Pendekar Naga Bintang

Pendekar Naga Bintang
Kebangkitan energi naga bintang


__ADS_3

Pedang dengan gagang hijau tua berbentuk kepala kelinci itu terbang dengan sangat cepat seakan akan ditarik oleh sebuah kekuatan yang sangat besar.


"Apa itu, cepat sekali terbangnya?." Ucap Sagalu sambil mendongakkan kepalanya.


"Kekuatan ini, jangan jangan..." Ki Karsa menggantung ucapannya menyadari sebuah energi yang sangat dikenalnya menuju ke tempatnya.


Pedang itu terus melesat dan akhirnya melambat setelah mendekati Walangka dan kemudian diraih oleh Walangka. Pemuda itu mengangkat kepalanya sedikit menatap Rendita dengan tatapan iblis. Rendita yang melihat tatapan Walangka kepadanya bergidik ngeri seolah olah Walangka seperti seekor harimau yang siap kapan saja menerkamnya.


"Kubunuh kau!." Ucap Walangka sebelum berjalan pelan mendekati Rendita. Rendita berusaha bergerak menjauhi Walangka namun tubuhnya kaku tak dapat digerakkan sebab pancaran aura yang sangat kuat dari Walangka terus menerus menekannya.


Mulutnya terkunci tak dapat mengatakan sepatah kata apapun. Hanya matanya yang terlihat hampir keluar dari tempatnya tidak percaya melihat seorang pemuda yang baru saja belajar silat mengalahkan ilmunya yang telah dia latih selama bertahun tahun hanya dengan hitungan jam.


Rendita menggerutukkan giginya, dia tidak menyangka nama yang telah dia dapatkan susah payah di dunia persilatan tidak ada artinya di hadapan seorang pemuda yang bahkan belum tahu cara menggunakan pisau untuk bertarung.


"Tidak aku belum boleh menyerah, aku tidak mungkin kalah dari bocah ini, tidak mungkin!." Gumam Rendita. Dia berusaha sekuat tenaga menggerakkan tangannya.


"Kubunuh, kubunuh!."


Walangka menebaskan pedangnya tanpa ampun. Tebasan dengan kecepatan tak dapat dilihat mata itu hampir membelah tubuh Rendita andai dia tidak berhasil menggerakkan pedangnya untuk menepis serangan itu.


Rendita menghembuskan napasnya sedikit lega, walaupun serangan Walangka barusan membuatnya terdorong beberapa meter namun setidaknya tubuhnya tak


terbelah menjadi dua.


Walangka terus maju menyerang Rendita, pertarungan berat sebelah pun terjadi. Hanya dalam beberapa detik saja, Rendita sudah mendapatkan puluhan luka sayatan di hampir seluruh bagian tubuhnya.


Ketika dia hendak mengatur napasnya yang telah tak beratutan, Walangka memaksanya untuk mengurungkan niatnya itu dengan serangan tiba tiba dari arah yang susah ditebak. Kejadian itu tak berhenti berulang.


Lama kelamaan, Gerakan Rendita menjadi tak beraturan dan meninggalkan banyak celah. Walangka menjadi semakin mudah untuk menyerangnya.


Pupuslah sudah harapan Rendita untuk meluluh lantakkan sekte kelinci bambu dan membawa pulang pedang kelinci sakti. Justru sekarang, pedang kelinci sakti itulah yang digunakan untuk mengalahkannya.


Keringat dingin membasahi wajahnya. Senyuman menyeringai yang biasa dia tunjukkan bertukar dengan senyuman pucat penuh ketakutan.

__ADS_1


"Kubunuh kau!." Walangka menatap tajam Rendita. Dia melompat ke arah musuhnya itu dan bersiap melepaskan jurus pedang bambu tingkat 1.


Menyadari sudah tidak dapat menghindar lagi, Rendita mau tidak mau harus menyambut serangan tersebut meskipun dia yakin tak akan dapat menahan serangan tersebut sepenuhnya.


JLEEP, suara pedang menembus tubuh manusia terdengar samar samar. Pedang Walangka sudah bersarang di tubuh Rendita. Darah mengucur sangat deras dari tubuh pemuda dingin itu. Kehidupannya berakhir di tangan seorang bocah sangat memalukan bagi seorang pendekar sepertinya namun apa daya.


"Kubunuh, kubunuh!." Walangka menarik pedangnya yang tertancap di dada Rendita. Matanya menyapu keadaan sekitar bagaikan seekor hewan buas yang sedang mencari mangsa. Begitu dia menemukan seseorang, dia langsung melesat ke tempat orang tersebut.


Ki Karsa yang melihat perilaku aneh Walangka tersebut ikut melesat ke orang yang dituju Walangka khawatir Walangka akan melakukan hal yang tak diinginkan.


TRANGGG, suara pedang beradu terdengar di udara. Dugaan Ki Karsa benar, Walangka mulai mengamuk seperti saat Sagalu sedang dirasuki ajian hati naga.


"Satrayara, cepat totok titik inti tenaga dalam Walangka!." Perintah Ki Karsa.


"Baik." Satrayara mengikuti instruksi Ki Karsa dan segera bergerak ke arah Walangka. Matanya mencari cari titik inti tenaga dalam Walangka. Titik inti tenaga dalam adalah pusat dari aliran tenaga dalam di tubuh seorang pendekar layaknya jantung yang sedang memompa darah.


Setelah cukup lama mencari, Satrayara akhirnya menemukan titik inti tersebut. Dia berjalan mengendap endap berusaha mencari kesempatan untuk menotok titik intinya.


"Cepat!." Ucap Ki Karsa.


Walangka pun jatuh tersungkur ke tanah tak sadarkan diri. Aura dan cahaya putih yang menyelimuti tubuhnya perlahan ikut lenyap.


"Ketua, ini bukan efek dari ajian hati naga kan?." Tanya Satrayara.


"Kita bicarakan nanti, sekarang kita urusi dulu urusan yang lebih penting!." Jawab Ki Karsa lalu mengangkat tubuh Walangka.


. . .


Pagi ini, matahari baru menampakkan sinarnya tetapi halaman belakang padepokan sekte kelinci bambu sudah dipenuhi oleh murid murid kelinci bambu yang tersisa dari pertempuran dengan sekte hyena abu abu.


Mereka terlihat mengelilingi beberapa makam yang merupakan anggota kelinci bambu yang diantaranya adalah Rayaka, wakil ketua sekte kelinci bambu.


Semua murid termasuk Ki Karsa tampak sedang memberi penghormatan terakhir. Gurat guratan penuh kesedihan dan penyesalan terpancar dari wajah wajah mereka.

__ADS_1


Hampir sama dengan yang lainnya, Walangka juga mengalami kesedihan yang sama atau bahkan melebihi yang lainnya. Dia berdiri terpisah dengan yang lain, tepatnya di makam Sagalu.


Rasa marah bercampur sedih dan menyesal memenuhi dadanya. Tangannya memegang erat batu nisam bertuliskan Sagalu dari sekte singa bara api. Dalam hati dia bersumpah akan menghancurkan sekte hyena abu abu hingga tak tersisa untuk membalaskan dendam pamannya itu.


Angin pagi bertiup sunyi seolah menandakan gugurnya para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawa untuk sekte kelinci bambu. Angin pembawa pesan kematian itu menambah perasaan sedih semua orang yang ada disana.


Satu jam berlalu, murid murid sudah kembali ke padepokan. Suasana ramai mulai kembali tercipta di sekte kelinci bambu. Semua murid sedang sibuk dengan tugasnya masing masing. Beberapa sedang memperbaiki kerusakan padepokan dan sebagian lagi sedang mengobati yang terluka.


"Maaf ketua, bagaimana jika kita melakukan pembicaraan yang tadi?." Tanya Satrayara pada Ki Karsa. Mereka berdua sedang duduk mengawasi para murid yang sedang melakukan perbaikan.


"Yang mana?." Balas Ki Karsa bingung.


"Yang ituloh ketua, apakah Walangka tadi mengamuk karena ajian hati naga atau ada sebab lain?." Ucap Satrayara mencoba mengingatkan Ki Karsa.


"Memangnya tadi Walangka mengamuk?." Tanya Ki Karsa sambil mencoba mengingat ingat kejadian tadi malam.


"Apa jangan jangan pedang Rendita sempat membentur kepala ketua ya." Gumam Satrayara dalam hati sambil menggeleng gelengkan kepalanya pelan.


"Kalo begitu kita bicarakan ini nanti sajalah ketua." Ucap Satrayara berniat menyudahi pembicaraan.


"Tunggu tunggu, aku ingat sekarang." Ucap Ki Karsa berusaha mencegah Satrayara untuk pergi.


"Jika dilihat dari perilakunya itu memang mirip seperti kerasukan ajian hati naga namun ada hal yang paling menonjol yang harus diperhatikan." Ki Karsa mulai menjelaskan.


"Apa itu ketua?."


"Kalau itu karena ajian hati naga, harusnya tubuhnya diselimuti oleh api bukannya cahaya putih, selain itu juga matanya harusnya memerah semerah darah bukannya memutih seputih salju."


"O iya, tentang cahaya putih itu sepertinya bukan tenaga dalam biasa, benarkan ketua?."


"Haaah, sebenarnya inilah yang membuatku penasaran dari kemarin, jika aku tidak salah mungkin saja itu adalah energi spesial yang hanya muncul setiap 170 tahun sekali, energi naga bintang."


"APA, ENERGI NAGA BINTANG???!!!." Teriak Satrayara kaget namun segera ditutup mulutnya oleh Ki Karsa agar tidak kedengaran oleh yang lainnya.

__ADS_1


"A...apakah itu benar ketua?." Tanya Satrayara setengah berbisik.


"Ini hanya dugaanku saja, nanti aku akan pergi ke tempat temanku untuk memastikannya." Jawab Ki Karsa sebelum tersenyum kecil.


__ADS_2