
Cerita ini menyebar pada masa penjelajahan manusia di lautan. Dari mulut ke mulut, dari pelaut ke pelaut yang lain, bahkan ini sudah menjadi pengetahuan umum bagi orang yang mengibarkan layar di samudra.
Mereka mempercayai bahwa terdapat pulau kosong yang tidak boleh disinggahi. Meskipun letaknya cukup strategis untuk perdagangan, tidak ada pedagang yang berani menginjakkan kaki di tempat itu. Daratan itu dikenal dengan sebutan pulau Jawa.
Hingga kemudian, berita itu sampai ke telinga seorang Raja Turki. Sang raja pun memanggil patihnya, maka datanglah sang patih di hadapannya. Kemudian Baginda raja berkata:
“Hai patih..! aku akan bertanya padamu, apakah benar rumor tentang pulau Jawa itu, apa kamu sudah tahu? katanya masih sepi dan belum ada manusianya, serta masih berupa hutan belantara.”
“Benar sekali tuanku, sungguh belum ada orang yang tinggal di sana, beritanya dari para pelaut yang sering mengarungi samudra berlayar ke Sumbawa melewati pulau Jawa tuan, pulau itu membujur dari barat ke timur terletak di sebelah baratnya pulau Bali dan banyak terdapat gunung,”
Baginda raja tertegun lalu berkata dengan pelan:
“Hai patih..! Kamu bawalah 40.000 orang, perbekali mereka dengan alat-alat pertanian lalu pergilah ke tanah Jawa!”
Sang raja berencana untuk mengisi pulau Jawa. Dia berpikir bahwa tempat itu masih bisa dihuni.
Sang patih menerima titah yang diberikannya, menunduk dan bergegas mempersiapkan perlengkapan. Untuk berjaga-jaga, senjata juga tidak lupa dibawa.
Dengan mengendarai ribuan pulau layar, berangkatlah sang patih bersama 40.000 orang menuju pulau Jawa. Mereka berangkat pagi sekali dan sampai menjelang malam.
Para pendatang itu membuat perkemahan sementara di hutan dekat dengan pantai Utara. Mereka pun menyiapkan tenda secukupnya untuk bermalam di sana.
Malam pun tiba. Sang patih yang sedang berjaga, berjalan menuju pantai Utara. Dia memandangi luasnya lautan yang dipancari cahaya bintang. Dengan ombak semilir, laut kembali memantulkan sinar tersebut.
Byaarr...
Suara dentuman ombak pada bebatuan. Kemudian sang patih duduk dengan menekuk lututnya. Dia tersenyum tipis, bertanda rasa syukurnya dengan keadaan saat ini.
...Semoga ini terus berlanjut hingga pagi tiba
Tiba-tiba ada sesuatu yang kasar menyentuh bahunya. Sang patih terkejut dan langsung memegang ganggang pedangnya. Setelah menoleh, dia melihat seorang lelaki tersenyum padanya.
Pria itu membawa tempurung buah kelapa yang telah dibelah jadi dua, lalu memberikan salah satunya pada sang patih. Tempurung tersebut berisi air kelapa yang cukup banyak.
“Kisanak lelah bukan? minumlah ini agar badanmu segar kembali!”
“Aahh.. Terima kasih,” sang patih menerima pemberian dengan kedua tangannya.
Pria itu tersenyum lalu duduk di samping sang patih, dan memandang patih yang sedang meminum air kelapa itu.
“Gimana? Segar bukan?”
“Hhuummm aahh... mantap bener dah,” sang patih mengakhiri minumnya.
“Sia-sia banget bila tanah yang berisi harta karun seperti ini ditinggalkan seperti ini,” pria itu kemudian juga meminum air kelapa langsung dari tempurung.
“Kalau boleh tau, siapakah nama kisanak ini?” tanya patih.
“Nama saya Tohran, patih!” jawab lelaki itu dengan pelan.
“Tidak usah formal begitu, panggil saja aku Hamza!”
“Begitu ya.. Hamza, nama yang indah,” gumam Tohran.
Angin darat berhembus melewati dedaunan pohon. Semilirnya terasa hingga menyengat kulit. Kedua pria itu berbicara mengenai banyak hal. hingga tak terasa larut pun tiba.
“Patih...! kesinilah cepat!” teriak seseorang dari dalam hutan.
Hamza langsung bergegas menuju asal suara. diikuti oleh Sayan, dia berlari dengan cepat.
“Ada apa?” tanya Hamza.
__ADS_1
“Seseorang telah meninggal.”
“Apa? tunjukkan padaku!”
Sebuah kerumunan berkumpul di suatu tenda, menjadikan suasana pada malam yang tenang tersebut berubah.
“Tolong beri jalan!” Hamza melihat seorang pria yang sudah tidak berdaya dipangku oleh wanita yang terisak-isak.
“Hiissk.. hisk..!”
Tidak ada tanda-tanda bila orang yang meninggal itu telah mengalami sakit. Namun kenyataan bahwa dia telah mati tidak bisa terelakkan.
“A-apa yang...?” ucap Hamza terbata-bata.
“Hisk.. hiss.. dia... su...” wanita itu mencoba berbicara atas deritanya.
Namun sebelum selesai bicara, tiba-tiba orang yang telah dikatakan meninggal itu bergerak dan langsung mencekik sang wanita.
“Aaaarrrrggghhhh...!!” pekiknya.
“Hoy..! apa yang..?” Hamza memegang tangan pria itu dan mencoba melapas cekikan dengan sekuat tenaga.
“Ha..Hamza coba lihat ke belakang!” Tohran mencoleki Hamza dari belakang.
“Apa sih...!? jika punya waktu, sebaiknya kisanak membantuku.. Hiyyaaaahhh!!”
Kekuatan mereka tidak sebanding, Hamza tidak kuat menariknya sendirian. Perlahan, dia menoleh ke belakang dan berharap seseorang membantu.
Namun apa yang dilihatnya malah berbanding terbalik dengan bayangannya. tatapan dari orang-orang di belakang membuat Hamza gemetar. Apalagi Tohran yang sudah menyadari tadi.
Mata para manusia itu berubah menjadi lebih kelam. Dengan wajah datar, mereka menatapi Hamza dan Tohran.
“Aaa.. aa.. agh...” wanita yang tercekik itu tidak lagi bersuara.
Braak... braak!
Hamza membuka jalan dengan memukulkan pedangnya yang masih tersarung. Tohran pun langsung mengikutinya dengan terengah-engah.
Mereka berhasil keluar, karena orang-orang itu tidak mengejar dan tidak bergerak sama sekali.
Namun saat kabur, mereka malah melihat hal yang lebih aneh lagi. Semua orang terlihat gila. Tidak laki-laki atau perempuan, mereka saling menyerang satu sama lain. Bahkan beberapa dari mereka menghunuskan senjata.
“Aarrggghhh..”
“Mati!!”
“Hhyyyaaa..!!”
Sriing..
Bagai pertunjukan sirkus, mereka bergerak tanpa henti. Saling membunuh, menyakiti, tidak ada lagi kata ketenangan. Bahkan semua orang menjadi lebih liar dari binatang buas.
Malam yang seharusnya membawa kedamaian itu, menjadi kegelapan yang mencekam bagi mereka.
Tohran tidak bisa berpikir lagi. Dia tahu ini pasti ulah sosok makhluk halus, dia tahu juga bahwa masalah ini bukan lagi dalam jangkauannya.
“Aaa... aagghh..” Tohran memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit.
“Tohran, kau juga? Tolong tahanlah sebentar!”
Raut wajah Hamza sangat kaku, gigi yang di dalam mulutnya saling mengerat dengan kuat. Meskipun mendengar suara makhluk yang mengganggu, sang patih itu tidak bisa melihat wujudnya.
__ADS_1
Hamza mendapati orang yang masih sadar. Namun tak lama kemudian, orang itu juga menjadi gila dan malah menyerang Hamza.
...Apa yang harus kulakukan? aku tidak bisa diam saja, salahku tidak bisa menjaga mereka.
Hamza sudah memutuskan. Pilihan terakhir yang sangat sulit untuk ditentukan. Namun demi orang-orang yang masih selamat, dia harus melakukan ini.
...Maaf, maafkan aku semua.
Setelah menggigit bibirnya sendiri Hamza pun berteriak, “Dengarkan aku! Siapapun kalian yang bisa mendengarku! Jika kalian ingin selamat, cepat bergegas menuju pantai Utara dan pergilah dari pulau ini!
Suara itu menggema di seluruh hutan. Orang-orang yang masih belum terkena godaan mendengarnya. Karena tidak tahu mau bertindak apa lagi, mereka pun mengikuti arahan sang patih.
“Ayo.. Tohran!”
Hamza, Tohran, serta orang-orang yang masih sadar berlari ke Utara. Dengan terbirit-birit mereka berusaha meninggalkan tempat itu.
Para jin tidak tinggal diam. Mereka yang sudah merasuki tubuh seseorang, mencoba menghalangi manusia yang kabur.
Seiring bergerak ke Utara, jumlah manusia yang sadar terus berkurang. Beberapa dari mereka terbunuh dan berhasil dirasuki oleh roh jahat itu.
Wilayah pantai sudah mereka injak. Para manusia bergegas menaiki perahu yang menepi di tepi.
“Cepat..! selamatkan diri kalian!” teriak Hamza
Gubrak...
Tohran terjatuh. Dia kehilangan keseimbangan akibat kepalanya yang terasa sakit. Sosok jin berusaha merasuki dirinya.
“Ayo Tohran..!” Hamza membantu Tohran untuk bergerak menuju perahu.
“Cepatlah..! Tidak ada waktu lagi!” teriak salah satu dari orang yang berada di kapal.
Hamza dan Tohran berjalan secepat mungkin. Sedangkan tepat di belakang mereka bencana sedang mengejar. Tidak akan sempat, mereka tidak mungkin sempat menggapai kapal. Atau kemungkinan terburuknya, kapal yang menunggu mereka juga tidak akan lolos.
Tohran berkata pelan, “Hamza..! pergilah!”
“Apa? Tidak mungkin aku meninggalkanmu!”
“Terima kasih untuk itu, tapi kau tidak boleh membahayakan nyawa mereka.”
“Ta-tapi...”
“Selamat tinggal,” denga sisa tenaganya, Tohran mendorong kuat Hamza ke depan.
“Tu-tungg..”
Hamza yang terpental, ditangkap oleh seorang yang berdiri di depan perahu. Selagi Tohra mengulur waktu dengan mengorbankan dirinya, dengan cepat orang itu membawa masuk Hamza ke perahu.
“Dayung...! cepat dayung!”
Hamza menggeliat melepaskan diri lalu menengok ke belakang. Dia melihat Tohran menjadi makanan empuk para makhluk halus.
“Berapa perahu yang berhasil berlayar?” tanya seorang awak kapal.
“Li-lima... eh maksudku empat!”
Salah satu dari empat itu ternyata sudah dimasuki oleh sosok jin. Perahu itu bergoyang dengan kuat lalu terjatuh dan tenggelam.
“Sial! yang benar saja...”
“Apa yang kau pikirkan!? Kenapa kau membawa kami kesini!? Ini semua salahmu kau tau! Hoy.. katakan seseuatu!” seseorang mendekat lalu memegang kerah baju Hamza.
__ADS_1
Hamza tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan untuk sekedar kata maaf.