
Matahari baru terbit di sekte Singa Bara Api. Dia saat semua murid mulai berlatih, Kuyung Sentan terlihat sedang menatapi selembar surat di tangannya. Surat yang didapatkannya dari murid Singa Bara Api yang mengaku diberikan oleh orang bertopeng dan ditujukan untuk Kuyung Sentan.
"Temui aku di tengah hutan, datanglah sendirian dan jangan beritahu surat ini ke siapapun atau sekteku akan bertindak." Ucap Kuyung Sentan membaca tulisan surat yang dibuat dari darah tersebut. Dia lalu memerhatikan gaya tulisan surat itu.
"Mengapa dia mengirimiku surat seperti ini, terlebih menggunakan darah." Kuyung Sentan memejamkan matanya untuk berpikir sejenak. Dia membaca surat itu kembali sebelum menarik kesimpulan.
"Sepertinya dia memang sudah menyadarinya, ya sudahlah toh memang sebentar lagi saatnya." Kuyung Sentan tersenyum kecil. Dia bangkit dan keluar ruangannya menuju hutan sebelah padepokan sekte Singa Bara Api.
Matahari telah berada hampir tepat di atas kepala. Setelah puas mengelilingi dan mengamati hutan, Kuyung Sentan segera kembali ke ruangannya. Dia memang sering datang ke hutan tersebut tetapi jarang mengamatinya dan memerhatikannya. Sekarang dia telah memahami detail letak benda benda yang ada di hutan itu termasuk jalan jalan yang bisa dilalui di sana.
"Jalan kabur hanya ada tiga, kemungkinan penjagaan adalah di bagian sini........" Kuyung Sentan sibuk mengatur rencananya melalui peta yang dia buat berdasarkan detail detail hutan. Demi membuat rencana yang tepat tanpa kesalahan sedikitpun, dia melarang siapapun untuk masuk ke ruangannya.
Di sisi lain Kuyung Batar sedang berjalan ke ruangan Kuyung Sentan. Dia berniat untuk menemui sahabatnya itu. Dia menjadi bingung ketika sampai di ruangan Kuyung Sentan namun tak diperbolehkan masuk oleh murid murid yang bertugas menjaga ruangan.
"Guru Sentan sedang ada urusan penting, mohon Guru Batar sabar menunggu." Ucap murid itu sopan. Karena tak diperbolehkan masuk, Kuyung Batar kemudian memutuskan untuk menemui Lemang Kupa.
"Sepertinya yang dikatakan Kuyung Garaga dan kakang Kupa memang benar." Kuyung Batar tertunduk lesu. Kecurigannya pada Kuyung Sentan yang semakin besar dan terbukti benar benar membuatnya sedih.
(Tadi malam, saat Kuyung Batar menemui Kuyung Garaga)
"Mengapa kau menemuiku malam malam begini Batar?" Tanya Kuyung Garaga sopan. Meski sekarang dia tak di pihak yang sama dengan sekte Singa Bara Api, dia masih menghormati dan menganggap sahabat sahabatnya sebagai saudaranya.
"Maaf Kuyung Garaga aku tak punya banyak waktu disini, aku hanya akan menanyaimu satu hal."
"Baiklah tanya saja."
"Apa kau masih ingat saat kita di kerajaan Kertayuba untuk menjemput Kuyung Sentan, saat itu kau tiba tiba bertindak aneh dan mengatakan eh emmmmmmmmmmm, ah lupakan intinya apa kau sudah menyadari ada yang tidak beres dengan Kuyung Sentan sejak dua belas tahun yang lalu?"
"Kau baru menyadarinya sekarang setelah dua belas tahun?, kelihatannya kepintaranmu dibawah rata rata." Ejek Kuyung Garaga.
__ADS_1
"Aku tak punya waktu untuk berdebat denganmu Garaga, jawablah yang jelas!."
"Ada banyak hal yang belum kau dan semua orang di dunia persilatan ini ketahui Batar, seperti....." Kuyung Garaga tampak ragu melanjutkan ucapannya. "Ah pokoknya aku merasa ada yang aneh dengan Kuyung Sentan sejak dua belas tahun yang lalu tetapi aku tak dapat memastikannya dengan jelas."
(Kembali ke saat ini)
"Memastikannya, benar aku akan memastikan bahwa Sentan tidak kenapa kenapa." Kuyung Batar mengangkat kepalanya lalu mempercepat langkahnya.
. . .
Walangka membuka matanya perlahan. Dia menemukan dirinya sedang terbaring di ranjang kasar milik Ki Jagalang. Dia berusaha untuk duduk namun rasa sakit akibat tulang tulangnya yang patah memaksanya untuk tidak bergerak.
"Sudah bangun, kukira kau baru bisa bangun besok atau beberapa hari lagi." Ki Jagalang melangkah masuk gubuk sambil membawa semangkuk ramuan obat untuk muridnya.
"Guru apa yang terjadi?" Walangka memegang kepalanya yang sakit. "Bagaimana dengan Mpu Durga?"
"Kau masih bisa memikirkan orang lain bahkan setelah tubuhmu rontok." Ki Jagalang menaikkan sebelah alisnya dengan wajah mengejek sebelum meletakkan mangkuk berisi ramuan obat di samping ranjang.
"Akan kuberikan kau hukuman jika kau meremehkanku lagi" Ki Jagalang menatap tajam Walangka hingga membuatnya menelan ludahnya.
"Sejak awal aku memang tidak berencana menang darinya, aku diam diam memakan sarang madu Lebah Perang yang telah dicampur dengan obat obatan lainnya di saat napas terakhirku."
"Kenapa guru melakukan hal tersebut?"
"Karena itulah satu satunya cara agar kau dapat memahami dan menggunakan pernapasan ikan terbang dengan sempurna."
"Hah?" Walangka memiringkan kepalanya.
"Aku sebenarnya sedikit terkejut kau bahkan memahami sampai ke jurusku juga tapi sebenarnya dulu aku juga menemukan cara menggunakan pernapasan ikan terbang yang benar dengan cara seperti ini."
__ADS_1
"Dan juga ujian terakhirnya adalah ini."
"Ujian terakhirnya....emmmmm, jadi aku sudah bisa keluar gunung?" Tanya Walangka dengan bersemangat. Ki Jagalang tentu saja langsung mengangguk mengiyakannya.
"Tapi tentu saja kau akan keluar setelah tubuhmu pulih dan kondisimu membaik." Ucap Ki Jagalang dibalas anggukan Walangka.
"Kita akan segera bertemu lagi, Hyena Abu Abu." Batin Walangka.
. . .
"Apa semua sudah selesai dengan persiapan?"
"Sudah ketua"
"Bagus." Lemang Kupa berjalan menuju hutan. Gelapnya malam di tengah hutan membuat beberapa muridnya berniat memakai obor namun dicegah olehnya. Begitu juga dengan Kuyung Batar yang telah siap menunggu di dalam hutan bersama murid muridnya. Mereka semua bersiap untuk mengungkap dan menjebak Kuyung Sentan.
Tak perlu waktu lama untuk Kuyung Sentan datang ke hutan itu. Semua yang melihat dari kejauhan segera bersiap untuk mengepung salah satu tetua sekte Singa Bara api tersebut.
"Kuyung Sentan apa yang kau lakukan malam malam disini?" Lemang Kupa muncul dari balik pepohonan sambil berpura pura bertanya.
Kuyung Sentan menghentikan langkahnya. "Kakang, aku sedang mencari angin lalu apa yang sedang kau lakukan juga disini?"
"Seorang murid kabur ke arah hutan dan aku sedang mancarinya." Lemang Kupa perlahan berjalan ke Kuyung Sentan. "Apakah kau mau membantuku?"
"Tentu saja." Balas Kuyung Sentan sebelum kemudian sebuah panah melesat dan menancap ke pohon di belakangnya. "Serangan?"
Semua murid termasuk Karayan dan Kuyung Batar lansung muncul dari balik semak dan pepohonan dan membentuk formasi pengepungan.
"Kau bukan Kuyung Sentan!"
__ADS_1
. . .
selamat malam semuanya dan selamat membaca. o iya maaf kalau novel ini terlalu bertele tele atau mungkin terlalu banyak plot twist gak penting?๐ yah pokoknya terimakasih banyak untuk yang sudah membaca dan melike atau menlike atau mengelike novel ini. maaf karena updatenya lama masalah dunia nyata gk abis abis kyk sinetron soalnya, semoga kalian semua sehat sehat ya, biar terus ngebaca dan biar ni novel cepet cepet diterima kontrak. terimakasih๐๐๐