru Garaga?."


"Apa kau tak tahu, kudengar baru baru ini guru Garaga menemukan sebuah kitab aneh dengan jurus aneh di dalamnya yang memungkinkan seseorang untuk bergerak sangat cepat hingga terlihat seperti menghilang."


"Kau ini memang tukang gosip ya." Salah satu murid itu pergi meninggalkan yang satunya sendirian.


"Hei hei jangan tinggalin aku sendiri dong." Murid itu segera menyusul temannya.


"Sepertinya beritanya telah tersebar." Kuyung Garaga menggaruk dagunya.


Selang beberapa saat kemudian, Kuyung Sentan akhirnya keluar dari ruangan Lemang Kupa dengan Raut wajah yang sangat serius. Beberapa murid yang melihatnya tak berani menatap apalagi menyapanya.


Kuyung Garaga yang penasaran memutuskan untuk keluar dari balik tiang penyangga dan menghampiri Kuyung Sentan.


"Saudaraku Kuyung Sentan, apa ada masalah denganmu?." Sapa Kuyung Garaga sambil tersenyum hangat.


"Ah Kuyung Garaga, kau sudah kembali rupanya, mari kita duduk dulu." Ucap Kuyung Sentan. Dia merangkul pundak Kuyung Garaga lalu melangkah bersama menuju sebuah bangku panjang yang ada di aula.


"Apa yang kau temukan di sana?." Tanya Kuyung Sentan setelah mereka berdua duduk.


"Aku tak menemukan apa apa disana, hanya tulang belulang dan beberapa pedang biasa."


"Kau yakin?."


"Tentu saja, memangnya ada apa?."


"Tidak, mungkin hanya perasaanku saja." Kuyung Sentan melirik Kuyung Garaga Curiga. "Apa yang disembunyikan Kuyung Garaga dariku, apa mungkin kabar yang beredar itu benar?." Pikirnya.


"Bagaimana dengan keadaan sekte?, apa terjadi sesuatu selama aku pergi?."


"Tidak, tidak terjadi apa apa, tak usah khawatir." Jawab Kuyung Sentan.


"O iya Kuyung Sentan, apakah kau tahu dimana pemilik energi naga bintang lahir dan siapa dia?."


"Pemilik energi naga bintang?."


"Iya, kata kakang Kupa pemilik energi naga bintang telah lahir sejak dua belas tahun yang lalu dan saat ini Kuyung Batar ditugaskan untuk mencari keberadaan anak itu dan membawanya ke sekte ini untuk dilatih dan dipersiapkan agar mampu mencegah kebangkitan sekte setan maut."


"Aku sudah tahu itu, yang kubingungkan adalah mengapa Kuyung Lingga selalu menyebut nyebut soal itu."


"Kuyung Lingga?."


"Ya, apa mungkin dia mengetahui siapa dan dimana anak itu?."


"Mungkin juga itu, tetapi sepertinya kemungkinannya kecil, mungkin saja dia hanya mulai mengalami gangguan mental karena dipenjara bertahun tahun."


"Yah mungkin saja." Kuyung Sentan menghela napas sebelum menepuk pundak Kuyung Garaga. "Kau istirahatlah dulu dan pulihkan tenagamu."


"Ya terimakasih." Kuyung Garaga bangkit dan melangkah ke ruangannya.


"Aku tidak ingin kita menjadi musuh Kuyung Garaga, aku akan cari cara untuk membebaskanmu dari ajian terkutuk itu, tetapi sebelum itu aku terpaksa harus menjebakmu, kuharap kau mengerti."


Kuyung Sentan menatap sedih Kuyung Garaga. Tangannya terkepal menampakkan kemarahannya yang tertuju pada satu hal, sekte setan maut. "Akan kuhancurkan kalian sehancur hancurnya!!!."


--------------


Para pembaca yang terhormat, mohon maaf karena PNB tidak rajin update. Ada beberapa halangan yang membuat saya tidak dapat mengetik. Mungkin bulan mei baru saya bisa rajin up. terimakasih

__ADS_1


__ADS_2