
Ki Jagalang terbatuk darah. Tubuhnya menguning dan bertambah mengerut. Darah mengalir dari telinga dan hidungnya.
"Sudah kuduga dia memang menggunakan kekuatan ular itu, aku harus memperingatkan Walangka!" Ki Jagalang baru saja ingin berteriak memberitahu muridnya itu, Walangka sudah terlempar beberapa meter oleh serangan Mpu Durga. Tampak bekas pukulan di dadanya. Darah keluar dari mulutnya.
"Kakek ini kuat sekali guru bahkan dikalahkannya andai kekuatan naga jelek itu milikku aku pasti dapat setidaknya mengimbanginya." Gumam Walangka sambil mengelap darah di bawah mulutnya.
Dia mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya hingga mengeluarkan aura merah panas. Matanya perlahan berubah menjadi warna merah darah.
"Ajian hati naga tingkat 4." Walangka melompat maju ke Mpu Durga. Dengan tatapan tajam dia melepaskan serangan serangan panas miliknya. Mpu Durga terlihat agak sedikit susah menghindari beberapa serangan Walangka. Dia memerhatikan gaya bertarung Walangka dan menyadari terdapat perubahan dengan gayanya yang sebelumnya.
"Dia lebih ganas daripada yang sebelumnya, ini menarik." Mpu Durga kembali tersenyum. Dia menarik energi milik Ragata.
"Lepaskan aku tua bangka busuk!" Teriak Ragata sambil meronta ronta. Segel milik Mpu Durga benar benar mengekangnya bahkan melemahkan kekuatannya.
"Jangan merepotkanku cacing kecil, diam dan jadilah anak ular yang baik." Balas Mpu Durga sinis.
"Tua bangka tak tahu diri lepaskan aku dari segel ini atau aku akan meracunimu hingga mati mengenaskan!" Ancam Ragata.
"Bagaimana kau bisa meracuniku jika kau bahkan tidak dapat menggunakan kekuatanmu dengan penuh dan bebas."
Ragata terdiam, dari wajahnya terpancar jelas kekesalan dan kemarahan yang besar kepada Mpu Durga. Giginya tak berhenti mengeluarkan suara menggerutuk.
Dia menyesali keputusannya dulu saat bersedia menerima Mpu Durga sebagai tuannya. Sekarang dia terkurung dan tak dapat melakukan apapun selain melihat kekuatannya dicuri dan digunakan dengan bebas.
"Tebasan energi penghancur tulang." Mpu Durga mengalirkan energi Ragata ke goloknya. Aura ungu yang menyelimuti senjatanya itu bertambah pekat. Dia menghindari serangan Walangka yang sedang menuju ke arahnya lalu menyerang ke arah titik buta Walangka.
Mata Walangka dapat melihat serangan itu namun tubuhnya terlambat bereaksi. Luka sayatan terbentuk dan merembeskan darahnya. Gerakan Walangka yang melambat karena luka di tubuhnya diamanfaatkan oleh Mpu Durga. Dia memutar goloknya sesaat sebelum melepaskan tusukan ke jantung Walangka.
"Naga Bintang!!!" Ki Jagalang berteriak dengan menggunakan tenaga dalam miliknya. Aura putih menyilaukan mendadak menyelimuti tubuh Walangka dan mementalkan Mpu Durga karena energi kejut yang dihasilkannya.
Baru saja Mpu Durga berhasil mendarat sebuah pancaran energi putih mengandung tenaga dalam yang besar sudah melesat ke arahnya. Mpu Durga yang kurang siap menarik goloknya dan berhasil menahan serangan itu walaupun dirinya tetap terdorong beberapa meter.
__ADS_1
"Energi ini, dia memurnikan setengah racun dalam seranganku tadi." Raut wajah Mpu Durga berubah melihat Mata Walangka berubah warna menjadi putih salju. Aura putih yang menyelimuti tubuhnya juga ikut menyelimuti pedangnya.
"Naga Bintang, kau datang?!" Walangka tampak terkejut melihat kedatangan Naga Bintang. Terdapat sedikit rasa lega dalam hatinya.
"Aku sudah memilihmu tentu saja aku harus melindungimu, bodoh." Balas Naga Bintang tepat setelah mengambil alih tubuh Walangka.
"Akhirnya kau muncul juga, Naga Bintang." Ki Jagalang tersenyum lega. Meski kondisi tubuhnya saat ini semakin memburuk tetapi melihat bantuan telah muncul tentu saja membawa sedikit harapan untuknya.
"Jadi ini yang disebut energi Naga Bintang, lumayan." Mpu Durga kembali menarik energi Ragata dan mengalirkannya ke goloknya. Dia membentuk kembali kuda kudanya sebelum merapal jurusnya.
"Tebasan energi penghancur tulang tingkat 2, golok pencabut nyawa." Mpu Durga menghilang dari pandangan sebelum muncul kembali di belakang Walangka. Dengan cepat, dia menebaskan goloknya.
"Golok pencabut nyawa?!, jangan membuat jurus biasa terdengar berbahaya orang tua peot." Ejek Naga Bintang melalui mulut Walangka tepat setelah berhasil menangkis tebasan Mpu Durga dengan mudah.
"Oh ya kalau begitu coba tangkis yang ini." Mpu Durga menggeser kaki kanannya ke kanan sedikit lalu melanjutkan serangannya. Tebasan demi tebasan terus dia lepaskan untuk menghancurkan pertahanan Naga Bintang. Naga Bintang dapat menangkis dan menghindari semua serangan itu dengan sempurna.
"Jurus pedang cahaya tingkat 1, serangan tanpa bayangan." Naga Bintang meningkatkan kecepatannya. Dia menghilang dari pandangan dan dengan cepat muncul kembali di belakang Mpu Durga. Dua tebasan berurutan berhasil didaratkannya ke punggung Mpu Durga.
"Jurus apa itu?" Walangka yang melihat pertarungan tersebut dari dalam pikirannya dibuat takjub oleh kecepatan jurus yang ditunjukkan Naga Bintang.
Berbeda dengan Ki Jagalang, dari wajahnya terlihat dia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa ketika racun Ragata terus mengikis organ dalamnya. Darah tak henti keluar dari mulut, hidung dan telinganya. Dia terus menahan agar tidak mengeluarkan suara erangan kesakitan agar tidak mengalihkan konsentransi Walangka dan Naga Bintang.
"Kalahkan dia Walangka, tunjukkan apa yang telah kau pelajari dariku selama dua bulan ini." Batin Ki Jagalang.
"Bagaimana rasanya orang tua peot?!" Ejek Naga Bintang. Dia merasa sangat percaya diri karena sudah berhasil mengendalikan pertarungan.
"Masih terlalu cepat untuk menyombongkan diri bocah."
"Tebasan energi penghancur tulang tingkat 4." Mpu Durga mengeluarkan aura yang lebih kuat daripada yang sebelumnya.
"Aura ini..." Naga Bintang meningkatkan kewaspadaannya. Walau aura tersebut tak berefek banyak baginya namun bisa dipastikan serangan yang akan dilancarkan cukup berbahaya. Dan benar saja, hanya dengan sekali tebasan Mpu Durga berhasil membuat Naga Bintang terlempar jauh.
__ADS_1
"Ragata, kau telah menerima dia sebagai tuanmu ternyata." Ucap Naga bintang setengah berteriak. Dia berhasil menangkis serangan Mpu Durga dan hanya terlempar.
"Anak itu mengenaliku?" Wajah Ragata tampak bingung. Seingatnya hanya para mpu yang mengetahui namanya.
"Dia tahu tentang Ragata anak ini bukan bocah biasa, sepertinya dunia persilatan terutama tujuh sekte terkuat tidak sesederhana yang aku pikirkan." Mpu Durga menyarungkan goloknya. Dia mau membuat suasana menjadi sedikit tenang agar dapat mengetahui identitas Walangka.
Wajar dia sedikit terkejut, Ragata selain salah satu ruh pusaka terkuat buatan Mpu Siwanetoro juga merupakan ruh yang sangat misterius. Hanya beberapa orang di dunia persilatan yang mengetahui keberadaannya.
"Oy nak, siapa namamu?" Tanya Mpu Durga.
"Itu tak penting tua bangka." Balas Naga Bintang. Dia langsung melesat menyerang melihat Mpu Durga yang menyarungkan goloknya.
Mpu Durga menggelengkan kepalanya pelan. "Anak ini tidak bisa diajak bicara." Dia lalu mengepalkan tangannya bersiap menyambut serangan Naga Bintang.
"Jurus pedang cahaya tingkat 1, serangan tanpa bayangan."
"Tinju energi penghancur tulang tingkat dua."
Dua jurus itu beradu dan menimbulkan ledakan tenaga dalam yang cukup besar. Keduanya terpental mundur beberapa langkah.
"Dia dapat menyamai kecepatanku?!" Naga Bintang sontak kaget jurusnya tak menyentuh tubuh Mpu Durga. Tetapi tak lama kemudian wajah terkejut yang ditunjukkannya berubah menjadi senyuman kemenangan.
"Gawat tenaga dalamku hampir habis karena harus mengimbangi kecepatan anak itu, aku harus kabur!" Pikir Mpu Durga. Dia bisa saja menggunakan energi Ragata sebagai ganti tenaga dalamnya tetapi mengalirkan tenaga dalam penuh racun ke seluruh tubuh dalam waktu yang lama sama saja dengan bunuh diri.
"Mengapa kau tersenyum?" Tanya Walangka.
"Karena kekalahan orang tua peot itu tinggal semenit lagi."
hp saya lagi lagi rusak dan saya bawa ke teman saya. saya coba lewat laptop tapi tidak selesai selesai di review. nunggu beberapa hari akhirnya hp saya dah selesai jadi baru bisa update sekarang. saya ucapkan terimakasih yang sebesar besarnya pada kalian semua karena setia membaca novel ini dan juga maaf yang sebesar besarnya.
__ADS_1