
"Beratnya." Walangka membaringkan Arkasari yang telah tertidur perlahan di tanah. Dia lalu menyandarkan tubuhnya di salah satu sudut gua, berniat mengistirahatkan tubuhnya.
Dia menoleh ke arah mulut gua memandang hujan deras yang memaksanya untuk berteduh di gua sempit itu.
Tiba tiba, rasa kantuk yang teramat sangat menyerang dirinya. Dia berusaha menahan matanya itu tertutup namun akhirnya dia terlelap. Rasa lelah berhadapan dengan lebah perang membuat rasa kantuk bergejolak pada dirinya.
. . .
"Siapa kau, mengapa kau mengejarku?!." Tanya Walangka dengan napas tersengal sengal. Sebuah luka sabetan menganga lebar di perutnya.
"Rencana setan maut akan berantakan jika kau masih hidup, kau harus bersedia bergantian peti mati dengan ketua." Ucap seorang berbaju serba hitam sambil menjilat pedangnya yang telah berlumuran darah Walangka. Terlihat aura membunuh yang sangat kuat dari tubuhnya.
"Aku tak pernah mau memiliki energi ini, kenapa takdir hidupku seperti ini?!."
"Salahkan saja orang brengsek itu saat kau sudah berada di neraka." Orang itu melesat sembari bersiap menebaskan pedangnya.
"TIDAK!." Walangka terbangun dari tidurnya sesaat setelah kepalanya terputus. Dia memegang wajahnya.
"Walangka, akhirnya kau bangun juga, dari tadi aku menunggumu bangun, kenapa kita bisa berada di sini sih?." Tanya Arkasari sambil menatap Walangka.
"Arkasari, kau sudah sadar rupanya." Balas Walangka. "Kau tadi sedang syok, jadi aku mengambil madunya dan menggendongmu hingga sampai ke sini."
"Berani beraninya kau menggendongku." Pukulan bertubi tubi Arkasari mendarat di wajah Walangka. "Kau pasti berbuat hal hal kotor padaku kan."
"Kau sudah mengenalku sejak kecil dan kau tahu kan aku tidak akan berbuat seperti itu." Ucap Walangka kesal setelah Arkasari berhenti memukulinya. Mukanya menjadi lebam karena pukulan itu.
"Kau tak pernah menggendongku, mana aku tahu kau tidak akan berbuat yang aneh aneh padaku." Arkasari membuang wajahnya.
"Jadi kau ingin aku sering sering menggendongmu?." Tanya Walangka dengan nada polos.
"Bukan begitu maksudku dasar bodoh." Arkasari kembali memukul wajah Walangka.
"Dia kembali menjadi cewek iblis." Gumam Walangka dalam hati.
"O iya Arkasari, tolong carikan makanan dong." Ucap Walangka.
"Kenapa tidak kau saja, kan kau yang laki laki."
__ADS_1
"Aku sudah bertarung, sudah menggendong tubuh beratmu itu, aku ingin beristirahat, dan jangan lupa kau masih berhutang padaku." Walangka mengangkat sarang lebah perangnya, mencoba mengingatkan Arkasari akan janjinya tempo hari.
"Kau ini." Arkasari melayangkan pukulannya ke arah wajah Walangka namun Walangka lebih dulu menangkap tangannya.
"Apa harus kukatakan kau adalah seorang wanita yang tidak menepati janji." Ancam Walangka.
"Ancaman macam apa itu?." Arkasari tersenyum sinis.
"Mungkin ini dapat mengancammu." Walangka mengangkat bunga matahari liar yang kemarin diam diam diambilnya dan menggoyang goyangkannya.
"Bagaimana kau bisa...?." Arkasari terkejut melihat tanaman yang dicari carinya berada di tangan Walangka. Dia berusaha mengambilnya tapi Walangka lebih dulu menarik tangannya.
"Aku hanya akan memberikan ini kepada wanita yang memegang kata katanya."
"Baiklah baiklah, akan kucarikan makanan untukmu." Arkasari bangkit berdiri melangkah ke luar gua. Wajahnya berubah menjadi cemberut.
Jika bukan karena berhubungan dengan nyawa temannya, di pasti sudah menolak mentah mentah permintaan Walangka.
"Lihat saja nanti, saat aku kembali akan kupastikan kau menyesal." Batin Arkasari.
Sementara Arkasari mencari buah buahan, Walangka tampak bermeditasi untuk memulihkan tenaga dalamnya. Namun tak seperti meditasinya yang sebelumnya, kali ini tidak ada aura sedikitpun yang memancar dari tubuhnya. Meditasinya kali ini lebih terlihat seperti sedang tertidur.
"Perasaan apa ini, kenapa nyaman sekali." Walangka memejamkan matanya berusaha menikmati kehangatan yang sangat nyaman yang sedang dirasakannya.
"Ini pertama kalinya kita berpapasan secara langsung ya, Walangka." Walangka mencari sumber suara itu namun tak berhasil menemukannya.
"Siapa kau, mengapa kau tahu namaku?." Tanya Walangka sambil berteriak.
"Aku disini." Sebuah cahaya tiba tiba muncul menerangi tempat itu. Cahaya itu perlahan membentuk seekor naga berukuran sepuluh meter yang sedang memandangi Walangka.
Walangka tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. "Kau, jadi kau yang disebut Naga Bintang itu?." Tanya Walangka sambil berusaha mengendalikan keterkejutannya.
"Benar sekali, akulah Naga Bintang, makhluk terkuat sejagad raya, naga yang paling ditakuti, disegani, dan dihormati oleh manusia biasa seperti kalian." Ucap naga itu sombong.
"Aku tak peduli tentang itu." Balas Walangka dingin
"Maksudmu?." Naga Bintang menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Mengapa kau tinggal di dalam tubuhku?!." Walangka menunjuk Naga Bintang. Dari nada bicaranya terlihat dia sedang marah. Sudah lama dia menunggu saat ini hanya untuk menemui dan mengusir Naga Bintang dari tubuhnya.
Dia merasa Naga Bintang hanya mengganggu kehidupannya. Ditambah dengan mimpinya barusan membuat dia semakin yakin Naga Bintang hanyalah pembawa petaka.
"Dasar aneh, bisa dapat keberuntungan buat dapat kekuatan hebat sepertiku kemungkinannya hanya 1/1000.000.000, kau harusnya bersyukur bisa kupilih untuk menjadi wadah kekuatan hebat milikku diantara sembilan ratus sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang yang memohon mati matian untuk mendapatkannya."
"Kalau begitu bagi bagi saja kekuatanmu menjadi sembilan ratus sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan berikan pada mereka semua yang ingin mendapatkan kekuatan anehmu itu."
"Dasar anak aneh, makan apa sebenarnya ibumu saat dia menghamilimu, ngelahirin anak aneh sepertimu."
"Ibuku selalu memakan makanan berkualitas dan hasilnya adalah aku, satu satunya orang pintar yang tidak akan terpengaruh oleh nafsu dunia persilatan."
"Lantas mengapa kau belajar tenaga dalam, dan sekarang pula apa yang sedang kau lakukan, bermeditasi."
"Aku hanya akan masuk sebentar di dunia kehancuran ini untuk membasmi sekte hyena abu abu setelah itu aku akan keluar lagi."
"Jika kau sudah memutuskan untuk masuk maka kau tidak akan dapat keluar lagi, itu sudah menjadi ketentuan alam jika kau akan menjadi penyelamat dunia persilatan."
"Penyelamat?, sudah banyak orang yang berusaha mengubah dunia kacau itu tetapi apa hasilnya?, mereka sendirilah yang menjadi pembawa bencana bagi dunia itu."
"Kita sudahi saja adu mulut tak berguna ini, jika kau memang tak mau menerimaku ya tidak masalah, aku bisa mencari manusia beruntung lainnya untuk kutempati dan ingat, jangan menyesal."
"Untuk apa menyesali seekor ular kecil sombong yang tak tau diri sepertimu."
"KAU...." Naga Bintang menghembuskan napasnya. Dia berusaha mengendalikan amarahnya.
"Cepat atau lambat kau pasti akan memenuhi takdir milikmu, kau tak akan bisa mengelak dan bersembunyi lagi begitu saat itu tiba." Naga Bintang perlahan menghilang.
"Tidak jika aku mengubahnya." Teriak Walangka. Dia mengangkat ngangkat tangannya yang sedang terkepal.
"Oy tukang tidur, bangun kau." Arkasari memukul muka Walangka. Walangka lalu membuka matanya. Terlihat Arkasari dengan beberapa buah buahan segar di tangannya.
"Akhirnya makanan datang juga." Walangka mengelap air liur dekat mulutnya. Begitu dia ingin mengambil buah buahan itu Arkasari tiba tiba menahannya.
"Berikan dulu bunga matahari liarnya." Arkasari menjulurkan tangannya.
"Ini, sekarang mana buahku." Walangka memberikan bunga matahari liar kepada Arkasari.
__ADS_1
"Silahkan." Arkasari melempar buah buahan yang telah didapatkannya kewajah Walangka.