
"Formasi seperti apapun tak akan pernah menghentikanku!!!."
Sagalu mengerahkan seluruh jurusnya untuk menerobos formasi yang dilakukan para pendekar hyena abu abu. Serangan demi serangan terus ia lancarkan tanpa terlihat ingin berhenti.
Formasi itu pun tak kalah hebat, walaupun dihujani berbagai serangan tetap saja masih bisa menahan Sagalu yang mulai dirasuki ajian hati naga. Pergantian posisi yang tepat dan cepat selalu menutupi celah yang sesekali terbuka.
"Akan kubunuh kalian semua!!!." Teriakan Sagalu menggelegar di seluruh area pertarungan.
"Gawat, paman mulai dirasuki lagi."
Walangka yang semakin khawatir terhadap Sagalu mempercepat langkahnya. Belum sempat bergerak beberapa meter, Walangka terpaksa menghentikan langkahnya ketika melihat Dilaya yang sedang terduduk dengan luka di seluruh tubuhnya.
Dia mendekati sahabatnya tersebut lalu segera memeriksa kondisinya.
"Hari ini benar benar hari tersial dalam hidupku!." Walangka mengangkat tubuh Dilaya perlahan dan membopongnya hingga menjauhi area pertempuran.
"Jangan ganggu aku, aku sedang berolahraga dan menguatkan tubuh dan kekuatanku, kembalikan aku ke sana dan urusi saja urusan orang lain!." Ucap Dilaya protes.
"Olahraga?, kau ini hampir sekarat dan kau masih ingin bertarung, kau ini gila ya." Walangka membaringkan tubuh Dilaya di tanah.
"Tapi kan aku...."
"Jangan banyak bicara dan duduk diam diam disini!." Potong Walangka sebelum meninggalkan Dilaya dan memasuki kembali area pertempuran.
"Oy Walangka, tunggu." Dilaya mencoba bangkit dan berlari tetapi dia kembali jatuh ke tanah. "Sial, kembali kesini Walangka!."
Di sisi lain, Arkasari bersama teman temannya terlihat sedang bertarung menggunakan formasi benteng bambu kuning. Formasi ini adalah formasi kebanggaan sekte kelinci bambu dan biasa digunakan untuk bertahan.
Karena jumlah orang yang tak cukup ditambah pengalaman bertarung yang sedikit membuat formasi itu tak bertahan lama. Mereka tampak ditekan habis habisan.
"Teman teman pertahankan formasi!." Teriak Arkasari melihat formasi mereka mulai berantakan. Beberapa teman mereka juga kian banyak yang berjatuhan.
"Haduuuh sepertinya ada masalah lagi." Walangka menepuk jidatnya lalu mengubah arah larinya ke arah Arkasari.
"Mengapa rasanya kakiku menjadi lebih ringan ya?." Batin Walangka bingung. Dia tanpa sadar menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dan berlari lebih cepat dari bisanya.
"Wa..Walangka?." Wajah Arkasari memerah ketika wajahnya bertemu dan begitu dekat dengan wajah Walangka setelah Walangka telah tiba di tempatnya.
Perasaan berkecamuk tiba tiba muncul di benaknya. Jantungnya pun berdetak semakin kencang sampai sampai Walangka pun mendengarnya.
"Wajahmu mengapa, dan juga mengapa detak jantungmu menjadi begitu kencang?." Walangka bertanya polos. Tanpa sengaja dadanya menekan dada Arkasari.
"Dasar!." Arkasari menampar wajah Walangka kencang hingga merah.
"Kau ini sebenarnya kenapa sih?, tapi ya sudahlah." Ucap Walangka sambil memegang pipinya.
"Pedang bambu tingkat 1."
Walangka melepaskan jurusnya kepada beberapa pendekar hyena abu abu yang berada di sekitarnya. Aura hijau muda menyelimuti pedang dan juga tubuhnya. Sesekali dia mengelus elus pipinya yang semakin lama semakin membengkak.
__ADS_1
"Dasar, sepertinya dia memukulku menggunakan tenaga dalamnya." Pikir Walangka. Dia masih memikirkan tamparan Arkasari yang barusan.
"Walangka, masuk kedalam formasi!." Perintah Arkasari. Wajahnya yang tadi memerah berubah seketika menjadi serius.
Walangka pun segera masuk ke dalam formasi mengisi posisi yang telah kosong. Dia mengamati pergerakan anggota formasi yang lainnya sambil terus menyerang musuhnya.
"Jadi begitu." Walangka yang sudah mengerti pergantian posisi dan tugas tugas di formasi benteng bambu kuning tersenyum kecil.
Di sisi lain, Sagalu sedang mengamuk mengacaukan formasi hyena melindungi raja milik sekte hyena abu abu. Matanya yang sudah memerah dan mengalirkan darah terlihat sangatlah menyeramkan.
"Kubunuh!."
Sagalu yang sudah menyerupai binatang buas terus menerus meneriakkan kata tersebut. Rendita yang berdiri tepat ditengah tengah formasi hanya menatap dingin Sagalu.
Dia sebenarnya sedang mengumpulkan tenaganya kembali yang sudah banyak terkuras di pertarungan sebelumnya. Dia juga sebenarnya sedang melihat sejauh mana tingkat perkembangan Sagalu agar tidak terlalu gegabah saat menyerangnya nantinya.
"Pendekat tingkat menengah level 4, sepertinya tidak akan merepotkan." Pikir Rendita.
"Buka taring!." Teriak Rendita. Formasi pendekar hyena abu abu serentak mulai terbuka layaknya hyena yang membuka mulutnya dan membentuk sebuah jalan menuju Rendita.
Kubunuh kau!." Sagalu melesat kearah Rendita dengan serangan ajian hati naga tingkat 4.
"Ajian hati naga memang salah satu ajian terkuat tetapi ajian sehebat apapun itu tidak akan berati jika yang menggunakannya adalah orang lemah sepertimu." Ucap Rendita dengan senyum meremehkan. Dia menepis serangan Sagalu dengan Jurus pedang penghancur matahari tingkat 3 dan melompat mundur ke belakang.
"Kubunuh, kubunuh!." Sagalu tidak berhenti dengan serangannya. Dia menebaskan pedangnya kesana kemari tanpa mempedulikan posisi sebenarnya Rendita.
"Dirasuki jurusmu sendiri ya?." Rendita tertawa terpingkal pingkal sampai sampai membuat perutnya sakit. "Tak bisa mengendalikan diri saja sudah berani melawanku, kau memang sama dengan yang lain yang ada di sekte sampah ini."
Rendita berjalan pelan ke arah Sagalu. Dia menaruh pedangnya di pundaknya dan menebaskannya berkali kali saat berada di hadapan Sagalu.
Sagalu yang tidak menyadari serangan itu terlempar keluar formasi hyena abu abu kemudian tubuhnya membentur tanah cukup keras. Pemuda itu berusaha bangkit dan kembali menyerang tetapi dicegah oleh para pendekar hyena abu abu yang di sekitarnya. Mereka menendang nendang Sagalu hingga ia terdorong kesana kesini.
Walangka yang melihat peristiwa itu mengepalkan tangannya geram namun tidak bisa berbuat apa apa karena dia juga sedang terdesak oleh pendekar hyena abu abu yang lain sekaligus harus melindungi Arkasari yang mulai mencapai batasnya.
"Dimana sebenarnya kakek, mengapa lama sekali perginya?!." Gumam Walangka dalam hati.
"Sekte singa bara api tak layak mempunyai murid sepertimu, lebih baik kau memotong rambutmu hingga gundul lalu memohon kepadaku agar mengampunimu." Rendita mendekati Sagalu dengan tatapan menghina. Pedangnya terlihat sudah siap memenggal kepala Sagalu.
"Bagaimana?." Rendita mengalungkan pedangnya di leher Sagalu. Sagalu hanya diam mendengarkan ucapan Rendita. Tak ada tanda tanda ingin menyerang atau ingin menyerah darinya.
"Ajian hati naga tingkat 4." Sebuah serangan dengan kecepatan tinggi tiba tiba melesat ke arah Rendita. Rendita mencoba menghindar tetapi serangan itu berhasil mengenainya cukup telak.
Rendita terpental beberapa meter dengan kobaran api kecil di dadanya. Setelah berhasil berhenti dengan menancapkan pedangnya, Rendita menatap tajam yang barusan menyerangnya.
Seorang pemuda berumur dua belas tahun terlihat sedang berdiri gagah dengan pedang dipenuhi api merah yang bersinar terang di gelapnya malam.
"Wa...Walangka, apa yang kau lakukan disini?, pergi dia bukan tandinganmu!." Sagalu yang sudah sadar dari pengaruh ajian hati naga memandang Walangka khawatir merasa Walangka tidak mampu menandingi kekuatan Rendita.
"Huahahahahaha, seorang bocah berani melawanku?, pergi dari hadapanku sekarang dan aku akan mengampunimu!." Ucap Rendita sebelum tertawa keras.
__ADS_1
Walangka tak mempedulikan ucapan Rendita. Dia menatap tajam Rendita membuat Rendita menelan ludahnya.
"Beraninya bocah lemah sepertimu menatapku seperti itu, akan kugantung tubuhmu di atap padepokan sekte rendahanmu dan kupotong tubuhmu satu persatu!!!."
Pertarungan antara Walangka dan Rendita pun tak terelakan. Suara logam berbenturan terdengar begitu keras. Hanya dalam beberapa saat saja, mereka sudah bertukar berbagai jurus.
Di sisi lain Satrayara sudah bangun dari pingsannya. Dia menatap sekelilingnya dan mendapati teman temannya yang sudah terbujur kaku di tanah dengan darah di baju dan tubuhnya.
Satrayara mencoba bangkit berdiri dan seketika itu juga para pendekar hyena abu abu mengepungnya. Pemuda itu berusaha meraih pedangnya yang tergeletak di antara mayat teman temannya.
Dia mempersiapkan kuda kuda jurusnya dan bersiap kembali bertarung. Walaupun dia yakin tak akan bisa menang, tetapi setidaknya dia akan mati karena melindungi sekte juga harga dirinya.
Saat pertarungan hampir terjadi, tiba tiba seorang kakek tua datang dan memukul para pendekar hyena abu abu hingga terpental jauh. Aura hijau pekat meluap dari tubuhnnya menekan setiap orang yang berada disekitarnya.
Ya benar, dialah Ki Karsa ketua dari sekte kelinci bambu. "Kau tidak apa apa Satrayara?." Ki Karsa menoleh ke belakang.
"Jangan khawatirkan aku guru, sebaiknya guru segera membantu adik."
"Walangka juga ikut bertarung?, sepertinya dia benar benar sudah berubah." Ki Karsa mengelus jenggotnya.
"Hoy kakek tua, minggir atau pedangku ini akan membelah tubuh keriputmu itu!." Bentak salah satu pendekar hyena abu abu.
"Sepertinya kalian harus kuhabisi terlebih dahulu." Ki Karsa tiba tiba muncul di belakang pendekar itu dan menusukkan pedangnya hingga tembus ke dadanya.
Tak lama kemudian semua pendekar hyena abu abu yang tadi mengepung Satrayara sudah bernasib sama dengan temannya yang tadi, rubuh di tanah dengan darah mengucur di dada dan punggungnya.
Setelah membereskan musuh musuhnya,Ki Karsa segera beranjak ke tempat Walangka. Dia membunuh tanpa ampun setiap pendekar hyena abu abu yang ditemuinya.
"Akhirnya kakek tiba juga disini." Arkasari menghembuskan napasnya lega melihat Ki Karsa telah datang dan langsung bergabung dengan formasi benteng bambu kuning.
Dibawah instruksi Ki Karsa, para pendekar kelinci bambu dengan formasi benteng bambu kuningnya mulai berhasil menekan para pendekar hyena abu abu. Kedatangan Ki Karsa benar benar membalikkan keadaan yang semula berat sebelah itu.
Pergantian posisi yang semakin cepat dan teratur membuat para pendekar hyena abu abu tak mampu menemukan celah sedikitpun dan dibuat kewalahan oleh formasi benteng bambu kuning.
Satu persatu pendekar hyena abu abu tumbang meregang nyawa dan saat mereka hanya tinggal tersisa beberapa orang saja, para pendekar kelinci bambu segera melancarkan jurus pedang bambu tingkat 2 secara bersamaan sebagai serangan terakhir
Serangan itu mampu membuat tubuh para pendekar hyena abu abu tercerai berai tanpa ada yang berhasil melarikan diri.
Tak jauh dari situ dua orang pemuda berbeda umur sedang bertarung dengan sangat sengit. Rendita tak berhenti meningkatkan kecepatannya sementara Walangka dapat selalu mengimbangi kecepatan Rendita.
"Anak ini, bagaimana ia bisa mempunyai kekuatan sehebat ini?!." Gumam Rendita dalam hati.
"Hiyaaah." Sebuah pedang dengan tenga dalam yang besar tiba tiba melayang ke Rendita. Rendita berhasil menghindar ke samping namun tiba tiba dia jatuh tersandung batu.
Walangka yang melihat kesempatan itu segera menyerang Rendita dengan jurus pamungkasnya.
"Jurus pedang bambu naga."
Pedang Walangka diselimuti balutan api dengan aura sehijau bambu yang melapisi pedangnya. Suhu udara mulai naik drastis. Malam yang tadinya dingin sekarang berubah menjadi sepanas tengah hari seakan matahari hanya berjarak beberapa meter di atas kepala.
__ADS_1
Di...dia menggabungkan dua jurus berbeda sekaligus, sebenarnya seberapa besar bakat anak ini?!." ucap Sagalu kebingungan, mulutnya terbuka begitu lebar.
Baju Rendita bahkan basah karena tubuhnya bercucuran keringat tiada henti. Saat Walangka sudah siap menyerang, sesuatu yang tidak diduga terjadi.