
Pemandangan pedesaan yang sangat asri. Lewat jendela terlihat pepohonan yang bergerak melewati.
Awan bergerak mengikuti teriknya matahari. Meskipun terasa silau, mereka tidak begitu merasa panas di sana. Ini adalah hawa udara pegunungan yang belum mereka rasakan.
Durian bergantungan dibeberapa pohon. Tidak sedikit pula yang melakukan jual beli buah yang lagi musim saat ini.
Cciiitt...!
Mobil mereka berhenti di sebuah rumah makan. Tempatnya sangat sederhana ala pedesaan. Di sisi lain, ada sebuah danau yang sangat besar di hadapan rumah tersebut.
Mungkin karena bukan musim liburan, tempat makan itu sepi pengunjung. Hanya ada beberapa orang yang sedang bersantai atau makan di sana.
“Kalian mau pesan apa?” tanya Wira.
Tetapi semuanya menjawab apa aja mau. Begitupun Fatim yang juga ikut-ikutan dua remaja itu.
Bima, Fatim, beserta Laras segera duduk di bangku makan. Sedangkan Patih Wira pergi memesan.
“Permisi bu..! Mau pesan makanan.”
“Pesan apa mas?” tanya ibu penjaga toko.
“Apakah ada makanan khas yang cocok untuk wisatawan seperti kami?”
“Hhhhmmm kalau itu sih... saya menyarankan Pecel Ikan Mujair, ikannya langsung ditangkap dari telaga di depan sana.”
“Kalau begitu, empat porsi Pecel Ikan Mujair dan empat es teh.”
“Siap, silahkan ditunggu sebentar.”
Wira kembali dan duduk di samping Bima. Mereka kemudian berbincang serambi menunggu makanan mereka datang.
“Bagaimana menurut kalian?” tanya Wira seraya melihat ke arah danau.
“Menakjubkan!”
“Tempat yang bagus untuk piknik.”
“Sepertinya memang menyenangkan.”
Mereka setuju dengan keindahan perairan itu. Tempat makan mereka pun juga sangat cocok bila ingin menikmati pemandangan danau.
“Kita akan ke sana nanti,” ucap Wira.
“Eh kenapa..?” tanya Bima.
“Sisa-sia bukan bila melewati kesempatan ini?”
“Empat pecel dan es teh.. Maaf menunggu..!” penjaga kedai membawa dua nampan yang berisi pesanan.
Di saat pesanan itu sedang dibagi, Wira bertanya pada ibu penjaga kedai :
“Apakah telaga di sana masih dibuka?”
“Masih, meski sekarang sepi pengunjung karena bukan musim liburan.”
__ADS_1
“Begitu yaa.. Terimakasih.”
“Sama-sama,” kemudian ibu penjaga kedai itu pergi.
Sesaat sebelum mereka memulai makan, Wira berkata lagi :
“Ngomong-ngomong, aku jadi ingat dengan Pandawa dengan Kurawa saat makan bersama, bagaimana bila kita coba lakukan sekarang?”
“Aku menolak,” sahut Laras yang berada di depan Bima.
“Memangnya ada apa dengan itu?” tanya Bima.
“Biar Fatim yang menjelaskan,” Fatim mengancungkan tangan.
“Kau bahkan dikalahkan anak SD,” Laras tertawa kecil.
“Maaf saja ya..” Bima berlagak kesal.
Setelah mereka tenang, Fatim pun menjelaskan :
“Dulu pernah diadakan jamuan yang besar ketika Pandawa dan Kurawa masih muda, kemudian untuk saling mengakrabkan, Bisma menyuruh mereka untuk makan tanpa menekuk siku.”
“Tanpa menekuk siku...?” gumam Bima.
“Gimana menurutmu? Apa yang akan mereka lakukan?” tanya Wira.
Bima berpikir seraya memandangi semuanya. Mencoba mengambil kata kunci yang telah diucapkan oleh Fatim. 'saling mengakrabkan' itulah yang dia dapat. Lantas, kenapa Laras langsung menolak?
“Akrab.. dilakukan ketika makan.. tanpa menekuk sikut,” gumam Bima seraya membayangkan tangan yang bergerak tanpa menekuk siku.
Beberapa saat kemudian, Bima pun mengetahui jawaban itu. Kemudian dia tersenyum seringai menatap Laras.
“Enggak kok.”
Kemudian...
“Selamat makan!”
Mengikuti etika ketika sedang makan, mereka sama sekali tidak berbicara. Namun tanpa kata pun, ekspresi mereka bisa ditebak bahwa makanan yang dimakan sangatlah enak.
Sluurrp...
Gluk... Gluk...
“Gwaaahh...! Mantap dah..” Bima meletakkan kembali gelasnya.
“Haahh hhaahh fuu haahh...!” Fatim melambai-lambaikan tangan di depan mulutnya yang kepedasan.
“Jangan memaksakan diri, kalau Fatim gak kuat pedas, sisihkan aja sambalnya,” Laras mencoba menenangkannya.
Sedangkan Wira pergi untuk membayar pesanan mereka. Setelah itu, dia kembali menghampiri yang lain.
“Mumpung di sini, kita akan pergi mengunjungi danau, hitung-hitung ganti suasana.”
Bima, Fatim, dan Laras hanya mengiyakan kata-kata Wira itu. Kemudian mereka kembali masuk ke mobil.
__ADS_1
Hanya beberapa menit saja mereka sudah sampai ke pintu masuk lingkungan danau. Setelah memarkirkan mobil, mereka berempat segera mencari tempat-tempat yang indah dan mengambil beberapa foto.
Perairan yang sangat tenang dan menyejukkan. Beberapa perahu nelayan beroperasi untuk mencari ikan. Mereka berekspresi bahagia saat sedang mencari nafkah untuk keluarganya.
“Kalian nikmati dulu lingkungan sekitar, aku ada beberapa urusan,” kata Wira seraya pergi meninggalkan yang lain.
Fatim melambaikan tangan di saat bermain-main di pinggir danau. Ditemani Laras, mereka berdua hanya sekedar bermain tanpa sampai basah kuyup.
Kemudian Laras berjalan ke arah Bima yang sedang menatap ke laut yang dalam. Laras lalu berkata :
“Bima, Apakah kau pernah mendengar tentang cerita di danau ini?”
“Apa maksudmu, Laras?”
“Telaga Ngabel, dikatakan ada sebuah naga raksasa yang tinggal di sini, nelayan dahulu pernah melihatnya, makhluk itu mereka sebut dengan Baru Klinting.”
“Apakah dia termasuk dedemit?”
“Bukan, bisa dibilang makhluk itu adalah sosok hewan ajaib yang telah hidup lama di sini.”
“Lalu, apa masalahnya? Apakah dia juga mengganggu manusia?”
“Itu dia! Akhir-akhir ini banyak kecelakaan yang terjadi di tempat pembangkit listrik, kemungkinan Patih Wira sedang menyelidiki ini.”
“Kalau begitu aku...”
“Mau kemana kau..?”
“Aku akan menyusul Patih Wira..!” Bima berjalan pergi meninggalkan Laras dan Fatim.
“Mas Bima, mau kemana mbak?” tanya Fatim.
“Mas Bima hanya sedang ingin mencari angin... Tidak apa, main ama Mbak Laras saja ya!”
“Baiklah!”
.....
Melewati bebatuan yang bertumpuk, perlahan Bima bergerak dengan hati-hati. Kemudian dia memasuki sebuah tempat yang dikelilingi pepohonan.
Bima berjalan menyusuri arah yang ia yakini. Mengikuti insting alaminya, hingga akhirnya mendengar suara teriakan yang aneh.
Khwaahh...
Pelan-pelan Bima berjalan dengan mengendap-endap. Dia melirik ke sana kemari untuk memperhatikan keadaan. Hingga kemudian dia melihat Patih Wira.
Perlahan-lahan dibalik pohon Bima mengintip. Samar-samar dia melihat sosok monster di depan Wira. Jarak yang cukup jauh membuat pandangannya tidak begitu jelas.
Kemudian Bima berjalan mendekat dengan hati-hati. Dia berpikir ada semacam jebakan di sini. Tetapi tidak ada sama sekali, hingga dirinya sampai di dekat Wira.
Akhirnya Bima bisa melihat dengan jelas. Makhluk berbentuk seperti belut raksasa sedang menatapi Wira.
Sosok itu memiliki wujud memiliki identik dengan corak tubuh seperti ular, tetapi sisik bawah berwarna keemasan. Sedangkan bagian kepala seperti naga dengan mahkota dan lonceng emas yang mengkalung.
Tetapi ada bagian yang aneh. Kepala bagian kanan hingga ke bawah memiliki luka yang terlihat serius.
__ADS_1
“Kenapa kalian menggangguku lagi, manusia?”
“Maafkan saya tentang itu, saya hanya ingin sedikit berbicara dengan anda, hewan legenda Telaga Ngebel, Baru Klinting.”