
Arkasari bergerak sangat cepat ke arah setangkai bunga matahari berwarna emas. Karena menggunakan banyak tenaga dalam, hanya dalam hitungan detik tangannya sudah hampir menyentuh bunga matahari liar.
Namun sayangnya, rombongan lebah perang yang berada di dekat bunga itu menyadari hal itu. Mereka segera bergerak membentuk formasi melindungi bunga itu.
Beberepa detik berikutnya, Arkasari berlari sekencang yang dia bisa. Dibelakangnya puluhan lebah perang mengikuti kemanapun dia berlari karena marah sumber makanannya telah diganggu. Walangka hanya dapat menahan tawa melihat hal itu.
Bunga matahari liar adalah spesies tumbuhan yang memiliki intisari bunga yang sangat melimpah. Sementara intisari bunga sendiri adalah bahan utama pembuatan madu bagi lebah.
Sebuah koloni lebah perang biasanya memiliki sekitar sepuluh bunga matahari liar yang selalu dirawat setiap harinya. Mereka melindungi bunga matahari liar milik mereka sama seperti mereka melindungi diri mereka sendiri.
Arkasari mengumpat berkali kali. Dia menyesali perbuatannya namun juga menyalahkan para lebah perang karena terlalu sensitif.
Matanya beberapa kali melirik Walangka, memberi tanda untuk meminta pertolongan. Walangka tersenyum sinis menyadari tanda yang diberikan oleh Arkasari.
Dia sengaja berlama lama karena menunggu keadaan Arkasari yang sedang benar benar membutuhkan bantuan. Walangka ingin muncul di saat paling terdesak temannya itu agar Arkasari mau tidak mau harus menuruti permintaanya.
"Sudah cukup larinya."
Arkasari mememberanikan diri menghentikan langkahnya. Dia mengatur napasnya yang berantakan karena berlarian tanpa arah. Gadis itu mencabut pedangnya dan langsung menebaskannya ke arah para lebah perang yang mengejarnya.
Sambil berjalan mundur pelan, Arkasari terus mengayunkan pedangnya tak beraturan. Yang ada di pikirannya hanya mengusir para lebah perang itu hingga berhenti mengejarnya.
Para lebah perang yang mengejar Arkasari terlihat mulai bereaksi terhadap serangan Arkasari. Satu persatu lebah mulai terbang menjauhi Arkasari.
Namun bukan menjauh seperti yang dilakukan oleh para lebah perang itu yang diinginkan oleh Arkasari. Mereka terbang kembali ke sarangnya memanggil teman temannya yang lain.
Bagaikan keluar dari kandang harimau, masuk ke kandang naga. Puluhan pasukan lebah ganas pergi, datang ratusan pasukan lebah yang jauh lebih ganas.
Mata Arkasari hampir keluar dari tempatnya. Jika bukan karena ingat untuk kembali melarikan diri bisa dipastikan dia akan tak sadarkan diri. Dengan sisa sisa tenaga, Arkasari kembali berlari sekencang kencangnya.
__ADS_1
Mulut kecilnya berteriak berkali kali membuat Walangka menutup telinganya. Hanya itu yang bisa dilakukan Arkasari selain melangkahkan kakinya yang kini mulai terasa sakit.
Larinya mulai melambat diikuti dengan bercucurannya keringat di tubuhnya. Dia kembali berumpat karena Walangka sama sekali tak membantunya.
"Sepertinya sudah saatnya." Walangka bangkit berdiri sebelum melompat tinggi ke arah Arkasari. Dia menarik lengan Arkasari, "Bantu aku mengambil madu milik lebah perang dan akan kubantu kau melawan lebah lebah tomat ini."
"Baiklah baiklah, akan kubantu tapi kali ini saja ya." Arkasari menarik lengannya kembali.
Walangka mengembangkan senyuman lebar. "Pedang bambu tingkat 1." Walangka menarik pedangnya yang telah dialiri tenaga dalam.
Suara sengat lebah perang beradu dengan pedang Walangka terdengar di udara. Peraduan antara senjata alam dan senjata buatan itu terjadi beberapa kali.
Nampaknya walaupun pedangnya telah dialiri tenaga dalam, gerakan pedang Walangka tetap tidak dapat menandingi sengat baja milik para lebah perang.
Walangka meningkatkan kecepatannya. Dia tidak ingin menghabiskan waktunya dengan bermain main disitu karena matahari sudah mulai tenggelam.
"Lebah sialan, sudah pelit, emosian lagi." Walangka melompat mundur kebelakang untuk memperbaiki napasnya. Dia menatap tajam para lebah berwarna merah menyala itu.
Suhu di sekitar Walangka mendadak menjadi panas. Aura merah tiba tiba menyelimuti tubuhnya. Api berwarna merah berkobar di pedang Walangka.
Dia melesat maju sambil mengarahkan pedangnya ke arah para lebah perang. "Pergilah!." Walangka menyabetkan pedangnya.
Dia terlihat seperti menari nari sebab kehalusan gerakannya. Para lebah perang mulai mengerubunginya membuat Walangka menjadi kewalahan. Pandangannya menjadi agak kabur karena tertutupi oleh lebah yang terbang didepan matanya.
Dia lalu menegakkan tubuhnya sebelum memutar tubuhnya sambil menarik pedangnya. Sebuah energi tebasan api berbentuk lingkaran melesat membakar para lebah.
"Lingkaran api penghukum iblis." Ucap Walangka asal asalan. Dia tanpa sengaja membuat tingkat selanjutnya dari jurus tebasan api pembakar raga.
Energi tebasan api itu berhasil menyebabkan para lebah perang menjauhinya untuk beberapa saat. Namun yang aneh, energi tebasan api tersebut terus membesar hingga membentuk lingkaran raksasa dan membelah pepohonan yang berada dalam jangkauannya.
__ADS_1
Arkasari tercenung melihat Walangka mengeluarkan jurus kuat seperti itu. Kakinya menjadi lemas seketika tak dapat digerakkan. "Jurus apa itu tadi?." Gumamnya.
Beberapa lebah perang yang berhasil menghindar terdiam seperti sedang mencoba memahami keadaan. Walangka segera memanfaatkan hal itu untuk segera kabur. Dia menarik lengan Arkasari pergi ke arah sarang lebah perang.
"Kau kenapa, kok kakinya gak bisa digerakin gitu?." Tanya Walangka sambil menoleh kebelakang. Dia mendapati Arkasari yang sedang terduduk di tanah dengan wajah yang sangat pucat. Satu satunya teman wanitanya itu terdiam tak bergerak sedikit pun.
"Jangan jangan gara gara jurus tadi dia jadi syok." Pikir Walangka. Tersirat sebuah kekhawatiran di wajahnya. Dia lalu mengangkat tubuh Arksari dan menggendongnya.
"Merepotkan saja." Gumam Walangka dalam hati sebelum melesat menuju sarang lebah perang. Tangan kanannya bergerak perlahan ke tengah tubuh Arkasari sementara tangan kirinya bersiap mengambil madu di sarang lebah perang.
Sembari tetap melesat, Walangka menyambar sarang lebah itu. Berniat hanya ingin mengambil madunya, Walangka malah mengambil dengan sarang sarangnya.
Beberapa lebah perang yang masih berada di dalam sarang tiba tiba segera beranjak keluar dari sarangnya itu. Mereka sadar bahwa rumahnya itu tak aman lagi.
Walangka terus bergerak menembus rimbunnya pepohonan. Melompat dari satu pohon ke pohon yang lainnya dengan sangat lincah.
"Duh, berat sekali." Keluh Walangka. Dia mengalirkan tenaga dalamnya ke tangan kanannya sebab berat tubuh Arkasari sangat menyulitkannya bergerak bahkan memperlambat gerakannya. Walaupun tubuhnya terlihat cukup langsing namun nyatanya beban tubuh Arkasari sangat berat.
Ditambah dia hanya menggunakan satu tangannya untuk menggendong Arkasari membuatnya sesekali kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ke permukaan tanah.
Walangka lalu mengambil ancang ancang untuk melompat tinggi. Dia melompat sangat tinggi menembus dedaunan pohon.
Seolah olah waktu berhenti saat posisi Walangka yang sedang menggendong Arkasari tepat sejajar dengan posisi bulan di langit, sebuah pemandangan indah yang seakan akan hanya terjadi seratus tahun sekali tercipta.
Walangka menundukkan kepalanya sedikit melihat wajah Arkasari. "Imutnya." Wajah Walangka memerah. Walaupun wajahnya sedang sangat pucat dan gelap tetapi bagi Walangka itu tak memudarkan kecantikan yang terpancar dari wajahnya itu.
"Apa yang kau pikirkan Walangka." Walangka menggeleng gelengkan kepalanya cepat. Dia mencoba mengusir jauh jauh pikirannya barusan terhadap Arkasari. Namun tanpa dia sendiri sadari, perasaan cinta mulai tumbuh jauh di dalam hati kecilnya.
__ADS_1
maaf karena saya tidak bisa menggambarkan kemesraan Walangka dan Arkasari dengan baik, saya tidak terlalu ahli dalam hal percintaan. saya akan belajar lagi dan lagi untuk memberikan yang terbaik untuk para pembaca, walau jumlah pembaca belum seberapa tetapi saya tetap akan berusaha memuaskan kalian semua yang telah bersedia membaca novel biasa buatan saya ini.
tanpa kalian novel ini hanya akan menjadi novel sampah tak berharga, terimakasih sebanyak banyaknya untuk kalian semua, selamat menjalankan ibadah puasa.