
Hari-hari biasa di Keraton Yogyakarta. Setiap pagi diawali dengan rutinitas latihan para abdi dalem.
Tidak terasa sudah genap tiga minggu Bima menetap. Dia pun mulai terbiasa dengan kehidupan di Keraton ini.
Dia menghabiskan waktunya dengan cara yang sama setiap hari. Saat pagi Bima latihan praktek, sedangkan sore ia akan membaca buku-buku primbon.
Bima juga sudah paham dengan silsilah di Keraton ini.
Prabu Hamengkubuwono X memiliki lima orang putri. Urut dari yang pertama yaitu Kanjeng Mayu, Kanjeng Puspita, Kanjeng Kamnari, Kanjeng Abra, ditambah si bungsu bernama Kanjeng Astuti.
Mereka berlima berperan penting dalam masalah fenomena kerasukan ini. Karena merekalah yang menangani para abdi yang terluka akibat pertempuran, dibantu oleh beberapa pelayan.
Para putri prabu merupakan reinkarnasi wujud dari Jamus Kalimasada. Sehingga mereka memiliki ilmu Kanuragan yang sangat tinggi dalam bidang pengobatan.
Pada saat mendengar penjelasan Kresna mengenai hal tersebut, Bima kebingungan. Bukankah Jamus Kalimasada merupakan sebuah pusaka?
Kresna menjawab :
“Memang benar itu adalah pusaka, tapi benda tersebut dulunya merupakan seorang yang tinggal kahyangan, dia adalah Raja Kalimantara, sosok yang berani mengobrak-abrik tempat tinggal para dewa.”
“Bukankah itu buruk?” Bima masih kebingungan.
“Ya, oleh karena itu para putri prabu tidak diperbolehkan mengikuti pertempuran apapun yang terjadi, agar tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk.”
Tidak hanya itu, Bima juga mulai mengerti tentang orang-orang yang mengabdi pada Raja.
Adapun kesatria tertinggi pada kerajaan Yogyakarta. Mereka disebut patih. Berjumlah enam orang dan dipimpin oleh satu mahapatih. Sehingga total ada tujuh kesatria.
Bima belum kenal dengan enam patih lainnya. Tetapi dia sudah cukup dekat dengan mahapatih, yang tidak lain adalah Kresna.
Bima mulai cukup akrab dengan para penghuni keraton. Sapaan salam ketika bertemu sudah biasa diucapkan.
Seperti Biasa, Hari ini Bima berangkat menuju tempat latihannya. Kebetulan dia berpapasan dengan salah satu putri raja, Puspita.
“Selamat pagi kanjeng,” Bima sedikit membungkukkan badan.
“Selamat pagi.. Bima mau latihan?”
“Begitulah kanjeng.”
“Dasar anak muda jaman sekarang...” Kanjeng Puspita tersenyum seraya melihat Bima yang berjalan pergi dengan semangat.
...
“Kali ini kalian akan berlatih tanding,” Kresna berdiri di antara Bima dan Laras.
“Yah kupikir ini akan menjadi batu lompatan yang bagus,” Bima dengan percaya diri menyiapkan kuda-kuda.
“Sayangnya batu itu akan menggelincirkanmu lebih dalam,” seringai Laras tertanam pada wajah.
Kresna yang melihat interaksi mereka berdua, tersenyum kecil mengetahui keakraban anak didiknya.
“Peraturannya cukup mudah, siapa yang berhasil menundukkan sang lawan, dialah pemenangnya...”
Bima dan Laras sama-sama memegang sebuah keris. terlihat adil untuk kedua belah pihak.
“...Kalau begitu, bersiaap.. mulai!” Kresna segera menjauh dari mereka berdua.
__ADS_1
Ctaang!
Kedua keris itu saling berbenturan, memunculkan dua energi saling bertabrakan satu sama lain.
Bima menggerakkan kakinya. Bertolak belakang dengan arah jarum jam, dia berputar rendah agar tidak terkena dengan keris Laras.
Tepat sebelum kura-kura kaki menyentuhnya, Laras menahan serangan Bima dengan tangan yang tidak memegang keris.
Posisi mereka tertahan untuk beberapa saat. Hingga tiba-tiba kekuatan pada keris Laras bertambah.
Bima yang berada di bawah mulai kesusahan menahan serangan itu. Dia memutuskan untuk menurunkan semua kakinya ke tanah.
Laras menyeringai. Ketika Bima merenggangkan kekuatan, dia segera mencekal kaki lawannya itu dengan kuat.
Mengetahui kondisi saat ini, Bima sedang terpojok. Lalu dia menendang seraya menghindari keris untuk meloloskan diri. Dia mengambil beberapa jarak aman.
Seperti karet, Keris Laras memanjang dan berhasil menjangkau Bima. Mereka saling beradu ketangkasan, membuat kedua keris terus bertabrakan secara bertubi-tubi.
Kemudian Bima mengeluarkan tiga ekor ular yang langsung menyerang.
Laras pun berganti fokus menyerang ular yang bergerak cepat ke arahnya.
Bima memanfaatkan kesempatan tersebut. Dia mengaliri kekuatan pada keris. Sehingga keris itu membesar dan bentuknya menjadi mirip ular.
Dia segera menerjang ke arah Laras yang lengah. Namun, ternyata itu adalah perangkap.
Laras yang selesai menghabisi ular mengikat keris Bima dengan kelenturan senjatanya. Kemudian dia membalik seraya membanting Bima dengan keras.
Buaagh..
Melihat lawan yang sudah terpojok, Laras berniat menempelkan keris pada leher Bima yang menandakan kemenangan.
Bima sendiri sebenarnya juga kaget, tapi dia tetap tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk segera mengelak mundur.
Saat berhasil bangkit, dia langsung memegangi leher. Bima khawatit bila tulangnya patah.
'waktu yang tepat bukan?' suara perempuan terdengar sangat dekat, tetapi itu bukanlah Laras.
Bima yang terlihat bingung, dimanfaatkan oleh Laras untuk menyerang kembali.
Namun, kali ini Bima menangkisnya dengan mudah dan membuat Laras terlempar ke tanah.
Bima kaget dengan apa yang terjadi. Dia pun berbisik pada diri sendiri 'apa kau demit yang berada dalam tubuhku?'
Sang demit menjawab 'ya, aku akan membantumu.'
'Mantaplah'
Laras bangkit, lalu keris yang ia pegang bertambah banyak. Duplikat senjata tersebut melayang di sekitar. Bercahaya seraya ujungnya menghadap ke Bima.
Saat itu, salah satu tangan Bima memunculkan sisik ular.
Laras melancarkan kekuatan kerisnya. Sedangkan Bima Melepaskan satu persatu sisik untuk menahannya.
Boom..
Asap menutupi pandangan Bima. Di sisi lain Laras menyiapkan sebuah panah dan mulai membidik seraya berbisik :
__ADS_1
“Ardadadali..”
Sebuah anak panah melesat kencang dari pegangan Laras.
Bima cukup lengah, tangan kirinya tertusuk telak oleh panah cahaya itu. Lalu lututnya terjatuh ke tanah karena lemas.
Laras mendekat cepat dan mengarahkan keris ke leher Bima. Latih tanding berakhir dimenangkan oleh Laras.
'Sangat lambat, kau masih butuh latihan lagi untuk mengendalikanku'
Prok.. prok.. prok..
Kresna mendekat seraya bertepuk tangan, “pertandingan yang sengit.”
Laras menurunkan senjatanya. Bima juga berdiri saat rasa sakitnya hilang setelah panah cahaya menghilang.
“Kau tadi bengong Bima, ada apa?” tanya Kresna.
“Demit di dalam tubuhku tadi berbicara, dan membuatku terkejut.”
“Begitu ya, itu perkembangan yang bagus, kau harus akrab dengannya.”
Kemudian Kresna menatap Laras yang terlihat diam saja dari tadi. Dia pun berkata pada perempuan itu :
“Ada apa, Laras?”
“Tidak ada, aku hanya sedikit lelah,” Laras menoleh dan menatap Kresna.
Meskipun Kresna tahu bahwa Laras menyembunyikan sesuatu, dia memilih untuk tidak membahasnya.
“Baiklah, kalau begitu kalian istirahatlah! aku akan menemui prabu.”
“Mengerti.”
Kresna berjalan pergi.
“Hah.. pertempuran tadi sangat menegangkan, kau hebat Laras!”
“Kau juga..!”
“Kalau begitu, sampai ketemu lagi..!”
“Iya..!”
Laras masih diam saja melihat Bima yang berjalan menjauh.
Dia sebenarnya sedang menahan sebuah luka. Luka pada tangan akibat latihan barusan. Tepatnya di saat dia menarik anak panah untuk serangan terakhir.
....
Kresna yang bergegas menuju istana itu berpikir senang.
...Begitu ya, dia sudah mulai membuka diri-
Di saat yang bersamaan, Bima bertanya kepada demit tentang identitasnya.
'Kau pasti sebenarnya telah mengenalku, semua orang Jawa pasti tahu, setidaknya nama, bahwa aku...'
__ADS_1
...Seorang panglima penguasa pantai selatan-
“...Nyi Blorong!”